Oleh : Nurul Fatah

Wis takdiré nèk sisik iwak mas
Warnané abang biru
Monggo mampir nang Gresik Mas
Tak suguhi sêgo krawu

Sudah dikenal sejak jaman Kerajaan Majapahit bahwa Gresik merupakan daerah strategis karena Gresik merupakan kota pelabuhan. Hal ini antara lain dibuktikan dengan ditemukannya dua patung Dwarapala di Desa Majapura. Kata Majapura sendiri berasal dari dua kata, Majapahit dan Pura, artinya pintu gerbang masuk Majapahit dari arah utara.

Bukti lain kalau Gresik merupakan daerah strategis, dimana sejarah mencatat ketika pemerintahan Hindia Belanda dipimpin oleh Herman W. Daendles (1808-1811) telah dibangun atau adanya beberapa proyek sangat penting yang terkait dengan bidang militer dan pertahanan, misalnya :
1. Membangun Jalan Anyer – Panarukan, yang disebut Jalan Pos Besar (De Grote Post Weg).
2. Menambah jumlah Angkatan Perang dari 3000 menjadi 20.000.
3. Membangun pabrik senjata di Gresik dan Semarang.
4. Membangun pangkalan Angkatan Laut di Ujung Kulon dan Surabaya.
5. Membangun benteng-benteng pertahanan.

Masih ada lagi dulur, yaitu keberadaan Benteng Lodewijk di Desa Mengare yang dibangun pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1808.

Diarani Lodewijk mêrgo sing nggawé benteng iki wong Londo, sêmunggoko sing nggawé wong Mengare, iso-iso diarani Benteng Yu Ginten… Sampèan dak usah ngguyu lho yooo… Lho, lak mêsthi ngguyu manèh… Mingkêm aé Rèk, êngkok untuné sampèan garing…

Selain di Mengare, Belanda juga membangun benteng di pantai Desa Indro, Kecamatan Kebomas. Lokasinya masuk wilayah pabrik Nusantara Plywood yang sekarang ditempati pabrik Wilmar. Tapi saying, benteng ini sudah dibongkar dan dipêndhêm, musnah tak berbekas karena ketika masih ada pihak yang berwenang, dak ono sing ngrèkên dadiné gêtun tiba mburi.

Keberadaan benteng-benteng tersebut sengaja dibuat karena wilayah Gresik adalah wilayah yang memiliki akses penting dan menghadap langsung ke Selat Madura dan Laut Jawa.

Berdasarkan data Balai Arkeologi Yogyakarta tahun 2007, keberadaan Benteng Lodewijk yang terletak di Pulau Mengare, Kecamatan Bungah, atau tepatnya berada di Desa Tanjung Widoro itu juga untuk menjaga jalan masuk ke wilayah Selat Madura dan Surabaya melalui jalur laut.

Di seberang Mengare, di Pulau Madura di daerah Sembilangan, juga didirikan mercusuar untuk mengawasi kapal-kapal yang lewat Selat Madura. Mercusuar ini wong Sekapuk nyêbuté Lampu opal-apil. Walaupun jarak Sekapuk dengan Sembilangan jauh, tetapi kalau mau naik ke Goa Tlangse, terus mêdongkrong di pintu goa yang menghadap ke timur, lampu opal-apil iki kèthok jelas.

Selain kedua benteng di atas, berkaitan dengan keamanan, Belanda juga membuat benteng-benteng lain yang kurang dikenal. Wong Londo srêgêp nggawé benteng mêrgo licik-licik. Benteng-benteng yang kurang dikenal itu karena tidak berupa bangunan yang mudah dilihat, tetapi hanya berupa galian panjang yang disebut benteng perlindungan.

Salah satu benteng perlindungan yang terlupakan adalah yang ada di puncak gunung Sekapuk bagian selatan.

WONG LONDO NGGAWÉ BENTENG AKÈH MÊRGO LICIK copy

Onok pêté digawé godo
Mangan tape lalap koro
Sak jèké dijajah Londo
Uripé wong Jowo tambah sengsoro

Slamêté jumlahê mèk loro, misalé jumlahé songkro mau têlu, sing nomer têlu nèk ono rêjané jaman diarani songkro wandu. Dung tak tong…

Bangunan Songkro
Di puncak gunung Sekapuk sebelah selatan dan tengah terdapat dua bangunan berbentuk kubus dari beton dan batu bata merah, warnanya putih kekuning-kuningan. Bangunan yang besar oleh penduduk Sekapuk disebut Songkro Wèdhok tingginya sekitar 1,5 meter dan sekitar 200 m arah ke timur ada Songkro Lanang, tingginya sekitar 1 meter.

Diperkirakan bangunan Songkro di puncak gunung itu berfungsi sebagai tanda bagi angkatan udara bahwa disitu adalah tempat bermarkas tentara Belanda. Nèk gak ngono, iso-iso dianggêp mungsuh terus diuncali nanas wêsi, terus mblêdog, apané gak dadi sak walang-walang.

Selain itu, ada bekas galian perlindungan sepanjang kurang lebih 200 meter dengan kedalaman 1,5 meter, membentang dari Songkro Wèdhok yang di barat menuju timur membentuk garis lurus. Benteng perlindungan ini berfungsi sebagai tempat berlindung tentara Belanda dari serbuan tentara Jepang. Bekasnya masih bisa kita lihat sampai sekarang.

Kênèk opo kok digawé lurus? Mêrgo nèk perlindungané mau digawé melingkar, iso-iso serdadu Londo bêdil-bêdilan karo konconé dhéwé. Ngono lho, dulur…

Pada tahun 1970-an, bangunan itu masih berdiri kokoh dan bagus, namun sayang sekarang dua bangunan Songkro tersebut keduanya sudah hancur tak berbekas.

Tentara Belanda memilih gunung Sekapuk sebagai benteng bukan karena tanpa alasan. Dari puncak gunung Sekapuk, kita bisa melihat daerah sekitarnya. Apabila kita memandang ke arah barat, kita bisa melihat hutan jati dan aktifitas penduduk daerah Panceng. Dan kalau kita melihat ke arah selatan, terlihat daerah yang sangat jauh, bahkan gunung kètok ésuk (orang Sekapuk nyêbut seperti itu untuk nama Gunung Arjuna – Semeru). Sementara pandangan kita ke arah timur, terpampang daerah Gresik, Surabaya, Madura, dan Selat Madura. Dan yang ke arah utara, akan kelihatan beberapa gunung kapur, perkampungan, dan Laut Jawa.Tentu saja melihatnya nggawé kèkêr, Rèk…

Selain benteng perlindungan, di selatan Songkro juga ditemukan jejak kaki penjajah Belanda yang ditandai dengan adanya sebongkah batu besar yang ada bekasnya ditembaki.

Sebongkah batu besar itu disebut dubang (tubang) karena berasal dari dua kata, yaitu du / tu (watu = batu) dan bang (abang = merah). Untungnya warnanya merah, ndaného nèk warnané ungu, lak diarani dungu… Wis dak usah ngguyu manèh…

Penduduk Desa Sekapuk, Kecamatan Ujung Pangkah, pada jaman dulu secara turun-temurun mempercayai bahwa di dalam batu berwarna jingga yang bentuknya menyerupai menara itu ada emasnya sebesar kepala kerbau. Namun waktu itu mereka tidak berani mengusiknya, karena takut terhadap hal-hal yang tidak diinginkan utowo mêrgo gak dhuwé alat kanggo nggêmpur watuné.

Pada suatu saat, penjajah Belanda sampai di Gunung Sekapuk, diperkirakan menjelang kedatangan pendudukan Jepang di Indonesia, dengan maksud membuat benteng atau pertahanan persiapan perang melawan Jepang.

Belanda dalam rangka persiapan perang membutuhkan banyak biaya. Kalau ngandalno ngrampas harta penduduk jelas tidak mencukupi. Njagakno kiriman soko Nederland dak mêsthi têkané. Sakingé. Tanpa pikir panjang, atau bisa juga karena panik, biasanya orang Eropa lebih menonjolkan akal pikiran dan cenderung tidak mempercayai mitos, langsung termakan oleh cerita penduduk setempat. Koyok kêbo kêcucuk congoré, manut waé. Kemudian dikerahkan sepasukan tempur untuk membelah batu dubang dengan cara memberondong, menembaki, sing gak kaitung êntèk piro mimisé, namun hasilnya nihil.

Sing seneng wong Kapuk, karena banyaknya tembakan, berarti banyak pula selongsong peluru yang berwarna kuning itu terbuang dan berserakan. Wong-wong podo rêbutan buntêlé mimis, karena selongsong peluru itu bisa dimanfaatkan sebagai korek api, danganané pangot, lading, dan lain-lain. Bekas tembakan tentara Belanda pada batu dubang juga bisa dilihat sampai sekarang.

Bandeng campur uyah
Kok pindang dadiné
Seneng opo susah
Gawéané dhéwé

Selain membuat benteng perlindungan di Gunung Sekapuk, Belanda juga membuat lapangan kapal terbang yang tidak begitu jauh dan masih dapat dikontrol dari benteng perlindungan. Lokasinya antara Desa Sekapuk, Gosari, Bolo, dan Kebon Agung.

Wong tuwo-tuwo mbiyèn bertutur bahwa dulu di situ ada lapangan montor muluk, sekitar akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an. Semula masih bisa dilihat sisa-sisa bekas landasan kapal terbang berupa jalan beraspal. Tapi lambat laun, tanah kosong yang luas itu oleh penduduk dijadikan têgalan sebagai lahan bercocok tanaman kering, misalnya bolèt, mènyok, kedelai, jagung, kacang brol, dan kacang tunggak. Pokoké dudu pari. Mêrgo nèk ditanduri pari, jênêngé sawah. Semua wilayah desa yang disebut di atas, warna tanahnya adalah merah.

Jadi lapangan kapal terbang pertama di wilayah Gresik itu bukan di Pulau Bawean, tetapi di wilayah Kecamatan Ujung Pangkah.

Ono salak kok sêpêt rasané
Ono wit klopo dicucuki platuk
Sak méné waé gisik critané
Ojo dowo-dowo nggarahi watuk