<Halaman sebelumnya

Oleh : Siti Mufarochah

Karang Anyar yang artinya pekarangan anyar (baru). Dulu di kawasan ini banyak makam atau kuburan, juga dihuni oleh wong mbambung dan para pengemis. Ada nisan kuburan yang bisa dirobohkan, tapi bisa berdiri lagi. Tapi ada makam yang hilang. Warga yang semula gak kenal ngaji babar blas, sekarang sudah jadi alim kabèh.

Kampung Karang Anyar ini berada di wilayah Kelurahan Karang Turi. Dahulu, daerah ini masih berupa tanah luas yang terlantar atau disebut tanah gégé dari Bahasa Belanda. Tanah gégé adalah tanah peninggalan zaman pemerintahan Belanda.

Ketika Indonesia merdeka, status tanah tersebut milik pemerintah Indonesia. Jadi, dulu masih belum banyak rumah, masih gucil-gucil (jarang). Isyok dibayangné koyok opo sepinè…

Menurut Pak Dul yang telah berusia 66 tahun, tanah ini dulunya terdapat banyak makam atau merupakan tanah kuburan. Masa itu sekitar tahun 1950-an. Tanah ini ditempati oleh wong mbambung. Mereka mendirikan rumah dari gêdèg, atapnya dari alang-alang atau atap wêlit.

Pekerjaannya orang-orang itu kebanyakan pengemis atau pembuat rokok uthis. Ngerti rokok uthis dak, Rèk?

Dulu, batang rokok masih berupa tembakau semua, belum ada rokok filter seperti sekarang ini. Sisa rokok itulah yang namanya uthis. Wong-wong mbambung itu berkeliling mengambili uthis untuk dijadikan rokok kembali dan kemudian dijual ke desa-desa. Mangkané dijênêngi rokok uthis, lha mbakoné bekas kok…

Dalam kurun waktu itu, di Kampung Karang Anyar ini ada kegiatan yang namanya Sedekah Bumi. Tapi karena mereka belum pinter ngaji, maka orang-orang itu hanya berkumpul, nggowo ambêng (tumpêng) dan menyeru : “mugo-mugo, kabulo hajaté, ilango balaké!”. Tidak ada yang berdoa secara Islam, karena mereka memang belum mengerti. Tahunya ya melakukan seperti itu.

Di Karang Anyar ini, ada sebuah makam yang dikenal dengan nama makam Mbah Kromo. Kenapa Mbah Kromo? Kemungkinan karena dianggap keramat, jadi untuk gampangnya disebut Mbah Kromo.

Dalam Bahasa Jawa, Kromo mengandung makna “yang dihormati”, lebih halus atau lebih tinggi. Makam ini adalah makam yang tersisa, sebab dulu ada upaya untuk meratakan makam-makam yang tak terawat itu supaya bisa digunakan sebagai hunian. Dari sekian banyak makam, yang tersisa hanya ada 9 makam dan lainnya hilang. Menurut Kyai, makam-makam yang hilang tadi adalah makam orang-orang yang punya nilai tinggi dari Gusti Allah.

Wong Karang Anyar Wis Alim Kabèh copy

Karena ada pemerataan makam, kemudian dimintakan barokah pada Kyai supaya arwah orang-orang ini tenang. Tapi ada maèsan yang masih tetap berdiri padahal sudah dirobohkan semua. Setelah itu, dirobohkan lagi, masih juga tetap berdiri, hingga sampai 3 kali.

“Lho, kok ngadêk manèh iki maèsané?”, kata salah seorang warga.

Ketika hal ini diceritakan kepada Kyai sêpuh, beliau mengatakan : “Ohhhh… Orang-orang ini termasuk orang mulia dan sholeh, maka dari itu maèsan yang tetap berdiri ini, sampèan ramut, ojok dirobohno manèh…”

Pak Dul berkisah, suatu saat ayahnya mengaku didatangi oleh Mbah Kromo. Seperti antara sadar dan mimpi. Mbah Kromo minta dikirimi doa.

“Setelah itu, bapak saya langsung bilang kepada kepala kampung tentang mimpinya itu, agar diadakan doa bersama”, kata Pak Dul.
Dan tahun berikutnya, tetap ada kegiatan sedekah bumi, tapi lebih disempurnakan acaranya dengan mengundang Kyai dari Gresik.

Dan untuk mencegah datangnya balak, maka diadakan pawai keliling. Setiap perempatan ditempatkan 5 orang, bersama-sama mereka membaca : “Lihoomsatun Uthfi biha” (dengan bersemangat!) kalimat itu tujuannya untuk menolak balak, dikarenakan tempat-tempat saat itu masih kebanyakan mungkarnya.

Sampai pada tahun 1962, didirikanlah langgar di Kampung Karang Anyar. Dulu langgar ini masih berlantai tanah, digelar gêdhèk. “Wong dak dhuwé duék kok…”, kata orang dulu.

Yang terpenting ada tempat yang bisa dijadikan untuk beribadah. Langgar ini dibangun secara gotong-royong oleh warga Muslim, tanpa upah, kecuali diberi makan.

Pada tahun 1968, ada seorang musafir dari daerah tetangga datang ke Karang Anyar. Beliau bernama Mbah Yai Nur Hasyim. Beliau murid dari Pondok Langitan yang saat itu ditugaskan untuk mengunjungi daerah Gresik Utara untuk menyebarkan Agama Islam.

Mbah Yai Nur masuk ke desa dengan cara berjualan dawet. Beliau kemudian diminta oleh ayahnya Pak Dul untuk mengajari ngaji anak-anak di Desa Karang Anyar. Beliau termasuk orang yang sabar dan telaten dalam mengajarkan ilmunya.

Pada tahun itu pula, menurut penuturan Pak Dul, Mbah Kromo datang lagi. Beliau minta untuk diadakan amalan pembacaan Surat Yasin. Kemudian pada tahun 1970-an, Mbah Yai Nur Hasyim pamit mau ngaji ke Mbah Yai Usman.

Dua tahun kemudian, Mbah Yai Usman ikut datang ke Kampung Anyar. Beliau langsung menuju makam Mbah Kromo dan lainnya. Beliau terlihat seperti mantuk-mantuk, bercakap-cakap sendiri, lalu berkata : “iki jênêngé Agus Salim, wong Jogja”.

Setelah itu, setiap tahun diadakan diadakan khol (haul) dengan acara pengajian dan musik hadrah serta penyembelihan kambing.

Pada saat langgar dipegang oleh Mbah Yai, lantas diperjuangkan membuat pengajian rutin dan diba’an yang akhirnya menjelma menjadi Pesantren Rodhoutul Falah. Hal ini menimbulkan keheranan sekaligus kagum atas perkembangan kampung yang semula dikenal menjadi hunian wong mbambung dan wong ngêmis tersebut.

“Wih, Karang Anyar sak iki onok ngajiné, Rèk… Wis podho alim kabèh wongé… Mugo-mugo desa iki tambah makmur, akèh berkah, lan wargané sentosa… Amin…”

Setiap tujuh belasan, juga ada pawai kampung, sehingga semakin mengenalkan Kampung Karang Anyar ini. Anak-anak kecil dikerahkan untuk berpawai. Juga setiap menyambut perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam perkembangannya, kualitas pawai menjadi lebih bagus. Ada arak-arakan lampion Damar Kurung segala. Hingga sekarang, tradisi ini masih berjalan di Desa Karang Anyar.