Wirausaha kreatif banyak bermunculan, tapi…

0
835

Mencermati tentang perkembangan bisnis di Indonesia akhir-akhir ini banyak diwarnai dengan munculnya banyak wirausaha kreatif baru terutama dibidang Creative Start Up. Selain wirausaha conventional yang masih banyak diminati, wirausaha yang memanfaatkan teknologi maupun pengusaha creative technologi atau yang sering disebut dengan Technopreneurs.

Namun dari sekian banyak technopreneurs startup yang ada, hanya beberapa saja yang sanggup bertahan hingga meraup keuntungan besar.

Seperti sambutan mentri Pariwisata dan Ekonomoi Kretif, Mari Elka Pangestu pada pembukaan acara Indonesia Knowledge Forum kepada detik.com:

Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, menilai para creativeprenuer harus punya mentalitas seperti mendiang pendiri Apple, Steve Jobs, agar bisa sukses. Namun sayangnya, tak semua orang bisa seperti dia.

“Jawaban kesejahteraan Indonesia ke depan terletak di wirausaha. Bagaimana kembangkan creativeprenuer,” kata Mari Elka saat pembukaan acara Indonesia Knowledge Forum III yang diadakan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Kamis (9/10/2014).

Untuk menciptakan atau mendorong wirausaha kreatif, pemerintah sudah mulai melakukan pembinaan, lewat inkubator hingga pembiayaan bisnis.

Program inkubator bisnis untuk membina pada calon wirausaha potensial, sudah umum dilakukan di negara maju. Alasannya, pengusaha pemula memiliki banyak ide, namun menghadapi kendala di dalam memulai usaha atau menghasilkan produk. Apalagi, masyarakat Indonesia dinilai memiliki potensi menciptakan ide kreatif namun lemah dalam penerapan.

“Di luar ada proses inkubasi. Di sana dibantu, mentoring dan modal. Dibantu terapkan ide jadi bisnis. Memang tidak semua bisa jadi Steve Jobs. Tapi yang penting harus mulai,” jelasnya.

Ada sedikit kelemahan di dalam skema pembiayaan untuk pengusaha pemula di Indonesia. Bank masih memandang pengusaha pemula belum layak atau bankable, sehingga kesulitan memperoleh pembiayaan.

Berbeda dengan negara maju, ada skema atau tahap pembiayaan untuk level calon debitur, khususnya yang berasal dari kalangan pengusaha pemula.

“Di luar negeri ada sistem pembiayaan sistem 1,2,3 untuk akselerasi,” jelasnya.

Mari juga menyinggung kelemahan pengusaha pemula di Indonesia. Hasil studi menunjukkan, pengusaha pemula seperti pada bidang technopreneurship, cenderung ingin usahanya cepat besar.

Padahal untuk menjadi pengusaha besar layaknya pendiri Facebook (Mark Zuckerberg), atau pendiri Apple (Steve Jobs), seorang harus melalui proses kegagalan.

“Kelemahan technopreneurship. Di awal-awal ingin langsung jadi Mark Zuckerberg. Dari jutaan (calon pengusaha) hanya 10 ribu yang berhasil dapat income. Hanya 10 yang dapat kelipatan ganda di pendapatan seperti Mark. Tapi mereka maju gagal,” paparnya.

Acara Indonesia Knowledge Forum III diselenggarakan oleh BCA dari 9-10 Oktober. Acara ini menghadirkan pengusaha-pengusaha sukses di berbagai bidang seperti Presiden Direktur Sido Muncur Irwan Hidayat, Presiden Direktur PT ILTHABI Rekatama Ilham Akbar Habibie, hingga Walikota Bandung Ridwan Kamil.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here