Tradisi Sanggringan di Desa Gumeno (Lengkap)

1
1765

Latar Belakang

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melestarikan kebudayaannya. Luasnya wilayah nusantara dengan beraneka ragam suku dan budaya semakin memperkaya khasanah kebudayaan bangsa. Namun, kurangnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan kebudayaan yang ada di daerahnya, sering menyebabkan diakuinya kebudayaan bangsa Indonesia oleh negara lain. Terjadinya hal tersebut secara tidak langsung melemahkan posisi Bangsa Indonesia dan mempermalukannya sebagai negara yang tidak mampu melestarikan kebudayaannya.

Prosesi adat dalam ranah kebudayaan masih mempunyai  makna yang tersendiri, yang oleh sebagian masyarakat diyakini mampu memberikan pencerahan spiritual. Secara empiris pola-pola yang tertanam dalam setiap ritual adat akan mencuatkan paternalisasi perilaku  yang dicermati dan dipatronkan dalam perilaku keseharian masyarakat. Masjid Jami’ Sunan Dalem Desa Gumeno sebagai salah satu warisan budaya Kerajaan Giri Kedhaton dengan segala keragaman tradisi memiliki nilai simbolis yang penuh pemaknaan. Dalam kurun waktu hampir lima abad mampu bertahan di tengah modernisasi yang terjadi, bahkan  dapat dijadikan ikon budaya Kabupaten Gresik.

Sebagai bentuk tanggung jawab masyarakat Desa Gumeno Kabupaten Gresik terhadap warisan leluhur, maka setiap tahun pada malam dua puluh tiga Ramadhan selalu dilaksanakan acara SANGGRINGAN.

 

Sejarah Berdirinya Masjid Gumeno

Sejarah Kolak Ayam (Sanggring) di Desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik Jawa Timur tidak terlepas dari sejarah berdirinya Masjid Jami’ Sunan Dalem Gumeno. Gumeno berasal dari kata Qumna yang dalam bahasa Arab berarti golonganku. Sebenarnya ada sebuah buku yang menceritakan tentang Gumeno zaman dahulu, tetapi sayangnya buku tersebut dibawa oleh orang-orang Belanda.

Sejarah berdirinya Masjid Gumeno diawali wafatnya Kanjeng Sunan Ratu Ainul Yaqin di Giri Kedathon pada 1428 S / 24 Rabi’ul Awwal 912 H, bertepatan dengan 12 September 1506 M, lalu beliau digantikan oleh putra pertamanya yang bernama Sunan Dalem (Syeikh Maulana Zainal Abidin, 1409 S – 1467 S / 1487 M – 1545 M).

Pada suatu malam di tahun 1535 M, Sunan Dalem bermimpi bertemu ayahnya yang mengatakan bahwa sebaiknya Sunan Dalem beserta keluarga dan pengawalnya menyingkir untuk sementara waktu karena akan ada serangan dari Adipati Malang Selatan. Adipati yang masih “kafir” berusaha untuk menduduki pusat kekuasaan Islam di Giri. Sesudah sekelompok kecil orang Cina Islam di bawah pimpinan Panji Laras dan Panji Liris, dekat Lamongan dikalahkan oleh orang-orang pedalaman, Sunan Dalem memerintahkan Jaga Pati sebagai pimpinan pasukan Giri untuk menghentikan pertempuran. Selanjutnya Sunan Dalem hijrah ke Gumeno yang saat itu diperintah oleh Kidang Palih, atas persetujuan Syeikh Menganti, paman Sunan Dalem.

Pada saat Adipati tersebut sampai di Giri, Sunan Dalem telah mengungsi ke Desa Gumeno. Karena tidak mendapatkan apa yang dicari, maka Adipati segera memerintahkan pasukannya untuk bersama-bersama membongkar kuburan Sunan Giri. Sebelum pasukan tersebut berhasil membongkar makam tersebut, tiba-tiba berdatangan tawon endas yang tak terhitung banyaknya keluar dari dalam kuburan tersebut dan menyengat Adipati beserta pasukannya. Semua terpontang-panting sampai Demak, mereka lari terbirit-birit pulang kembali ke negerinya.

Pada saat itu, belum ada masjid untuk melaksanakan sholat jum’at di Desa Gumeno. Kemudian Sunan Dalem mendirikan masjid yang kita kenal saat ini dengan  nama  Masjid  Jami’  Sunan Dalem. Masjid tersebut didirikan tepat 1461 S / 1539 M / 946 H. Dengan kekaromahan Sunan Dalem maka masjid tersebut dibangun dengan cepat (menurut suatu riwayat, tidak lebih dari satu malam).

Sketsa Masjid Gumeno Tempo Doloe (Sumber : Pfaff, 1850)
Sketsa Masjid Gumeno Tempo Doloe (Sumber : Pfaff, 1850)
Lukisan Masjid Sunan Dalem Gumeno
Lukisan Masjid Sunan Dalem Gumeno

Setelah mendapat kabar bahwa Giri Kedathon telah aman, akhirnya Sunan Dalem beserta keluarga dan pengawalnya kembali ke Giri Kedathon. Setelah kembali ke istananya, Sunan Dalem beberapa kali ke Gumeno untuk mengajar penduduk mengaji dan melihat masjid yang telah dibangunnya.

Kondisi awal masjid Gumeno (Masjid Jami’ Sunan Dalem) yang didirikan oleh Sunan Dalem adalah sebagai berikut: puncak tiangnya yaitu 21 kaki (6,4 m), tiang penanggap pancang 12 kaki (3,66 m) dan tiang pelebaran hanya 5 kaki (1,52 m). Di depannya dibuat kolam untuk masjid seluas 63 kaki persegi (5,85 m2)

Pada mulanya tidak banyak penduduk bermukim di sekitar masjid. Setelah itu, banyak orang berdatangan dari Sipunar dan Tanggulrejo karena melihat sinar yang tiba-tiba terpancar dari Masjid Gumeno tersebut. Mereka semua terkejut karena sebelumnya tidak ada masjid di tempat itu. Dahulu kekhasiatan masjid ini sangat tinggi, sampai-sampai tidak ada burung ataupun pesawat yang bisa terbang di atasnya. Tetapi sayangnya sekarang kekhasiatan masjid ini banyak berkurang karena telah dirombak total. Beberapa peninggalan Sunan Dalem yang sampai saat ini masih ada, diantaranya:

  1. Menara masjid, konon berasal dari tanah liat asli.
  2. Mimbar, merupakan hadiah dari Sunan Prapen. Pada mimbar ini terdapat tulisan jawa kuno dan tidak banyak orang yang dapat membaca tulisan tersebut. Konon dengan membaca tulisan tersebut akan dapat diketahui tahun pembuatan Masjid Gumeno.
  3. Tongkat, untuk khatib yang didalamnya berisi tombak
  4. Dua buah rekan (tempat untuk membaca Alquran).
  5. Kolam di sebelah timur masjid untuk mandi dan wudlu

AB014433copy copy

Foto diatas adalah Masjid Sunan Dalem sa’at dipugar, foto diambil tahun 2014

Kolam peninggalan Sunan Dalem

Kolam peninggalan Sunan Dalem di sebelah timur Masjid

Asal Mula Kolak Ayam

Dalam suatu riwayat, di saat pelariannya di Desa Gumeno, Sunan Dalem jatuh sakit. Kemudian Beliau memerintahkan kepada penduduk agar mengusahakan obat supaya sakitnya bisa sembuh.

Sebagian penduduk mencarikan obat kemana-mana, tetapi mereka tidak dapat menemukan obat atau orang yang bisa menyembuhkan Sunan Dalem. Di tengah kebingungan penduduk tersebut, Sunan Dalem mendapat petujuk dari Allah SWT lewat mimpi agar membuat suatu masakan untuk obat. Esok harinya Sunan Dalem memerintahkan semua    penduduk supaya membawa seekor ayam jago dengan syarat masih berumur sekitar satu tahun atau jago lancur ke Masjid. Setelah mendengar perintah Beliau, maka segeralah semua penduduk membawa seekor ayam jago untuk dimasak dengan santan kelapa, jinten, gula merah dan bawang daun. Dimana setiap bahan-bahan tesebut mempunyai manfaat bagi kesehatan.

Setelah masakan selesai, Sunan Dalem memerintahkan kepada penduduk Gumeno agar membawa ketan yang sudah dimasak. Pada saat itu bertepatan dengan Bulan Ramadlan sehingga ketika tiba waktu Maghrib (waktu berbuka puasa), Sunan Dalem dan semua penduduk berbuka bersama di Masjid. Akhirnya Sunan Dalem mendapat Hidayah, Mau’unah serta ‘Inayah dari Allah sehingga Beliau sembuh dari sakit yang dideritanya setelah menyantap masakan tersebut. Masakan tersebut akhirnya dikenal dengan nama Sanggring atau Kolak Ayam. Nama Sanggring berasal dari kata Sang yang artinya Raja/Penggedhe dan Gring yang artinya gering atau sakit. Jadi Sanggring artinya raja yang sakit.

Prosesi memasak Sanggring yang pertama tersebut bertepatan pada tanggal 22 Ramadlan 946 H (31 Januari 1540 M). Sunan Dalem kemudian berwasiat kepada semua penduduk agar tiap-tiap tahun pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan diadakan Sanggringan. Sebagai wujud rasa taqdim dan atas kepatuhan kepada beliau, maka warga Desa Gumeno selalu melanjutkan tradisi tersebut setiap tahunnya. Dan untuk tahun 1437 H ini merupakan pelaksanaan Sanggring yang Ke-491.

Bahan-Bahan Sanggring

Dalam membuat masakan Sanggring / Kolak Ayam dibutuhkan bahan-bahan yang semuanya berkhasiat bagi kesehatan tubuh. Adapun bahan-bahan tersebut yaitu:

  1. Bawang daun

Bawang daun yang dipilih adalah bawang daun yang berbau menyengat. Biasanya panitia membutuhkan minimal 2 kwintal bawang daun. Sehingga biasanya panitia memesan kepada petani bawang 2-3 bulan sebelum pelaksanaan Sanggringan. Adapun khasiat bawang daun antara lain:

  • Menjaga kesehatan mata
  • Mengoptimalkan perkembangan janin dan meningkatkan kecerdasan otak
  • Menjaga kesehatan tulang
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
  • Menyehatkan pencernaan
  • Kaya kalium untuk mengatur kadar cairan tubuh, menjaga fungsi jantung dan mencegah kram pada otot
  • Mengandung senyawa cycloallin untuk menyehatkan jantung
  • Mengandung phyto-kimia untuk mencegah penyakit diabetes
  • Mengobati cacingan
  • Meningkatkan kualitas tidur
  • Menghilangkan jerawat
  • Mencerahkan dan meremajakan kulit
  • Mencegah penuaan dini

 

  1. Santan kelapa

Biasanya panitia membutuhkan kelapa sebanyak 750 buah. Adapun khasiat dari santan kelapa adalah sebagai berikut:

  • Mencegah anemia
  • Mengandung kalsium dan fosfor untuk pertumbuhan tulang dan gigi
  • Mengandung vitamin C untuk memperkuat sistem kekebalan
  • Mengandung antioksidan untuk menangkal radikal bebas
  • Menyuburkan rambut dan mencegah kerontokan rambut
  • Mengencangkan dan mengeyalkan kulit
  • Mencegah penuaan dini
  • Melembabkan kulit yang kering
  • Sebagai tabir surya
  • Menyehatkan kulit kepala
  • Menurunkan berat badan

 

  1. Gula merah (gula aren)

Gula aren yang dipilih adalah gula yang berkualitas terbaik. Sehingga setelah dimasak, gula tersebut sangat sedikit ampasnya. Biasanya panitia membutuhkan gula aren sebanyak 6 kwintal. Adapun khasiat dari gula merah adalah sebagai berikut:

  • Sumber antioksidan, yaitu untuk menangkal radikal bebas sehingga dapat melindungi tubuh dari ancaman penyakit yang berbahaya seperti kanker kulit;
  • Mengobati dan mencegah penyakit anemia atau kurang darah;
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
  • Menstabilkan kadar kolesterol di dalam darah
  • Meningkatkan sistem pencernaan
  • Meredakan sakit perut
  • Merawat kesehatan kulit, dapat mengangkat sel-sel mati pada wajah
  • Melancarkan sistem peredaran darah
  • Menghangatkan tubuh dan dapat terhindar dari penyakit flu
  • Mencegah batuk dan demam
  • Mencegah asma
  • Mencegah serta mengobati jerawat
  • Meredakan nyeri saat menstruasi
  • Baik untuk diet karena gula aren merupakan pemanis yang rendah kalori
  • Mengobati sariawan
  • Dapat dijadikan sebagai campuran obat
  • Menambah energi
  1. Jinten

Jinten yang dipilih adalah jinten yang berkualitas tinggi, biasanya jinten yang berasal dari India. Biasanya panitia membutuhkan jinten sebanyak 45 kg. Adapun khasiat dari jinten adalah sebagai berikut:

  • Mengobati asma
  • Herbal anti alergi
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
  • Menetralisir racun
  • Anti bakteri pada saluran pencernaan
  • Meningkatkan kosentrasi otak
  • Sumber nutrisi sehat
  • Mengatasi penyakit diabetes
  • Menurunkan tekanan darah tinggi
  • Melawan kanker usus besar
  • Herbal untuk epilepsi
  • Sebagai salep untuk mengobati bisul dan luka
  • Mencegah berbagai jenis kanker

 

  1. Ayam kampung

Biasanya panitia membutuhkan ayam kampung minimal 200 ekor. Panitia mengutamakan ayam kampung jantan, jika sudah kesulitan mencari ayam kampung jantan, panitia menambahkan dengan ayam kampung betina.

 

  1. Air

Air yang digunakan untuk memasak Sanggring sangat banyak. Panitia biasanya membutuhkan air sebanyak 1400 liter. Dan air yang digunakan adalah air hujan.

Proses Memasak Sanggring :

Dalam prosesi memasak Sanggring dibutuhkan bahan-bahan yang tidak sedikit jumlahnya. Sebagai perbandingan, untuk setiap 1 ekor ayam dibutuhkan 2,5 kg gula merah, 1 kg bawang daun, 2 ons jinten, 3 buah kelapa dan 6 liter air.

Dalam Proses memasak Kolak Ayam, semuanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Kegiatan ini dimulai pada tanggal 21 Ramadhan Ba’da Ashar yang diawali dengan pemotongan ayam. Pada malam harinya panitia memasak ayam yang terlebih dahulu diambil  bagian jeroan, kepala dan kakinya. Proses memasak ayam tersebut dilakukan dalam beberapa kuali besar. Daging dimasak sampai lunak. Setelah daging ayam matang, lalu  dikumpulkan di tempat tertentu, sedangkan kaldunya disimpan  di tempat terpisah.

IMG_6948 copy

Prosesi memasak Ayam

IMG_6959 copy

Pemisahan Kaldu Ayam

Pada malam itu juga dilakukan pembuatan adonan gula merah. Pertama, gula merah kita remukkan sekecil mungkin agar gula tersebut lebih cepat lebur. Pada saat proses memasak, gula tersebut harus diaduk sampai benar-benar kental, setelah itu disaring hingga terpisah dengan ampasnya.

Keesokan harinya tanggal 22 Ramadhan, warga desa menyerahkan hasil parutan kelapa untuk selanjutnya dibuat santan kelapa. Parutan kelapa tersebut diperas sampai 3 kali.  Perasan pertama dinamakan kani, sedangkan perasan kedua dan ketiga dinamakan santan kelapa.

Di pagi hari itu juga, para juru masak menyiapkan bawang daun. Bawang daun yang digunakan adalah bawang daun khusus yang baunya menyengat dan tidak boleh sembarang bawang daun. Pertama, juru masak membersihkan bagian pangkal dari bawang daun, lalu dipotong-potong dengan panjang sekitar 3 cm.

IMG_6928 copy

Pembersihan Pangkal Bawang Daun

IMG_6930 copy

Bawang Daun dipotong potong sepanjang +/- 3cm

Pada saat yang bersamaan, para pelajar dan anggota IPNU Gumeno mensuwar-suwir ayam yang telah dimasak pada malam sebelumnya. Dalam kegiatan tersebut dilakukan pemisahan antara tulang dan daging yang disuwar-suwir, lalu daging tersebut dipisahkan dalam wadah yang telah disediakan.

IMG_7527 copy

Hasil dari suwar suwir daging ayam

Setelah semua bahan-bahan sudah siap, langsung diserahkan kepada juru masak. Pada waktu proses memasak, untuk masing-masing kuali besar, pertama-tama dimasukkan 2 ember santan perasan kedua dan 1 ember santan perasan ketiga. Langkah selanjutnya dimasukkan 2 kg bawang daun dan 2 piring ayam. Setelah itu ditambahkan 1,5 ember larutan gula merah. Lalu ditunggu sampai sekitar 40 menit sambil sesekali diaduk. Proses memasak ini biasanya dilakukan secara paralel dengan 8 buah kuali.

Setelah dirasa cukup matang dan timbul buih, lalu ditambahkan kaldu ayam setengah ember. Selain ditambah kaldu ayam, juga ditambahkan kani (santan kelapa perasan pertama) dan ditambahkan jinten secukupnya. Lalu  diaduk dan ditunggu selama 10 – 15 menit. Untuk memasak satu kuali dibutuhkan waktu sekitar 50 – 55 menit.

Karena banyaknya Sanggring yang dibuat, proses memasak ini dilakukan secara bertahap dan memakan waktu yang cukup lama. Biasanya proses memasak dimulai pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB. Biasanya tamu yang masuk Desa Gumeno pada hari tersebut sekitar 10 ribu orang. Bahkan ada beberapa tamu yang berasal dari luar Kabupaten Gresik, seperti dari Surabaya, Lamongan, Bojonegoro, Sidoarjo, dan lain-lain.

IMG_6974 copy

IMG_0396 copy

Panitia membagikan Sanggring kepada tamu yg datang

IMG_0399 copy

Para perangkat Desa Gumeno dan tamu2 undangan