Diceritakan bahwa pada sa’at pemerintahan Kerajaan Giri Kedhaton dipegang oleh Sunan Dalem, kerajaan Giri Kedhaton pernah diserbu oleh Kadipaten Sengguruh hingga menyebabkan Sunan Dalem sebagai Raja harus meninggalkan Kerajaan Giri Kedhaton bersama keluarganya.

Sunan Dalem beserta keluarga melarikan diri ke Utara hingga sampailah di Gumeno dan ditolong oleh Kidang Palih dan warga Gumeno, beberapa waktu beliau menetap disana hingga sampai sa’at Kerajaan Giri Kedhaton sudah aman dan tidak dikuasai oleh Kadipaten Sengguruh, beliau kembali ke Giri Kedhaton dan meneruskan pemerintahannya.

IMG_7505

Meski hanya beberapa sa’at beliau meninggalkan sebuah tradisi yang masih dilakukan hingga sa’at ini, yaitu Tradisi Kolak Ayam Sanggring  yang dilakukan oleh masyarakat Gumeno setiap malam 23 Romadlon, dan tradisi ini sudah berjalan selama 490 tahun Hijriyah dilaksanakan di Masjid Sunan Dalem Gumeno. Masjid ini telah dipugar dan dibangun  begitu megah, namun sayang tidak terdapat bangunan yang dipertahankan agar tetap keasliannya.

Masjid Sunan Dalem yang disampingnya Terdapat Telaga
Masjid Sunan Dalem yang disampingnya Terdapat Telaga

Di sebelah utara masjid terdapat sebuah telaga buatan Sunan Dalem dan masyarakat untuk berwudlu, dari sini juga tradisi Kolak Ayam Sanggring bermula.

Dikisahkan dalam pengungsiannya Sunan Dalem pernah menderita sakit, beliau bermunajat dan mendapatkan petunjuk untuk membuat makanan obat. Setelah mendapatkan petunjuk, keesokan harinya Sunan Dalem memerintahkan warga untuk membuat makanan yang berasal dari Ayam Jago lancur (masih berumur setahun). Sedangkan bumbu bumbu yang disertakan adalah Santan, Gula Merah, Jinten dan Bawang Daun. Setelah beliau makan masakan yang telah dibuat Alhamdulillah Sunan Dalem sembuh dari sakitnya, yang kemudian masakan tersebut diberi nama Kolak Ayam Sanggring (Sang = Raja dan Ring = dari kata Gering/sakit) yang berarti Sang Raja sudah sembuh dari sakitnya.

Di kemudian hari Sunan Dalem memerintahkan warga untuk bergotong royong membuat telaga disisi timur masjid, dan beliau memerintahkan untuk kembali membuat Kolak Ayam Sanggring untuk mengganti tenaga masyarakat yang ikut membantu membuat telaga. Karena yang ikut bekerja sangat banyak dan Sunan Dalem khawatir persediaan daging ayam tidak cukup, maka beliau memerintahkan untuk menyuwir nyuwir daging ayam tersebut, dan hal itu dilakukan sampai sekarang. Dari sini saya pribadi sempat berpikiran, bisa jadi Nasi Krawu yang dagingnya juga disuwir suwir karena mengadopsi dari cara Pembuatan Kolak Ayam Sangring, hanya saja nasi Krawu menggunakan daging Sapi (tapi ini pemikiranku dewe lho… Ojok dipercoyo hehe)

Komposisi dari masakan obat itu sendiri adalah sbb:

  1. Seekor Ayam Jago Lancur (daging di suwir suwir)

    Daging ayam yang sudah disuwir dan dimasak
    Daging ayam yang sudah disuwir dan dimasak
  2. 2 Kg Bawang Daun dipotong +/-3cm

    Bawang Daun yang sudah dipotong dan dimasak
    Bawang Daun yang sudah dipotong dan dimasak
  3. 2 buah kelapa
  4. 2 Kg Gula Merah
  5. 1 Ons Jinten

    Santan, Gula Merah dan Jinten dimasak jadi satu
    Santan, Gula Merah dan Jinten dimasak jadi satu

Untuk cara memasaknya sbb:

  1. Ayam yang dagingnya telah disuwir suwir dimasaka bersama Bawang Daun yang telah dipotong seukuran +/-3cm. Dimasak dalam air jadi satu. Setelah masak dientas dan dipisahkan.
  2. Jinten di Gongso ( digoreng tanpa minyak) dan ditumbuk hingga halus.
  3. Santan digodok dan dicampur gula merah, setelah mendidih jinten yang sudah halus dimasukkan sebagai penyedap.
  4. Sa’at ini ditambahkan pula nasi ketan sebagai pelengkapnya.

Cara penyajiannya Nasi Ketan, Ayam Suwir dan Bawang Daun diambil secukupnya, kemudian kuah yang terdiri dari santan, gula merah dan jinten dituangkan secukupnya.

Yang menarik dalam acara tradisi turun menurun ini adalah pengunjung yang datang tidak hanya dari daerah sekitar saja, bahkan dari luar kota pun datang untuk mengikutinya. Bahkan sanak saudara dan teman2 warga pun banyak yang datang. Hingga masyarakat skitar pun menyiapkan sendiri tempat dan jamuan untuk sanak dan teman2 dirumah mereka, sehingga suasana seperti terlihat sa’at Riyoyoan (Lebaran), bahkan menurut warga lebih ramai dari Riyoyoan.

Sedangkan kisah Kidang Palih sendiri diceritakan dalam cerita lain, dalam cerita itu dikisahkan Kidang Palih dan istrinya terbunuh dalam peperangan melawan Mbah Sindujoyo yang merupakan murid dari Sunan Prapen yang tidak lain adalah anak dari Sunan Dalem.. Lhooo???? Kok bisa????

Nantikan tulisan berikutnya…