Oleh : Lumaksono

Sering sekali kita mendengar kata telaga, seperti misalnya yang seringkali terdengar di telinga kita adalah Telaga Sarangan. Namun kali ini, kita membahas tentang salah satu telaga yang ada di daerah Gresik. Namun, lidah orang-orang Jawa, orang Gresik khususnya, lebih terbiasa menyebut nama telaga dengan tlogo.

Tlogo sendiri artinya adalah danau. Perairan yang biasanya ada di sekitar pegunungan. Namun, kalau kita cêlingukan, rasanya mustahil kalau di daerah Gresik ada pegunungannya, karena daerah Gresik dikenal sebagai kota industri yang cukup panas. Jadi enaknya gimana??? Apa masih bisa dikatakan kalau Gresik punya telaga??? Monggo, mirsani tulisan éson iki…

Tlogo yang akan saya sampaikan disini adalah Tlogo Bêndung. Tlogo ini terletak di tengah-tengah kota, dekat dengan aloon-aloon Gresik, dimana tlogo ini diapit oleh dua jalan utama. Kedua jalan utama tersebut adalah Jalan MH. Thamrin dan Jalan Pahlawan. Waduh, terus pegunungannya dimana??? Wés, dak usah gègèr dhéwé masalah pegunungané nang êndhi…

 

untitled-1-copy
Cungkup Makam Mbah Kluncing

Setiap daerah, baik daerah wisata, pemakaman, maupun telaga pasti ada penjaganya. Nah, Tlogo Bêndung ini juga ada penjaganya. Setelah saya ngglibêt di tlogo tersebut, saya mendapatkan informasi bahwa nama penjaga tlogo tersebut bernama Mbah Pang, yang juga seorang sesepuh desa, sekaligus penyiar Agama Islam di daerah tersebut.

Mbah Pang sendiri tinggal di sebelah selatan Tlogo Bêndung. Namun sayang sekali, saya belum diberi kesempatan untuk bertemu dengan beliau, karena saat ini beliau sudah wafat. Tapi saya yakin, beliau adalah sosok seorang yang baik, yang mempunyai rasa kepedulian terhadap lingkungan, apalagi beliau juga seorang penyiar agama yang sudah dikenal oleh
penduduk di sekitar Tlogo Bêndung.

Entah mengapa, saya sangat tertarik untuk terus mencari informasi mengenai Tlogo Bêndung ini. Menurut informasi dari beberapa penduduk sekitar yang saya temui saat itu, mereka menceritakan bahwa sepeninggal Mbah Pang, Tlogo Bêndung dijaga oleh seseorang yang bisa dibilang misterius. Bagaimana tidak, namanya saja tidak banyak yang mengetahui. Mereka hanya memanggilnya dengan nama Mbah Kluncing.

Lha itu tau namanya??? Nama Mbah Kluncing tersebar bukan dikarenakan beliau memperkenalkan diri dengan nama Kluncing, melainkan nama Kluncing tersebut muncul dikarenakan rumah beliau di pintu depannya diberi bunyi-bunyian, sehingga menghasilkan sebuah suara : kluncing…kluncing…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Makam mbah Kluncing

Lha kalo di depan  rumahnya dipasang kênthongan, apa yaa dipanggil dengan nama Mbah Kenthong??? Lèk sing iku, mêsthi dipikir manèh jawabané…

Namun ada juga yang menyebutkan bahwa nama Kluncing tersebut muncul dikarenakan di halaman rumah Mbah Kluncing tumbuh pohon besar kedondong kluncing. Entah versi mana yang benar, yang terpenting namanya yaaaa Mbah Kluncing. Tapi lagi-lagi, saya tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan beliau. Sungguh benar-benar sangat disayangkan…

Tlogo Bêndung sendiri dulunya acapkali digunakan oleh penduduk sekitar untuk mandi dan bersuci, karena airnya sangat jernih. Dan di telaga ini, hidup beberapa ikan, seperti ikan mujair, kuthuk, dan lele. Tapi saya ndak tahu persis, apakah penduduk sekitar opo yo kurang gawén mancingi ikan-ikan tersebut.

Pada musim kemarau, air di tlogo ini menjadi surut, pertanda bahwa tlogo tersebut merupakan tlogo tadah hujan, sehingga penduduk sekitar agak berhati-hati mempergunakan air tlogo tersebut. Namun sayang, di setiap musim hujan, air di Tlogo Bêndung ini selalu meluap, dan luapan air tlogo ini melanda penduduk di sekitar tlogo, di sebelah utara bagian barat, tepatnya di pinggir Jalan MH. Thamrin sekarang ini.

Dengan keadaan yang memprihatinkan seperti itu, maka di setiap musim hujan, para penduduk di sebelah utara tlogo bergotong-royong membuat bendungan di tlogo tersebut sebagai penghalang air agar tidak meluap ke rumah-rumah penduduk. Dari situlah, nama Tlogo Bêndung berasal. Kegiatan dan kebiasaan membendung air setiap musim hujan itulah yang berlangsung setiap tahun membuat penduduk di sekitar Tlogo Bêndung menamai tempat tinggal mereka dengan nama Desa Tlogo Bêndung. Mereka sepakat dengan nama tersebut dikarenakan mereka berharap dengan membendung tlogo tersebut, maka tidak ada lagi air yang meluap ke pemukiman penduduk di setiap musim hujan.

Oleh pemerintah Kolonial Belanda, untuk mengatasi luapan air tersebut dibuatkan saluran air dari Tlogo Dêndo yang letaknya berada di sebelah selatan Tlogo Bêndung. Saluran air ini menyambung dengan saluran dari Desa Sukorame lalu ke Desa Pekauman – Bedilan – Pekelingan dan berakhir ke laut.

Setelah terhindar dari luapan air Tlogo Bêndung, maka masyarakat Desa Tlogo Bêndung mulai memikirkan untuk membentuk pemerintahan desa pada tahun 1936. Sumber lain ada yang menyebutkan, pemerintahan Desa Tlogo Bêndung terbentuk pada tanggal 15 April 1930.

untitled-1

Kepala Desa Tlogo Bêndung yang pertama adalah Abu Mat Said, yang mendapat julukan
petinggi brèngos, dikarenakan kumisnya yang begitu tebal dan lebat. Petinggi brèngos tersebut berkuasa hingga tahun 1972.

Pada tahun 1972, Abu Mat Said wafat dan digantikan oleh Muhammad Ma’sum Mustakim
hingga tahun 1990. Lalu berturut-turut digantikan oleh Aslikan yang menjabat pada tahun 1990 – 2007. Dan kini, Desa Tlogo Bêndung dipimpin oleh seorang Kepala Desa perempuan pertama, yaitu Hj. Sri Winarni, yang menjabat dari tahun 2007 hingga tahun 2019. Wuiiiik, cik suiné…

Bukan bermaksud mengikuti jejak Gubernur DKI Jakarta, Jokowi yang terkenal dengan gaya eksentriknya, namun saya benar-benar ingin meneruskan blusukan saya ini ke beberapa tempat yang memiliki kearifan lokal tersendiri. Dan saya yakin, dari Tlogo Bêndung, saya akan menemukan kearifan lokal lainnya yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya…