Oleh : Vitria Indri Pujiyani

Menelusuri sejarah dan cerita rakyat yang ada di Gresik ini, seringkali tidak
lepas dari Sunan Giri. Maklum, pendiri kota ini memang Sunan Giri. Bisa
jadi keterlibatan Sunan Giri merupakan fakta sejarah, namun bukan tidak
mungkin hanya asal dihubung-hubungkan saja. Tidak terkecuali, keberadaan ikan
bandeng dan Sumur Gêmbêng yang ada di Desa Roomo.

Ada sebuah cerita… Pada suatu ketika, Sunan Giri menyamar menjadi seorang rakyat biasa yang ditemani dengan salah satu muridnya melakukan perjalanan melihat-lihat keadaan rakyatnya. Sampai suatu saat, Beliau sampai di sebuah desa kecil yang sekarang dikenal bernama Desa Roomo.

Waktu itu, Sunan Giri melihat ada warga sedang merayakan sebuah hajatan sêlamêtan. Beliau ikut bergabung dan berkumpul bersama warga sampai para warga Desa Roomo sendiri tidak menyadari bahwa yang bersama mereka adalah Sunan Giri dan santrinya. Warga masih tidak menyadari bahwa yang sedang berkumpul bersama mereka itu adalah salah satu dari Walisongo, seorang waliyullah…

Ketika tiba saatnya acara pembagian makanan, Sunan Giri bertanya pada pemilik hajat tersebut : “Mengapa ikan bandeng yang dibuat hajatan kok kecil-kecil sekali?”
Pemilik hajat itu pun menjawab : “Ya adanya seperti itu, diterima saja karena di sini ikan bandengnya memang kecil-kecil”. Si pemilik hajat menjawab pertanyaan dari Sunan Giri itu dengan bersungut-sungut, sedikit kesal, dan sedikit tersinggung.

“Kari mangan aé kok athik takon-takon barang…”, begitu gerutu si pemilik hajat.

Padahal, sebetulnya pada saat itu ada ikan bandeng yang berukuran besar namun mengapa yang dibagikan yang kecil-kecil. Kejadian inilah yang di kemudian hari dipercaya oleh warga Desa Roomo mengapa ikan bandeng yang dihasilkan di tambak desa ini selalu berukuran kecil. Hal itu dikarenakan mandi atas ucapannya sendiri.

Namun dalam kisah yang lain disebutkan, bahwa penyebab ikan bandeng Desa Roomo berukuran kecil karena pada suatu ketika, ada seorang pemilik tambak yang sedang panen dan saat itu pula Sunan Giri lewat dan bertanya kepadanya : “Bagaimana dengan hasil panennya, Pak?”

“Ikannya kecil-kecil”, jawab pemilik tambak tersebut.

Pemilik tambak tersebut tidak tahu bahwa yang bertanya itu adalah Sunan Giri dan sengaja tidak menyebutkan ukuran bandeng yang sebenarnya supaya “orang asing” itu tidak meminta kepadanya nantinya.

Selain soal bandeng itu tadi, sebagaimana sudah diceritakan sekilas dalam cerita lain mengenai Sêgo Roomo, di desa ini ada sebuah sumur kuno yang sekarang ini berada di halaman SDN Roomo, di Dusun Meduran, Desa Roomo.

P1010213bw copy

Keberadaan sumur ini masih tetap dirawat oleh warga sekitar. Selain karena dipercaya sebagai peninggalan waliyullah, air sumur ini tidak pernah habis meskipun dipakai sebanyak apapun termasuk pada musim kemarau panjang sekalipun. Padahal sumur-sumur di daerah sekitarnya tidak terlalu melimpah airnya dan pasti kesulitan air kalau musim kemarau, karena kebanyakan berupa sumur resapan yang mengandalkan curah hujan saja.

Diceritakan oleh sêsêpuh Dusun Meduran yang bernama Mbah Puri’ah dan Ibu Sutimi…
Asal usul sumur ini bermula ketika Sunan Giri tidak bisa menemukan air yang akan digunakan untuk ber-wudhu karena saat itu menjelang waktu sholat. Lantas Sunan Giri langsung menancapkan tongkatnya ke tanah. Dan ketika tongkat itu dicabut, tiba-tiba keluarlah air hingga menggenang, ngêmbêng dalam Bahasa Jawa. Air itulah yang digunakan untuk ber-wudhu.

Dan ternyata, air itu terus meluap hingga Beliau mengatakan bahwa jika hal ini terus dibiarkan tanpa dilakukan penampungan, maka air ini bisa menggenangkan semua rumah warga desa. Maka Beliau menutup sumur tersebut agar tidak terlalu meluber dengan sebuah gong. Setelah itu, seketika air keluar tidak terlalu deras namun tetap mengalir hingga akhirnya dibuatlah bendungan berupa sumur.

Sumur Gêmbêng, Peninggalan Sunan Giri copy

Tradisi yang kemudian berkembang di masyarakat adalah bahwa setiap tanggal 12 Ruwah (Jawa) atau Sya’ban, warga melakukan sêlamêtan atau hajatan untuk mensyukuri atas nikmat adanya sumur itu. Warga meyakini bahwa pada tanggal itulah Sunan Giri membuat sumur tersebut.
Warga percaya, karena sumur ini dibuat oleh seorang Wali, maka memiliki kelebihan dibandingkan dengan sumur-sumur lain di desa yang sama. Ketika musim kemarau, Sumur Gêmbêng tetap mengalir deras, sementara sumur-sumur lainnya kering. Atau, kalau tokh keluar air, berupa air yang keruh dan payau, sehingga tidak bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Sebagian besar warga banyak yang menggantungkan kebutuhan airnya di Sumur Gêmbêng tersebut. Bahkan airnya sempat disedot dan dimasukkan ke dalam mobil tanki untuk diperjual belikan karena kualitas air ini baik. Dengan demikian, keberadaan sumur ini juga memberikan penghasilan tambahan bagi warga.

Setiap tahun, sumur ini juga dikuras, dibersihkan, melalui sebuah ritual tertentu. Warga mengadakan sêlamêtan dengan mengeluarkan berbagai macam jenis bawaan, yaitu udêng atau surban untuk kepala dan dawet ayu. Udêng digunakan untuk menutup sementara lubang sumber air agar sumur bisa dibersihkan. Sedangkan dawet ayu, dimaksudkan sebagai simbol agar sumur tersebut tetap mengalir dan bisa dimanfaatkan oleh semua warga sekitar.

Menurut warga, bahwa hajatan ini dilakukan semata-mata dalam rangka mensyukuri atas nikmat yang keluar dari sumur tersebut dan bukan hajatan untuk mensakralkannya. Ojok sampèk salah ngartikno, Rèk…