Anda pernah minum legen atau dawet aren / ental? ya… semua itu berasal dari tanaman siwalan. Pohon siwalan memiliki kegunaan yang sangat banyak sampai-sampai ada yang bilang “jadilah seperti siwalan. Mengapa bisa seperti itu? tentu saja karena dari pohon siwalan ini tidak ada yang sia-sia, dari mulai buah nya, yang jelas buahnya bisa dijadikan minuman dawet aren, air nya bisa digunakan sebagai minuman legen dan gula merah aren. Daun nya juga bisa digunakan sebagai bungkus makanan tradisional dan ketupat, juga bisa digunakan sebagai mainan tradisional anak-anak.

Di Gresik, siwalan menjadi sebuah heritage atau peninggalan yang sampai saat ini masih ada dan terus dikembangkan oleh masyarakat. Anda pasti akan mendapati penjual legen di pinggir-pinggir jalan kota gresik atau pinggiran gresik. Tapi sayangnya tidak banyak generasi muda sekarang yang mengerti bagaimana proses minuman ini dibuat dan dimana tempat pertaniannya. Dalam tulisan ini akan sedikit diceritakan bagaimana proses pembuatannya.

Petani siwalan banyak didapati didaerah  gresik sebelah pantai utara, meskipun di kota gresik nya sendiri juga banyak pohon-pohon siwalan. Tepatnya di desa Suberoh, di desa ini hampir semua penduduknya menggeluti pekerjaan sebagai petani dan penjual makanan dan minuman berbahan siwalan. Desa Suberoh terletak di wilayah Panceng, Gresik, kalau pernah mendengar tempat wisata pantai Delegan, desa suberoh sangat dekat dengan pantai wisata gresik ini. Bisa masuk melalui jalan masuk ke pantai dalegan kemudian sebelum jembatan pertama ada belokan jalan berkapur menuju ke desa suberoh.

Keuntungan dari bertani siwalan adalah air siwalannya bisa dipanen sehari dua kali, yaitu di pagi hari dan sore hari setelah sholat asyar. Biasanya mereka mulai memanjat pohon dipagi hari pada pukul 06.00 – 07.00, setelah itu air hasil memanjat itu langsung di masukkan kedalam botol untuk dijual. Biasanya petani menjual sendiri hasil panen legennya itu ke jalan besar diwilayah meraka. Namun ada juga tengkulak dari daerah lain yang sengaja mengambil air legen ke desa ini. Air legen asli yang belum diolah hanya bisa bertahan selama 4 jam saja, setelah itu air legen sudah menjadi kecut / basi. Air legen basi ini biasa disebut sebagai tuak yang memabokkan.

Untuk bisa bertahan lebih lama biasanya petani memasak air legen tersebut di dapur mereka, atau mereka sering menyebutnya sebagai pawon. Ditempat itu air legen dimasak untuk dihangatkan atau dimasak sampai menjadi gula merah aren. Untuk bisa menjadi gula aren merah, air siwalan tersebut dimasak sampai kental dan berwarna merah/coklat pekat, kemudian setelah berwarna merah pekat, petani langsung memasukkan air legen yang telah menjadi pekat tersebut kesebuah cetakan agar gula merah yang dibuat berbentuk bagus dan bisa dijual.

Setelah mengalami proses yang cukup panjang, kini air legen dan gula merah siap untuk dipasarkan langsung maupun diambil oleh tengkulak untuk dipasarkan di daerah lain.