Oleh : Achmad Chusnun Ni’am dan Arina Hidayati

Dêngkulmu…, matamu…, ndhasmu…, lambému…” adalah kata-kata makian yang akrab bagi warga Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Tuban. Meski menurut sebagian orang terdengar kasar dan menyakitkan hati, namun kata-kata itu hanyalah ungkapan keakraban diantara teman sendiri alias guyonan karo konco dhéwé. Justru hal itu malah menjadi daya tarik untuk mendukung keakraban.

Ternyata di wilayah Gresik, ada nama desa yang asal-usulnya terkait dengan kata-kata kasar itu, yaitu Matamu. Desa ini dulu bernama Mertamu (bertamu) yang kemudian berubah nama menjadi Desa Singopadu yang artinya singo tukaran (singa yang bertengkar).

Seiring dengan perkembangan zaman, lagi lagi nama Desa Singopadu berubah menjadi Desa Singorejo hingga saat ini. Yang kemudian menarik ditelusuri adalah asal mula nama-nama Singopadu, Mertamu, dan Matamu itu tadi.

Kata shohibul hikayat, konon nama Singopadu berasal dari sebuah peristiwa pertengkaran warga desa ini dengan warga desa lain. Penduduk Desa Singopadu mayoritas adalah orang yang ramah dan memiliki toleransi yang tinggi. Sebagian besar bekerja sebagai petani, angon sapi, petambak, atau bercocok tanam.

Untitled-1 copy

Mereka biasa berangkat setelah adzan shubuh dan pulang ketika menjelang maghrib. Hingga saat ini, kebiasaan itu masih terjadi namun intensitasnya jauh berkurang akibat banyaknya lahan yang dijadikan perumahan dan pembuatan jalan tol. Bahkan terjadi relokasi lahan makam di wilayah tersebut karena pembangunan jalan tol Kebomas tersebut.

Alkisah, pada zaman dulu ada seorang petualang yang bernama Wak Kasan yang berasal dari daerah Dukun (sebelah timur wilayah Gresik) tersesat di Desa Mertamu. Kemudian dia bertemu dengan penduduk asli desa bernama Wak Singo. Wak Kasan bertanya dalam Bahasa Gresikan kepada Wak Singo yang baru saja pulang dari sawahnya.

“Opo arané deso iki, Cak?”, tanya Wak Kasan kepada Wak Singo.

Ternyata, Wak Singo dan Wak Kasan kalau sedang berbicara terdengar bindêng (sengau).

“Deso Mertamu…”, jawab Wak Singo.

Karena Wak Singo kalau berbicara bindêng, maka terdengar seperti berkata “matamu” apalagi wajah Wak Singo terlihat lelah sebab baru saja pulang dari sawah.

Wak Kasan yang berasal dari Jawa bagian pesisir tentu saja kaget dan agak jengkel mendengar jawaban tersebut dan mengira Wak Singo mengumpat dengan kata kasar. Wak Kasan langsung memalingkan muka dan pergi menjauh. Ketika dia kembali ke desa asalnya, ia kemudian menceritakan kejadian yang dia alami kepada warga desanya. Mereka pun merasa tersinggung dan naik pitam terhadap perlakuan yang dirasa tidak sopan kepada warganya. Maka terjadilah padu (pertengkaran) antar desa.

Pertengkaran antara warga desa Wak Kasan (entah desa mana) dan desa Wak Singo berlangsung tidak seimbang, karena tidak ada kesiapan penduduk Desa Mertamu sehingga banyak korban jatuh dari pihak warga Desa Mertamu.

Pada akhirnya, para pemuka kedua desa mengadakan perundingan. Setelah diketahui pemicu pertengkaran itu berasal dari kesalahpahaman, maka penduduk asal desa Wak Kasan meminta maaf kepada warga Desa Mertamu dan akhirnya nama Desa Mertamu diganti menjadi Desa Singopadu yang artinya singa yang bertengkar.

Desa Singopadu, yang kemudian berganti nama dengan Desa Singorejo ini sekarang berada sebelah timur depan Kantor Bupati Gresik di daerah Bunder. Desa Singopadu sebenarnya berstatus dusun, bagian dari Kelurahan Dahanrejo. Nama Dahanrejo itu sendiri ini berasal dari kata Daharan (dalam Bahasa Jawa, Dahar artinya makan). Asal-usul dari Dahanrejo ini dikisahkan oleh Mbah Widji (80 tahun), warga asli Dusun Dahan Rejo Lor.

Menurutnya, dusun tersebut dahulu didatangi seseorang yang kurang diketahui status dirinya. Mungkin orang tersebut salah satu murid atau saudara dari Sunan Giri. Apa yang dilakukannya berbeda dari warga setempat, karena dia selalu menghabiskan waktunya dengan sholat dan mengaji. Ketika perbekalannya habis, dia mendatangi salah satu rumah warga guna untuk meminta makanan. Pada saat itu, dia bilang kepada pemilik rumah dengan mengucapkan kata “dahar” (makan). Setelah kenyang, dia mengucapkan kata “rêjo” yang berarti enak. Ketika hendak pergi, dia juga mengatakan “maturnuwun, dahar rêjo” kepada pemilik rumah.

Dari kejadian tersebut, masyarakat setempat mulai berpikiran bahwa ternyata nama dusun mereka selama ini adalah Dahan Rejo. Padahal dalam arti sebenarnya, orang tersebut mengatakan bahwa makanan yang telah diberikan sangat enak. Kata dahar berubah arti menjadi dahan karena dahulu warga setempat sulit untuk mengucapkan huruf “R”. Seiring dengan perkembangan jaman, nama desa itu bergeser menjadi Dahan Rejo.

Kata orang zaman dulu, daerah Singopadu bakal menjadi pusat kota. Lha sekarang ini terbukti. Banyak perumahan dan kantor kedinasan yang dibangun di daerah Singopadu, salah satunya yaaa Kantor Bupati Gresik itu…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here