Seni membaca Macapat

10
1647

Seringkali saya mendengar Arek-Arek Gresik bertanya “Macapat itu apa??”…

Hal itu membuat saya berpikir bahwa “Seni membaca Macapat” sudah jarang dikenal dikalangan Pemuda Gresik, saya sendiri kurang begitu mengerti arti sebenarnya “Macapat”. Tapi yang jelas suatu cerita atau Manuskrip Kuno yang dibaca dengan di Langgamkan atau berirama Cengkok biasanya orang menyebutnya “Macapat”.

Manuskrip Kuno
Manuskrip Kuno

Cengkok sendiri macam2 jenisnya, untuk Gresik sendiri Cengkok-nya gaya Pesisiran, meskipun tidak semerdu Cengkok Jawa Tengah-an, Cengkok Pesisiran mempunyai kekhasan tersendiri.

Bahkan sekarang kayaknya belum ada penerus Almarhum Mbah Nurhasyim salah satu pembaca macapat asal desa Lumpur Gresik yang mempunyai gaya membawakan Macapat dengan Cengkok Pesisiran.

Almarhum Mbah Nurhasyim
Almarhum Mbah Nurhasyim

Beliau biasanya membaca Macapat pada sa’at Haul Mbah Sindujoyo, sekarang hal itu digantikan oleh Pak Mat Kauli dkk. Pak Mat Kauli mempunyai gaya membaca Jawa Tengah-an, kita perlu mengacungi jempol buat beliau yang meski usianya hampir 90 tahun, tetapi tetap eksis dan mau mengajari siapa saja yang berminat belajar membaca Macapat. Beliau tinggal di daerah Gending dan sudah beberapa Manuskrip yang sudah beliau terjemahkan.

Pak Mat Kauli
Pak Mat Kauli

Lihat juga : https://www.youtube.com/watch?v=2_-QeIiXnOk

10 COMMENTS

  1. Yang dibaca biasanya Manuskrip kuno yang menceritakan kisah2 pendahulu kita, oleh karena itu tak jarang Manuskrip dijadikan salah satu sumber penggalian data bagi sejarahwan. Salah satucontoh “Serat Sindujoyo” yang dibaca pada sa’at Haul Mbah Sindujoyo,disitu menerangkan kisah kehidupan Mbah Sindujoyo mulai dari sebelum dan sesudah menjadi santri Kanjeng Sunan Prapen. Manuskrip2 tersebut usianya juga udah ratusan tahun. Tapi ada juga Manuskrip yang bercerita tentang fiksi dan lainnya. Biasanya Manuskrip tersebut ditulis menggunakan Huruf Arab Pegon atau Huruf Jawa.

  2. Yang dibaca biasanya Manuskrip kuno yang menceritakan kisah2 pendahulu kita, oleh karena itu tak jarang Manuskrip dijadikan salah satu sumber penggalian data bagi sejarahwan. Salah satucontoh “Serat Sindujoyo” yang dibaca pada sa’at Haul Mbah Sindujoyo,disitu menerangkan kisah kehidupan Mbah Sindujoyo mulai dari sebelum dan sesudah menjadi santri Kanjeng Sunan Prapen. Manuskrip2 tersebut usianya juga udah ratusan tahun. Tapi ada juga Manuskrip yang bercerita tentang fiksi dan lainnya. Biasanya Manuskrip tersebut ditulis menggunakan Huruf Arab Pegon atau Huruf Jawa.

  3. manuskrip di Surowiti juga kabarnya masih original dan masih terjaga sampai sekarang, kabarnya juga berisi semacam notulensi dari sarasehan dan ‘seminar’ politik dan reliji di masa Kanjeng Sunan Giri dan sejawatnya dimasa itu

  4. manuskrip di Surowiti juga kabarnya masih original dan masih terjaga sampai sekarang, kabarnya juga berisi semacam notulensi dari sarasehan dan ‘seminar’ politik dan reliji di masa Kanjeng Sunan Giri dan sejawatnya dimasa itu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here