Tanpa sengaja saya menemukan beberapa lembar kertas yang berisi tulisan artikel Abah saya H.A. buchory Rachman. Dalam artikel tersebut menceritakan bagaimana suatu Kursus bahasa Inggris IQBAL berdiri. Kursus Bahasa Inggris IQBAL sampai beberapa waktu lalu masih aktif diadakan di sekolahan Poemoesgri (POEtera MOESlimin GRIssee) . Dan dalam tulisan artikel tersebut isinya tidak jauh berbeda dengan yang ada dalam buku Grisse Tempo Doloe hal 168. Untuk membagi wawasan bagi mereka yang belum sempat membaca buku Grisse Tempo Doloe yang sekarang sangat sulit didapatkan, maka sengaja kami menulis ulang artikel tersebut, dan semoga hal ini bisa bermanfaat bagi pembaca semua.

Sekitar tahun 1958 di Gresik ada 2 tepat kursus Bahasa Inggris yang diselenggarakan perorangan, masing masing adalah Kursus Bahasa Inggris Nasional lokasinya adalah di Gapura  (sekarang jalan Pahlawan), kedua kursus Bahasa Inggris Institue Airlangga lokasinya di Pecinan (sekarang jalan Setia Budi).

Kedua kursus tersebut mendapat sambutan baik dari masyarakat terutama remaja yang waktu itu keranjingan Bahasa Inggris. Bedanya di Airlangga pesertanya lebih banyak dari pada di Nasional. Hal ini disebabkan uang kursusnya yang lebih murah daripada di Nasional. Kalau di Nasional uang kursusnya Rp. 7,50 (tujuh rupiah lima puluh sen) maka di Airlangga hanya Rp. 5 (lima rupiah). Sedangkan di Surabaya masih Rp. 15 (lima belas rupiah).

Setelah beberapa bulan terbetik kabar bahwa Airlangga selain pelajaran Bahasa Inggris, diberikan pula secara gratis pelajaran berorganisasi serta cara-caranya berorganisai. Mulanya kami tidak ambil peduli tapi khabar ini makin lama makin santer akhirnya kami tergugah. Terpicu oleh kekhawatiran terkontaminasinya anak anak peserta kursus yang mayoritas anak anak I.P.N.U dan GP Ansor akan ajaran organisasi yang yang bertolak belakang dengan ajaran Islam (Komunis). Yang bukan tidak mungkin disisipkanlewat kursus, maka baik sdr KH. A. Wahib Tamim (kakak kandung KH. Muchtar Jamil) mupun saya sendiri (H.A. Buchory Rachman) tidak bisa berpangku tangan, tidak ingin kecolongan. Secara diam- diam kami berdua berupaya bagaimana caranya agar anak-anak tidak mengikuti kursus di dua tempat tersebut.

Untuk melarang mereka langsung dengan dalih apapun memang sangat tidak mungkin,  setiap malam hal ini menjadi pembahasan kami di Langgar Serang (Langgar depan rumah KH. Muchtar Jamil). Alhamdulillah akhirnya kami menemukan yaitu mengadakan kursus tandingan dengan maksud agar anak anak I.P.N.U pindah. Namun kami terbentur soal dana, tempat dan personil pengajarnya. Menurut rencana (tidak terlalu muluk) kalau kursus yang akan kami selenggarakan nanti harus mempunyai corak yang beda dengan kedua kursus yang telah ada (Nasional dan Airlangga).

Demikianlah setelah membahasnya semalam suntuk akhirnya Sdr. KH. A Wahib Tamim merelakan rumahnya ditempati untuk belajar dan kegiatan lain yang ada kaitannya dengan kursus. Tentang tenaga pengajar Sdr. KH. Wahib Tamim menunjuk saya (H.A. Buchory rachman), untuk yang lain lain akan kami kerjakan bersama.

Pada malam berikutnya kami membahas tentang nama  dan lembaga. Lagi lagi kami harus begadang mengutak-atik sambil bercanda akhirnya kami menemukan lambang yang sesuai dan cocok sebagai lambang pelajaran yaitu Burung Hantu yang bertengger diatas buku yang terbuka, dua pena, bintang dll yang punya makna sendiri. Adapun namanya diperoleh setelah kami istikhoroh yakni IQBAL nama seorang pujangga Islam dari Pakistan, Muhammad Iqbal.

Lambang Institut Iqbal

Nah tiba gilirannya  membahas soal dana, menurut rencana semua pelajaran akan kami cetak (stensil). Untuk membeli mesin stensil Staedtler buatan Jerman memang belum mungkin karena harganya diatas Rp. 10.000,- (sepeluh ribu rupiah). Tapi demi terlaksananya maksud akhirnya kami harus terpaksa menguras tabungan kami di Kantor Pos. Waktu itu Sdr KH Wahib Tamim punya tabungan Rp. 120,- (seratus dua puluh rupiah), diambillah Rp. 100,- (seratus rupiah) dan saya punya Rp. 500,- (lima ratus rupiah) diambillah Rp. 400,- (empat ratus rupiah). Denga modal Rp. 500,- (lima ratus rupiah) kami membeli mesin Stensil buatan Solo dengan perlengkapannya di Toko buku Van Drop Tunjungan. Pembelian Stensil dan alat lat tulis lainnya menghabiskan dana Rp. 450,- (empat ratus lima puluh rupiah)

Sepulang dari Surabaya pada malam itu juga kami langsung menyusun rencana pelajaran, mengetik dan finishingnya mencetak hingga selesai pukul 04.00 pagi. Waktu itu kami berdua memang sama2 terjun ke Jurnalistik dan tergabung pada harian Duta Masjarakat edisi pusat (Jakarta) dan Jawa Timur  sebgai Wartawan. Dengan demikian kesibukan kami jadi bertambah di samping menyiapkan pelajaran juga harus menyiapkan berita dan menyeleksi foto foto yang harus masuk ke meja Redaksi.

Setelah segalanya siap barulah kami membuat surat pemberitahuan ke Kepolisian dalam hal ini D.P.K.N. (waktu itu). D.P.K.N. adalah semacam badan intelijen, dan tepat pada tanggal 13 Juni 1958 kursus Bahasa Inggris dengan nama Institut Iqbal resmi dibuka dengan lamat Bedilan IX A/2 Gresik (rumah KH Wahib Tamim atau sekarang rumah KH Muchtar Jamil).

Hari pertama dibuka calon peserta yang hadir kira kira 250 orang. Sungguh diluar dugaan kami, malah kami jadi kebingungan sendiri. Anak sebnyak itu memenuhi Langgar Serang (langgar depan rumah KH Wahib Tamim) plus halamannya, belum lagi yang duduk-duduk di teras rumah tetangga. Pada hari kedua kami adakan seleksi, untuk calon pesrta dari SMA dan sederajat kami masukkan kelompok “A” sedangkan yang dari SMP atau sederajat kami masukkan dalam kelompok “B”. Dan ternyta mereka sebagian besar adalah peserta dari Airlangga dan bbrp dari Nasional.

Kelebihan pada Institut Iqbal adalah pelajaran dicetak dalam bentuk Diktat dengan demikian para Kursistan tidak usah repot repot menulis. Mereka tinggal baca dan kami yang menerangkan. Seminggu sekali diadakan tanya jawab soal agama, atau kalau tak ada kami berikan ekstra kurikuler Bahasa Belanda atau  kalau pesertanya memenuhi target (10 orang minimal).

Setiap kali masuk para Kursistan diharuskan berbahasa Inggris, kalau tidak dikenai denda sebesar 2 kali uang kursus Rp,- 5 (lima rupiah), uang kursusperbulan Rp, 2,5 (dua puluh rupiah lima sen). Sebelum pelajaran dimulai para Kursistan diharuskan membaca Al-Fatihah yang dipimpin oleh pengajar, demikian pula usai pelajaran sebelum beranjak diharuskn membaca . Alhamdulillah  dengan  sistem inibanyak peserta dari Etnis Tionghoa bisa membaca Al-Fatihah dan Wal Ashri dengan fasih. Soal mereka mau masuk Islam atau tidk bukan urusan Iqbal.Alhamdulillah dengan uang kursus semurah itu (Rp,- 2,50) kursus dapat berlangsung lancar tanpa ada hambatan yang berarti walaupun banyak yang nunggak alias Ngemplang.

IMAGE0003 copy
Filosofi Lambang IQBAL

 

Sumber : Catatan Pribadi H.A. Buchory Rachman dan buku Grissee Tempo Doloe