Banyak pertanyaan yang diajukan teman2 mengenai Buku “Sang Gresik Bercerita”, mulai dimana mendapatkannya?, isinya mengenai apa?, berapa harganya?, siapa saja yang ikut berperan didalamnya?, bagaimana proses pembuatannya?, penulis dan nara sumbernya siapa?, Illustratornya siapa?, Bagaimana proses pembuatan fotonya? Dsb…

Disini saya akan coba menceritakan sedikit mengenai hal2 diatas terutama mengenai pertanyaan yang terakhir tentang bagaimana proses pembuatan fotonya, kebetulan saya sendiri yang melakukan dan membuat sebagian besar foto2 yang ada, selebihnya bbrp dari teman penulis dan foto Kuno.

Beberapa bulan yang lalu telah terbit sebuah Buku “Sang Gresik Bercerita” yang digagas oleh Bpk Dukut Imam Widodo seorang penulis yang terkenal dengan buku2 Tempoe Doeloe-nya dan didanai sepenuhnya oleh PT. Smelting Gresik. Buku ini menceritakan mengenai kisah2 kearifan yang ada di seluruh daerah gresik, yang melibatkan Lebih dari 50 orang penulis muda, 3 orang editor adalah Dukut Imam WidodoHenri Nurcahyo-Rhe, Mas Rachmad Basoeki sebagai Illustrator, M. Syaiful Umam sebagai Lay Out dan Andy Buchory sebagai Fotografer.

Proses pembuatan buku ini memakan waktu yang cukup lama dan rumit, karena begitu banyaknya penulis muda yang ada. Sengaja disini penggagas memilih penulis2 muda agar muncul penulis2 baru yang bisa menjadi penerus penulis2 yang ada sekarang ini. Juga tema yang diangkat sengaja tentang Kisah Kearifan yang ada di Gresik dan jarang orang mengetahuinya, oleh sebab itu mengenai kisah Sunan2 yang ada di Gresik tidak ditulis karena sudah banyak tulisan mengenai itu.

Konsep awal prosesi adalah penulis mengirimkan tulisan ke Mataseger yang diketuai Kris Adji AW sebagai Koordinator untuk diteruskan ke Editor, juga mengirimkan ke Fotografer untuk bisa segera diambil foto2 lokasi yang ada di tulisan tsb. Tapi ternyata konsep ini tidak berjalan begitu lancar dikarenakan penulis hanya mengirimkan tulisan baru ke pihak Koordinator, sedangkan koordinator tidak segera meneruskan informasi ke fotografer baik Email ataupun informasi lainnya, sedangkan fotografer sendiri tidak mengetahui ada tulisan yang masuk karena tidak ada pemberitahuan dari penulis ataupun koordinator, setelah mengetahui hal ini fotografer segera bekerja dengan cara jemput bola.

Setelah hal pertama diatasi timbul lagi permasalahan kedua, tugas editor adalah mengoreksi dan membenahi tulisan2 agar bisa menarik untuk dibaca. Juga mengoreksi ejaan dan kosa kata tulisan. Diantara semua penulis tentunya tidak semuanya bagus karena memang mereka penulis2 muda, bahkan beberapa diantaranya masih duduk di bangku SMU. Tugas editor disini tentunya menjadi bertambah berat jika ada tulisan yang hampir seluruhnyaharus direvisi, akhirnya diputuskan tulisan tersebut dikembalikan dulu ke penulis untuk direvisi, disini fotografer kembali menunggu tulisan tsb hingga selesai.

 

Proses Pengambilan & Pembuatan Foto

Awalnya saya dihubungi oleh Bpk Dukut Imam Widodo dan beliau menawarkan saya untuk mengisi foto2 yang ada dibuku yang akan dibuat, yang terlintas saat itu saya bisa berkarya untuk Gresik dan karya saya bisa berguna untuk anak cucu kita nantinya, tawaran tersebut saya terima dengan senang hati.

Perkiraan awal tulisan yang nantinya dilengkapi dengan foto-foto sekitar 100 tulisan, tapi akhirnya membengkak menjadi sekitar 128 tulisan, tetapi yang dicetak 88 tulisan karena terbentur oleh ketebalan buku, dan rencananya akan ada jilid ke-II untuk tulisan yang belum terbit. Sedangkan pemilahan tulisan dilakukan dengan memilih tulisan dari penulis yang menulis lebih dari 1 tulisan, sehingga tidak ada penulis yang tulisannya tidak tercetak sama sekali.

Sedangkan untuk aturan fotonya sendiri juga ditentukan oleh penggagas (yang didalam membuat sebuah Buku selalu berkualitas) dengan beberapa kriteria sbb :

  1. Foto harus Hitam Putih
  2. Foto harus terkesan seperti foto lama dalam hal ini menyerupai foto liputan.
  3. Tidak boleh terlihat adanya antena TV, kabel2 listrik dsb sehingga terlihat seperti foto baru dan foto terlihat natural.
  4. Tidak boleh ada banner2, spanduk iklan atau atribut lainnya yang cuma ada di era modern ini.
  5. Foto harus sesuatu yang berhubungan dengan tulisan.
  6. Hal seperti no 3 dan 4 bisa diabaikan kecuali sangat terpaksa

Dengan adanya permintaan diatas kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi fotografer adalah :

  1. Angle dan view harus menyerupai foto2 lama dalam hal foto Landscape, Human Interest ataupun Liputan. Yang klo diperhatikan dengan seksama hal ini berbeda.
  2. View harus seperti kamera lama, dalam hal ini perbedaan mencolok ada di Focal Lenght Lensa. Sehingga gambar yang dihasilkanpun karakternya berbeda viewnya.
  3. Dimana mana TV dan Listrik sudah menyebar di hampir seluruh pelosok Gresik, tentunya sulit untuk mendapatkan foto Liputan atau Landscape yang bebas dari Antena dan Kabel Listrik.
  4. Pengambilan foto dilakukan di Gresik awal 2014 sampai menjelang akhir 2014, seperti kita ketahui bersama saat itu dimana mana tempat spanduk2 kampanye dan jumlahnyalebih dari 1 di setiap lokasi yang difoto.
  5. Sering kali saya terbentur dengan adanya objek yang lebar dan luas, padahal jarak terjauh fotografer dengan obyek cm 2-3m. Jika saya menggunakan lensa Focal Lenght Lebar (Fish Eye) mungkin hal itu bisa terpenuhi, akan tetapi karakter foto akan Distorsi (mengecil di ujung2nya) dan karakter seperti inijarang ditemukan di foto2 lama yang cenderung menggunakan focal lenght Medium.
  6. Karena foto yang diambil harus sesuai dengan tulisan, terkadang saya harus mengkonsep karena hal2 yang diceritakan tersebut bersifat musiman.
  7. Jarak tempuh ke lokasi yang sulit, meski dari awal saya diberi tawaran Bpk Dukut Imam Widodo untuk menggunakan mobil serta sopir pribadi beliau untuk mendapatkan foto, tetapi hal itu tidak saya lakukan. Bukan karena menolak kebaikan hati beliau, tetapi saya sudah bisa membayangkan medan yang saya tempuh sulit sekali untuk ditempuh kendaraan roda 4, dan hal itu tentunya akan memperlambat proses karena saya harus turun dan berjalan kaki menuju lokasi, dan ternyata benar. Sering kali saya harus menerabas tumpukan sampah dan meninggalkan motor di semak2 sertaharus berjalan kaki menembus Rawa2 menuju lokasi. Tetapi hal itu saya lakukan dengan senang hati.
Penanganan foto dengan adanya antena dan kabel yang bersliweran

Foto foto tersebut tentunya tidak bisa kita proseslangsung menjadi hitam putih, sebelumnya harus kita bersihkan dulu hal2 yang mengganggu di foto tersebut. seperti salah satu contoh foto “Bale Kambang” dibawah ini.

P1010025

P1010025BW

Penanganan foto dengan kasus adanya Banner, Pamflet dsb

Jika saja masyarakat menyadari untuk tidak menempelkan Banner2 Kampanye dengan asaldipohon2, tentunya hal ini bisa mempermudah. Coba perhatikan dengan seksama foto yang belum diedit.

AB013210

AB013210bw

Perbaikan Foto yang hilang sebagian

Ada kalanya kita menghadapi sebuah obyek yang hilang separuh atau beberapa bagiannya, dalam hal ini bagaimana kita mengupayakan melengkapi foto tersebut sesuai atau setidaknya mirip dengan bentuk aslinya. Seperti salah satu foto dibawah iniyang salah satu gapuranya sengaja dirobohkan karena rapuh dan dikhawatirkan membahayakan masyarakat.

P1010354

Gerbang-Masuk-Desa-Benjeng

 Penggabungan beberapa Foto

Beberapakali saya dihadapkan pada masalah foto yang diambilakan terlihat jelek jika cuma sebagian sajayang diambil, padahal jarak saya dengan obyek tidak sampai 3m. Disini saya memakai trik yang dahulu biasa dipakai di jaman kamera rol, yaitu foto diambil bagian perbagian dan dijadikan satu.Hal ini mirip dengan cara pengambilan foto hp menggunakan fitur Panorama. Tapi Panorama terbatas hanya bisa kiri kanan dan terbatas beberapa foto, padahal yang saya perlukan atas bawah juga dan terkadang lebih dari 15 foto.

P1012827

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Foto yang sudah digabungkan jadi satu

Disini kita bisa tahu bahwa Buku “Sang Gresik Bercerita”tidak dibuat asal2an, oleh karena itu banyak teman2 yang ingin memilikinya. Tapi sempat juga saya mendengar dari salah satu tim penyusun yang bilang “Halah kari moto thok cekrik ngono thok lak wes mari…”( Alah tinggal jepret aja sudah selesai).

Disini saya merasa kesulitan untuk menjelaskan kepada seseorang yang belum memahami sama sekali mengenai fotografi, taunya dia klo foto yo “Cekrik” wes mari.. Saya cuma bisa tersenyum sambil bilang…

“Kari Cekrik Ndhiiaasmu Iku…”

Edisi pertama ini belum diperjual belikan, buku dibagikan Gratis ke sekolah2 di Gresik, Tokoh dan Ulama’Gresik, Instansi dan lembaga2.  Untuk permintaan buku bisa menghubungi di Sekretariat Mataseger (buat lembaga,instansi yang belum dapat dan jika persediaan masih ada).

Terima kasih banyak sebelumnya telah membaca tulisan ini sampai selesai, mudah2an bisa menjadi pencerahan dari pertanyaan2 yang sering diajukan.