Potensi perikanan tambak udang dan bandeng vs reklamasi industri di Gresik

0
4009

Dari tahun ke tahun, semua sudah tahu kalau gresik bertempat di daerah pesisir pantai dan terkenal dengan sunan giri nya, selain itu gresik juga terkenal sebagai penghasil dan menjadi rujukan  perikanan tambak udang dan tambak bandeng. Di Jawa Timur, Gresik menduduki peringkat pertama untuk perikanan tambak udang, setelah itu disusul sidoarjo diperingkat ke dua.

Berdasarkan Sumber: Pusat Data Statistik dan Informasi, Sekretariat Jendral Kementrian Kelautan dan Perikanan tahun 2012 (data tahun 2003-2010)

tambak---statistik
Data Statistik BPS tentang Perikanan budidaya (klik untuk memperbesar)

Terlihat di tabel diatas bahwa selalu ada kenaikan yang cukup siknifikan setiap tahunnya sejak tahun 2003 tingga 2010. Sebagian besar produksi udang Jawa Timur disupport oleh kabupaten Gresik dan kabupaten Sidoarjo. Namun kini ditahun 2015 terjadi beberapa perubahan yang cukup mengagetkan, yang dulu nya lahan tambak yang digunakan untuk produksi udang dan bandeng, kini sebagian besar sudah dilakukan reklamasi menjadi wilayah industri. Yang sangat terlihat adalah di daerah setelah jembatan manyar (Gresik) hingga Sembayat yang dulunya adalah tambak udang dan garam, kini telah tumbuh bangunan-bangunan pabrik, stock pile dan pergudangan.

Masih ada beberapa petani yang masih bertahan melanjutkan usaha perikanan tambak udang dan tambak bandeng ini, namun hasil yang didapatkan sekarang ini kurang memuaskan. Dari surve ke beberapa penduduk lokal, ada yang bilang karena lahan sudah kurang subur, ada yang bilang sudah terkena polusi pabrik baja dan lainnya. Selain itu karena banyaknya pabrik, anak-anak muda daerah tersebut banyak yang sudah tidak tertarik melanjutkan usaha perikanan tambak, mereka banyak yang melamar bekerja di pabrik-pabrik disekitar desa nya.

Salah satu anak bangsa, lokal asli Gresik, Ilmanza Restuadi Kurniawan atau lebih akrab nya dipanggil Pak Wawan mengembangkan teknik intensifikasi secara aktif.

tambak---ilmanza-restuadi-kurniawan

Pak Wawan membungkus lahan yang tidak terlalu besar dengan plastik dan menambahkan kincir angin untuk perputaran oksigen. Dengan cara ini, dengan lahan yang tidak begitu besar bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Hanya dengan 60 hari sudah bisa dipanen, jika dibandingkan dengan cara trandisional bisa dibilang jauh lebih cepat. Memang untuk biaya awal setup intensifikasi ini cukup besar, investasi kincir dan plastik menjadi komponen yang paling besar. Oleh karena itu Pak Wawan membuat beberapa inovasi seperti saluran pembuangan air dan kotoran juga dibuat agar proses pembersihan menjadi lebih simple tidak memerlukan banyak tenaga manusia. Saluran ini juga digunakan untuk proses panen udang, tidak perlu untuk mengeluarkan air dengan menggunakan diesel seharian untuk mengeluarkan air, cukup buka selang penutupnya, ikan akan dengan sendirinya masuk ke saluran tersebut dan tinggal memuatnya kedalam tempatnya (ronjot).

tambak---pembuangan

Selain itu, beliau juga melakukan penghematan penggunaan listrik untuk mengoperasikan kincir dengan menggunakan mesin diesel yang telah dimodifikasi dengan menggunakan gas Elpiji Pertamina (biasanya 3Kg).

tambak---bahan-bakar-alternatif

Karena lahan di Gresik kini harganya telah melewati batas wajar, karena banyak pengusaha yang mencari lahan di Gresik, maka Pak Wawan mengalihkan beberapa usaha perikanannya ke Bantul, Jogja. Disana perikanan sangat didukung oleh pemerintah daerahnya, bahkan fasilitas panen dan jalan raya sudah diperbaiki untuk mendukung industri perikanan dan pariwisata lokal gunung kidul.

Semoga dengan banyaknya industri yang masuk ke Gresik, perikanan udang dan bandenga yang selamai ini menjadi andalan Gresik dipentas propinsi dan nasional masih terus berkembang dan mendapatkan dukungan dari pemerintah kabupaten Gresik. Ayo dukung pak Bupati untuk revitalisasi perikanan tambak Udan dan tambak Bandeng di Gresik!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here