Khedi Devi Asmadiredja, pemandu dan fotografer Chechnya asal Indonesia. |Dok. Foto: Facebook/Devi Adventure
Khedi Devi Asmadiredja, pemandu dan fotografer Chechnya asal Indonesia. |Dok. Foto: Facebook/Devi Adventure

Pankisi Gorge di Georgia, Eropa Timur, bukanlah tempat yang didatangi banyak turis. Mereka yang datang kesana, merupakan para pelancong ekstrem, yang memburu adrenalin mendaki bukit terjal dan menyusuri gua-gua gelap di pegunungan.

Namun bagi Devi Asmadiredja, 45, lokasi terpencil di pegunungan Kaukasus itu adalah rumah.

Devi adalah wanita keturunan Indonesia, namun dia lahir di Jerman Timur. Sepanjang hidupnya, Jerman merupakan rumah bagi Devi. Dia menikah dengan pria warga negara Jerman, keturunan Chechnya dan memiliki tiga orang anak. Hidupnya sempurna.

Empat tahun lalu, semuanya berubah.

Di tahun 2011, suami Devi tiba-tiba memintanya untuk belajar bahasa Chechnya. Dia pun mengirim Devi ke Pankisi, desa tempat leluhur suaminya berasal. Perjanjian awalnya, usai belajar, Devi akan kembali ke Jerman dan mengajarkan bahasa tersebut pada suami dan anak-anaknya.

“Dia tahu saya sangat menyukai bahasa dan bagi saya, itu adalah kesempatan yang menarik,” kata Devi kepada Tara Isabella Burton dari BBC News.

Suaminya pun menyiapkan segala yang dibutuhkan Devi, tiket sekali jalan dan sejumlah uang. Bagi Devi yang belum pernah bepergian, Pankisi adalah petualangan baru. Meskipun begitu, berat bagi Devi meninggalkan ketiga anaknya, yang waktu itu masih berusia 5, 8 dan 12 tahun.

“Sangat sulit meninggalkan anak-anak saya. Belum pernah saya tidur tanpa mereka,” kenang Devi.

Mengikuti keinginan suaminya, Devi pun terbang ke Georgia. Dia mendarat di ibukota Georgia, Tblisi dan kemudian menumpang beberapa marshrutki, bis lokal Georgia, hingga mencapai desa Duisi, akses terdekat ke Pankisi yang terletak jauh di pedalaman.

Di sana, Devi sendirian. “Saya tidak kenal siapapun,” katanya.

Pantang menyerah, Devi memberanikan diri bertanya pada warga lokal untuk mengajarinya bahasa Chechnya. Beruntung, ada keluarga di desa tersebut yang bersedia menampung Devi, sekaligus mengajarinya bahasa mereka.

Devi cepat belajar. Dia pun menjadi akrab dengan warga di sana. Bahkan, Devi punya nama baru. Dia dipanggil Khedi, yang diambil dari nama istri Nabi Muhammad, Khodijah.

292388_pemandangan-alam-georgia_663_382
Pegunungan yang jadi tempat tinggal Devi Asmadiredja di Pankisi, Georgia. |Dok. Foto: Facebook/Devi Adventure

Kendati demikian, hidup tak berjalan mulus bagi Devi. Banyak penduduk desa yang curiga padanya, yang dianggap orang asing dan bepergian sendirian.

“Saya disangka mata-mata Rusia,” kata Devi, yang memang berpenampilan berbeda dengan warga lokal. Dia tidak mengenakan penutup kepala dan punya 7 tato, salah satunya bergambar keris Jawa di kaki kirinya.

Akibat penampilannya yang berbeda itu, Devi tidak diijinkan tinggal lama di Duisi. Dia pun harus berpindah lebih jauh ke pedalaman, dimana dia tinggal bersama warga Kist, warga negara Georgia keturunan Chechnya yang bermigrasi ke daerah pegunungan di awal abad ke-19.

Delapan belas bulan tinggal di pegunungan, suami Devi menelepon. Namun bukan untuk memintanya pulang, melainkan menyuruhnya tinggal. Suami Devi mengatakan dia sudah melupakan pernikahan mereka dan tak ada lagi gunanya bagi Devi untuk pulang.

Patah hati, Devi pergi ke pegunungan. Dia ingin menyendiri. Instropeksi.

Di tempat tinggal barunya, sebuah gubuk reyot, Devi semakin jauh dari kehidupan modern yang pernah dia jalani dulu. Tidak ada pemanas, tidak ada listrik atau air bersih yang mengalir dari pipa. Peninggalan kehidupan modern yang pernah dia rasakan hanyalah sebuah ponsel dengan baterai tenaga surya.

Devi kini berprofesi sebagai pemandu tur dan fotografer lepas. |Dok.Foto: Facebook/Devi Adventure

Selama dua bulan Devi tinggal terisolasi dari dunia luar. Dia mendapat makanan dari sumbangan para penggembala yang melewati gubuknya. Sementara, air bersih dia dapatkan dari mata air.

Tapi, kesendirianlah yang membuat Devi menemukan jati diri sejati. “Saya jatuh cinta dengan pegunungan. Saya tahu siapa saya sebenarnya,” ungkap Devi.

Mengisi waktu, Devi pun berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya. Semakin lama, semakin jauh. Dia mengingat semua tanjakan, turunan, belokan, serta celah-celah berbahaya yang tersembunyi di sesemakan. Dia pun mengenal warga di desa-desa terpencil jauh di ketinggian gunung.

“Berjalan membuat pikiran saya segar,” katanya.

Tidak hanya bahasa Chechnya, kerap berkomunikasi dengan warga juga membuat Devi lancar berbahasa Georgia.

Meskipun begitu, bukan berarti hidup Devi jauh dari bahaya. Dia pernah jatuh terperosok dan mematahkan kakinya. Dia harus bertahan hidup hanya dengan air selama 12 hari. “Saya pikir saya akan mati, tapi saya sudah siap,” dia mengaku.

Selain itu, Devi juga pernah nyaris diperkosa. Para penggembala kerap kali haus belaian, dan melihat Devi yang tinggal sendirian, seperti melihat air di gurun pasir. Untunglah Devi selalu dapat pertolongan.

Berbekal pengetahuan jalur pendakian dari desa ke gunung, juga promosi dari mulut ke mulut, Devi ditawari menjadi pemandu lokal oleh sebuah agensi perjalanan yang berbasis di Jerman. Dia digaji US$100 per hari untuk memandu wisatawan melintasi pegunungan Kaukasus.

“Saya sampai harus membuka rekening bank,” kata Devi, yang menganggap hal itu sebagai ironi.

Teman lainnya, yang mengetahui hobi fotografi Devi, memberinya sebuah kamera bekas. Dia pun kemudian memajang foto-foto bidikannya di toko-toko di Tbilisi. Tahun depan, Devi akan memamerkan hasil karyanya di Kedutaan Georgia di Indonesia.

10150699_544533932329463_458771497_n

10151288_546494882133368_911299430945110860_n

10712712_657782627671259_4987666022398270386_n

292386_pemandangan-alam-chechya_663_382

1017711_543662145749975_425022691_n

1526785_543613959088127_1195712330_n

1618532_544533802329476_1627561353_n

1902034_543662012416655_1413023713_n

Foto-foto bidikan Devi Asmadiredja akan dipamerkan di Kedutaan Georgia di Indonesia, tahun depan. |Dok. Foto: Facebook/Devi Adventure

 

Melihat empat tahun terakhir hidupnya yang bagai naik-turun kereta luncur, Devi tetap merasa beruntung. Dia bahkan menemukan cinta baru, kendati kisahnya tak semanis cerita fantasi.

Dia bertemu pasangan hidupnya sekarang di sebuah gua tersembunyi di selatan Georgia, tepatnya di provinsi Samtskhe-Javakheti. Disana dia bertemu dengan dua penggembala lokal yang memaksanya turun ke desa bersama mereka. Tapi, Devi menolak.

Tak lama, salah satu dari mereka kembali dan membawakan Devi makanan lokal serta minuman hangat. Malah, pria bernama Dato itu mulai mengunjungi Devi setiap hari dan mengajaknya berbincang. Lama-kelamaan, Devi pun luluh. Dia menerima pinangan Dato.

Mereka akan menikah tahun ini dengan adat tradisional Pankisi.

“Saya tidak menyangka hidup akan membawa saya jauh ke padalaman Georgia,” katanya.

Satu hal yang Devi sesali adalah hidup jauh dari anak-anaknya. Kini, mereka sudah dewasa. Putranya yang terkecil, sudah berusia 9 tahun. Devi pun berusaha tetap berkomunikasi dengan anak-anaknya. Dia mengirim email setiap beberapa waktu, namun tidak pernah mendapat balasan.

Dia juga kerap berniat kembali ke Jerman dan berjuang demi hak asuh anak-anaknya. Namun, tanpa adanya respon, dia pun ragu.

“Saya punya kehidupan di sini yang saya dapatkan lewat perjuangan. Kembali ke Jerman, mungkin saya bisa mendapatkan kembali anak-anak saya, mungkin juga tidak. Mereka sudah dewasa, dan suatu hari, mereka akan pergi meninggalkan saya. Haruskah saya kembali?,” tuturnya.

Devi memutuskan untuk tinggal.

“Mungkin keputusan ini egois. Tapi ini hidup saya dan disini, di pegunungan, saya akhirnya bebas,” katanya.

 

Kamis, 29 Januari 2015

Oleh : Lesthia Kertopati

Sumber Viva.Co.Id