Ngipi Opo Rek

0
1101

Sepekan terakhir ini, mendadak harga beras naik tidak tanggung-tanggung, konon mencapai 30% dari harga bisanya. Dan sepertinya itu terjadi dimana-mana, di berbagai daerah, bukan saja di Jakarta – khususnya Pasar Induk Cipinang yang merupakan pusat perdagangan beras di Ibu Kota negara ini. Maka ributlah dunia pemerintahan dengan berbagai issue, seperti permainan mafia beras, permainan mafia impor dan sebagainya. Dan kemudian, bukan saja Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian yang turun dari kantornya di gedung bertungkat, sampai presiden pun blusukan ke pasar untuk mencari tahu, dan memborong beras beberapa karung. Twntu saja, untuk menanggapinya pemerintah segera melakukan operasi pasar untuk menjual stok yang dimiliki oleh Bulog – sebagai pemegang stok baik berupa iron-stock maupun sebagai buffer-stock – untuk untuk menggeser harga ke arah harga normal. Dan seperti biasanya, setiap ada penggelontoran beras dari gudang Bulog, apapun namanya, selalu dikeluhkan oleh masyarakat mengenai mutunya, baik dari bau [yang hanya bisa dirasakan oleh hidung], serta warna dan kutu [yang hanya bisa dinyatakan oleh mata]. Yah, negeri kita terletak di daerah tropis, yang bersuhu relatif tinggi serta lembab pula, yang sangat cocok untuk perkembangan dan pertumbuhan berbagai jasad renik dan telur-telur binatang kecil maupun larva. Begitulah, suatu cara penyimpanan biji-bijian yang tidak mengikuti sunnatullah. Bukankah Allah swt sudah bersabda tentang bagaimana cara menyimpan biji-bijian untuk suatu waktu yang lama, yang disampaikan seakan suatu solusi atau tip dari Nabi Yusuf as, seperti yang dinyatakan oleh-Nya secara tersurat dan lugas dalam surah Yusuf QS 12:47 قَالََ تََزۡرَعُونََ سََبۡعََ سَِنِينََ دََأَبً۬ ا فََمَا حََصَدتُّمَۡ فََذَرُوهَُ فَِى سَُنۢبُلِهِ إۦَِۤلََّ قََلِيلًَ۬ ممَا تََأۡكُلُونََ Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun [lamanya] sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Bukankah dahulu nenek moyang kita, menuai padi dengan ketam atau ani-ani lalu mengeringkannya bersama bulir dan merangnya, serta menyimpannya dalam lumbung. Tetapi sejak beberapa puluh tahun silam, dengan diperkenalkannya sabit bergerigi asal Taiwan, begitu padi ditunai dengan sabit tersebut, lalu langsung dirontokkan di galangan sawah, dan diangkut untuk dijemur di penjemuran sebelum langsung dijadikan beras dengan alat yang disebut huller. Dan kemudian dijual ke gudang Bulog sebagai beras dengan kadar kekeringan tertentu, dan kadar pecah atau menir tertentu sebagai persyaratan dan penentu harga. Tentu saja dari operasi pasar tersebut, pergeseran harga tidaklah dapat diperoleh dengan cepat, butuh waktu. Dan untuk mengurangi dampak yang lebih parah, bagi golongan masyarakat tertentu maka juga digelontorkan raskin – singkatan dari beras untuk orang miskin. Mungkin sengaja diberi nama seperti itu, raskin, sehingga orang yang merasa dirinya tidak lagi miskin tidak mau untuk membeli dan menerimanya. Dengan begitu, maka raskin tersebut akan sampai ke sasaran dengan tepat. Tetapi karena teknik penyimpanannya yang kurang tepat, sering kali raskin tersebut sudah meningkat kadar proteinnya – bukan karena fortifikasi atau apa – karena sudah berkutu dan berulat pula.

3-2-2015 3-27-19 PMDi tahun-tahun awal setelah kemerdekaan, ketika kehidupan ekonomi bangsa ini masih terpuruk akibat perang kemerdekaan yang berlangsung cukup lama, ketersediaan beras yang berkutu adalah sesuatu yang biasa. Saat itu, untuk membantu kehidupan masyarakat, pada saat-saat tertentu ada pemberian jatah bahan makanan dalam jumlah tertentu untuk setiap keluarga berdasarkan jumlah keluarga yang tercatat, dengan menebusnya berdasarkan harga yang jauh dibawah harga pasar. Bisa berupa minyak kelapa, bisa minyak tanah, dan juga beras.
Dengan membawa Kartu Keluarga, kita mengantri dengan tertib di lokasi tertentu dengan membawa botol atau panci serta uang penebusnya. Di desa Bedilan, tempat yang biasa digunakan untuk menebus jatah tersebut, adalah di rumah Cak Ipan [begitu kita memanggilnya] – orangnya gemuk dibantu oleh Wak Kan. Rumahnya mungkin di Bedilan Gang II atau Gang III. Sebelumnya, diberitahu terlebih dahulu dengan cara keliling door to door ke semua warga, dan biasanya akan mulai banyak yang pergi ngantri jika sudah ada yang pulang dengan membawa beras atau bahan lainnya. Bukan saja yang tinggal di gang, yang dirumah gedong badug duwur pun ya ikut antri.
Ya, kalau di jaman seperti itu memilih untuk menyingkirkan kutu beras atau bahkan ulatnya, adalah suatu hal yang biasa dan lumrah. Tetapi kalau hal seperti itu terjadi di abad ke XXI, “Hari gini, . . . . Apa kata dunia”. Tetapi penyerahan seperti itu, terjadi juga hari ini di Bedilan. Bukan oleh Cak Ipan dan Wak Kan, tapi oleh mbak Khofifah.
Bukan oleh perangkat desa Kelurahan Bedilan, tetapi oleh perangkat pemerintahan setingkat menteri.

Biasanya acara seperti ini, dilakukan daerah yang kesulitan rawan pangan, atau populasi yang tinggi dari penduduk yang tergolong miskin. Atau kawasan Bedilan sudah masuk kategori semacam itu?

Entahlah, kriteria pemilihan tempat yang dilakukan oleh staf Menteri Sosial atau Pemerintah Daerah [entah Tingkat I dan Tingkat II] sehingga pilihan jatuh ke Desa Bedilan. Desa yang didaerahnya terletak Kantor-Kantor pemerintahan atau rumah dinas pemimpin daerah, daerah dimana pelabuhan Gresik berada, daerah yang diwilayahnya merupakan kawasan Lojie – kawasan elite sejak jaman Belanda dahulu – koq dipilih jadi tempat penyerahan beras miskin. Apa tidak ada daerah lain yang lebih tepat? Atau mencari daerah yang dekat dengan tingkat keamanan tertinggi? Entahlah.
Tetapi muncul rumor, yang saya terima dari keponakanku di Gresik menjelang siang ini, saat acara masih berlangsung, bahwa ada salah persepsi dari stafnya Khofifah. Ada yang menginformasikan kepadanya, bahwa di Gresik terjadi antrian di setiap pagi untuk membeli nasi karak, yang di daerah lain disebut nasi aking. Yaitu sisa nasi yang dijemur dan kemudian ditanak lagi, untuk dimakan. Subhanallah.
Memang karak di Gresik, konon dahulunya memang dibuat dengan bahan baku seperti itu. Itu di jaman pendudukan Jepang, dimana orang tidak lagi menemukan beras untuk dimasak. Bisa berjumpa dengan jagung atau pohong alias singkong saja, katanya sudah merupakan suatu kenikmatan sendiri.
Di saat itu, timbullah kreatifitas dari masyarakat Gresik [mungkin tepatnya yang tinggal di Gresik] untuk mengolah nasi sisa yang sudah dikeringkan, menjadi makanan yang justru saat ini dicari oleh mereka yang dulu pernah merasakannya. Tetapi orang Gresik sejak waktu dulu, tidak hanya sekedar menanak kembali nasi yang dikeringkan tersebut, yang di daerah lain disebut nasi aking itu, tetapi melakukan improvisasi dengan memberikan perlakuan tertentu dan mamdu-padankan dengan bahan lain yang mudah didapat saat itu. Mereka menggunakan kelapa parut, dan bahkan poya yang berupa sangraian kulit kelapa lalu dihaluskan. Mengapa tidak. Pemanfaatan bahan yang memiliki kandungan nutrisi tinggi. Dan tentu memadunya dengan lauk yang penuh gizi, yang melimpah diperoleh dari laut. Belut yang digoreng dan dibuat masak bali. Atau sekedar gimbal urang, atau godo tempe plus mageli.
Karena warna nasi yang sudah dijemur, tidaklah akan seputih nasi dari beras yang baru – dimana keputihan dari nasi merupakan kriteria utama dimana-mana – maka orang Gresik menambahkan air kapur sehingga karak kemudian menjadi warna krem yang justru menjadi lebih menarik. Dan bila masalah warna sudah begitu parah, maka dibuat menjadi warna yang berlainan, menjadi kelabu ke hitam-hitaman, dengan sengaja menambahkan sejumalh ketan hitam. Bukankah itu suatu smart solution yang sekaligus menambah cita rasa?
Dan ternyata, ketika jaman sudah membaik, karak tersebut dikangeni, terutama oleh diaspora Gresik yang merantau ke daerah lain. Tetapi sekarang – bahkan sejak beberapa puluh tahun silam – sudah tidak lagi dibuat dari nasi sisa yang dikeringkan, tetapi sudah dari campuran beras dengan ketan, bisa ketan putih yang menjadi karak poteh, dan dengan ketan hitam, yang menjadi ketan ireng, yang warnanya dulu ke abu-abuan, tidak sampai hitam kelam.
Ada lagi satu makanan khas Gresik, yang merupakan hasil kreatifitas di jaman susah. Apalagi kalau bukan masin-kerupuk. Masin sendiri semula dibuat sebagai daur ulang dari nasi jagung, bahkan yang sudah basi [alias sisa kemarin]. Di jaman yang serba sulit, nasi jagung yang sudah kecut karena basi [bahasa ilmiahnya sudah terfermentasi ini] sangatlah disayangkan bila dibuang, karena masyarakat memahami bahwa perbuatan seperti itu adalah ibarat berteman dengan setan, sebagaimana difirmankan dalam surah al-Isra QS 17:27
إِنََ ٱَلۡمُبَذِ رِينََ كََانُوٓاَ إَِخۡوَٲنََ ٱَلشَيَٰطِينََِۖ وََكَانََ ٱَلشَيۡطَٰنَُ لَِرَب هِ كۦََفُو را
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya
Maka nasi jagung yang sudah basi itu diolah dengan menambahkan bahan yang masih tersedia seperti kelapa dan udang, serta bumbu lain yang mudah di dapat. Bahkan rasa asam yang dibawa oleh nasi jagung yang terfermentasi, malah diperkuat dengan menambahkan blimbing wuluh. Dan kemudian dimakan dengan kerupuk udang sebagai sendoknya.

3-2-2015 3-33-07 PMBagi yang rindu dan sudah lama tidak berjumpa dengan mazien, coba buat sendiri. Mencari beras jagungnya [bagi yang di Jakarta], jangan di mall, tetapi di pasar burung Jalan Pramuka atau dulu di Jalan Barito. Dan udangnya jangan besar-besar, itu bid’ah jadinya. Kalau dideskripsikan secara internasional, bisa disebut Fermented Corn Porridge.
Salam Saifuddien Sjaaf 2 Maret 2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here