Oleh : Ahmad Rofiq

Ada sebuah pesantren di desa Suci, namanya Mambaus Sholihin. Lokasi persisnya di sebelah masjid. Umur pesantren ini tidak terlalu tua namun laju perkembangannya bisa dibilang luar biasa. Yang kemudian menarik diceritakan mengenai pesantren yang terletak di jalan KH. Syafii ini adalah bahwa donatur pertamanya adalah Nabi Khidir AS. Lho???

khasanah Islam, nama Nabi Khidir atau Khidir dikenal sebagai seorang nabi misterius yang mengajarkan tentang ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa. Khidir adalah seorang anak cucu Nabi Adam yang taat beribadah kepada Allah dan ditangguhkan ajalnya. Tapi secara harfiah, Al-Khidr berarti seseorang yang hijau, yang melambangkan kesegaran jiwa. Warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan, berlarut langsung dari sumber kehidupan. Jadi bisa saja julukan itu diberikan pada seseorang dan bukan menjadi nama orang tertentu saja. Dalam situs Encyclopædia Britannica, dikatakan bahwa julukan Khidr telah diberikan kepada beberapa nama dan yang paling terkenal adalah Balyā bin Malkān.

Bagaimana ceritanya kok pesantrean ini dibantu suntikan dana oleh Nabi Khidir? Berikut ini adalah kisah pembangunan pesantren yang dituturkan oleh KH. Arifin, yang berusia 59 tahun yang merupakan pengajar di Pondok Pesantren Mambaus Solihin, adik ipar KH. Masbuhin Faqih.

Sekitar tahun 1969, KH. Abdullah Faqih Suci mulai merintis pembangunan pondok pesantren ini. Tentu saja tidak bisa langsung magrong-magrong seperti sekarang. Bangunan yang didirikan hanya sebuah surau kecil yang terbuat dari kayu, yang sering disebut langgar. Sebuah tempat yang diperuntukkan untuk aktivitas belajar mengaji Al-Qur`an dan Kitab Kuning.

Pada tahun 1976, putra pertama KH. Abdullah Faqih Suci, KH. Masbuhin Faqih telah mendapat restu dari gurunya, KH. Abdullah Faqih, pengasuh Pesantren Langitan Widang Tuban untuk berjuang di tengah masyarakat. Namun Kyai Masbuhin masih ragu untuk langsung mendirikan sebuah pesantren. Salah satu hal yang membuat Beliau ragukan adalah kekhawatiran akan timbulnya nafsu terselubung di dalam hati. Misalnya niat yang bukan semata-mata karena Allah.

Berkat dorongan dari guru-guru Beliau, yaitu KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Abdullah Faqih 2Langitan, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Usman Al-Ishaqi, serta keinginan luhur Beliau untuk Nasrul Ilmi, maka didirikanlah sebuah pesantren yang kelak bernama Mambaus Sholihin.

Adapun dana pertama kali yang digunakan untuk membangun pondok pesantren ini adalah pemberian guru Beliau, yaitu KH. Abdullah Faqih, pengasuh dari Pondok Pesantren Langitan Widang. Pada saat pendirian pesantren, KH. Masbuhin Faqih masih menimba serta mendalami ilmu di Pondok Pesantren Langitan Widang, Tuban

Sebelum Pesantren Mambaus Sholihin didirikan, KH. Abdullah Faqih Langitan Widang sempat mengunjungi lokasi yang akan digunakan untuk membangun pesantren tersebut. Setelah mengelilingi tanah tersebut, Kiai Faqih Langitan Widang itu berkata kepada Kyai Masbuhin

“Yo wis, tanah iki pancèn cocok kanggo ndirikno pondok pesantren. Mulo ndang cepet bangunên…”

Selain KH. Abdullah Faqih, banyak Masyayikh dan Habaib juga berkunjung ke lokasi tersebut. Diantara para sêsêpuh yang hadir adalah KH. Abdul Hamid (Pasuruan), KH. Usman Al-Ishaqi (Surabaya), KH. Dimyati Rois (Kaliwungu), Habib Al Idrus, dan Habib Macan dari Pasuruan

Pembangunan Musholla Pondok Pesantren Mambaus Sholihin yang sekarang merupakan Pondok Barat baru dilakukan pada tahun 1983. Saat itu, KH. Masbuhin Faqih sedang menunaikan ibadah haji yang pertama. Adapun yang menjadi modal awal pembangunan adalah uang yang dititipkan kepada adik Beliau, KH. Asfihani Faqih yang nyantri di Pesantren KH. Abdul Hamid Pasuruan

Pada saat itu KH. Asfihani Faqih turun dari tangga sehabis mengajar. Ujuk-ujuk, muncul seorang lelaki yang tidak dikenal. Lelaki itu memberikan sekantong uang lalu pergi dan menghilang.

Keesokan harinya, KH. Asfihani dipanggil gurunya, Mbah Hamid Pasuruan

“Asfihani, saya ini pernah berjanji untuk menyumbang pembangunan rumah santri, tetapi hari ini saya tidak punya uang. Yai silihono dhuwit po’o, Nak!”, kata Mbah Hamid.

“Kyai, tadi malam sehabis mengajar, saya diberi orang sekantong uang. Kula mbotên kenal tiyang niku”, jawab Kyai Asfihani

“Êndi sak iki dhuwité. Ayo ndang diitung…”, kata Mbah Hamid kemudian

Kyai Asfihani pun mengambil uang tersebut. Setelah dihitung, sekantong uang tersebut berjumlah Rp. 750.000,-. Kyai Hamid lalu memberi isyarat, bahwa yang memberikan uang tersebut adalah Nabi Khidir AS.

Kemudian KH. Abdul Hamid Pasuruan berkata pada KH. Asfihani : “Nak, sak iki ndang muliyo. Duwit iki kèkno abahmu. Kongkonên bangun musholla…”.

Mendengar perintah itu, akhirnya Kyai Asfihani lalu pulang ke Gresik untuk menyampaikan pesan Kyai Hamid kepada ayahnya

NABI KHIDIR, DONATUR PESANTREN MAMBAUS SHOLIHIN copy

Saat pondok induk masih dalam taraf penyelesaian, Kyai Hamid Pasuruan datang dan memberi sebuah bola lampu neon untuk penerangan. Padahal saat itu listrik belum masuk Desa Suci. Karena yang memberi bukan orang sembarangan, maka pengasuh pesantren yakin bahwa itu semua merupakan isyarat tentang tujuan pendirian sebuah pondok pesantren. Memberi penerangan seperti lampu

Awalnya pesantren itu bernama At-Thohiriyah. Besar kemungkinan pemberian nama itu diisbatkan pada nama tempat dimana institusi tersebut didirikan, yakni Desa Suci yang dalam Bahasa Arab At-Tahir. Sedang nama Madrasah-nya adalah Roudhotut Tholibin. Disesuaikan dengan nama Masjid Desa Suci Roudhotus Salam.

Berbekal keyakinan akan pentingnya sebuah nama, maka Kyai Abdullah Faqih Suci sowan ke kediaman guru sekaligus mursyid-nya, KH. Ustman Al-Ishaqi Surabaya. Selain silaturrahim, salah satu agenda dalam acara sowan tersebut adalah meminta nama yang cocok untuk pesantren yang telah berdiri. Oleh Kyai Ustman diberi nama Mambaus Sholihin, yang artinya sumber orang-orang sholeh.

“Meskipun tidak terlalu pandai, Insya Allah santri yang mondok di pesantren ini akan menjadi anak-anak yang sholeh”, begitu dawuh Kyai Ustman Al-Ishaqi setelah memberi nama pesantren yang memiliki motto Alim Sholeh Kafi itu

Jadi, apakah orang misterius itu memang betul-betul Nabi Khidir yang hidup abadi? Atau, memang malaikat yang dikirim oleh Allah untuk membantu pembangunan pesantren tersebut? Kalau tokh memang betul itu Nabi Khidir, tokh tidak ada yang bisa membantah, sebab kebenarannya juga tak bisa diuji.

Yang jelas, siapapun dia, memang sudah jamak pembangunan pesantren atau tempat-tempat suci mendapatkan donatur misterius. Makanya itu diidentikkan dengan Nabi Khidir.

Wallahu A’lam Bis Showaf…