Mulai Akik Brodin Sampai Akik Sulaiman

4
1913

Entah siapa yang memulai, yang jelas peran media televisi dan media massa lainnya, beberap aminggu terakhir ini negeri kita diramaikan dengan batu akik. Sejenis batuan setengah mulia, bila dibandingkan dengan batu permata seperti intan, berlian, jamrud dan sebagainya. Intan yang sudah digosok membentuk gemoteris tertentu guna memungkinkan terpantulnya kembali cahaya yang mengenainya, kemudian disebut berlian. Tentu saja ukurannya akan mengecil, tetapi daya tariknya akan meningkat berlipat-lipat. Dan sebagaimana kita tahu, ukuran untuk berlian [atau batu mulia lainnya] yang diperjual belikan adalah carat [yang memiliki beda pengertian dengan karat yang digunakan dalam penilaian kemurnian emas]. A carat is a unit of weight for diamonds and other gemstones. One carat equals 200 milligrams (0.200 grams). A karat, when used with gold, is a unit of purity– 24-karat gold is pure gold, but usually you mix gold with a metal like copper or silver to make jewelry (because pure gold is too soft). Each karat indicates 1/24th of the whole. So if a piece of jewelry is made of metal that is 18 parts gold and 6 parts copper, that is 18-karat gold.
Dan kita juga tahu, bahwa harga berlian per carat, ditentukan oleh ukuran dari permata itu sendiri. Bila sebuah berlian seberat 0,5 carat harganya Rp 1.000/carat, maka sebuah berlian seberat 2,0 carat harganya bukan lagi Rp 1000/carat, bahkan bisa mencapai Rp 5.000 atau Rp 10.000/carat. Seperti harga bandeng besar di Gresik pada waktu diselenggarakannya Pasar Bandeng, setiap menjelang hari raya Idul Fitri.
Apakah hal itu berlaku juga buat batu akik? Entahlah. Bila YA, wouw. Tetapi tentu ada beda, walau tidak bak berlian.
Untung saya tidak tertarik dengan batu-batuan sepeti itu, walau sejak kecil [enam puluh tahun silam] sudah bersinggungan dengan batu akik secara tidak langsung, dengan menyaksikan cincin-cincin yang dikenakan oleh Wak Jim [entah nama selengkapnya siapa] ketika beliau sedang beristirahat di teras Langgar Kemuteran Gang VII, Gresik yang tepat berada di kediaman nenekku, ketika sepulang sekolah dari Madrsah Ibtidaiyah Nahdhatul Ulama di Sukodono, menunggu jemputan [karen belum berani pulang sendiri ke Garling]. Wak Jim ini, bukan hanya sekedar mengenakan cincin akik sebagai kesenangan, tetapi beliau juga berjual-beli akik. Sehingga akik yang digunakan selalu berganti-ganti, dan dia mengenakannya di semua jari-jarinya kecuali ibu jari.
Anak-anak seusiaku, senang mengerubuti Wak Jim, bukan karena tertarik mau membeli akik atau barang lain yang ditawarkan [beliau dikenal sebagai wong melijo], melainkan sekedar mendengarkan ceritanya sewaktu beliau masih menjadi pelautyang menjalani trayek luar negeri di zaman Belanda dulu [sebelum pendudukan Jepang]. Satu-satunya cerita yang masih kuingat, adalah mengenai peran beliau dalam menyelamatkan Geladak Wak Sadi di kota Gresik dari pengeboman tentara Royal Air Force ketika tentara Inggris sedang berusaha menguasai wilayah sekitar Surabaya.
Menurut ceritanya, itu semua bermula dari kapal niaga dimana beliau bertugas tenggelam di Selat Malaka terkena serangan tentara Jepang ketika mulai berkecamuknya Perang Asia Pasifik. Beliau diselamatkan oleh kapal perang Inggris, dan dibawa ke Kalikut [bukan Calcutta lho ya]. Dan ketika Tentara Inggris mau bertugas di Surabaya, beliau dibawa serta sebagai penunjuk jalan. Beliau dibawa terbang dalam pesawat pembom, dan ketika mendekat Surabaya, beliau melihat kota kelahirannya, dan ketika mengenali Geladak Wak Sadi, beliau berteriak “Meneer, jangan dibom. Itu Geladak Wak Sadi, di kota kelahiran saya – Gresik. Maka urunglah pengeboman dilakukan, sehingga kitamasih bisa menyaksikan Geladak Wak Sadi sebagaimana adanya waktu itu. Sekarang sudah direnovasi, tetapi masih menggunakan warna hitam, sebagaimana warnanya tir atau belangkin yang digunakan untuk mengawetkan struktur kayunya.
Bagi yang tidak tahu atau lupa, diujung jauh dari foto ini letaknya Geladak Wak Sadi yang diceritakan tersebut
Di kota Gresik, sejak dulu memang banyak yang menyukai akik. Salah seorang yang kutahu banyak mengenakan cincin akik berukuran besar – kalau tidak salah, slah satunya – Wak Kaji Umar yang tinggal di Gajah Mungkur. Sering terlihat duduk di ongkek depan rumahnya di sore hari sambil menggosok-gosokkan cincinnya di sarungnya. CMIIW.
Dan ketika demam akik merebak di tahun 1960-an, saya mulai tahu bahwa ada bermacam-macam jenis dan warna. Salah satunya yang dicari adalah yang disebut sebagai Akik Sulaiman, tentu mengacu ke Raja dan Nabi Sulaiman as yang dikissahkan banyak memiliki tambang batu permata yang dikelola oleh para pekerjanya yang berupa manusia dan jin. Mungkin dari jenis itulah yang dicari, tetapi apa ciri-ciri dari Akik Sulaiman tersebut, saya tidak memperoleh infonya. Hanya salah satunya, bisa diperoleh dari yang berjualan di saat menunaikan ibadah haji di Mekkah.
Satu tingkat dibawah Akik Sulaiman, adalah Akik Yaman dari negeri Yaman yang juga dijual saat musim haji. Tetapi setelah banyak yang tahu, bahwa orang Banten membawa bekal berupa akik untuk dijual saat musim haji, maka mulai mereduplah mitos tentang akik yang dijual di kota Mekkah.
Salah satu yang ingin diketahui dalam suatu batu akik, adalah adanya “star” yang terlihat bilamana batu tersebut diterawang dengan mengarahkan ke sinar matahari. Dan itulah yang dilakukan sekarang dengan menggunakan senter lED sebagai ganti matahari. Sehingga baik penjual dan calon pembeli batu akik di pasar selalu “bersenjatakan” lampu senter LED tersebut, yang cahanyanya seterang matahari.
Saya dulu sering menggoda mereka yang mencari Akik Sulaiman denganmengatakan bahwa sesungguhnya ada yang lebih hebat lagi, yaitu Akik Dawud, dengan reasoning bahwa Nabi Dawud as adalah ayah dari Nabi Sulaiman as. Dan tentu saja semua tertawa saja, karena tidak pernah mendengarnya dalam belantika pembicaraan dan pembahasan tentang perakikan di ongkek-ongkek yang tersebur di penjuru kota, terutama ongkek-ongkek prima dan ada “nara sumber” tentang perakikan. Kalau sekarang mungkin di Warung Kopi Cak Ri, [apa belum digusur oleh Tante Susi].
Ternyata, kalau anda sekarang meng-Google dengan kata cari “batu akik”, memang anda akan menemukan istilah Batu Akik Sulaiman dan juga Batu Akik Daud. Ya, sila menelusurinya bagi yang tertarik tentang perakikan. Saya sih tetap tidak tertarik. Apalagi kalau ditambah dengan berbagai bumbu-bumbu yang meramaikan.
Kita tahu, batu akik memiliki baeragam warna sebagai hasil dari jenis paduan logam yang menyertainya saat membeku dahulu. Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu, serta pencampuran dan kombinasi diantaa warna dasar tersebut, selayaknya warna pelangi. Dan selayaknya juga warna kembang api bila sedang ada pesta.

3-1-2015 2-14-31 AM
Dan jika anda pernah melakukan tes menggunakan Bunsen Burner, akan tahu logam apa memberi warna apa. Begitu juga berkenaan dengan warna batu akik.

Bila memang sama, maka inilah logam-logam yang berperan dalam memberikan warna batu akik tersebut.
3-1-2015 4-25-55 AM
Abang-abang seniorku, ada yang juga mengenal tentang batu akik. Dan ketika dia sudah bekerja di Reaktor Atom TRIGA MARK II, milik Badan Tenaga Atom Nasional [BATAN] di Jalan Tamansari, Bandung, pas saatnya cupet anggaran. Sehingga tidak banyak percobaan yang harus dilakukan, sedangkan reaktor tetap berjalan terus. Akibatnya, banyak lubang-lubang di Lazy Susan yang kosong, tidak ada spesimen yang harus diradiasi. Mulailah iseng, dengan memasukkan batu akik, dengan landasan ilmu pengetahuan, bahwa penyinaran zat radioaktif pada suatu unsur logam, akan bisa mengubah unsur logam tersebut menjadi unsur logam yang lain, dan dengan sendirinya akan merubah warna batu akik yang mereka miliki. Dan memang warna batu akik tersebut memang berubah, tetapi tidak bisa diprediksi lebih dahulu, berubahnya akan menjadi warna apa – apakah lebih baik atau lebih buruk.
Yah, itu kejadian hampir 50 tahun silam, antara tahun 1965-1970. Entah sekarang pada saat demam akik merebak begini, mereka yang bekerja di Reaktor Nuklir, apakah ada yang melakukan keisengan seperti itu. Siapa tahu batu akik yang tidak berharga, bisa menjadi batu akik yang dicari-cari saat ini. Coba curi-curi dengan di Tamansari, Bandung atau Pasar Jumat, Jakarta, siapa tahu ada yang melakukannya lagi.
Walaupun tidak tertarik dengan perakikan atau jenis batu mulia lainnya, tetapi mendengar dan melihat onggokan batu giok raksasa di Aceh dan Gorontalo, yang dipotong-potong dengan sadis tanpa rasa estetika sama-sekali, sungguh turut bersedih dan nelongso. Selandainya dijaga keutuhannya, bukankah harga per kilonya akan berbeda dengan bongkahan yang hanya memiliki berat sekilo atau dua kilo.
Dan juga bila dipotongnya bisa menjadi lempengan yang utuh, tentu akan bisa menjadi sesuatu yang indah dan spektakuler, seperti contoh foto-foto dibawah ini, yang saya potret sendiri dengan kamera hape saya secara diam-diam [karena sesungguhnya dilarang], di Hong Qiao a.k.a. Pearl Market, Beijing pada tahun 2012 silam. Saya yakin itu adalah dari batu giok utuh dan besar, sebagaimana yang diketemukan di negeri kita baru-baru ini.
Untunglah teman saya sewaktu SMP dan sampai kini, Giok Lie dan Giok Ien [dimana ya?] masih utuh. Sehat wal Afiat.

3-1-2015 5-16-19 AM 3-1-2015 4-26-49 AM 3-1-2015 5-16-48 AM 3-1-2015 5-17-26 AM 3-1-2015 5-20-25 AM 3-1-2015 5-19-56 AMAda Burung Merak atau Burung Hong serta Naga, yang kedua-duanya merupakan binatang mistis dalam masyarakat Tiongkok, dan juga binatang Kuda dan Ayam, yang merupakan binatang yang disebut sebagai shio, yaitu binatang yang menghadap kepada Sidharta Gautama pada saat Poernomosidi.
Mungkin batuan yang di Aceh atau Gorontalo itu akan bisa diwujudkan dalam bentuk Domba Kayu, sebagaimana tahun Imlek pada saat ditemukannya.
Batuan berwarna merah cerah – seperti warna Hang Bao alias Angpow – yang tentu membawa hoki tersendiri, yang diukir dalam bentuk tanaman laut akar bahar, diharga sampai Yuan1.380.000 atau ya sekitar IDR 2.500.000.000 pada hal kecil dan tidak tebal.
Entah barang-barang yang dipajang di Hong Qiao itu sudah laku atau belum, tetapi bila anda berniat untuk membeli seperti itu, jangan lupa untuk mengeceknya dulu di PanJiYuan, siapa tahu disana ada yang anda cari.3-1-2015 5-20-57 AM
Saifuddien Sjaaf Maskoen 28 Februari 2015

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here