Oleh : Hadi Setiawan

Apabila membicarakan tentang pendekar, tidak akan pernah ada habisnya. Kenapa bisa begitu??? Karena setiap orang pun ingin dinilai sebagai pendekar di daerahnya, jagoan yang belum tentu memang tidak terkalahkan. Keinginan mereka untuk berstatus sebagai pendekar atau jagoan, berlomba-lomba untuk mereka dapatkan, dengan alasan mereka ingin menjadi seseorang yang ditakuti atau disegani oleh orang lain, terlebih-lebih oleh masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka. Dengan begitu, tidak akan ada yang berani menyenggol mereka sedikit pun.

Para pendekar yang ingin saya ceritakan disini berbeda dengan ulasan saya di atas. Pendekar yang akan saya ceritakan adalah murni seseorang yang memiliki kekuatan atau kesaktian yang tidak mereka gunakan sembarangan, melainkan digunakan disaat diperlukan, salah satu contohnya adalah membantu orang lain yang ter-dzolimi…

Dari masa Kerajaan Majapahit hingga masa penjajahan, Indonesia memiliki banyak sekali pendekar yang patut diperhitungkan. Misalnya saja di masa Kerajaan Majapahit, kita mempunyai Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya. Dimana ia digambarkan sebagai sosok yang kuat, tak tertandingi dan sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat Kerajaan Majapahit.

Beda lagi dengan pendekar lainnya seperti Damarwulan, Jaka Tingkir, atau Si Pitung, sang pendekar kenamaan yang terkenal dengan koreo pencak silatnya. Tentu Anda juga sering melihat gambaran si Pitung di film-film jadul Suzana, yang kêsêmsêm dengan tubuh si Pitung yang kekar, jago pencak silat, namun tetap taat menjalankan ibadahnya, yang diperankan oleh Berry Prima kala itu.

Dari beberapa pendekar di atas, tentu saja kita tidak lupa dengan cerita Sawunggaling yang menginspirasi warga Soerabaia dengan keberaniannya memerangi Kompeni Belanda. Nah, saya sebagai salah satu Wong Gresik juga patut berbangga diri karena Gresik juga memiliki para pendekar yang tidak kalah terkenalnya, tepatnya di Desa Metatu, Kecamatan Benjeng.

Menurut cerita dari Mbah saya, maupun yang pernah saya dengar dari sesepuh di Desa Metatu, di desa ini banyak sekali pendekar-pendekar sakti yang cukup disegani oleh masyarakat sekitar. Mereka menyebutnya dung-deng atau pilih tanding. Tidak sedikit para pendekar yang berasal dari luar Desa Metatu menemui ajalnya saat bertarung melawan pendekar Desa Metatu. Kenapa para pendekar itu dinamai dung-deng, saya masih belum paham betul dan saya kan cari tahu terus mengenai hal ini dan kalau sudah lengkap data-data saya mengenai penamaan mereka, saya akan kirim BBM ke sampèan. Tapi jangan lupa, kita harus bertukar PIN BB terlebih dahulu…

Dulu, Desa Metatu selain terkenal dengan pendekar-pendekar saktinya juga terkenal dengan ilmu tenaga dalam atau orang menyebutnya santèt. Pada umumnya, masyarakat Desa Metatu tempo dulu selain bertani adalah pedagang tangguh. Hal ini terbukti dengan hiruk-pikuk orang-orang di kampung lama. Penduduknya keluar-masuk untuk menjual dan mengirim barang ke kawasan Gresik. Bisa jadi, barang-barang yang dibawa oleh Nyi Ageng Pinatih ke luar Jawa di-supply dari pedagang Pasar Metatu.

Penduduk Metatu bila bepergian ke luar desa, mereka disegani dan ditakuti. Dari masa ke masa, ilmu santèt atau tenaga dalam sudah lama digunakan untuk kegiatan yang lebih positif daripada sekarang. Santèt digunakan tidak untuk melukai orang lain, melainkan digunakan untuk pengobatan alternatif dan membantu menyelesaikan masalah hidup, bahkan rumah tangga.

Masyarakat meyakini bahwa Desa Metatu selalu dilindungi dari marabahaya. Ini semua berkat doa warga, maupun makhluk penghuni desa ini, yang dikenal dengan leluhur desa sebagai penguasa dan pengayom desa, sehingga selalu ada kisah-kisah yang pernah terjadi. Aneh, namun diyakini kebenarannya oleh masyarakat, walaupun sulit diterima oleh akal sehat.

Menurut penuturan para sesepuh desa, jaman dahulu dimusim kemarau, ada pertarungan duel maut, antara pendekar sakti di Desa Metatu dengan pendekar dari luar desa. Menurut cerita yang saya dapatkan dari salah seorang nara sumber yang saya temui, pertarungan itu terjadi dicsebelah timur Desa Metatu. Pendekar-pendekar luar desa Metatu banyak yang terbunuh, mayat bergelimpangan, dan darah membanjiri lokasi tersebut.

METATU, DESA PARA PENDEKAR copy

Akan tetapi, tiba-tiba matahari yang bersinar terang mendadak redup, hingga turunlah hujan deras hingga membuat area pertempuran itu banjir. Banjir tersebut mengalir deras ke arah timur, hingga tersapulah darah dan mayat-mayat pendekar menuju arah kali. Area bekas pertempuran pun bersih, seolah-olah tidak pernah ada bekas pertempuran. Setelah duel maut tersebut terjadi, keadaan Desa Metatu kembali kondusif, dan mereka semakin yakin bahwa desa mereka selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Lokasi Desa Metatu sangatlah strategis, karena dilewati oleh para saudagar yang ingin melakukan perdagangan menuju Gresik. Oleh karena lokasi strategis itulah, tidak sedikit para pendekar dari Desa Metatu yang digunakan tenaganya untuk dijadikan cêntèng oleh para saudagar tersebut atau dijadikan sebagai porter untuk membawakan barang dagangan mereka.

Di masa penjajahan Belanda, Desa Metatu digunakan sebagai wilayah pengeboran minyak, sehingga pada saat itu banyak sekali prajurit Belanda yang stay di daerah tersebut. Hal ini masih tampak dan dapat dibuktikan dengan adanya peninggalan sumur minyak tua di Desa Metatu dan masih banyak ditemui pipa-pipa besar bawah tanah, yang menghubungkan sumber minyak di Desa Metatu dengan sumber minyak di Bogomiring saat itu. Dan kondisi semacam ini, digunakan oleh para pejuang kita untuk menyusun siasat dengan mengirim para penjual makanan yang cukup bohay ke markas para prajurit Belanda kala itu.

Tanpa menaruh curiga atau dikarenakan para prajurit Belanda tersebut kêsêmsêm dengan para penjual makanan tersebut, mereka tidak sadar kalau mereka sudah dikecohkan. Dengan sedikit keahlian yang dimiliki oleh para penjual makanan tersebut, mereka memasukkan senjata-senjata yang dimiliki oleh prajurit Belanda ke dalam èbor mereka, dimana senjata-senjata yang sudah didapatkan tersebut akan dipergunakan oleh para pejuang dan pendekar Desa Metatu untuk melawan para prajurit Belanda itu nantinya.

Kepahlawanan Bau Santri

Di Dusun Purworejo, Desa Metatu, dulu Bau Santri dikenal warga sebagai Kepala Dusun yang memilik ilmu yang tinggi atau sakti. Tubuhnya kebal terhadap senjata tajam dan tidak mêmpan dipotong dengan golok yang sudah diasah beberapa hari. Bau Santri merupakan jêbolan dari Pesantren Suci, murid dari Kyai Syafi’i. Kyai syafi”ie adalah tokoh penyebar Agama Islam yang disegani waktu itu.

Dengan bekal ilmu dari gurunya tersebut, Bau Santri memiliki kepedulian dan aktif dalam menjaga desa. Ia selalu memberikan contoh pada warganya. Meskipun dia seorang pemimpin, ia tidak mau dilayani oleh rakyatnya, akan tetapi bersedia melakukan pekerjaan yang berat demi kebaikan warganya.

Pada jaman penjajahan Belanda, ia selalu menentang kebijakan pemerintahan Belanda di Desa Metatu yang memperlakukan warganya secara sewenang-wenang atau menindas. Ia pernah diburu dan menjadi buronan oleh tentara Belanda. Namun dengan ilmu yang dimiliki, ia tak bisa tertlihat oleh tentara Belanda ketika mencari tempat untuk persembunyiannya, padahal Bau Santri berada di depan tentara-tentara Belanda tersebut.

Cerita-cerita kepahlawanan dalam melawan penjajah Belanda terbukti dengan adanya Taman Makam Pahlawan di Dusun Purworejo, Desa Metatu, dan ini adalah satu-satunya Makam Pahlawan di Kecamatan Benjeng. Dan saat peringatan hari kemerdekaan, selalu digunakan sebagai tempat renungan suci.

Selain cerita-cerita pertarungan dan perjuangan melawan penjajah, konon pada jaman dahulu banyak sekali atraksi-atraksi silat di Desa Metatu, salah satunya adalah ada yang makan ayam hidup-hidup, bahkan terdapat atraksi dimana tubuh pendekar dihantam dengan diesel. Selain itu, terdapat pula pertarungan tenaga dalam. Setelah atraksi berakhir, tubuh mereka tetap baik-baik saja.

Di tahun 1960-1980-an, saat gencar-gencarnya pagelaran ludruk, dimana di Desa Metatu namanya Dèndang Bhirawa, biasanya atraksi-atraksi tersebut dilakukan pada saat pembukaan acara ludruk. Konon, bila group ludruk ini pementasaannya berbarengan dengan group lain, maka masyarakat cenderung melihat atraksi dan pagelaran ludruk ini, yang sebelumnya diadakan tirakat khusus.

Selain terkenal memiliki para pendekar yang sakti, Desa Metatu juga terkenal dengan tempat pembuatan sabit atau bêsali. Sejak jaman dulu sampai sekarang, sabit dari olahan pengrajin Desa Metatu sangatlah kuat dan tahan lama. Dulu, ada sekitar empat tempat pembuatan sabit, akan tetapi kini hanya tersisa dua tempat yang membuat sabit. Kalau Anda tidak percaya, silahkan check dan pesan ya..

Tidak hanya sekitar Desa Metatu, petani dari wilayah Balong panggang dan wilayah Kabupaten Lamongan yang berbatasan dengan Kecamatan Balong panggang pun mengakui kekuatan sabit yang dibuat oleh pengrajin Desa Metatu. Kata sesepuh desa sih, sabit-sabit tersebut didoakan secara khusus terlebih dahulu seperti yang dilakukan oleh para empu dalam membuat keris, agar sabit-sabit tersebut tetap kuat dan tahan lama.

Desa Metatu saat ini tetap saja menjadi sebuah desa yang nyaman dan tentram bagi para warganya. Tidak ada lagi cerita-cerita tentang santèt, yang mungkin terdengar menyeramkan bagi sebagian orang. Ilmu-ilmu tenaga dalam yang diwariskan kepada anak-cucu mereka saat ini lebih dipergunakan untuk membantu orang lain dengan cara pengobatan alternatif. Di desa ini juga seringkali diadakan Festival Pencak Silat yang diadakan oleh Paguyuban Tradisi Seni Pencak Macan.