Oleh : Madinatul Sa’adah

Menyulap lautan menjadi sebuah daratan itu sebetulnya bukan hal yang istimewa. Laut bisa tertimbun karena proses alam berupa erosi puluhan tahun, namun juga bisa terjadi karena memang dilakukan manusia, namanya reklamasi. Yang kemudian menarik, proses perubahan lautan menjadi daratan itu, baik alami atau buatan, ternyata membuahkan sebuah cerita rakyat yang melegenda. Dan itulah yang terdapat di Desa Bedanten, Kecamatan Bungah. Seperti apa cerita itu, monggo diikuti kisah berikut ini…

Di Kabupaten Gresik, khususnya Kecamatan Bungah, terdapat beberapa desa yang memiliki cerita dan karakteristik tersendiri yang patut kita ketahui. Di kecamatan ini, terdapat beberapa desa seperti Desa Watuagung, Desa Kramat, Desa Tajungwidoro, Desa Sungonlegowo, dan masih banyak lagi. Namun disini, saya ingin mengungkapkan sebuah nama desa yang memiliki karakteristik tersendiri. Nama desa itu adalah Desa Bedanten.
Bagi masyarakat Gresik, khususnya masyarakat di Kecamatan Bungah, nama desa ini sangat familiar di telinga masyarakat, dikarenakan hampir setiap tahunnya diadakan haul sesepuh desa yang cukup berpengaruh di desa ini.

Dari cerita para leluhur, sebelum ada Desa Bendanten, ada sebuah kampung yang terletak di atas bukit, tepatnya di sebelah utara desa yang ada sekarang ini dan kampung tersebut bernama Danten Karso. Disana, hidup seorang tokoh yang memiliki lima anak laki-laki dengan kehidupan sehari-hari mereka dengan bertani dan berkebun.

Sang ayah ingin sekali kehidupan anak-anaknya kelak menjadi lebih baik sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka sendiri. Maka dari itu, sang ayah pun memberikan wêjangan kepada kelima putranya.

“Lé, yèn uripmu pingin luwih apik têkan saiki, kowé mêsthi ngerubah nasibmu dhéwé… Sebagai bapakmu, éson mung isyok ngandani waé sing apik, piyé-piyéné yoo sak karêpmu dhéwé… Pesen éson, yèn awakmu pingin ngerobah nasibmu nggawé ladang perkebunan, munggaho nang bukit, mlakuo ndik kidul sampèk ketemu karo alas… Tapi lak awakmu pingin dadi petani opo nelayan, mlakuo mêdhun bukit sampèk awakmu ketemu pesisir pantai sing panggonané onok ndik loré kampung iki…”, begitu wêjangan yang disampaikan oleh sang ayah kepada kelima putranya.

Mendengar wêjangan yang disampaikan oleh ayahnya tersebut, kelima putranya merenungkan apa isi dari wêjangan tersebut, karena mereka yakin sang ayah mempunyai maksud tersendiri dan semua itu untuk kebaikan putra-putranya.

Tak lama setelah sang ayah memberikan wêjangan kepada kelima putranya, si sulung Wagiman, memutuskan untuk mengawali pergi daripada keempat adiknya. Ia memutuskan untuk menaiki bukit seperti yang dipesankan oleh ayahnya, karena keinginannya kelak adalah membuka ladang perkebunan sendiri. Sedangkan keempat adik dai Wagiman, yaitu Wagito, Warijan, Warsito, dan Sanut memutuskan untuk menuruni bukit hingga ke pesisir pantai.

Wagiman yang memutuskan untuk menaiki bukit pun tidak ada kabarnya, sedangkan keempat adiknya yang telah sampai di pesisir pantai memutuskan untuk menetap disana hingga bertahun-tahun, hidup dan mempertahankan diri dengan menanam padi di sawah, bertambak dan mencari ikan ke laut lepas.

Mereka berempat membuat perubahan besar terhadap tepi lautan. Disulapnya tepi lautan menjadi perkampungan dengan pola hidup beraneka ragam, yang akhirnya bertahan hingga terbentuk suatu pemukiman baru. Dan semakin lama, semakin banyak orang yang datang mengikuti jejaknya, hingga beberapa tahun berkembang menjadi desa.

Pada tahun 1800-an, diadakan sayembara oleh keempat anak laki-laki tersebut. Mereka mengadakan sayembara untuk membendung Sungai Bengawan Solo dan tidak lama kemudian Sungai Bengawan Solo itu bêdah atau ambrol. Setelah sayembara tersebut dilaksanakan, maka sekarang yang membendung Sungai Bengawan Solo tersebut digantikan oleh masyarakat Mengare.

Pada saat masyarakat Mengare membendung Sungai Bengawan Solo ini dibuktikan dengan adanya Kali Antro. Setelah itu, dibendung lagi oleh masyarakat Bedanten, tetapi karena bendungan tersebut tidak kuat maka bêdah juga. Dan pada saat kedatangan Belanda, Sungai Bengwan Solo dibendung dan diarahkan ke Utara, yang arahnya ke daerah Ujung Pangkah. Semakin lama, semakin banyak orang yang datang mengikuti jejaknya, hingga beberapa tahun tempat ini yang semula lautan berkembang menjadi desa.

Berawal dari istilah bêdah yang artinya berubah dan sêgantên yang artinya lautan, maka desa baru tersebut diberi nama dengan nama Desa Bedanten, yang artinya lautan yang berubah. Dan cerita ini saya dapatkan dari narasumber saya yang bernama Bapak Miftah Sya’roni yang berumur 51 tahun, yang bertempat tinggal di Desa Bedanten RT.03, RW 01, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik.

Desa Bedanten sendiri adalah desa yang terletak kurang lebih 17 kilometer di sebelah utara Kabupaten Gresik, tepatnya terletak di sebelah timur Kecamatan Bungah. Desa ini terkenal dengan home industry-nya, karena sebagian besar masyarakat Desa Bedanten lebih mengutamakan pendapatan perkapitanya dengan cara membuka usaha sendiri di rumah-rumah, seperti membuka usaha konveksi kerudung, juragan krupuk, dan masih banyak lagi.

Meskipun desa ini kecil akan tetapi desa ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk digali sejarahnya, karena di desa ini juga terdapat makam leluhur yang dihormati oleh masyarakat setempat, yaitu Makam Mbah Syayyid Al-Khusaini. Beliau diyakini oleh masyarakat setempat sebagai sesepuh Desa Bedanten, karena itu setiap bulan Ruwah (Sya’ban) masayarakat Desa Bedanten menghaulinya atau memperingati wafatnya dengan cara menyelenggarakan sedekah bumi pada area pemakamannya.

Makam SayyidAl-Khusaini copy

Kebanyakan masyarakat dulu membuat tumpêng pada acara sedekah bumi. Berbeda dengan masyarakat sekarang, kebanyakan dari mereka lebih memilih membawa jajan yang berupa pêlèrèt, yaitu jajanan pasar yang terbuat dari tepung beras yang diberi parutan kelapa sebagai pelengkapnya dan disajikan dalam aneka warna untuk dibagi-bagikan kepada semua orang yang mengikuti acara tersebut.

Selain itu, masyarakat setempat juga tidak lupa membawa kêmbang sebagai syarat untuk menghormati makam sesepuh tersebut. Dalam rangkaian acara ini berbeda dengan sedekah bumi lainnya, dimana kebanyakan dari sedekah bumi yang diadakan oleh desa-desa lain harus melakukan ritual-ritual tersendiri.

Batu bata kuno yang ada disekitar makam Syekh Al-Khusaini copy

Adapun rangkaian acara sedekah bumi yang diselenggarakan berupa isthighosah bersama dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan sambutan-sambutan yang disampaikan oleh kepala desa, yang kemudian ditutup dengan ceramah agama dan doa bersama. Selain itu, pada hari Kamis malam Jum’at Legi, masyarakat setempat juga mengadakan isthighosah rutin dan pada pagi harinya dilanjutkan dengan khataman Al-Qur’an.

Selain Makam Mbah Syayyid Al-Khusaini, ada juga Makam Mbah Kemedum. Dahulu makamnya terletak di sebelah timur desa sebelum Sungai Bengawan Solo, tetapi entah sekarang masih ada atau tidak, karena Makam Mbah Kemedum tidak diberlakukan sama seperti halnya Makam Mbah Syayyid Al-Khusaini. Entah kenapa, masyarakat setempat tidak melakukan sedekah bumi atau ritual-ritual alainnya di Makam Mbah Kemedum karena tidak banyak juga masyarakat yang mengetahui Sejarah Makam Mbah Kemedum.