Oleh : Loemaksono

Dengan akan diterbitkannya Buku Sang Gresik Bercerita, saya semakin semangat untuk menulis kearifan lokal yang ada di Gresik. Awalnya sih saya merasa belum mampu menulis sebuah artikel yang baik, namun semangat saya tidak kalah dengan semangat Pak Dukut yang selalu men-support saya untuk terus menulis dan menulis

Kata Pak Dukut saat itu, ketika saya mengungkapkan ketidakpedean saya untuk menulis secara baik, Beliau berkata

“Wés nuliso aé… Ojok wêdhi gaé nulis… Sing penting, Pé-Dé aé…”

Dari situlah semangat saya semakin menggebu-nggebu untuk melahirkan sebuah tulisan yang nantinya menjadi kebanggan tersendiri untuk saya pribadi dan mudah-mudahan bermanfaat untuk setiap orang yang membacanya kelak.

Dan yang membuat saya bangga nantinya adalah saya akan bisa bercerita kepada anak-cucu saya tentang karya-karya saya yang bermula dari ketidakpedean, menjadi sebuah karya yang bisa dibanggakan.

Kali ini, saya ingin menulis tentang sebuah nama desa di Gresik. Dan di setiap kota di Indonesia, hampir ada nama desa yang sama dengan yang akan saya tulis saat ini…

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku kuliah, saya masih ingat betul waktu itu saya pernah menulis tentang Pecinan di Surabaya. Pecinan sendiri berarti pemukiman atau tempat tinggal dimana di dalamnya banyak sekali orang-orang Tionghoanya. Dan sekarang, saya akan menulis tentang Pekauman, sebuah nama desa di Gresik.

Pekauman, berasal dari kata kauman, yang berarti kaum beriman. Jadi, Pekauman berarti pemukiman atau tempat tinggal kaum beriman. Dengan kata lain, daerah tersebut banyak sekali tinggal orang-orang muslim yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terlebih lagi, di desa ini didirikan sebuah masjid yang legendaris, yaitu Masjid Jamik Gresik. Masjid ini didirikan oleh para penyebar Agama Islam sepeninggal Nyi Ageng Pinatih.

Nyi Ageng Pinatih sendiri adalah seorang janda kaya raya yang juga seorang syahbandar yang sangat terkenal di Gresik, yang memiliki banyak kapal yang dipergunakan sebagai sarana perdagangan ke luar negeri kala itu. Apalagi Beliau adalah ibu angkat yang mengasuh dan membesarkan sekaligus mendidik Raden Paku atau yang dikenal dengan nama Sunan Giri

Pada jaman Majapahit, Nyi Ageng Pinatih adalah seorang saudagar yang sangat dihormati oleh Raja, terbukti dari pengangkatannya sebagai Syah Bandar Gresik. Dengan dikenalnya Nyi Ageng Pinatih di seantero Gresik ini, maka kurang afdol apabila para peziarah yang berziarah ke makam Sunan Giri tidak mampir berziarah ke makam ibu angkatnya juga, yaitu Nyi Ageng Pinatih, yang terletak di Desa Bedilan, Kelurahan Kebungson, 300 meter sebelah utara Aloon-Aloon Kota Gresik dan tidak jauh dari makam Sunan Maulana Malik Ibrahim.

Untitled-1 copy

Kembali lagi ke masalah Desa Pekauman… Di masa pemerintahan Adipati Poesponegoro, di sekitar Masjid Jamik yang ada di desa ini, ditata sedemikian rupa sehingga di depan masjid terdapat aloon-aloon untuk orang-orang berkumpul, bermain, dan beristirahat.

Selain itu, di sekitar Masjid Jamik, berdiri beberapa pondok pesantren terkenal dan tempat tinggal beberapa kyai dan ulama kenamaan, sehingga semakin menggambarkan kalau Desa Pekauman ini memang pemukiman orang-orang beriman.

Sempat ada teman saya yang nylêthuk begini :

“Lèk koyok éson ngéné sing ora beriman alias jarang sholat, poso, karo shodaqoh, berarti éson dak isyok manggon ning Desa Pekauman yooo???”

Dari pertanyaan teman saya itu, saya bingung juga untuk menjawabnya… Tapi akhirnya, saya jawab juga pertanyaan teman saya itu yang sedikit menguras otak saya…

“Lha menurut sampèan yak opo lho??? Opo sampèan pantês opo ora???”

Dan ternyata, jawaban saya itu malah membuat teman saya garuk-garuk kepala…

“Wés êmbuh lah… Sing penting, éson wés usaha dadi wong sing apik aé…”

Pada bulan puasa, Desa Pekauman ini terasa lebih ramai daripada biasanya. Suasana religius di desa ini begitu kental. Langgar dan masjid yang ada di desa ini, selalu dijubêli oleh masyarakat sekitar, entah itu waktunya Shalat wajib maupun saat Shalat Tarawih.

Suasana Kupatan di Kampung Kemasan

Setiap tanggal dua sampai tanggal tujuh bulan Syawal, mereka berpuasa lagi. Dan pada tanggal delapan bulan Syawal, setelah berbuka puasa, mereka merayakan Hari Raya Lebaran kedua yang biasa disebut dengan Rioyo Kupatan.

Pada saat Rioyo Kupatan, hampir di setiap rumah disuguhkan hidangans seperti kupat dan lêpêt. Kupat atau ketupat adalah makanan yang dikemas cantik yang terbuat dari anyaman janur (daun kelapa). Isinya adalah beras, sehingga bentuk matangnya menyerupai lontong. Sementara lêpêt juga dikemas dari daun kelapa, namun bentuknya tidak di anyam, melainkan dibentuk memanjang seperti lontong juga dan daun kelapanya diubêt-ubêt. Isi dari lêpêt adalah ketan dan parutan kelapa. Ada juga yang dicampur dengan kacang panjang (kacang tholo), lalu di ikat dengan menggunakan tali khusus dari serat batang pohon pisang.

Selain kupat dan lêpêt, pada Hari Raya Kupatan, kupat dipadupadankan dengan sambal goreng, gulai, atau opor. Lèk wés ngomongno panganan, sampèan mêsthi mèlok ngilêr… Iyo tho???

Menariknya lagi, selain suasana religius yang sangat kental di Desa Pekauman ini, terdapat kebiasaan tersendiri yang dilakukan oleh masyarakat disana…

Hampir setiap malam, masyarakat Desa Pekauman tidak malas untuk melakukan ronda keliling untuk mengamankan desa mereka. Dan apa yang membuat mereka begitu rajin untuk melakukan ronda tersebut??? Tak lain dan tak bukan adalah budaya ngopi yang begitu akrab di telinga masyarakat Desa Pekauman. Makanya, Desa Pekauman terkenal aman.

Sambil nongkrong dan cangkrukan, di warkop-warkop yang ada di desa tersebut, para pemuda dan bapak-bapak yang ada disana asyik nyruput kopi mereka sambil mengawasi wilayah mereka. Ngobrol ngalor-ngidul pun tak luput dari selingan mereka sambil nyruput kopi. Tapi lèk sik panas, yoo ojok dikokop kopiné, Gus… Isyok mlonyoh lambéné sampèan êngkok…

Beberapa tokoh agama yang sangat terkenal di Desa Pekauman adalah Buyut Doro, Habib Alwi Hasyim Assegaf, K.H. Zubair, dan K.H. Danyalin. Mereka adalah para alim ulama yang sangat dihormati dan disegani di Desa Pekauman