Oleh : Bambang Soeryanto

Maghrib baru saja lewat. Saya asyik duduk-duduk di teras rumah Ketua RW sembari menunggu surat pengantar warga untuk mengurus administrasi kependudukan. Tiba-tiba, datang seorang gadis yang lumayan menarik. Tanpa rasa sungkan, tiba-tiba saja dia duduk di samping saya. Baru kali ini saya melihat dia, apakah dia warga baru yang juga mengurus administrasi kependudukan, entahlah… Hingga akhirnya saya menyapa gadis itu.

“Apa ada perlu sama Pak RW, Mbak ?”, tanyaku.
“Iyo Cak, éson kapéné ngobrol-ngobrol karo Pak RW, soal telogo”, jawabnya mêdhok khas Gresikan.
“Eala, arèk Gresik dhéwé ta Yuk kêno iki?”, tanyaku kemudian.
“Arèk êndi, Yuk?”, tanya saya kembali.
“Asli Gresik kéné Cak, iku lho omahé éson”, jawabnya seraya menunjuk rumah di bawah pohon asam besar di pinggir telaga.
“Kaèt mbahku, wis nang kono iku, panggonanku”, sambungnya kembali.

Aneh, harusnya saya tahu dan kenal kalau dia asli warga penduduk di sekitar telaga itu. Berarti, dia satu RT dong sama saya. Tapi masak sih, saya dak pernah ketemu dia sama sekali. Atau jangan-jangan, sejak kecil dia sudah dibawa orang tuanya keluar dari desa ini, lalu baru pulang setelah dewasa. Batiné éson penuh tanda tanya.

“Oh iyo Yuk, kéné lak durung kenalan yo. Jênêngé éson Juliansyah, tapi wong kéné nyêluk éson Juli. Éson anaké Pak Djupri. Sampèan jênêngé sopo?”

Saya mencoba mengorek identitas gadis ini dengan memancingnya mengenalkan diri.

“Sang aran Paulina, Cak… Éson putuné Mbah Poleng. Sing njogo telogo iku”, jawabnya.
“Oh… terus, onok masalah opo Yuk karo telogoné?”, korek éson lagi.
“Ngéné lho, Cak… Telogo iku saiki wis dak keramut. Akèh sampahé. Padahal mbiyèn telogo iku sing digawé penguripané warga Pojok. Mbiyèn wong sak Pojok mulai Pojok Pesisir sampèk Tlogopojok dhéwé iku nèk nggolèk banyu bersih kanggo ados, masak lan liyan-liyané iku nang telogo kéné. Tapi sak iki, telogoné wis akèh sampahé. Mbahé éson wis dak sanggup njogo telogo iku. Padahal têko telogo iku, sumber mata air sumur-sumuré penduduk sak Pojok. Termasuk sumur bawah tanah sing sak iki dinikmati wong sak Tlogopojok. Nang tengah-tengahe telogo iku Cak, onok sumur sumber sing nguripi banyuné warga”, cerita gadis cantik itu kepada saya.
“Nèk athik sampah-sampah dibuang nang telogo, lah sumber banyu bersihé wong Pojok têko ngêndi hayooo?”, tanyanya.
“Terus sampèan kapéné ketemu Pak RW iku maksudé bèn warga dak mbuak sampah nang telogo. Ngono ta, Yuk?”, selidikku.
“Yo dak cumak ngono thok, Cak. Éson kepingin warga Pojok yo ngajèni mati uripé telogo iki, opo manèh mati uripé banyuné warga yo tergantung karo mati uripé telogo iki. Kêno aé sak iki tak takoni, nèk athik telogo iki dak onok, terus banyu sumber têko sumur garing kabèh, kiro-kiro nurut sampèan kèopo nasibé warga sing dak dhuwé banyu iku? Ibaraté banyu iku setengah uripé mênungso, Cak. Mangkané kudhu dijogo”, jawabnya kemudian.

Waduh, kenapa jadi dalam begini ya??? Jujur, saya belajar banyak dari gadis yang baru beberapa saat saya kenal ini. Selama ini, saya termasuk orang yang paling acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar.

Saya akui, semasa kecil ketika masih duduk di Sekolah Dasar, saya masih sering bermain-main di telaga itu. Dulu di sekitar telaga itu masih belum ada rumah penduduk. Banyak tumbuhan tumbuh di sekelilingnya yang membuat telaga itu menjadi tempat yang nyaman untuk rekreasi. Bahkan banyak warga yang memancing di pinggir telaga.
Tapi sekarang, rumah-rumah penduduk telah mengelilingi dan mengepung telaga itu. Sampah-sampah menggunung dibuang di sekeliling telaga yang diakui atau tidak, dulunya adalah bagian dari sumber kehidupan warga. Air telaga itu sekarang mengering. Bahkan terkadang muncul bau tidak sedap karena sampah rumah tangga yang menumpuk di sekeliling telaga.

Mbah Poleng Penjaga Telaga Warga Pojok copy

“Ngelamun aé, Jul”. Suara Pak RW membuyarkan lamunanku.

Sontak saya kaget bukan kepalang karena gadis di samping éson tadi juga raib entah kemana. Saya celingak-celinguk mencari-cari keberadaan gadis manis tadi.

“Nggolèk opo, Jul?”, tanya Pak RW.
“Nganu Pak, tadi ada gadis mencari Bapak. Namanya Paulina, katanya dia mau ngomong soal telaga itu. Oh iya, dia bilang kalau dia cucunya Mbah Poleng”.

Aneh, ketika saya mengucapkan nama Mbah Poleng, saya baru tersadar. Bahwa sebenarnya, ada sebuah cerita turun-temurun tentang penjaga telaga yang terletak di tengah-tengah wilayah Kelurahan Tlogopojok yang ada di wilayah Kecamatan Gresik ini.

Iya, Mbah Poleng dipercaya oleh banyak warga sebagai penjaga desa atau sekarang Kelurahan Tlogopojok. Dulu, dia dipercaya sebagai penghuni pohon asam raksasa yang beberapa waktu lalu dirubuhkan oleh Pak RW. Waktu itu, Pak RW berdalih kalau pohon asam itu bisa melestarikan kesyirikan warga. Memang sepanjang pohon asam itu kokoh berdiri, ada sebagian warga yang percaya pada tahayul, kerap mengirim sajèn di bawah pohon itu ketika mereka ada hajatan atau nadar-nya terlaksana.

Tapi bukankah pohon itu sudah ditebang?

Saya pun melongok ke arah telaga yang kalau dilihat dari rumah Pak RW, jelas tampak sekali. Pohon asam itu sudah tidak ada. Ya, benar-benar tidak ada karena memang sudah dirobohkan oleh Pak RW beberapa waktu lalu. Berarti apa yang saya alami barusan, memang suatu kejadian yang aneh dan tidak masuk akal.

Walaupun begitu, ada begitu banyak pembelajaran yang bisa saya dapatkan. Bisa jadi memang Mbah Poleng sebagai penjaga telaga di Tlogopojok sudah gerah dengan tabiat warga yang sudah tidak lagi menghargai lingkungan hidup di sekitarnya.

Karena sampah yang menumpuk, maka sumber mata air bersih sekarang semakin sulit ditemui di wilayah Tlogopojok. Keangkeran dan mitos juga sudah musnah dari memori anak-anak muda di Tlogopojok, yang mengakibatkan mereka tidak lagi menghargai alam.
Intinya, sekarang adalah bagaimana kita bisa menjaga alam agar kembali bersahabat. Dulu ketika hujan deras, air hujan ditampung oleh telaga sehingga tidak pernah ada banjir. Saat itu, telaga bisa menampung air hujan karena alam masih bersahabat dengan manusia. Karena alam masih belum tercemar. Masih banyak pepohonan di sekitar telaga yang dengan suka rela menyerap air banjir, termasuk pohon asam besar yang kini bahkan ceritanya saja sudah dilupakan.

Sekarang, jangankan menampung air hujan dan banjir, untuk memperbaiki dan mengasrikan dirinya sendiri saja telaga itu sudah tidak mampu, karena banyaknya sampah yang dibuang warga sekitar. Jadi tidak heran jika sekarang banjir begitu mudah terjadi. Hujan satu atau dua jam saja, langsung banjir menggenang seluruh wilayah Tlogopojok. Dan itu semua karena ketidakpedulian kita. Seperti apa yang disampaikan oleh Paulina tadi, kita tidak ngajèni atau menghormati hidup matinya telaga sebagai sumber air bersih warga Tlogopojok.

“Maaf Pak RW, mungkin saya tadi agak melantur karena terlalu banyak ngelamun”, kataku sembari garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Kalau boleh saya usul, Pak. Kapan-kapan kita adakan kerja bakti membersihkan telaga dari sampah-sampah. Ya, biar keindahan telaga itu terlihat lagi”, usulku.

Saya sudah tak perduli lagi apa benar Mbah Poleng itu ada. Apalagi sampai berpikir apakah dia berwujud manusia atau siluman ular seperti mitos-mitos yang saya dengar selama ini. Bagi saya, pesan yang tersampaikan bahwa kita harus menjaga telaga sebagai sumber mata air tercapai. Jika siluman ular saja mau menjaga telaga ini berabad lampau untuk kelestarian hayati, mengapa kita manusia yang diberi akal dan pikiran justru malah merusak alam dengan rasa tidak perduli???

“Alam pasti akan menemukan jalan untuk bertahan. Bagaimana dengan manusia?”. Tiba-tiba saya seperti merasaran desir angin yang menyambar tubuhku. Merinding…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here