Oleh : Edi Sudrajat

Terdapat sebuah makam yang sangat dihormati dan dijaga oleh warga di desa yang dulu benama Pojok Pesisir. Seluruh penduduk desa ini dulu pernah boyongan masal alias bêdhol desa karena ada proyek perluasan Pabrik Pupuk PT. Petrokimia Gresik.

 Dan sekarang, keberadaan makam ini sudah banyak dilupakan oleh para penerus keturunan warga Desa Pojok Pesisir yang sudah pindah ke sebuah daerah di bagian timur perbatasan Gresik dan kota, yaitu di Gulomantung, Desa Sukorejo.

Makam itu terletak tepat di pesisir laut seperti nama desanya sendiri, Pojok Pesisir. Nèk nang pinggiré warung ngono mungkin namanya Pojok Warung… Ngono tah, Cak? Sebagaimana pemukiman tepi laut, maka sebagian besar warganya tentu saya bermata pencaharian sebagai nelayan.

Yang jelas, karena kemudian makam ini sudah berada di dalam kawasan Petrokimia, maka banyak dilupakan keberadaannya oleh para penerus dari keturunan warga pojok pesisir. Apalagi masyarakat umum yang bahkan tidak tahu kalau di situ ada makamnya. Namun untungnya, makam itu masih ada yang jaga, ada juru kuncinya yang tetap menjaga dan melestarikan makam tersebut sebagai timbal balik atas jasa yang dilakukan oleh Mbah Haji.

Lantas siapakah yang dimakamkan di situ? Konon dia adalah salah satu alim ulama yang membangun dan menjaga keselamatan warga Desa Pojok Pesisir. Namanya Haji Muhammad bin Yalin, yang biasa dijuluki atau dipanggil dengan nama Mbah Haji. Setidaknya, itulah yang dipercaya dan diyakini oleh para sêsêpuh yang asli dari Desa Pojok Pesisir.

Pada mulanya, iki critoné mbiyèn, Dulur…

Ketika belum ada peristiwa bêdhol desa, Mbah Haji adalah sosok yang sangat dihormati dan disakralkan makamnya oleh warga Pojok Pesisir. Makam itu diperlakukan bukan sebagai tempat untuk ritual kemusyrikan atau mencari “ilmu”, tapi dihormati dan disakralkan karena beliau dianggap sebagai pendiri dan penjaga warga desa dari segala balak dan bencana. Baik bencana yang menyerang ke desa maupun ke masing-masing warga.

Setiap tangal 30 Syuro, warga mengadakan peringatan khaul Mbah Haji karena diperkirakan
mungkin pada tanggal itulah Mbah Haji wafat. Dalam acara khaul itu, warga desa dan juga yang datang dari luar desa berbondong-bondong datang mencari berkah dan berdoakan agar tetap diberi keselamatan dan kesehatan, serta rezeki yang barokah.

Dalam acara itulah, disajikan tumpêng dan bubur Syuro, yaitu bubur yang diberi tambahan rempah-rempah dan santan kelapa. Konon, soal bubur Syuro ini merupakan wasiat yang dipesankan para sêsêpuh dulu.

“Pokoké, sabên khaul Mbah Haji, ojok sampèk lali nggowo Bubur Suroné…”

Bagi orang modern dan perkotaan pada umumnya, memang keberadaan makam-makam keramat seperti ini dianggap seperti makam biasa saja. Lha wong atasé kuburan aé lho. Karena itu, ketika dilakukan perluasan Pabrik Petrokimia untuk membuat dermaga yang juga mendekati wilayah pêsarèan alias makam Mbah Haji, terjadi suatu keanehan.

Untitled-1 copy

Ceritanya, dalam proyek pembangunan itu dilakukan pemasangan tiang pancang alias paku bumi. Namun ternyata pekerjaan yang mustinya bukan hal yang sulit itu justru menjadi sangat sulit dilakukan. Bahkan alat berat yang digunakan untuk mengangkat dan membawa beton tiang pancang itu selalu mengalami kecelakaan. Akibatnya alat berat tersebut rusak.

Mengetahui peristiwa aneh dan tidak masuk akal ini, maka ada salah seorang keluarga juru kunci Mbah Haji yang mengingatkan bahwa semestinya jangan melupakan asal-usul daerah tersebut. Tidak bisa dihilangkan begitu saja jasa Mbah Haji yang pertama kali mbabat alas desa itu dan membangunnya menjadi sebuah pemukiman.

Jadi kalau kemudian semua warga sudah dipindahkan dan desanya hendak dijadikan perluasan pabrik, maka seyogyanya tetap menghormati jasa Mbah Haji, meskipun sekarang hanya berupa makamnya saja.

Lantas keluarga juru kunci itu pun berpesan kepada salah satu pekerja agar didengar supaya pekerjaannya lancar :

“Njênêngan sêdoyo nak kéné iki lak wong anyar, semestiné ojok nggawé sak ènaké dhéwé, nak kéné yo onok sing mbaurêkso sing kudu diselameti supoyo kabeh sing nak kéné selamet…”.

Namun pada saat itu mereka tidak langsung percaya begitu saja. Namun setelah mulai putus asa, maka akhirnya cara yang disarankan oleh keluarga juru kunci itu dilaksanakan. Mereka mengadakan sêlamêtan atau khaul di makam Mbah Haji. Setelah itu barulah proyek pembangunan dermaga bisa dilanjutkan dan tidak ada kesulitan lagi untuk menancapkan pemancang ke perut bumi.

Sejak saat itu, makam Mbah Haji malah dipelihara dan dibangunkan sebuah kuncup pêsarèan yang bagus oleh perusahaan untuk menghormati dan menghargai bahwa disana memang terdapat sebuah sosok alim ulama yang tidak boleh dilupakan sebagai sing mbaurêkso Deso Pojok Pesisir.

Angka Halaman 14

Pergi ke halaman

Angka Halaman sebelumnyaAngka Halaman 11Angka Halaman 12Angka Halaman 13Angka Halaman 14Angka Halaman 15Angka Halaman 16Angka Halaman 17Angka Halaman 18Angka Halaman 19Angka Halaman 20Angka Halaman berikutnya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here