Oleh : Biazamsha Kharisma Pinatih

Pada suatu malam, ada seorang warga Desa Karangpoh yang bermimpi disuruh membersihkan tempat pembuangan sampah. Keesokan harinya, dia mendatangi tempat itu, kemudian membersihkan sampah dan mbabati rumput.

“Lho, kok ada makamnya?”, gumam warga tersebut.

Bukan hanya satu, bahkan ditemukan sembilan makam yang selama ini terpendam dalam tumpukan sampah. Salah satu makam itulah yang kemudian dipercaya warga setempat sebagai makam Mbah Buyut Biting.

Sebagai kota santri yang memang banyak memilki aulia, bukan hal yang aneh kalau Gresik memiliki banyak makam aulia. Pertanyaannya, apakah kompleks makam yang terletak di Jl. Abdul Karim Gang 9, RT 07, RW 01, Desa Karangpoh, kecamatan Gresik itu juga termasuk makam aulia? Lantas, siapakah Buyut Biting itu?

Seperti yang telah diceritakan oleh Bapak Muhyidin, salah satu tokoh agama di Desa Karangpoh, dahulu daerah Karangpoh ini merupakan pantai yang dekat dengan laut. Namun, tempatnya tidak terawat sehingga banyak sampah, bahkan merupakan tempat
pembuangan sampah. Selain itu, banyak juga ditumbuhi pohon, terutama pohon pisang.

Banyak pelajar SD di sekitar lokasi makam Buyut Biting ini mendatangi makam untuk ziarah pada acara-acara tertentu seperti hari-hari besar keagamaan. Namun mereka hanya diajak berziarah dan membaca tahlil, tanpa diperkenalkan siapa Buyut Biting itu.

Dalam pengertian umum, tentu kata Biting itu sendiri mengacu pada sepotong lidi runcing yang biasanya digunakan sebagai pengikat daun pisang sehingga dapat membentuk takir atau wadah yang digunakan untuk tempat makan nasi. Koyok wadah sêgo krawu lho Rèk, sing biasané diarani wadah pincuk.

Tetapi Biting juga bisa berarti sebatang lidi, atau ruas daun kelapa. Lantas, mengapa Biting dijadikan nama orang? Dalam hal ini ada beberapa versi.

Makam Buyut Biting copy

Yang pertama menyebutkan bahwa karena makam- makam itu awalnya ditemukan diantara tumpukan sampah. Kemudian diantara tumpukan sampah- sampah itu tentu terdapat biting, maka dari situlah makam tersebut dikenal sebagai makam Buyut Biting.

Versi kedua, ada pula yang mengatakan bahwa pekerjaan dari aulia Allah ini adalah membuat
biting. Biting yang telah dibuat dan terkumpul banyak nantinya dijual ke pasar dan sebagian dari hasil menjual biting tadi diberikan kepada fakir miskin dan yatim piatu sehingga Beliau disebut sebagai Buyut Biting.

Ada pula yang mengatakan bahwa Buyut Biting ini satu generasi dengan Sunan Giri dan Buyut Senggulu di Desa Terate atau pada saat pemerintahan Maswitono. Beliau mengabdi pada Sunan Giri, bahkan ketika Sunan Giri sedang tidur, Beliau selalu menjaga agar jangan sampai ada nyamuk yang mengganggu tidurnya. Beliau menjaga Sunan Giri dalam tidurnya dengan cara membawa biting untuk menghalau nyamuk yang mengganggu. Karena hal itulah, Beliau disebut sebagai Buyut Biting.

Berikutnya, ada pula yang menyebut sebagai Buyut Benteng. Dinamakan Buyut Benteng karena letaknya yang ada di pinggir laut, sehingga menjadi benteng tempat pertahanan setiap ada musuh yang datang dari arah laut.

Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa disebut Buyut Benteng karena Beliau selalu membentengi wilayah Karangpoh, terutama RW 01. Beliau tidak rela jika di Desa Karangpoh terutama RW 01, diadakan acara yang tidak sejalan dengan norma-norma Agama Islam. Memang dalam Bahasa Jawa Kuno, arti kata Biting itu adalah Beteng atau Benteng, bukan biting sapu lidi. Itu sebabnya desa-desa yang bernama Biting di banyak daerah biasanya dulu
merupakan benteng pertahanan

P1010017BW copy

Ternyata keberadaan makam Buyut Biting selama ini memang menunjukkan fungsi sebagai benteng dalam makna yang luas. Misalnya saja, pernah ada cerita bahwa pada suatu hari ada acara pernikahan atau kawinan di Desa Karangpoh. Namun acara pernikahan tersebut terdapat unsur unsur maksiat sehingga terjadilah hal-hal yang aneh, yaitu musibah kebakaran di dapur rumah pengantin, ada yang mengatakan hidangan nasinya tidak masak atau sik mentah, dak matêng-matêng. Ada pula yang menyebutkan tiba-tiba keluar seekor ular besar yang akhirnya membuat acara pernikahan itu menjadi kacau.

Cerita yang lain lagi, karena Buyut Biting ini merupakan aulia Allah, maka tentunya Beliau juga memiliki khadam atau makhluk halus yang selalu setia. Karena khadam merupakan makhluk halus sehingga dapat dengan mudah merubah wujudnya. Wujud yang pernah dilihat oleh masyarakat sekitar makam adalah berupa kuda, kuda putih atau zebra.

Selain berbentuk kuda, ada pula warga yang melihat dalam bentuk kepiting emas yang selalu berkeliling pada siang hari dan ada juga yang mengaku pernah melihat ikan, namun hanya kerangkanya saja.

Yang juga menjadi misteri, ada yang mengatakan bahwa di kampung tempat makam Buyut Biting ini seolah-olah selalu ramai pada malam hari sehingga dapat mengurungkan niat pencuri atau orang jahat yang hendak mencuri barang milik warga setempat. Padahal kenyataannya, seluruh warga sudah terlelap tidur. Maka dari situlah, Buyut Biting ini selalu membentengi warga dari tindak kejahatan, termasuk pencurian.

Di makam Buyut Biting ini pula warga memiliki Tradisi Barikan atau warga Gresik biasa menyebutnya sebagai bancaan, sebagai ungkapan wujud syukur kepada Allah SWT. Barikan dilaksanakan setiap menjelang bulan Maulud di dalam makam dan di jalan depan makam Buyut Biting. Acara barikan di makam Buyut Biting ini tidak jauh berbeda dengan acara Maulud Nabi Muhammad SAW, warga diminta membawa jajanan atau panganan, kemudian jajanan itu nantinya ditukar dengan jajanan milik warga lain.

Makam Buyut Biting yang semula hanya berjajarjajar, kemudian diberi pagar dan pintu masuk atas inisiatif Haji Tari yang rumahnya tidak jauh dari makam tersebut. Selanjutnya, pada tahun 2003, seorang warga bernama Bapak Muhyidin dan yang lainnya yang merupakan warga sekitar makam, juga memperbaiki lagi makam aulia Allah ini.

Pondasi awal dari pembangunan makam ini diambil dari batu-batu bongkaran pada jalan makam Putri Campa. Perbaikan makam ini dilakukan untuk mendukung acara manaqib yang diadakan tiap bulan Jawa tanggal 2.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here