Oleh : Fatima Thus Zahrah

Balekambang adalah sebuah balai-balai, yang juga menjadi nama sebuah dusun di Kelurahan Lumpur. Bukan hanya satu balai, namun ada tujuh balai. Di tempat inilah, pada jaman dulu menjadi tempat peristirahatan Kyai Sindujoyo, seorang tokoh sakti yang pernah bertapa dalam perut kerbau.

Balé berarti balai atau tempat berkumpul, baik untuk musyawarah, makan bersama atau sekadar cangkrukan. Sedangkan Kambang diambil dari kata mengambang, yang artinya mengapung. Balai ini dinamakan demikian karena sejarahnya ditemukan dalam keadaan mengambang di laut.

Menurut cerita warga Lumpur, balai ini ditemukan sekitar tahun 1506 M oleh seorang nelayan yang sedang melaut. Awalnya, nelayan tersebut mengira itu adalah sebuah sampah kayu biasa yang mengambang di laut. Kayu tersebut ditarik lagi ke tengah laut agar tidak terombang-ambing yang akan menganggu perjalanan para nelayan melaut.

Namun anehnya, beberapa waktu kemudian, onggokan kayu tersebut kembali mendekat ke perairan Lumpur. Karena penasaran, akhirnya nelayan setempat pun membawa kayu tersebut ke tepi laut. Setelah beberapa lama, nelayan setempat memperhatikan onggokan kayu itu, dan mereka baru menyadari bahwa yang awalnya mereka kira adalah sampah kayu biasa itu ternyata adalah sebuah balai yang terbuat dari kayu. Dan akhirnya oleh para nelayan, balai itu ditarik ke darat dan kemudian sampai sekarang didirikanlah balai tersebut menghadap ke selatan, di lahan yang sekarang bernama Kelurahan Lumpur.

Bangunan Balé Kambang di Kelurahan Lumpur yang sekarang ini bukanlah bentuk aslinya, karena telah mengalami banyak renovasi. Keseluruhan, terdapat tujuh balai, lima berada di Kelurahan Lumpur, sedangkan dua lainnya berada di daerah Kelurahan Kroman. Lima balai yang terdapat di Kelurahan Lumpur adalah Balé Kambang, Balé Wonorejo, Balé Cilik, Balé Purwo, dan Balé Pesusukan. Sedangkan balai yang berada di daerah Kelurahan Kroman adalah Balé Metoko dan Balé Keling.

Meskipun model bangunan ini sangat sederhana, namun banyak filosofi dan makna yang terkandung di dalamnya. Pertama adalah pintu balé yang selalu terbuka atau pun tidak berdaun pintu, menandakan bahwa tempat tersebut selalu terbuka untuk semua kalangan masyarakat. Kemudian, jendela yang selalu terbuka atau juga tidak berdaun jendela
menandakan bahwa masyarakat setempat mau dan siap menerima pendapat dari berbagai macam sudut pandang.

Selain itu, posisi tempat Balé Kambang berdiri, berada di paling depan dibandingkan balé yang lain. Hal itu menandakan bahwa balé tersebut adalah imam atau pemimpin, karena Balé Kambang adalah balé yang pertama kali didirikan, sedangkan balé yang lain berada di garis belakang seperti layaknya makmum sholat berjamaah.

Selain itu, menurut warga setempat, balé-balé tersebut juga melambangkan bangau terbang, yang mengingatkan bahwa wilayah tersebut adalah tempat bersarangnya kawanan burung bangau.

Semua balé dihadapkan ke arah selatan menuju Giri, karena pada waktu itu masyarakat setempat menganut Agama Islam yang diajarkan oleh Sunan Giri. Jika dilihat dari fungsinya, balé berfungsi sebagai tempat peristirahatan para pelaut, tempat komunitas untuk bermusyawarah, dan tempat para istri dan anak-anak nelayan yang menanti kedatangan suami atau ayahnya dari melaut.

P1010038bw copy

Setiap tahunnya, ada tradisi khaul Kyai Sindujoyo yang diadakan tiap akhir bulan Mei di sekitar Balé Kambang. Khaul diadakan untuk mengingat kembali jasa-jasa sang pembabat alas wilayah Kelurahan Lumpur, yakni Kyai Sindujoyo.

Menurut cerita masyarakat, Balé Kambang dulunya adalah tempat peristirahatan Kyai Sindujoyo semasa hidup. Kyai Sindujoyo adalah murid dari Sunan Prapen, putra Kyai Kening dari Dusun Klating, Lamongan.

Nama aslinya adalah Pangaskarto. Julukan Kyai Sindujoyo diperoleh dari Sunan Amangkurat, sejak dia bersama Imam Sujono yang diutus oleh Sunan Prapen untuk membantu Sunan Amangkurat menyelesaikan kemelut dengan Tumenggung Banyumas yang dianggap tidak patuh dengan kebijakan Sunan Amangkurat.

Di tengah perjalanan menghadap Sunan Amangkurat, mereka bertemu dengan kakak beradik yang beranama Salam dan Salim. Hingga akhirnya mereka berempat diberi tugas untuk menangkap Tumenggung Banyumas yang sakti mandraguna.

Keberhasilan mereka menangkap Tumenggung Banyumas disambut gembira oleh Sunan Amangkurat, bahkan mereka diberi hadiah yang begitu banyak, tapi Pangaskarto menolak semua hadiah itu. Dari ratusan kerbau yang diberikan oleh Sunan Amangkurat, hanya satu kerbau bulé kurus sebagai pilihannya untuk dijadikan sampan di atas arus Bengawan Solo. Dan kerbau-kerbau hadiah itu harus diberikan kepada rakyat yang membutuhkannya.

Untitled-1

Sik, sik… Opo maksudé dijadikan sampan? Sampan itu kan perahu. Kok kerbau dijadikan perahu, itu maksudnya bagaimana? Apa kerbau itu bisa berenang, trus dinaiki di atasnya begitukah? Entah bagaimana caranya, diceritakan bahwa Ki Sindujoyo masuk ke dalam perut kerbau dan bertapa selama empat puluh hari di dalamnya.

Karena lêlakon yang aneh ini, Sunan Amangkurat memberi julukan pada mereka berempat. Pangaskarto diberi gelar Sindujoyo, Imam Sujono mendapat gelar Surogarjito, Salam dan Salim masing-masing bergelar Tirto Asmoro dan Ening Asmoro. Sejak saat itulah, Pangaskarto berganti nama menjadi Sindujoyo, yang sekarang namanya diabadikan menjadi nama suatu jalan di daerah Kelurahan Lumpur.

Kisah mengenai Kyai Sindujoyo ini dapat dipelajari dalam Kitab Sêrat Sindujoyo yang telah diterjemahkan. Tentu saja ada beberapa versi cerita yang beredar di masyarakat berdasarkan perbedaan penafsiran atas kitab tersebut.

Kembali ke cerita semula, akhirnya sampailah mereka di salah satu desa. Lantas mereka berpisah. Surogarjito tinggal di Desa Palangtrepan, Salam dan Salim ke arah yang lain, dan Pangaskarto (Sindujoyo) kembali masuk ke perut kerbau bulé yang sudah menjadi bangkai tersebut mengikuti arus Bengawan Solo dan hingga sampailah bangkai tersebut di Desa Druyung. Di desa Druyung inilah Kyai Sindujoyo akhirnya keluar dari perut bangkai kerbau bulé dan berjalan ke timur, lalu tinggallah di Desa Roomo.

Di desa ini, Sindujoyo mendirikan gubuk sebagai tempat tinggal. Setelah menetap di sana beberapa lama, Kyai Sindujoyo menikah dengan Nyai Pesalatan dan dikaruniai beberapa anak. Beliau bekerja sebagai nelayan sodoh atau mencari ikan dengan alat sejenis serok besar yang didorong dengan berjalan di air.

Ketika akhirnya Kyai Sindojoyo wafat, sekarang malah tidak diketahui yang mana makamnya. Ada pendapat yang berbeda, karena terdapat dua makam. Yang pertama terdapat di Karang Poh, Kabupaten Gresik dan yang satu lagi terdapat di dekat makam Sunan Prapen yang juga masih berada di Kabupaten Gresik. Karena Kyai Sindujoyo dulunya adalah murid Sunan Prapen dan telah menjadi orang kepercayaan atau tangan kanan Sunan Prapen.
Sampai saat ini, tidak ada satu orang pun mengetahui yang mana kuburan Kyai Sindujoyo yang sebenarnya… Wallahua’lam…