Oleh : Achmad Zubair Abdul Qudus

kh-zubair-copy
KH. Zubair

Tersebutlah seorang ulama bernama KH. Zubair memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa. Kewibawaan, kesaktian, dan kedermawanan melekat pada diri sang Kyai tersebut.

Banyak orang mengaguminya atas apa yang telah dia perbuat untuk menyebarkan ajaran Agama Islam yang telah dipelajarinya di Mekkah. Amalan ibadahnya membuat kagum berbagai macam golongan di Gresik bahkan dari luar Gresik.

Siapakah KH. Zubair tersebut? Anak ragil dari 6 bersaudara ini merupakan keturunan Abdul Qudus yang berasal dari Demak. Menurut cerita dari salah seorang keluarga, Abdul Qudus merupakan golongan dari orang biasa namun mengabdi sebagai kusir dari Sunan Qudus.

Meski demikian, hampir seluruh anaknya memiliki Pondok Pesantren di Pulau Jawa dan Madura. Seperti halnya KH. Zubair yang memiliki Pondok Pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren KH. Zubair, yang lokasinya berada daerah Kauman-Gresik. Pondok tersebut termasuk salah satu Pondok Pesantren tertua di Gresik.

KH. Zubair meninggal di Gresik dan dimakamkan di makam Islam Tlogo Pojok. Setiap tahun, selalu diperingati khaul dari KH. Zubair, sambil mengenang tentang kewibawaan, kesaktian, dan kedermawanannya yang diceritakan oleh keluarga atau pun tokoh Gresik.

Salah satu ceritanya adalah cerita bagaimana KH. Zubair menghadapi gangguan dari preman yang sedang mabuk. Atau kisah tentang KH. Zubair yang punya kesaktian mampu membagi raganya menjadi dua. Bahkan konon, dia juga punya santri yang berasal dari golongan jin. Demikian pula cerita tentang kedermawanannya dalam berbagi terhadap kaum dhuafa maupun janda, dan fakir miskin.

Cerita soal preman yang sedang mabuk itu, bermula ketika dia sedang berkunjung ke rumah anak angkatnya yang berada di daerah Pekelingan dengan berjalan kaki. Sepulang dari rumah anaknya, dia bertemu dengan para pemabuk di tengah jalan.

“Assalamu’alaikum, Pak Kyai… Badhé tên pundi, Pak?” sapa dari salah satu preman itu.

Dengan tenang, KH. Zubair menjawab : “Katéné moléh nang Kauman…”

“Lungguh bareng-bareng nang ambèn kéné lho, Pak Kyai… Ngombé bareng-bareng…”, sahut para preman dengan gaya mengajak KH. Zubair untuk mabuk bersama.

“Astaghfirullah… Ngombé opo iku? Arak kok diombé? Opo untungé ngombé ngono?”, tanya KH. Zubair.

“Èco Kyai, kanggo mêndêm Kyai, iki aé sak drum éson kuat, Kyai… Wong éson iki rojoné mabuk jaré!”.

“Ojok ngono, Léh… Sombong ngono iku, dosamu tambah gede lho…”, sambung Pak Kyai.

“Halah, ngomong êntut ta, Kyai… Lakaré sampèan dak kuat ngombé ngono, palingo yo lèk ngombé sak cèrèt aé wis gêntang sampèan… Ayo Kyai, lèk wani, kéné ngombé karo éson, ayo totoan… Sopo sing kuat ngêntèkno ombèn-ombèn sak drum iki… Lèk éson sing menang, mbayaro sêlawé répés nang éson… Lèk sampèan sing menang, éson manut dadi santriné sampèan sak lawasé…”, tantang dari salah satu preman tersebut sambil menertawakan KH. Zubair.

untitled-1-copy

Tanpa pikir panjang, untuk meladeni tantangan dari preman dan dengan tujuan baik untuk ibadah, KH. Zubair langsung mengambil gelas dan meminum ombèn-ombèn tersebut gelas demi gelas dengan membaca Bismillah di setiap gelasnya untuk mengharap ridho dari Allah SWT.

Si preman hanya bisa melongo melihat kehebatan KH. Zubair yang dengan cepat dan kuat menghabiskan satu drum ombèn-ombèn tersebut. Akhirnya si preman mengaku kalah dan bersedia untuk memenuhi janjinya untuk taubat dan menjadi santri dari KH. Zubair.

Soal kesaktiannya, ceritanya ketika hari Jumat seperti biasa, Beliau mendapat undangan untuk menjadi penceramah di masjid-masjid di Gresik. Pernah suatu ketika, dia mendapatkan dua undangan untuk mengisi ceramah di tempat yang berbeda. Yang satu mengisi khotbah Jum’at di Masjid Jamik Gresik yang lokasinya berada di alun-alun Gresik dan yang kedua di Masjid Giri yang lokasinya berada di sekitar area makam Sunan Giri.

Tanpa disangka, seusai sholat jama’ah dari Masjid Giri dan Masjid Jamik Gresik, ada salah seorang kerabat saya bertemu dengan temannya dan mereka saling bercerita tentang isi khotbah Jum’at di masjid masing-masing. Dan ketika mereka saling tanya siapa pengisi khotbah-nya, mereka terkejut, ternyata pengisi khotbah Jum’at kedua masjid tersebut adalah orang yang sama, yaitu KH. Zubair.

“Mosok séh, Kyai Zubair khotbah nang Masjid Giri? Lha wong mau jelas-jelas ngisi khotbah nang Masjid Jamik kok…”, ucap jama’ah Masjid Jamik heran.

“Iyo Cak, wong éson lho wêruh dhéwé sing ngisi iku Kyai Zubair”, ujar kerabat saya yang Sholat Jum’at di Masjid Giri.

“Walah, kok isyok koyok ngono yooo, Cak… Kok isyok KH. Zubair khotbah ndik panggonan sing bèdho, tapi wêktuné isyok bareng koyok ngéné… Subhanallah…”, jawab teman kerabat saya kemudian.

“Iyooo Cak, yooo ngono iku lèk wong sing ilmuné tinggi, dhuwé kharomah têkan Gusti Allah…”, lanjut kerabat saya.

Cerita yang lain tentang kesaktian KH. Zubair adalah sebagian muridnys berasal dari golongan jin. Setiap kemana pun Beliau pergi, selalu ada jin yang setia menggendongnya di perjalanan. menggendong KH. Zubair tersebut bertemu dengan temannya sesama makhluk gaib. Tetapi, makhluk tersebut adalah jin kafir yang suka menggoda manusia. Jin kafir sangat benci terhadap tindakan yang dilakukan oleh KH. Zubair.

“Hééé jin sêtrès, lapo koên gêlêm aé dikongkon nggéndong Kyaimu? Ojok gêlêm didadèkno babuné… Uncalno aé nang tengah-tengah dêlanggung kono… Gêndêng koên iku gêlêm aé…”, kata jin kafir kepada seorang jin yang menggendong KH. Zubair.

Mendengar ucapan dari jin kafir tersebut, jin yang sedang menggendong KH. Zubair berbicara dalam hati : “Iyo yo, gêlêm aé aku didadèkno babu trus dikongkon karo Pak Kyai, yak opo lèk tak têlbokno nang tengah-tengah dêlanggung aé yooo…”

Tanpa disadari, KH. Zubair mengetahui apa yang sedang dipikirkan santrinya tersebut. Tanpa berbasa-basi, Kyai Zubair berkata kepada jinnya :

“Yo… Uncalno aé éson ndik dêlanggung… Tak obong koên mari ngono…”.

Akhirnya, karena takut dibakar, jin mengurungkan niatnya untuk melempar KH. Zubair dan si jin kafir yang sengaja memanas-manasi suasana tersebut langsung kabur saat dia tahu kalau Kyai Zubair mampu mendengar ucapannya.

Cerita yang terakhir, KH. Zubair sangat terkenal kedermawanannya. Dia sangat memperhatikan kondisi ekonomi orang dhuafa dan juga janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Hanya saja, sedekah itu sengaja dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, bahkan orang yang disedekahinya tidak tahu siapa yang bersedekah.

Suatu ketika, para janda yang berada di sekitar rumah KH. Zubair di daerah Kauman bingung saat Shubuh mereka menemukan uang yang diselipkan di bawah pintu atau di bawah keset masing-masing rumahnya. Tidak ada seorang pun yang tahu pelakunya meskipun ditanyakan siapa saja. Sampai bertahun-tahun hal itu selalu terjadi setiap hari dan tak ada yang tahu siapa yang memberi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Langgar dan Pondo Pesantren KH. Zubair

Sampai suatu ketika, KH. Zubair wafat, janda-janda dan kaum dhuafa pun menyadarinya : “Kok dak onok sing ngêkèki éson dhuwék ndik ngisoré lawang manèh yo?”, keluh si janda. “Ojok-ojok, sing ngêkèi kèt mbiyèn iku KH. Zubair… Lha pas KH. Zubair sèdo, kok moro-moro blas dak onok sing ngêkèki…”

Akhirnya hal tersebut dibenarkan oleh santri dekatnya KH. Zubair. Sejak saat itulah kedermawanan KH. Zubair selalu menjadi cerita yang patut menjadi contoh.

Berkat jasa-jasanya, akhirnya pemerintah Kabupaten Gresik memberikan penghargaan dengan menjadikan nama jalan yang berada di daerah Pulo Pancikan yang lokasinya berada di timur Jalan Malik Ibrahim menjadi Jalan KH. Zubair. Selain itu juga, acara khaul KH. Zubair selalu diadakan setiap tahun pada bulan Syawal, Jum’at terakhir di Pondok Pesantren KH. Zubair di sebelah utara Masjid Jamik Gresik.

 

Versi lain cerita KH. Zubair

Pada saat kecil saya, sering kali almarhum KH. A. Wahib Tamim main kerumahku, beliau adalah kakak kandung KH. Moechtar Jamil, dan beliau adalah sahabat karib almarhum abahku. Semasa hidupnya beliau sering kali beliau dimintai pertolongan pengobatan dalam hal sakit medis ataupun non medis, hal ini akan diceritakan dalam tulisan lain.

Beliau pernah bercerita bahwa di Aloon Aloon sebelah timur itu dulunya tempat mangkal pedagang Toak, mereka berjejer di sepanjang jalan Aloon Aloon sebelah timur. Padahal sebelah barat Aloon Aloon terdapat Masjid Jami’ Gresik. Lha kan yo gak pantes seru yo rek… Mosok mudun jama’ah nak mesjid kethok wong mendem2…

Ternyata hal ini juga dirasakan KH. Zubair, sampai pada suatu ketika setiap habis sholat Jama’ah Subuh para pedagang Toak sudah berjajar menjajakan dagangannya. KH. Zubair mendatangi satu persatu pedagang dan memborong semuanya dan meminumnya hingga habis, sehingga para langganan pembeli Toak gak uman blas…. Lha terus duwite teko endi gawe borong iku??? Emboh rek aq yo gak takok sampek semono…

Sampai suatu ketika ada salah seorang pelanggan yang merasa jengkel karena selalu kehabisan toak saat mau membelinya. Dan akhirnya orang tersebut menghadang KH. Zubair saat mau membeli toak dan bertanya:

” Pak Kyai aq ape takok nak sampeyan…”

” Iyo cak takok opo sampeyan???” jawab KH. Zubair kepada orang itu.

” Sampeyan iku lak Kyai kok doyan ngombeh2 gak isin ta karo santri sampeyan? Ngono iku lak duso kok sampeyan lakoni?? Opo ngono iku klakoane kyai??”

KH. Zubair hanya tersenyum dan berkata ” Deloken lambeku” sambil membuka mulutnya lebar2

Orang tersebut kaget bukan main, karena saat KH Zubair membuka mulut lebar2 yang terlihat di mulut tersebut adalah lautan.

Orang tersebut akhirnya meminta maaf kepada KH. Zubair dan bakul tuak mulai berangsur angsur pindah tidak berjualan di Aloon Aloon Gresik lagi.

Ternyata tuak – tuak tersebut dibuang kelaut oleh KH. Zubair melalui mulutnya. Lha terus yaopo carane iku rek??? yo embuh… wes gak usah dipikir dowo – dowo tingkah lakune poro wali yang karomah.

Oiya ada juga yang mempunyai karomah mirip KH. Zubair, yaitu almarhum Gus Mik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here