Oleh : Muhammad Naf’an S.

Dalam dongeng Abunawas yang terkenal itu, diceritakan bahwa Raja Baghdad yang berkuasa waktu itu adalah Sultan Harun Al Rasyid. Dialah raja yang bijaksana, murah hati, adil, dan sangat peduli terhadap rakyatnya. Sementara sosok Abunawas digambarkan sebagai orang yang cerdik, banyak akal, kreatif, dan seringkali malah ngakali sang Raja untuk berbagai kepentingannya. Nah, lokasi Baghdad ada di negara Iran sana, juauuuh sekali dari Gresik. Kalau kemudian ada cerita bahwa keponakan Raja Baghdad dimakamkan di Desa Serah, Kecamatan Panceng, Gresik, apa kira-kira ini juga akal-akalan Abu Nawas yaa…

Tidak ada catatan sejarah bahwa Sultan Harun Al Rasyid pernah menginjakkan kaki di Gresik, lha wong dia bukan termasuk golongan para wali yang menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa. Bahkan sosok Raja Harun dan Abu Nawas itu sendiri selama ini lebih dipercaya sebagai kisah fiktif ketimbang fakta sejarah. Jadi, apakah makam keponakan Raja Baghdad di Desa Serah itu juga fiktif? Monggo kita ikuti saja kisah berikut ini…

Pertama kali saya mengumpulkan data dan informasi mengenai desa ini cukuplah sulit, dikarenakan desa ini memiliki misteri tersendiri dimana warganya tidak mau membukanya dan berbagi cerita dengan orang lain. Karenanya, saya terus mencoba untuk mengumpulkan informasi, meskipun informasi yang saya dapatkan tidak berasal dari masyarakat Desa Serah sendiri, namun bisa dibuktikan kebenarannya.

Jaréné wong-wong Desa Serah saat itu ketika saya tanya tentang sejarah desanya, mereka pun hampir serentak menjawab dengan jawaban yang sama : “Wong-wong kéné ora gêlêm cerito Mas, bèn dadi misteri waé…”

Mendengar jawaban mereka, saya pun tidak bisa mendesak mereka untuk memberikan informasi yang saya butuhkan. Itu merupakan hak mereka masing-masing apabila mereka tidak ingin berbagi cerita dengan saya.

Pertama-tama, sampèan musti tahu dulu dimana Desa Serah itu. Desa ini terletak di lereng bukit Surowiti, 1 km dari puncak bukit, dan sekitar 3 KM dari kantor Kecamatan Panceng. Desa ini sangat strategis karena dapat dijangkau dari empat arah penjuru mata angin. Sebelah barat desa ini adalah Desa Sumurber, sebelah utara adalah Desa Surowiti, sebelah timur adalah Desa Sukodono, dan sebelah selatan adalah Desa Tebuwung (Kecamatan Dukun).

Bukit Surowiti letaknya tidak jauh dari desa Serah (foto ini diambil dari desa Serah) copy

Puncak Gunung Surowiti yang lokasinya tak jauh dari desa Serah

Di desa ini, terdapat kebiasaan yang dilakukan oleh warga setempat, yaitu Peringatan sedekah bumi atau dekahan (warga Desa Serah menyebutnya) yang dilaksanakan setiap bulan Agustus, bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Cara mereka memperingati sedekah bumi sangat sederhana, yakni tiap-tiap rumah membuat tumpêng dengan lauk apa saja disertai dengan jajan pasar. Makanan tersebut dikumpulkan menjadi satu di musholla terdekat, di masjid, dan di balai desa, kemudian dibacakan tahlil bersama-sama. Selesai dibacakan tahlil, makanan dicanjak bareng-bareng dan sisanya dibawa pulang ke rumuah.

Karena bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia, maka puncak acaranya pun dibarengkan dengan puncak acara peringatan HUT RI. Biasanya, puncak acara diisi dengan pentas pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Di sebelah timur desa ini, tepatnya di tengah-tengah komplek pemakaman desa, terdapat sebuah situs berupa makam tua. Tiada seorang pun yang tahu perihal siapa yang dikubur dalam makam tua itu. Warga desa menyebutnya dengan Makam Mbah atau Yai Kal Bakal. Setiap warga yang ziarah ke makam keluarga atau kerabatnya tak pernah lupa mampir ziarah ke Makam Mbah atau Yai Kal Bakal tersebut.

Rasa penasaran warga terhadap makam tua tersebut pun bertambah besar, sehingga beberapa warga bersama tokoh masyarakat tergerak untuk mencari tau siapa gerangan yang berada dalam makam itu. Mereka pun sowan ke beberapa orang pintar dan ulama terkemuka di Tanah Jawa. Salah satu yang mereka datangi adalah seorang ulama di Jawa Tengah. Setelah beberapa kali sowan ke sana dengan langsung ditemani oleh Bapak Kepala Desa yang pada waktu itu adalah Bapak H. Dhuha, akhirnya ulama tersebut memerintahkan rombongan untuk mendatangi seorang ulama di Bangkalan, Madura.

Beberapa waktu sepulang dari Jawa Tengah, rombongan yang dipimpin oleh tokoh ulama desa, yaitu Bapak Masduqi Zain bersama dengan Pak Lurah dan beberapa tokoh masyarakat yang ikut, pergi ke Madura mencari seseorang yang dimaksud oleh ulama Jawa Tengah tersebut.

Singkat cerita, rombongan tersebut telah berhasil menemui orang yang dimaksud. Mereka pun kembali ke Desa Serah dengan membawa hasil. Makam yang berumur ratusan tahun tersebut akhirnya diberi nama Makam Mbah atau Yai Kal Bakal. Makam tersebut adalah makam seorang musyafir, ulama besar dari Gujarat dengan nama asli Syekh Musthofa Al-Maghrobi. Rasa penasaran warga pun sedikit terobati dengan diketahuinya identitas seseorang yang berada dalam makam tua tersebut, meskipun mereka tidak tahu siapa dan bagaimana riwayat hidup sosok Syekh Musthofa Al-Maghrobi.

KEPONAKAN RAJA BAGHDAD DI DESA SERAH copy

Pernah suatu kali, ketika saya mengikuti ceramah agama, dalam ceramah seorang Kyai dari Lamongan mengatakan bahwa Syekh Musthofa Al-Maghrobi adalah keponakan dari Raja Baghdad. Beliau melakukan perjalanan ke Tanah Jawa guna menyebarkan ajaran Agama Islam. Kyai tersebut juga mengatakan bahwa Syekh Musthofa Al-Maghrobi merupakan sepupu dari Siti Fatimah binti Maimun, yang makamnya terletak di Desa Leran, Kecamatan Manyar.

Pernah kedua orang yang saling bersepupu ini dijodohkan oleh masing-masing ayahnya dengan putra dan putri Raja Majapahit. Namun perjodohan tersebut tidak sampai jadi dikarenakan Raja Majapahit menolaknya. Raja Majapahit tidak tahu jika mereka berdua adalah putra dan putri orang termasyhur di negerinya.

Gagal menjodohkan anaknya dengan putra dan putri Kerajaan Majapahit, ayah Syekh Musthofa Al-Magrobi dan ayah Siti Fatimah binti Maimun pun pulang ke negerinya. Sementara Siti Fatimah binti Maimun kembali ke Desa Leran, sedangkan Syekh Musthofa Al-Maghrobi menetap dan berdakwah di Desa Serah.

Dari cerita tersebut, beberapa warga menyimpulkan bahwa Syekh Musthofa Al-Maghrobi lah yang mengawali kehidupan dan mbabat alas di Desa Serah. Perihal kenapa dinamai Desa Serah, seorang pun tidak tahu. Justru mereka membiarkan hal tersebut menjadi sebuah misteri.

Plakat nama makam Kyai Bakal copy

Setiap tahun, kini selalu diadakan haul di makam tua tersebut dengan mengundang para ulama dan pejabat pemerintah Kabupaten Gresik. Warga Desa Serah maupun diluar Desa Serah ikut hadir meramaikan acara haul tersebut. Potensi untuk menjadikannya tujuan wisata religi sangatlah besar, mengingat cerita Kyai Lamongan di atas, Syekh Musthofa Al-Maghribi adalah ulama penyebar ajaran Islam di Desa Serah dan sekitarnya. Belum lagi, Beliau adalah keponakan Raja Baghdad dan sepupu dari Siti Fatimah binti Maimun, yang ceritanya sangat dikenal di Desa Leran.

Makam Kyai Bakal copy

Diluar cerita tentang Desa Serah yang tertutup rapat dan menjadi sebuah misteri, warga Desa Serah terkenal santun dan lembut. Tidak hanya kepada warga setempat, tetapi juga terhadap tamu atau warga pendatang.

Kehidupan bertani di Desa Serah pun cukup dikenal sampai diluar Desa Serah, dimana para petani Desa Serah terkenal dengan hasil panen lombok-nya. Bisa dibilang, Desa Serah adalah salah satu penghasil lombok terbesar di Gresik. Dalam sehari, hasil panen seluruh petani jika dikumpulkan bisa mencapai satu sampai dua truk.

Selain lombok, Desa Serah juga mampu memproduksi jagung, kacang, padi, berbagai buah-buahan dan sayuran, dan lain-lain. Namun karena hanya mengandalkan air hujan, petani hanya bisa bercocok tanam sekali dalam setahun. Ketika musim kemarau tanah sawah menjadi mengering.

Tanah di desa ini sangat subur, bisa ditanami apa saja. Namun ada sedikit keunikan terhadap tanah yang ada di Desa Serah ini. Tanah Desa Serah adalah tanah merah, namun jika digali beberapa centi meter, warna tanah selanjutnya berubah menjadi hitam. Ada yang meyakini bahwa tanah di Desa Serah dulunya adalah tempat terjadinya perang Majapahit. Tumpahan darah para prajurit yang gugur dalam medan perang itulah yang menjadikan beberapa centi meter permukaan tanah menjadi berwarna merah. Namun entahlah, kebenaran itu bisa dibuktikan atau hanya berupa mitos belaka.

Dulu, warga Desa Serah juga mempunyai kerajinan khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Kerajinan tersebut bernama sêpêt. Sêpêt adalah serat bagian luar buah kelapa yang telah dikeringkan. Sêpêt ditumbuk menjadi serat-serat halus dan dianyam menjadi bermacam-macam kerajinan. Berbagai jenis kerajinan yang dihasilkan dari sêpêt adalah sapu, tali tampar, alas, atau tempat menaruh piring, gelas dan mangkok di meja, serta keset, dan lain-lain. Kerajinan tersebut dulunya sangat dikenal masyarakat luas, namun kini menghilang dengan seiring berjalannya waktu. Tidak adanya pewaris yang menyebabkan punahnya kerajinan tersebut.

Lho, terus apa hubungannya dengan Abu Nawas dan Sultan Harun Al Rasyid? Ah sudahlah, apa sampèan tidak menyimak ceramah Pak Kyai soal asal usul makam keramat yang dinamai Mbah atau Kyai Bakal tadi? Sangkuriang