Oleh : Dicky Panca Aulia

Kedanyang itu nama salah satu desa di Kecamatan Kebomas. Dan salah satu dusun di Desa Kedanyang juga bernama Kedanyang. Nah, konon di sinilah yang dulunya merupakan markas para dêdêmit.

Sebab, dalam Bahasa Sansekerta, kata danyang itu mempunyai arti lêlêmbut atau dêdêmit. Sekarang desa itu sudah rame, berkembang menjadi tiga dusun, dimana dua dusun lainnya berupa Perumahan Perum Griya Karya Giri Asri dan Perumahan Graha Kencana. Masihkah para lêlêmbut itu tinggal di sana?

Posisi desa ini tidak jauh dari makam Sunan Giri, sekitar 2 kilometer ke arah selatan. Daerah ini dulunya sangat sepi, tapi dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, daerah ini sekarang sangat diminati masyarakat untuk dijadikan permukiman.
Sebelum bernama Kedanyang, dulunya di desa ini banyak sekali ditumbuhi pohon-pohon besar, tua, dan lebat sekali. Menurut cerita masyarakat sekitar, pohon-pohon tersebut dikenal pohon yang keramat dan dihuni para dêmit. Artinya, di desa ini dulu memang banyak dêmit atau lêlêmbut yang berkeliaran di area desa tersebut. Oleh karena itu, masyarakat yang pertama kali menghuni desa ini memberi nama Desa Kedanyang. Dari kata danyang, yang artinya lêlêmbut atau dêmit.

Menurut cerita dari salah satu warga yang telah lama menetap di desa tersebut, suatu ketika ada pengembara yang menyebarkan ajaran Agama Islam. Pengembara tersebut bernama Si Jambul, orang-orang dulu menyebutnya Mbah Jambul. Dia adalah salah satu murid dari Sunan Giri yang menyebarkan ajaran Agama Islam di Gresik. Mbah Jambul inilah yang bisa dibilang pelopor dan yang mbabat alas Desa Kedanyang. Dulu hanya beberapa keluarga saja yang bertempat di desa tersebut. Mbah Jambul itu pula yang memberi nama desa tersebut bersama masyarakat yang menetap pada saat itu.

KEDANYANG, DESA PARA DÊDÊMIT copy

Sekarang, makam Mbah Jambul terletak di bawah sebuah pohon besar, tua, dan lebat. Pohon tersebut telah dikeramatkan oleh masyarakat setempat.

Konon, dulu masyarakat setempat mempunyai suatu pantangan yang sangat dipatuhi oleh masyarakat Desa Kedanyang, yaitu dilarang memakai atau menggunakan garam. Apabila hal tersebut dilanggar, maka desa tersebut akan ditimpa bencana atau musibah. Dengan begitu, semua warga selalu membuang garam di sebuah sumur di desa tersebut.

Maka sumur yang semula berisi air tawar, lama-kelamaan air tersebut berubah menjadi asin dan itu sampai sekarang. Sumur itu kini dianggap sebagai salah satu peninggalan sejarah dari Desa Kedanyang. Jaréné arèk sak iki, isyok aé sumur iki pancèn sumbêrè banyu asin. Wis ta lah ojok mbantah dongeng, dak seru maneh ceritoné êngkok…

Dan sekarang, meski Kedanyang sudah tidak lagi menjadi rumah lêlêmbut, namun masyarakat setempat masih sering mengalami hal-hal yang bersifat ghaib atau misteri. Misalnya saja, ada yang bercerita tentang keberadaan Mbah Jambul yang menampakkan diri pada malam-malam tertentu. Dan menurut salah satu pengakuan warga desa tersebut, ia pernah menemui atau melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian tersebut.

“Pada malam hari, saya sedang santai duduk-duduk di teras rumah, lalu secara tidak sengaja, saya memandang ke atas langit sambil melamun. Betapa kagetnya ketika saya memergoki sesosok orang yang mengendarai kuda melintas dalam pandangan saya…”, tutur warga tersebut.

Usut punya usut, ternyata sosok tersebut adalah seorang Pangeran Danyang atau sering disebut Mbah Jambul. Dari cerita tersebut, Mbah Jambul dipercaya seringkali berjalan-jalan dengan kudanya di malam-malam tertentu.

Seiring bergulirnya jaman, masyarakat Desa Kedanyang mempunyai suatu kebiasaan atau bisa dibilang adat-istiadat. Masyarakat Desa Kedanyang seringkali mengadakan sêlamêtan yang biasanya disebut barikan. Acara ini dilakukan apabila masyarakat desa setempat ditimpa musibah, bencana, atau kematian berturut-turut.

Acara ini diadakan dengan tujuan meminta pertolongan kepada Allah agar bencana tidak berlarut-larut. Dalam acara barikan ini, semua masyarakat atau setiap keluarga mengambil sekepal nasi yang dibentuk kerucut kecil seperti tumpêng dan disertai telur serta beberapa lauk-pauk. Para lelaki berkumpul di perempatan jalan sambil membawa tumpêng itu. Setelah berdoa bersama-sama, lalu tumpêng tersebut ditempatkan di beberapa perempatan jalan.

Ada kebiasaan yang juga dilakukan oleh warga setempat dengan mengirim sêsajèn. Kebiasaan ini sering dilaksanakan oleh para keluarga yang dhuwé gawé atau hajatan dengan tujuan untuk menolak balak atau membuang sial. Dalam sêsajèn tersebut berisi telur, bawang merah, dan cabe. Menurut cerita turun-menurun, benda-benda tersebut dapat menghindarkan para keluarga yang punya gawé dari bencana atau lêlêmbut jahat.
Tidak hanya itu saja, adat-istiadat atau kebiasaan dari masyarakat Desa Kedanyang. Ada juga kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat desa setempat yang ramai sekali. Kalau di tempat lain disebut sedekah bumi, tapi masyarakat Desa Kedanyang lebih mengenal dengan sebutan Tegal Deso. Acara ini dilaksanakan oleh seluruh masyarakat dengan mengadakan syukuran besar-besaran.

Tiap keluarga membawa tumpêng yang besar serta makanan dan buah yang beraneka ragam. Selanjutnya, tumpêng, makanan, buah, dan yang lainnya dibawa ke masjid. Karena terlalu besar dan berat, masyarakat sering menggunakan truk sebagai alat angkutnya. Setelah acara tersebut selesai, pada malam harinya selalu digelar kesenian tradisional seperti ludruk, wayang, dan lain-lain.

Masyarakat Desa Kedanyang selalu melakukan kebiasaan atau adat-istiadat secara turun-temurun dan tidak pernah melanggarnya. Jaman yang semakin modern memberikan nuansa baru pada Desa Kedanyang tetapi tidak melunturkan adat-istiadat nenek moyang mereka.

Saat ini, Desa Kedanyang tersebut telah ramai penghuni dan pohon-pohon tersebut telah berubah menjadi deretan rumah. Desa Kedanyang sudah tidak sepi lagi dan bisa dibilang daerah modern, namun tetap tidak lepas oleh cerita dan kebiasaan yang terjadi turun-menurun.