Oleh : Nurul Fatah

Banyu nok gêntong ambuné bangêr
Ono wuwu janjangan klêbon ulêr
Dadi wong kok aneh lan kêblingêr
Krungu adzan shubuh kok malah mlungkêr

Alkisah, warga tiga kampung selalu bertengkar berebut air bersih. Karena hal itu berlangsung lama sekali dan sulit didamaikan, maka ketiga kampung itu kemudian disatukan menjadi kampung baru bernama Yosowilangun. Hal ini dilakukan oleh Bupati Gresik ke-10, yaitu Kyai Tumenggung Brotonegoro.

Sampaidengan tahun 1995, Desa Yosowilangun termasuk desa yang terisolasi. Letaknya di tengah sawah dan lading, jauh dari jalan raya. Waktu itu sekeliling Desa Yosowilangun dikelilingi tumbuhan bambu yang sangat lebat, namun yang tersisa sekarang hanya di sebelah timur desa saja. Setelah dibangunnya Gresik Kota Baru, Yosowilangun sekarang berubah menjadi kota.

Tiga kampung yang selalu gègèran itu adalah Kampung Dargo di barat, (sekarang menjadi lapangan tenis di Jl. Raya Jawa), Kampung Penjalinan di tengah (sekarang antara Jl. Jawa sampai Gang Masjid), dan Kampung Meduran di timur (Gang Masjid ke timur).

Kisah tentang desa ini bermula pada suatu masa (tahun 1780-an), datanglah seseorang yang bernama Kyai Tumenggung Brotonegoro (Kyai Ngabehi Djojobroto) dengan maksud menyebarkan Agama Islam. Kyai ini putera dari Kyai Ngabei Djoyonegoro atau Tumenggung Djimat, alias Kyai Gede Panontonsore.

Waktu itu, yang menjadi Bupati Gresik adalah Kyai Puspodiwangsa (1669-1732) dengan gelar Kyai Tumenggung Pusponegoro, yang mempunyai lima putra dari garwo padmi, yaitu Kyai Ngabehi Djojonegoro, Kyai Ngabei Puspodirdjo, Nyai Ajeng Wirodirdjo, Kyai Ngabei Mertodirdjo, dan Raden Mertodirdjo.

Sedangkan dari garwo panumping yaitu Nyai Podi, asal dari Bugis, memiliki enam putra, yakni Kyai Ngabei Puspodirono, Kyai Ngabei Pusporogo, Nyai Ajeng Sutowidjoyo, Nyai Ajeng Naladirdjo, Kyai Ngabei Puspowidjoyo, dan Kyai Ngabei Suradiprodjo.

Masih ada putra dari garwo panumping yang berasal dari Giri Gadjah, yang menurunkan Kyai Ngabei Yudonegoro, Kyai Ngabei Djoyodirdjo, dan Kyai Ngabei Brotoredja. Sedangkan darigarwo panumpingyang termuda menurunkan Kyai Ngabei Surowikromo.

Kyai Tumenggung Pusponegoro I menjadi Bupati pertama di Gresik dan dimakamkan di komplek Makam Gapuro Sukolilo. Kompleks makam ini memang untuk para leluhur, dimana di dalamnya juga terdapat makam Tumenggung Ario Negoro. Makam ini sebenarnya disebut Komplek Makam Asmarataka, tetapi sekarang lebih lazim disebut Komplek Makam Pusponegoro.

Selanjutnya, Kyai Tumenggung Pusponegoro digantikan oleh putra tertua, yaitu Kyai Ngabei Djajanegara (1732-1739) dengan gelar Kyai Tumenggung Djojonegoro. Beliau memiliki 11 putra dari pernikahan dengan Nyai Ayu Sutodrono (garwo padmi) yang menurunkan Nyai Ajeng Adiretno, Kyai Suronegoro, dan Nyai Ajeng Puspodirdjo. Sedangkan dari garwo panumping, Mbok Ayu Tjempo asal Giri, menurunkan Nyai Ajeng Mertodirono, Kyai Ngabei Astrodirdjo, Nyai Ajeng Windunegoro, dan Nyai Ajeng Ma_dunten.

Lantas, dari garwo panumping yang lain, menurunkan putra Kyai Ngabei Djojodirona, Nyai Ajeng Sutanegoro, Kyai Ngabehi Djojobroto atau Kyai Tumenggung Brotonegoro, dan Kyai Ngabei Djojoredjo.

Menurut silsilah di atas, Kyai Tumenggung Brotonegoro adalah putra ke-10 dari Kyai Tumenggung Djayoyonegoro (Bupati Gresik ke-2), atau cucu dari Kyai Tumenggung Poesponegoro (Bupati pertama).

Karena kearifan dan kesabarannya dalam berdakwah, Kyai Tumenggung Brotonegoro dalam waktu singkat banyak mendapat simpati dari penduduk setempat. Banyak orang kemudian memeluk Agama Islam atau meluruskan kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya bagi orang yang sudah Islam tetapi masih terpengaruh kebiasaan nenek-moyang, yaitu animism-dinamisme dan pengaruh Hindu-Budha.

Selain itu, masyarakat begitu mencintainya, bahkan berharap banyak untuk kebaikan dan kerukunan bagi penduduk, maka masyarakat sepakat mengangkat Kyai Tumenggung Brotonegoro menjadi Kepala Desa.

Demi kemaslahatan bersama, akhirnya Kyai Tumenggung Brotonegoro berinisiatif membuat tiga telaga di masing-masing wilayah , dengan cara menancapkan tongkat ke dalam tanah. Dengan ridho Allah SWT, maka keluarlah air yang sangat jernih dan melimpah.

Setelah jadi, kemudian telaga-telaga itu diberi têtêngêr dengan nama sebagai berikut : Telaga Kulon (Barat), Telaga Tengah, dan Telaga Wètan (Timur). Karena sudah terbiasa sejak lama tawuran, walaupun sudah dibuatkan telaga pada masing-masing wilayah supaya tidak berebut air, masih saja masyarakat suka bertengkar.

Karena Berebut Air Bersih, Lahirlah Desa Yosowilangun copy

Kyai Tumenggung Brotonegoro mendapati kenyataan bahwa masyarakat yang dipimpinnya adalah berkarakter sulit diatur. Maka Beliau berpikir keras sampèk mumêt bagaimana caranya supaya tiga kelompok ini menjadi rukun. Akhirnya Kyai Tumenggung Brotonegoro menemukan solusi yang dianggap tepat, yaitu dengan cara mempersatukan tiga kampung itu menjadi satu desa yang kemudian diberi nama Desa Yosowilangun.

Kyai Tumenggung Brotonegoro adalah seorang pejuang anti penjajahan Belanda, seperti ayahnya. Beliau sangat melindungi rakyatnya. Ketika Belanda melakukan program kerja paksa, Beliau tidak mau mengirim penduduk Yosowilangun. Dak gêlêm nèk rakyaté didadèkno jongosé Londo.

Setelah cukup lama memimpin Desa Yosowilangun, karena begitu sangat dicintai dan dipercaya tidak seorang pun yang berniat menggantikannya, Kyai Tumenggung Brotonegoro diangkat menjadi Bupati Gresik yang ke-10, bergelar Adipati Brotonegoro (1788-1808) menggantikan pamannya, yaitu Tumenggung Joyodirejo (1778-1788). Data ini didapat dari Kajian Sejarah Silsilah Kerajaan Giri Kedaton.

Mengingat jasa Beliau yang sangat istimewa, mulai dari penyebaran Agama Islam, membuat sumber mata air, sebagai ulama dan Kepala Desa yang bijaksana, maka setiap tahun penduduk Yosowilangun mengadakan khaul setiap tanggal 24 November. Disamping itu, namanya juga diabadikan sebagai nama jalan raya desa, yaitu Jl. Brotonegoro Timur dan Jl. Brotonegoro Barat.

Joko Untung
Selain Kyai Tumenggung Brotonegoro, ada lagi orang yang sangat berjasa di Desa Yosowilangun, yaitu Joko Untung. Konon, dia berasal dari Kediri, mengembara untuk menyebarkan Agama Islam. Sesampainya di Desa Yosowilangun, menetap sampai wafat.
Joko Untung mempunyai pengikut yang banyak. Diantara santrinya, ada yang berbakat menjadi ulama dan pemimpin yang bernama Abdul Rochim dan Cholil. Beliau juga seorang pejuang yang hebat melawan Belanda. Sayangnya, Joko Untung gugur dalam peperangan demi membela Negara Indonesia.

Makam Joko Untung berada di atas bukit yang sudah rata dengan tanah karena dijadikan perumahan Gresik Kota Baru (GKB) dan Graha Kembangan Asri (GKA). Untungnya, sesuai namanya, masih ada sedikit area tersisa, ya makam Joko Untung itu, yang letaknya menjadi berada di tengah perumahan GKA.

Makam Joko Untung Diatas Bukit yang bersebelahan dengan Pemakaman Umum warga GKB copy

Setelah Joko Untung wafat, perjuangannya diteruskan oleh kedua santrinya, yaitu Abdul Rochim yang mengajar mengaji di wilayah timur Desa Yosowilangun dan Cholil yang mengajar di wilayah barat Desa Yosowilangun.