Oleh : Yusuf Candrarimeki Sundiartiko

Dari namanya rodok aneh, Mbah Buyut Kapten Selong. Makamnya di kampung Tjeploan (Ceploan) di Kelurahan Trate, Kecamatan Gresik, yang sering dikunjungi masyarakat. Bahkan anak-anak sekolah juga menjadikannya sebagai salah satu objek sejarah. Makamnya juga dekat dengan makam pejuang Gresik lainnya, yakni Usman Sadar.

Tapi, siapa sebenarnya Kapten Selong ini? Mbah Buyut Kapten Selong memiliki nama asli Mas Bay Sumodikdo. Konon dia bukan orang asli Gresik, namun dari Banyuwangi. Lantas bagaimana bisa orang Banyuwangi datang berjuang melawan Belanda di Gresik? Menurut Pak Ramli, seseorang yang merawat makam Buyut Selong, Mas Bay Sumodikdo adalah salah satu keturunan dari Kraton Banyuwangi.

Pak Ramli mengatakan demikian karena dulu pernah ada seseorang yang sudah sêpuh dan bungkuk (dikarenakan sudah tua) selalu datang dengan pakaian ala kraton dan dipanggul dari gang Kampung Ceploan hingga makam setiap kali dia datang nyêkar di makam Mas Bay Sumodikdo.

Orang ini mengatakan bahwa usianya sudah 100 tahun lebih dan datang dari Banyuwangi. Orang tersebut mengaku masih punya hubungan saudara dengan Mas Bay Sumodikdo.
“Namun sekarang, dia sudah tidak pernah lagi datang untuk nyêkar atau mengunjungi makam ini. Mungkin sudah meninggal…”, duga Pak Ramli.

Dikisahkan oleh Pak Ramli, ketika Mas Bay Sumodikdo dulu datang ke Gresik mengenakan pakaian seperti Belanda. Hal ini karena sebelumnya dia memenangkan perang melawan Belanda dan kemudian mengenakan pakaiannya. Tapi hal ini justru menimbulkan kesalahpahaman. Lantas beliau akhirnya ditangkap oleh pejuang Gresik waktu itu karena dianggap sebagai orang yang memihak terhadap Belanda. Maka Mas Bay langsung dijebloskan ke dalam sel.

Sewaktu diinterogasi, Mas Bay berusaha meyakinkan bahwa dirinya adalah orang yang berpihak pada Indonesia, bukan orang yang berpihak terhadap Belanda. Setelah itu dia dibebaskan dan diberi tugas oleh panglima perang Gresik, untuk berperang melawan Belanda. Beliau pun menyanggupinya.

Pada akhirnya, Mas Bay Sumodikdo berperang melawan Belanda dengan gigih tanpa takut hingga berhasil mengalahkan Belanda. Atas kemenangannya itu, dia diberi hadiah oleh pemerintah Gresik saat itu, 2yakni seorang istri dan mendapat pangkat Kapten. Sejak saat itu, dia mendapat sebutan Kapten Selong. Arti kata Kapten Selong sendiri adalah Kapten yang pernah dimasukkan ke dalam sel penjara.

Menurut Pak Ramli, Kapten Selong memiliki dua orang istri dan 3 orang anak. Satu istri yang ia nikahi sendiri dan satunya lagi adalah istri pemberian dari pemerintah Gresik atas kemenangannya melawan Belanda.

Namun menurut sejarah, ada kejanggalan dalam kisah yang diutarakan oleh Pak Ramli. Sebelumnya, dapat diperkirakan bahwa Mas Bay Sumodikdo ini hidup pada tahun 1800-an. Tapi pada waktu itu di Gresik belum ada perlawanan yang menentang kependudukan Belanda.

Kemungkinan Mas Bay Sumodikdo ini berperang membantu Belanda untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan atau wilayah-wilayah lain, kemudian menang dan diberi hadiah istri. Muncul dugaan demikian karena ada surat lusuh tempo dulu yang ditulis oleh Achmat Pringgo.

Dalam surat itu disebutkan bahwa anak dari Mas Bay Sumodikdo ini membantu Belanda menyerbu Bali, mengalahkan Raja Bone, dan juga dikirim untuk berperang di Aceh. Hingga pada akhirnya, anak Mas Bay Sumodikdo I yang bernama Mas Bay Sumodikdo II ini terbunuh oleh orang Aceh. Diduga, Mas Bay Sumodikdo II ini meneruskan pekerjaan ayahnya membantu Belanda saat itu untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan dan wilayah-wilayah lain.

Berikut adalah isi surat yang dituliskan oleh Achmad Pringgo yang kemudian diserahkan Achmad Pringgo kepada Amir. Tapi tak lama kemudian, Amir meninggal dunia dan kemudian surat ini diberikan ke Marjalan. Marjalan iki buyuté bojoné Pak Ramli…

mbah-buyut-selong-manuscriptbw-copy
Manuskrip mbah Buyut Selong
untitled-1-copy
Terjemahan Manuskrip Mbah Buyut Selong

Menyerbu Keradjaan Bali
Pada waktu General Van Smiten, Mas Bei Sumodikdo II turut membantu perang sehingga bisa merobohkan Keradjaan Bali dan Djembrana. Pada lain taun waktu, Governemen menyerbu ka Boni, djuga M. Bei Sumodikdo turut membantu perang maka bisa mengalahkan Radja Boni.

Maka, MB. Sumodikdo datengnja di Gresik diangkat djadi Wedono Bungah dibelakang dibantukan perang di Atjeh, maka sudah takdir Tuhan M.B. Sumodikdo telah terbunuh oleh orang Atjeh

Maka putranya M.B Sumodikdo mempunyai dua anak, 1 nama Raden Kusno Semodiardjo, pada masa itu masih djadi Djoeroe tulis di kantor Gresik. Maka Assistent Residen bernama Tuan Van dePol ija diangkat djadi Residen Kediri R. Sumodiardjo di baratnja ka Kediri. Ada di Kediri dengan diangkatnya djadi Djaksa terus-menerus sehingga bisa djadi Patih Blitar. Lalu diambil mantu pada Bupati Tulungagung. Sapeningggal mertuannja, ija di angkat mengganti djadi Bupati. Akan tetapi pada tahun 1881, dipindah ka Sidoarjo. Tiada sampai 1 taun, ija meninggal dunia di situ.

Memang tidak ada keterangan yang jelas siapa General Van Smitten, apa dia orang Belanda yang memihak Belanda atau orang Belanda yang membela Gresik. Namun diduga, Van Smitten ini adalah orang Belanda yang ditugaskan untuk mengatur pemerintahan di Gresik dulu.

Lantas bagaimana dengan Mas Bay Sumodikdo, apa dia orang yang membela Gresik atau membela Belanda? Simpulno dhéwé Rèk… Dari cerita tutur Pak Ramli dan tulisan Surat Achmad Pringgo, yang pasti keluarga dari Kyai Selong ini adalah keluarga yang berpengaruh, khususnya di struktur pemerintahan. Bukan hanya di Kota Gresik, namun di kota lainnya juga. Hal ini tersirat dari Surat Achmat Pringgo di atas yang mengatakan bahwa turunan dari Mas Bay Sumodikdo menjadi orang dalam pemerintahan di berbagai kota seperti Gresik, Kediri, Tulungagung, dan Sidoarjo.

Keris dan Batu Akik
Menurut Pak Ramli, ada peninggalan Kapten Selong namun sekarang sudah tidak lagi ada atau tidak kasat mata. Peninggalan itu adalah sebuah keris dan batu akik berwarna merah delima. Diperkirakan, peninggalan tersebut masih di sekitar makam, namun tidak ada yang tahu dimana letaknya. Sempat dulu diperebutkan oleh masyarakat sekitar sana namun tidak juga ditemukan.

Khaul Buyut Selong sendiri pada hari ke-7 setelah Hari Raya Idhul Adha. Dan seperti khaul pada umumnya, dilaksanakan setelah shubuh hingga larut malam. Saat khaul, dilakukan khataman, pembacaan Surat Yasin, shalawat, hingga ceramah agama. Apabila terjadi keterlambatan pelaksanaan khaul, masyarakat sekitar pernah mengaku melihat ular di sekitar makam.

ilustrasi-buyut-selong

Peninggalan lainnya yakni akik merah delima. Akik merah delima kini juga sudah tidak lagi diketahui keberadaannya, meskipun dulu sempat ada yang menyimpannya. Namun tidak lama kemudian, akik tersebut tidak lagi diketahui keberadaannya.
“Sebab ada keanehan yang ditimbulkan akik merah delima itu. Saat akik itu dipegang, pandangan semua menjadi merah dan raga orang yang memegangnya tidak lagi terlihat”, ujar Pak Ramli.

Ada juga peninggalan yang berupa dua surat, yang satu menggunakan Aksara Jawa dan satunya menggunakan Bahasa Indonesia yang belum disempurnakan (Surat yang ditulis oleh Achmad Pringgo). Hanya saja surat yang bertuliskan Aksara Jawa ini sudah tidak ada lagi wujudnya. Entah berada di mana…

Adapun silsilah keluarga Buyut Selong dan surat dari Achmad Pringgo sampai sekarang masih disimpan oleh Pak Ramli. Namun kondisinya sudah tidak lagi dalam kondisi bagus. Tintanya sudah tidak terlalu jelas sehingga kesulitan untuk membaca isi surat tersebut. Surat tersebut didapatkannya dari orang tua istri Pak Ramli yang bernama Marjalan, yang dulu merawat makam tersebut, saat masih berupa alas dan belum ada rumah-rumah yang berdiri di atas tanah sekitar makam. Berbeda dengan sekarang, dimana rumah-rumah sudah banyak didirikan.

Itulah seberkas kisah tentang Mas Bay Sumodikdo yang dikenal sebagai Mbah Buyut Kapten Selong…

Angka Halaman 15

Pergi ke halaman

Angka Halaman sebelumnyaAngka Halaman 11Angka Halaman 12Angka Halaman 13Angka Halaman 14Angka Halaman 15Angka Halaman 16Angka Halaman 17Angka Halaman 18Angka Halaman 19Angka Halaman 20Angka Halaman berikutnya