Arek Gresik dan Mat Kodak Gresik merupakan komunitas yang berbasis di Gresik dan kebanyakan anggotanya adalah arek asli Gresik dan pendatang yang sekarang tinggal di Gresik. Kota Gresik sudah berdiri lama sekali bahkan sewaktu penjajahan Belanda di Indonesia, Gresik sudah ada. Terbukti dengan ditemukannya beberapa peninggalan kolonial baik yang berbentuk bangunan maupun tata kotanya.

Cerita-cerita jaman dulu dan bukti peninggalannya yang seharusnya menjadi Heritage kota Gresik sekarang ini sudah banyak yang terlupakan, yang paling dikenal mungkin bangunan-bangunan kuno yang ada di sekitar kota Gresik (kemasan dan sekitarnya). Baru-baru ini Benteng Fort Lodewijk telah diangkat kembali ceritanya ke permukaan oleh para pecinta budaya di Gresik. Namun karena kurangnya data pendukung dan pelaku sejarah yang mengerti tentang benteng itu, maka cerita pun terhenti dan belum ada tindak lanjut. Langkah kongkrit dari pemerintah kota pun belum terlalu kelihatan berarti disini, untuk melestarikan maupun menjadikannya sumber penghasilan daerah dari pariwisata.

Ada seorang kawan arek gresik yang bernama Hermanto yang tinggal di Desa Betoyoguci memberikan informasi mengenai adanya bangunan jembatan kuno peninggalan belanda di daerah sekitar Desa Karangrejo, tepatnya di desa Lak Kalimireng. Ternyata desa ini dinamakan mengikuti nama jembatan peninggalan penjajah Belanda tersebut.

Menindak lanjuti informasi tersebut ArekGresik.Net beserta MatKodak Gresik rencananya akan mengadakan hunting bareng di lokasi Jembatan Rolak Kalimireng untuk lebih mengenalkan kembali jembatan yang seharusnya menjadi Heritage kabupaten Gresik ini kepada publik, terutama anak-anak muda Gresik yang kehilangan rantai informasi tentang jembatan ini. Tidak bisa disalahkan juga, karena kebiasaan peninggalan di Gresik maupun di Indonesia yang jarang ada prasastinya dan dokumentasi yang lengkap, Indonesia lebih suka menceritakannya dari mulut ke mulut yang akhirnya orang yang mengerti cerita ini meninggal karena usia, parahnya jarang anak muda yang mendapatkan sejarahnya secara lengkap.

IMG_8883

Sebelum mengadakan acara, tim melakukan survey ke lokasi jembatan Rolak Kalimireng terlebih dahulu untuk memastikan lokasi aman dan bisa digunakan untuk agenda hunting fotografi. Siang, sekitar pukul 9.00, tim berangkat dari kota Gresik dengan menggunakan kendaraan roda empat. Kira-kira sekitar +- 20 km perjalanan yang ditempuh kurang lebih satu jam perjalanan (kondisi jalanan padat). Sebelum sampai di Sembayat, ada gang masuk dengan gapura bertuliskan Desa Karangrejo. Kurang lebih 2km dari jalan raya, sampailah di Desa Lak Kalimireng. Disitu ada jalan tanjakan kecil menuju desa dan jembatan peninggalan belanda, Rolak Kalimireng. Ketika memasuki pemukiman warga desa Lak Kalimireng, ada portal desa yang harus dilalui yang bertulisan “Mobil Rp. 5000 untuk kas desa”.

Karena memasuki desa yang belum dikenal sebelumnya, kami meminta ijin alias kulo nuwun kependuduk setempat sambil menanyakan apakah ada yang mengerti tentang sejarah jembatan peninggalan belanda Rolak Kalimireng yang ada di desa ini. Dan seorang penduduk menunjuk nama dan rumah tinggal Pak Mahfud sebagai orang yang mengerti tentang sejarah jembatan peninggalan belanda tersebut. Setelah berbincang dengan Pak Mahfud, kami diperkenalkan kepada Ayah dari Pak Mahmud, yaitu Pak Slamet (75th) yang lebih mengetahui sejarah Rolak Kalimireng dan menjadi satu-satu nya tetuah desa yang masih hidup.

Pak Slamet menuturkan bahwa pada tahun -/+1888 telah dibangun Rolak Kalimireng sebagai pengatur debit air yang ada di Rolak. Meski penglihatan beliau sudah menurun, tetapi ingatan beliau masih tajam.

Dari penuturannya beliau menceritakan bahwa jembatan dan Rolak tersebut pada usia beliau masih kecil masih aktif hingga tahun -/+ 1967. Selain digunakan sebagai Rolak aliran sungai tersebut juga dijadikan Media Transportasi untuk masyarakat sekitar yang akan ke Surabaya atau Gresik. Letak Rolak sendiri berada di Desa Karang Rejo – Sembayat – Gresik. Yang menarik jembatan tersebut bisa membuka dengan diatur tuas yang terdapat pada roda2 gigi penggeraknya jika ada perahu besar yg akan melintas, dan sampai sekarang masih berfungsi dengan baik meski aliran sungai sudah tidak ada. Lokasi sekitar dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk budi daya Bandeng.

Jembatan tersebut pernah direnovasi kayu2nya yang sudah lapuk pada tahun 1968, tapi sekarang kayu2 tersebut sudah mulai lapuk dimakan usia. Selain bersejarah lokasi tersebut bagus juga untuk hunting foto dengan view yang unik.

Sayang sekali jika peninggalan2 bersejarah ini dibiarkan rusak termakan usia, mudah2an saja pihak dinas2 terkait tergerak untuk merawatnya meski fungsinya sekarang sudah lain.

Selanjutnya, MatKodak Gresik dan ArekGresik.net akan mengadakan hunting bareng fotografi didaerah ini. Tunggu tanggal mainnya di www.arekgresik.net.

 

[ready_google_map id=’6′]