Oleh : Nurul Fatah

Ono rondo mangan nogosari
Ono dudo klêlêkên êri
Ayo konco nang Gosari
Nok kono ono Butulan Prasasti

Ada sebuah Prasasti Butulan yang terdapat pada Goa Butulan, yaitu salah satu goa alam yang indah di Gunung Kapuk (Sekapuk). Goa ini masuk wilayah Desa Gosari, Kecamatan Ujung Pangkah. Hal ini sesuai dengan kebiasaan orang Indonesia untuk menamai bangunan candi, stupa, atau prasasti disamakan dengan nama lokasi ditemukannya benda yang dimaksud.

Lha kalok misalnya prasasti ini ditemukan di pangkalan ojek, yoo karuan waé dijênêngi Prasasti Omprèngan.

Prasasti ini dipahat di permukaan dinding pintu goa sebelah kanan, berbeda dengan prasastiprasasti pada umumnya yang biasanya ditulis atau dipahat pada segumpal batu. Prasasti itu sebenarnya sudah lama diketahui warga sekitar, tapi dak ngrèkên, mêrgo dak mudhêng.

Pada tahun 1960-1970an, ono Londo, mbuh wong iku mau têko Inggris, Perancis, opo têko êndi, pokoké nék bulé yooo dianggêp Londo. Meraka mendatangi Goa Butulan dan berusaha untuk mengungkap misteri makna batu bertulis tersebut.

Orang bulé tersebut bilang : “Huruf yang dipakai menulis prasasti ini adalah huruf yang tidak dikenal, seperti huruf Jawa tapi bukan huruf Jawa, seperti huruf India tapi bukan huruf India.“ Kemudian dia memperkirakan arti yang tertulis pada dinding goa itu dengan berkata : “Mungkin dalam goa ini ada sawèr (ular) besar“. Sejak itulah penduduk tidak berani masuk ke Goa Butulan mêrgo dèwèké lan wêdusé wêdhi diêlhêg ulo nogo.

Disebut Goa Butulan karena goa ini pintu depannya tembus (butul) dengan pintu belakang. Kalau misalnya goa tadi buntu, yo sepakat diarani Guo Cunthêl. Udaranya sejuk, sunyi, dan jauh dari kebisingan. Cocok untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan sekitar dan bertafakur.

Dahulu, sempat ada kekhawatiran goa beserta prasastinya hancur sebelum diketahui oleh pihak berwenang. Siapa tahu goa itu runtuh. Hal ini karena banyak penggali tambang di daerah Gunung Sekapuk. Mata pencaharian penduduk Desa Sekapuk dan Gosari selain bertani juga berprofesi sebagai penggali batu kapur untuk dijadikan jiring (ris = semacam batu bata putih yang terbuat dari batu kapur). Kalau tidak diderai (diberi pengarahan dan pengertian) bisa jadi goa ini digali dan dijadikan jiring, akhiré ambrêg

Penambang Batu disekitar Prasasti copy

Pada tahun 1989, hal tersebut pernah dilaporkan ke Departemen Pendidikan Kebudayaan pada bagian Kesenian dan Kebudayaan (waktu itu selain membidangi Kesenian dan Kebudayaan, juga mengurusi Situs Sejarah dan Kepurbakalaan). Kêmbang kecipir kêcêmplung dêdhêg Onok Londo kêlilipên koro Ojo kuatir Guo Butulan ambrêg Mêrgo sak iki kabèh wong podo ngrêkso Sakjané tulisan nok watu iki wis tahu dilaporno nang ndoro sing ngurusi barang kuno, tapi gak dirèkên (sebenarnya prasasti ini sudah pernah dilaporkan kepada pihak yang berwenang tetapi
tidak ditanggapi dengan serius).

Untitled-1 copy

Alhamdulillah, pada akhirnya kekhawatiran itu sirna. Ilang blas. Karena pada tahun 2005, Prasasti Butulan telah berhasil dibaca dan diterjemahkan oleh seorang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta bernama Luthfi yang bekerjasama dengan Tim Arkeologi Deputi Bidang Sejarah Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Tim ini setelah bekerja keras untuk mengungkap misteri Prasasti Butulan, kemudian berhasil menyimpulkan bahwa Prasasti Butulan memuat empat pokok informasi, antara lain:

Diwasani ngambal 1298.
Duk winahon denira san(g) rama samadya.
Makadi siri buyutarjah tali kur si.
Raka durahana.

Prasasti Butulan copy

Prasasti Butulan berangka tahun 1298 Caka atau 1376 M.
Prasasti itu berbunyi :

“Di Wasani Ngambal 1298 Duk Winahon Denira San Rama Samadya Makadi Siri Buyutajrah Tali Kursi Raka Durahana”.

Terjemahannya : Pada tahun 1298 Caka atau sekitar 1376 Masehi, di Ambal waktu itu didiami San Rama Samadya, Buyut Ajarh Talikur yang tersingkirkan.

Prasasti ini bercerita tentang riwayat seorang ksatria bernama San Rama Samadya yang diasingkan kemudian menghuni goa ini. Diperkirakan tokoh San Rama Samadya adalah seorang ksatria atau pejabat penting dan berpengaruh di Istana Majapahit, akibat kalah pengaruh dalam politik istana akhirnya tersingkirkan. Ia diasingkan (atau mengasingkan diri) di Goa Butulan dan melakukan sêmêdi atau meditasi mungkin didasari alasan spiritual atau olah kanuragan dan untuk mencapai kesaktian.

Sejak dulu, sekarang mungkin masa depan, kalau urusannya dengan politik ya seperti itu. Singkir-menyingkir, saling sikut-menyikut, bahkan untuk memudahkan balas dendam kepada lawan politiknya, dibuatlah catatan yang disebut buku inting-inting. Diperkirakan, San Rama Samadya bertapa di Goa Butulan di Gunung Sekapuk pada masa Majapahit berpatih Gadjah Angon (pengganti Gadjah Mada).

Ada pendapat lain mengatakan, bahwa San Rama Samadya hanyalah pejabat setingkat Lurah atau Wak Inggih (petinggi). Selain itu, ia dipercaya mempunyai keahlian membuat gerabah (perabot rumah tangga yang terbuat dari tanah liat yang dibakar).

Hal ini diperkuat dengan ditemukannya tiga tungku pembuatan tembikar di Tugaran, sekitar 1,5 kilometer dari Prasasti Butulan. Desa Gosari, yang saat itu disebut Ambal, menjadi pusat pembuatan gerabah sejak zaman Singasari sampai Majapahit.

Pada abad ke-12 sampai abad ke-14, gerabah buatan Ambal terjual luas sampai Brang Wetan Majapahit.

Ada pendapat yang beda lagi, nama ambal bukan sebutan untuk Desa Gosari jaman dulu, melainkan istilah untuk menamai kebiasaan atau pekerjaan manusia penghuni goa-goa di Gunung Sekapuk. Karena arti ambal adalah menimbun tanah atau menimbun padi. Hal ini berkaitan dengan mata pencaharian penduduk gunung selain bertani juga pembuat gerabah.

Jadi maksudnya, wong gunung kapuk numpuk (menimbun) benda perabot rumah tangga (gerabah) yang belum jadi di atas tungku lalu di atasnya diurug damèn (ditimbuni jerami – pohon padi), kemudian dibakar, maka jadilah gerabah sudah siap pakai.

Prasasti ini diyakini terkait dengan Kerajaan Majapahit berdasarkan angka tahunnya 1376 M karena masanya bersamaan dengan kejayaan Majapahit ketika dipimpin Raja Hayam Wuruk atau Sri Radjasanagara dengan Mahapatih Gadjah Mada berlangsung pada 1272 Caka (1359 M) sampai 1311 Caka (1389 M). Gadjah Mada meninggal pada tahun 1290 saka (1368 M) – iki sik diributno, mêrgo ono sing nganggêp Gadjah Mada dak mati waktu iku, tapi mlêbu Islam (mualaf), terus demi keselamatan jiwanya kemudian berganti nama dan menjadi rakyat biasa.

Sebelum San Rama Samadya bertempat-tinggal di Goa Butulan sebenarnya diyakini bahwa goa-goa yang ada di Gunung Sekapuk telah lama dijadikan tempat tinggal manusia. Dibuktèkno nok guo-guo mau akèh kêrèwèngé (pecahan gerabah) lan kulit kerang. Goa-goa di Gunung Sekapuk yang terkenal antara lain, Dinoyo (Ginoyo), Ombo, Gombangan, Butulan, Kuwungan, Sepasar, Sejalak, Telanse, Segatak, Klanceng, dan masih banyak lagi.

Lokasi perkampungan goa yang ada di timur lereng Gunung Sekapuk dilengkapi dengan dua telaga yang bersumber alam. Letaknya agak jauh ke bawah dari Goa Butulan arah timur, dekat Desa Gosari. Ada dua tempat pemandian berbentuk sêndang dan pancuran yang airnya tidak pernah berhenti mengalir. Dua sêndang itu bernama Karung Lanang dan Karung Wèdhok. Karung Lanang untuk mandi kaum pria dan Karung Wèdhok untuk mandi perempuan. Jarak kedua sêndang ini sekitar 100 meter. Karung Lanang di selatan dan Karung Wèdhok sebelah barat lautnya.

Sebenarnya masih ada satu lagi sêndang yang disebut Karung Padusan Sapi, tempat para petani memandikan sapinya supaya kelihatan ganteng-ganteng dan cantik-cantik.
Sampai dengan tahun 1970-an, di sêndang-sêndang ini terdapat banyak sekali ikan lele, ada yang hitam dan ada pula yang bulé, dan bisa bertahan lama karena wong tuwo-tuwo mbiyèn ngandani anak lan putuné, kalau ada orang yang berani mengambil salah satu ikan lele tersebut akan mati dan sampai di rumah, ikan lele itu akan tinggal durinya saja. Tetapi dengan terus berjalannya waktu, masyarakat sudah tidak lagi percaya dengan hal-hal seperti itu. Jumlah ikan lele menurun sangat drastis bahkan hampir punah.

Bagi penghuni goa di sebelah selatan lereng Gunung Sekapuk, untuk keperluan air dibuat dua lagi telaga yang besar bernama Terang Gede dan yang kecil bernama Terang Kathok. Terang Gede biasa dipakai untuk memandikan sapi, sedangkan Terang Kathok untuk mandi manusia.

Selain goa dan sêndang di utara-selatan Goa Butulan juga ada bebatuan seperti monumen yang bentuknya luar biasa indah, antara lain Batu Merakan, Sepece, Dubang, dan masih banyak lagi.

Batu Sepece adalah salah satu wujud batu alam yang terdapat di lereng sebelah timur Gunung Sekapuk. Bentuknya menyeramkan, menyerupai wajah manusia yang cacat salah satu matanya (orang Sekapuk menyebut dengan istilah pécé) yang sedang sedih dan menangis.

Mêrês santên, duduh kelopo
Cêkap sêmantên atur kawulo