IMG_9493 copy

Baju pengantin putih memang menampilkan kesan kesucian dan keanggunan seorang perempuan saat berucap janji saling setia. Namun, baju pengantin berwarna merah pun mampu menonjolan kecantikan tersendiri.

Menurut desainer asal Surabaya Willy Tanaka, warna merah pada baju pengantin melambangkan makna pengharapan akan kebahagiaan bagi kedua mempelai. Warna merah ini menjadi busana pengantin para mempelai pada masyarakat Tiongkok zaman kekaisaran.

“Warnna merah pun menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Cocok sebagai pakaian pengantin sekaligus doa bagi kedua mempelai,” kata Willy saat memperkenalkan koleksi terbarunya, The Graceful Brides In Red, pada Trend Wedding 2015 di Garden Palace Hotel (GPH) Surabaya, Senin (26/1/2015).

Selain warna merah, Willy pun memanfaatkan momen Imlek sebagai inspirasi koleksinya. Cutting kerah model cheong sam dengan tambahan ekor panjang khas baju pengantin Eropa dipadukan menjadi satu ball gown yang indah.

Willy memang sengaja mengambil gaya cheong sam untuk mengangkat kesan tradisi Tiongkok pada gaun rancangannya. Penambahan ekor berbahan tulle sepanjang 3 meter ini untuk memberikan kesan glamor sekaligus agar gaunnya tidak terlihat kaku konservatif.

Perpaduan Timur dan Barat seolah menegaskan hal tradisi tak selamanya kaku, melainkan bisa berpadu dengan konsep Barat yang elegan. Simbolisasi makna filosofi menyatu dengan modernitas.

“Menambahkan ekor tulle karena aplikasi ini bisa dipadukan dengan segala jenis model pakaian pengantin. Dalam baju pengantin, ekor merupakan tambahan yang tak akan pernah mati, sekaligus menguatkan kesan glamor,” urainya.

Motif bunga dan ukiran kaligrafi khas Negeri Tirai Bambu menjadi aksen penguat pakaian agar tidak polos dan monoton. Unsur Baratnya, Willy menggunakan renda Prancis semitransparan yang diplikasikan di bagian dada dan punggung.

“Untuk kesempurnaan pakaian, veil dan gloves akan semakin cantik. Warnanya pun juga sama, merah menyala,” ujarnya.

Selain memamerkan koleksi pakaian mempelai pengantin, Willy juga menampilkan busana untuk pengiring pengantin. Warnanya juga sengaja dipilih merah agar senada dengan kedua mempelai.

Untuk baju pengiring, Willy mengkreasikan bahan organza dengan cutting menyerupai lampion Tiongkok.

Nuansa lampion tersebut terlihat dari potonganya yang tampak ramai pada bagian pinggang, yakni permaian kain organza yang dibentuk seperti bunga dan menggunakan teknik full ballen.

“Serba merah ini agar doa dan pengharapan kedua mempelai dalam menjalani biduk rumah tangga dapat terwujud dari makna filosofi merah budaya China (Tiongkok),” jelasnya.

 

Klik disini untuk melihat foto lainnya

Sumber http://surabaya.tribunnews.com/2015/01/26/willy-tanaka-tampilkan-baju-pengantin-zaman-kekaisaran-tiongkok