Oleh: Ainul Hidayat

Minggu yang ceria, saya berjalan-jalan bersama keluarga di pelabuhan atau brog kata Wong Gresik. Sesaat, saya teringat masa kecil saya dulu. Hampir setiap hari Minggu, pasti mengunjungi pelabuhan, meskipun hanya sekadar melihat matahari terbit. Pemandangan yang jauh berbeda dengan keadaan sekarang ini, yang kelihatan kumuh, rungsép, dan tidak nyaman.

Tidak berlangsung lama saat kami keluar dari brog, tiba-tiba di pintu keluar, saya bertemu dengan seorang sahabat lama saya yang bernama Agus Menyok.

“Nyok, kabaré ya opo?”, kata éson menyapa
Agus Menyok. “Alhamdulillah… Apik seru Cak Cemot. Muduno dhisik po’o, ayo nggolèk kopi dhisik, wis suwé dak ngètok…”, ujarnya.

Akhirnya kita memutuskan ngopi di sebuah warung yang berada di sebelah utara brog, yang melewati empat bok (tanda jembatan) berupa bangunan persegi panjang, yang tingginya kurang lebih 1 meter dengan panjang 2 meteran, yang berada di kanan-kiri jalan sebagai tanda kalo dibawah ada aliran sungai yang menghubung ke laut.

Tentu saja, sebelum saya memutuskan ngopi dulu dengan Agus Menyok, saya minta ijin terlebih dahulu kepada istri dan anak saya. Mereka pun memutuskan untuk menunggu di dalam mobil.

Tiba di sebuah warung kecil, saya memesan dua cangkir kopi dan rokok, dengan mencari tempat duduk yang nyaman untuk nyangkruk. Ketika baru duduk, tampak sorotan mata Agus Menyok menuju sebuah gang di depan yang dulu terlihat angker dan menyeramkan, juga terkenal baunya yang sangat tidak sedap, tapi sangat dibutuhkan keberadaannya oleh warga sekitar karena satu-satunya jalan tembus menuju Aloon-Aloon Gresik.

“Cak Cem, sik iling ta gang ngarêp iku???”, kata Menyok memulai percakapan dengan bahasa
khas Gresikannya.
“Iyo Cak, sik iling éson. Gang Taek iku mbiyèn jênêngé…”, ucap éson datar.

gang-taek-dibenci-dan-diminati-copy

Hahahaha… Kètoané akèh kenangané ta, kok sampèk gak lali”, kata Menyok sembari ngêling kopi di lèpèk.

“Kênangané yo mlayu iku Cak, sabên lewat gang iku sampèk tau nyosop éson…”. Rasanya saya tidak bisa berhenti tertawa kalau teringat masa lalu dengan gang tersebut.

“Ya opo Cak, sampèan wêro ta ceritané mbiyèn iku kok sebutané Gang Taek… Koyok dak onok jênêng liyané aé…”, éson lanjut bertanya kepada Menyok, sambil membayangkan masa lalu.

Maka berceritalah kawan saya bernama Agus Menyok itu soal asal-usul nama Gang Taek tersebut. Cerita itu pun, katanya di dapat dari orang-orang tua yang sekarang sudah meninggal dunia semua.

Dikisahkan, kejadian ini sekitar 50 tahun yang lalu, ketika desa ini masih sangat sepi. Sebelah timur desa, berbatasan dengan tambak dan laut. Rumah penduduk hanya berupa bangunan-bangunan kecil tanpa mempunyai WC. Karena itu, warga di selatan desa kalau hendak buang hajat pilihannya hanya di laut atau di tambak milik Wak Wan.

“Wak Wan iku sopo Cak, kok éson dak ngerti?”, ucapku spontan sambil nyruput kopi.

“Sik Cak Cem, santai aê dhisik, tak nyumêt rokok dhisik bèn lèkoh olèhé éson crito…”, jawabnya sambil menyulut rokok kesayangannya.

“Iyo Cak, santai aé…”, kataku sambil ngêdêm ati sing wis gak sabar asliné, pingin wêruh critanê. Yang disebut Wak Wan itu adalah orang kaya di desa itu. Tambaknya luas, berbatasan langsung dengan laut. Wak Wan sengaja membuat jamban di tambaknya dengan maksud agar warga desa kalau buang hajat di situ.

“Bèn iwaké lému-lému… Hahahaaa…”, kata Menyok tanpa bisa menahan tawa.

Persoalannya, karena Wak Wan hanya menyediakan satu jamban, tentu saja tidak mencukupi bagi warga desa. Mereka harus rela antri kalau kebetulan hendak buang hajat pada waktu yang bersamaan. Itulah sosok Wan Wan yang namanya tetap dikenang warga karena sudah berjasa menyediakan jamban, meski hanya satu untuk sarana buang hajat.

Lha, bagaimana kalau tidak sabar antri? Lha nèk wis kebelet?

Bagi warga yang tinggal di timur desa, tidak masalah, sebab mereka bisa buang hajat langsung di laut. Sedangkan warga yang tinggal di utara desa, menjadi persoalan tersendiri. Mereka harus sabar antri di satu-satunya jamban itu, atau terpaksa buang hajat di gang ini.

Maka jadilah sebuah gang kecil yang sangat vital itu menjadi sasaran untuk buang hajat bagi warga sing kebelet. Tentu saja akhirnya gang itu menjadi gang yang baunya gak ketulungan, karena kotoran manusia berserakan dimana-mana. Warga harus menutup hidung kalau lewat gang ini. Tokh, mereka sulit menghindari lewat gang ini karena memang inilah jalan tebus yang terdekat menuju alun-alun. Mereka tidak suka, tapi butuh.

“Tak sambi mangan godho, Cak…”, kata Menyok seraya mengambil gorengan tempe di dekatnya.

“Iyo Cak, mangano… Éson ngerti nèk sampèan kèt mbiyèn dak betah luwéh… Hahahaaa… Trus sopo iku sing njênêngi Gang Taek? Opo dak aték dibancaki dhisik ta olehé ngarani…“, tanyaku penasaran.

Memang nama Gang Taek itu tidak ada yang secara resmi memberikan nama, dak athik bancakan. Nama itu otomatis dikenal warga karena memang di gang itu ambuné dak enak mêrgo akèh kotoran menungsoné.

Mereka yang terpaksa lewat gang itu harus berjalan cepat agar segera meninggalkannya. Sepertinya keberadaan gang ini sengaja dikorbankan oleh masyarakat sebagai solusi warga yang kesulitan membuang hajat. Karena jaman dulu tidak ada listrik, sehingga orang malas berjalan jauh ke laut dalam kondisi gelap. Jauh dan takut…

Lagi pula, pada jaman dulu, selokan yang ada di gang itu dalam kondisi terbuka, sehingga malah memudahkan orang yang jongkok di tepinya sambil buang hajat.

“Lho, jaréné gang iki angker?”, tanyaku pada Agus Menyok yang sepertinya serba tahu ini.

“Hahahaha…”, Menyok tertawa ngakak sebelum menjelaskannya.

Ternyata, kesan bahwa gang ini angker itu memang sengaja diciptakan oleh warga yang menjadi pelanggan buang hajat di situ. Meskipun ada juga warga yang memberi kesaksian bahwa dia dikèthoki makhluk halus saat buang hajat. Mungkin saja cerita itu pun sengaja disebarkan untuk memperkuat kesan angker tersebut.

Soal angker ini, ternyata Agus Menyok punya pengalaman unik. Ceritanya, suatu hari dia
melewati gang itu sambil mengendarai sepeda onthèl. Kondisinya memang gelap. Ketika baru saja masuk gang, tiba-tiba terdengar suara menakutkan. Menyok sebenarnya takut juga, tapi tetap nekat meneruskan perjalanan sebab sudah nanggung kalau harus lewat jalan lain, lebih jauh jaraknya.

Menjelang sampai di tengah gang, dalam suasana gelap itu, suara menakutkan tersebut terdengar lagi. Menyok berusaha memberanikan diri meski dalam hatinya penasaran terhadap suara tersebut. Ternyata, begitu dia sampai pada sumber suara itu, Menyok melihat
ada sosok manusia yang dia yakini bukan genderuwo. Tiba-tiba sosok itu berdiri, pergi sambil nyincing sèwèké dan nggêrundêl karena usahanya menakut-nakuti gagal.

“Kètoké wongé kisinan, mêrgo dadi genderuwo gagal”, Menyok sudah tidak betah menahan tawanya, sampèk kêpingkêl-pingkêl. Itu sebabnya, dia berani memastikan, bahwa sebutan Gang Taek yang katanya angker itu memang sengaja diciptakan.

Dan saya menjadi malu sendiri karena pernah juga punya pengalaman melewati gang ini sambil berlari sampai nyosop-nyosop karena ketakutan. Kalau lewat bersama beberapa teman, pasti adu lari lewat gang ini. Waktu itu, saya merasa seperti ada yang mengejar dari belakang, tapi tidak tahu siapa…

Dan ternyata, kisah seram itu bukan hanya sebatas itu. Pernah ada cerita ndhas glundung, ada juga yang cerita ada genderuwo, banaspati, dan sebagainya. Yang intinya dengan sengaja diciptakan cerita yang serem-serem supaya orang takut lewat gang ini, sehingga mereka yang buang hajat bisa aman terkendali. Logikanya, kalau memang gang itu banyak hantunya, mengapa justru banyak orang yang suka buang hajat di gang ini dalam kondisi gelap malam?

Jadi begitulah, urusan buang hajat pada jaman dulu di desa ini yang menjadi kenangan ya dua cerita itu. Soal Wak Wan yang sengaja menyediakan jamban di tambaknya agar ikan-ikannya gemuk-gemuk karena makan kotoran manusia dan yang kedua, ya cerita soal Gang Taek ini.

Tapi untunglah, perkembangan jaman makin maju, masyarakat juga sudah sadar untuk membuat WC di rumah masing-masing, sehingga tidak lagi buang hajat sembarangan. Dan keberadaan Gang Taek itu sudah bersih, terang benderang karena ada penerangan listrik. Bahkan saat selokan sudah ditutup dengan beton cor, sehingga tidak bisa dipakai buang hajat lagi, hingga sekarang warga masih menyebutnya dengan nama Gang Taek. Sebuah nama yang memang tidak enak di dengar, namun punya kenangan cerita yang menggelikan.

Tiba-tiba terdengar teriakan kecil dari mobil:
”Pak, anaké nangis, njaluk mulih…“, seru istri saya dari dalam mobil.
“Iyo Ma, tak bayar kopiné dhisik…”, jawabku.
“Masya Allah Cak, sampèk lali éson nèk karo anak bojoku, éson tak pamit dhisik yo Cak…”, kataku.

“Hahahaaaaa… Pancêt waé koplak sampèan Cak, sampèk lali nèk nggowo anak bojoné, wong durung tuwèk kok wis pikun… Yo wis Cak, nèk nganggur, ayok ngopi manèh…”, jawab Menyok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here