Oleh : Agus Wakhid

Saat ini, kita bisa melihat bahwa Kota Gresik selain dikatakan sebagai Kota Santri karena adanya kehidupan keagamaan yang dilakukan oleh Sunan Giri dan para santrinya, Kota Gresik juga bisa dikatakan sebagai kota industri. Banyak sekali berdiri pabrik-pabrik industri di kanan-kiri jalan, tepatnya di Desa Roomo. Belum lagi, di wilayah lainnya, Kota Gresik selalu berkaitan dengan Semen Gresik. Nah, sekarang saya ingin mengajak Anda untuk bernostalgia sejenak mengenang kehidupan di Kota Gresik tempo doeloe…

Kalau Anda sudah siap dengan nostalgia yang akan saya suguhkan berikut ini, siapkan saja secangkir kopi dan sepiring pudak untuk melengkapi lamunan Anda…

Kota Gresik tahun 70-an, setiap memasuki musim kemarau tiba, kota ini seolah-olah selalu siap untuk menyongsong datangnya satu festival panjang. Suatu keramaian di dalam kota yang berlangsung dari pagi hingga malam, sepanjang hampir satu musim berjalan.

Musim kemarau di wilayah ini angin bertiup dari timur ke arah barat, biasanya mulai terasa pada bulan April, dimana berdatangan ratusan perahu Pinisi dari Sulawesi. Mereka berlayar menggunakan perahu yang didorong angin dari wilayah timur Indonesia menuju ke Pulau Jawa dan tujuan akhirnya adalah pelabuhan Gresik. Puncak dari keramaian datangnya perahu-perahu Pinisi dari Sulawesi ini biasanya pada bulan Juni sampai Agustus.

Perahu-perahu besar Pinisi ini sebagian besar bermuatan kopra, yaitu daging buah kelapa yang sudah dijemur kering sebagai bahan baku pokok pembuatan minyak goreng. Sebagian lagi ada yang membawa muatan rotan, cengkeh, dan hasil alam lainnya.

Ribuan ton kopra dari Sulawesi dan pulau-pulau wilayah Indonesia Timur lainnya ini sebetulnya hanya sebentar saja berada di gudang dekat pelabuhan Gresik. Tujuan selanjutnya akan dihantarkan ke pabrik-pabrik minyak goreng yang ada di Surabaya, Semarang, dan kota-kota lainnya di Pulau Jawa. Begitu juga dengan rotan dan cengkeh, dan hasil alam lainnya. Bahkan ada yang tanpa harus digudangkan di pelabuhan Gresik, namun langsung diangkut dengan truk ke kota tujuan lainnya.

Kalau barang muatan yang diangkut perahu Pinisi dari Sulawesi ini hanya transit atau numpang lewat saja di Kota Gresik, berbeda halnya dengan para awak perahunya. Mereka harus tambat agak lama di pelabuhan Gresik karena menunggu 2perubahan musim atau angin berbalik arah.

Kalau waktu berangkat dari Sulawesi angin bertiup dari timur ke arah barat atau musim angin timur, maka agar bisa kembali berlayar ke Sulawesi, mereka berharap angin bertiup ke arah sebaliknya, yaitu dari barat menuju ke arah timur atau disebut dengan musim barat. Karena perahu Pinisi ini bergerak menggunakan layar-layar yang membutuhkan dorongan tenaga angin semata.

Pada saat menunggu perubahan angin itulah digunakan para awak perahu untuk memperbaiki dan menyiapkan kondisi perahu agar layak berlayar. Ketika dalam kondisi berlayar, mereka hanya bisa mengerjakan pekerjaan kecil seperti mendempul bagian badan perahu yang mengelupas dan membenahi tali-temali perahu di ikatan gala-gala bentangan kain layar. Sedangkan ngêsum atau ndondomi jahitan layar dan menambal atau kalau perlu mengganti kain pada layar yang robek atau membuat kain layar yang baru, bisa mereka kerjakan di darat.

Di sisi lain, perahu-perahu ini juga mengusahakan muatan untuk pelayaran baliknya. Muatan yang akan dibawa kembali ke Sulawesi biasanya berisi berbagai macam barang olahan produksi industri kecil sampai dengan industri berat yang ada di Pulau Jawa. Juga ada barang-barang impor yang dibeli di Surabaya. Misalnya saja, perkakas dan peralatan mesin industri, alat pertukangan, alat-alat rumah tangga, pakaian, makanan, obat-obatan, dan sebagainya. Juga ada keperluan kapal itu sendiri, berupa tali berbagai ukuran, rantai besi, dan jangkar perahu. Ada pula barang-barang yang lebih khusus, yaitu peralatan alat musik gamelan yaitu kênong dan kêmpul. Alat musik yang dibeli hanya terbatas pada kedua alat ini.

Barang untuk muatan balik ini semua diusahakan dan dibelanjakan sendiri oleh juragan perahu atas pesanan pedagang di Sulawesi. Para awak perahu hanya sekadar membantu dan mengawal sang juragan dikala diperlukan.

Pada siang hari, kegiatan bongkar muat kopra di dermaga dari perahu yang sudah bersandar sudah nampak sibuk. Dari lambung kapal, karung-karung berisi kopra satu-persatu diangkat dan dipanggul oleh jasa kuli angkut, melewati papan gladak naik ke dermaga dan naik papan geladak yang lain lagi, kemudian ke atas truk yang sudah siap di atas dermaga.

Di sisi lain, nampak juga para pengangkut barang belanjaan dari toko-toko di Gresik membawa barang yang telah dibeli oleh para juragan untuk dinaikkan ke perahunya dengan menumpang perahu-perahu kecil sebagai tambangan dari dermaga ke tengah perairan tempat tambat kapal yang sudah bongkar muat.

Keramaian ini juga terjadi di jalan-jalan di Kota Gresik, tepatnya di Jl. Yos Sudarso sebagai jalan utama menuju gerbang pelabuhan Gresik. Di kanan-kiri jalan, terdapat deretan bangunan semacam stan-stan toko yang difungsikan sebagai Kantor Usaha Dagang atau Firma yang menangani perdagangan kopra dan kebutuhan perdagangan lainnya. Juga banyaknya stan-stan penjahit dengan papan nama Taylor, serta banyaknya warung-warung yang menjual aneka makanan.

Sedangkan di Jl. Basuki Rahmad, yang merupakan jalan terusan dari pelabuhan menuju ke arah pasar, jalan ini terlihat luas dan di kanan-kirinya ada banyak pepohonan besar yang rindang. Di sisi selatan, ada Gedung Kantor Pembantu Gubernur dengan halaman berumput yang luas. Di tempat ini juga terdapat beberapa penjahit khusus yang siap melayani pembuatan dan perbaikan layar. Layar-layar Pinisi yang rusak itu bisa dibentangkan di halaman kantor ini.

Dari Jl. Basuki Rahmad, apabila kita memilih belok ke kanan, yaitu ke Jl. HOS Cokroaminoto yang terkenal dengan sebutan Suling, di sini hanya ada beberapa toko, seperti toko alat tulis, depot, studio foto, losmen, dan juga toko yang menjual rotan dan keperluan perahu lainnya.

Untitled-1 copy

Berlawanan arah dengan Jl. HOS Cokroaminoto, belok kiri adalah ke Jalan Samanhudi. Di pojok jalan ini, ada beberapa toko yang khusus berjualan alat-alat perlengkapan perahu seperti jangkar, rantai, paku, pasak, baut, tali-temali, dan segala keperluan alat perahu termasuk alat musik kêmpul. Sepanjang Jalan Samanhudi ke barat, hampir took-toko di sini berusaha menyediakan kebutuhan barang yang bisa dikulak oleh para awak perahu dari Sulawesi lainnya.

Aktivitas siang ini berakhir di Pasar Gresik, toko-toko dalam pasar pun sangat sibuk bertransaksi dagang mulai barang pecah belah, seperti berbagai jenis piring, gelas, dan alat dapur lainnya. Juga para pedagang produksi lokal Gresik pun tidak kalah ramainya melayani pembelian kopiah, sarung, berbagai model pakaian, dan macam-macam jenis tas.
Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore berganti malam. Apabila malam menjelang, waktu inilah saat-saat yang paling ditunggu bagi para awak perahu Pinisi yang tambat di pelabuhan Gresik ini. Para awak perahu akan berduyun-duyun berjalan-jalan di sepanjang jalan Kota Gresik.

Puluhan warung kaki lima sudah berjajar di sekitar pelabuhan. Hiburan bioskop pun ada. Gedung Bioskop Hartati berada di Jalan R. Santri. Melewati Jalan Samanhudi ke arah barat, di Pasar Gresik ini pun tidak kalah ramainya. Di depan pasar, segala macam warung makanan dengan berbagai macam pilihan masakan tersedia. Dan yang lebih khusus, pada suasana malam hari bagi para awak perahu ini ada di Jalan Gubernur Suryo, tepatnya di pojok awal jalan ini dimana terdapat Bioskop Andhika. Dari sini, berjajar warung-warung terus ke arah barat dan berakhir di Gedung Seni Pentas Neng Mariati, yaitu pentas seni drama dan musik semacam Srimulat Surabaya. Hampir tiap malam semarak hiburan ini, tiada sepinya.

Namun tiada pesta yang tanpa akhir. Seiring bergantinya musim, berangsur-angsur keramaian di Kota Gresik ini menyurut. Begitu memasuki musim angin barat datang, perahu-perahu Pinisi dari Sulawesi ini harus balik berlayar pulang ke Sulawesi.

Saat awal-awal pergantian musim begini, walaupun angin barat masih belum banyak bertiup, perahu Pinisi yang sudah siap mulai bergegas beranjak untuk mengangkat jangkarnya.

Dipilihnya waktu menjelang malam adalah saat angin akan berhembus dari daratan ke lautan, atau dikenal dengan angin daratan. Manakala suhu udara di atas lautan masih belum menguapkan panas serapan terik matahari siang. Sedangkan di daratan, sisa-sisa sinar matahari siang sudah berganti sejuk dan suhu dingin daratan mengalir ke suhu yang panas di lautan. Aliran suhu dingin ke suhu panas ini menjadi seperti hembusan dan dinamai dengan angin dari daratan.

Namun seringkali terjadi, di awal-awal pergantian musim begini, angin tidak datang berhembus sama sekali, bahkan di atas perahu terlihat bendera di ujung tiang layar lunglai menempel di kayunya. Di lautan pun, air tidak bergerak dan tidak bersuara sama sekali.
Apalagi di daratan, ternyata hampir sama. Dedaunan di pohon-pohon diam menggantung kaku di rantingnya. Di dalam rumah juga sumuk luar biasa, udara serasa sesak. Onkêp-nya luar biasa.

Di saat-saat seperti inilah sering kami dengar suara tetabuhan di kejauhan, lamat-lamat dan sayup-sayup dari tengah laut :

…ning – nung – ning – nong…
…ning – nung – ning – nong …
…ning – nung – ning- nong …

Suara kênong-kêmpul sayup-sayup dengan tempo yang lambat dan terkesan berlirih-lirih dengan irama hampir sekhidmat orang berdoa. Dan saat éson masih kecil kala itu, karena terusik oleh suara tetabuhan itu, éson pun bertanya kepada bapaké éson :

“Pak, abané suoro tabuhan opo iku, Pak?”

Bapak yang sedang duduk bersebelahan dengan éson, menatap wajah éson sekilas sambil menggerakkan pandangan ke arah laut serta menjawab :

“Iku ta abané tabuhané… Iku wong ênciek ndèlèk angin!”