Oleh : Ahmad Rofiq

Jika sampean penggemar buku-buku cerita, khususnya cerita silat, pasti pernah membaca Keris Nagasasra Sabuk Inten. Sebuah cerita silat yang melegenda karya S.H. Mintardja. Dalam buku itu dikisahkan tentang raibnya dua keris ampuh, Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten dari kerajaan Demak. Awalnya kedua pusaka itu menjadi piandel (senjata andalan) kerajaan Majapahit. Namun pasca keruntuhan kerajaan yang didirikan R. Wijaya tersebut, seluruh pusaka kerajaan (termasuk kedua keris itu) diboyong ke kerajaan Demak Bintoro.

Nah, di saat kerajaan Islam pertama di tanah Jawa itu diperintah oleh Sultan Trenggono, kedua keris itu hilang dari perbendaharaan kerajaan. Untuk menemukan kedua keris itu maka tokoh yang bernama Mahesa Jenar berkelana. Perjalanan dan sepak terjang Mahesa Jenar untuk menemukan kedua keris itulah yang diceritakan secara memikat oleh S.H. Mintardja dalam karya legendarisnya.

Memang, buku yang pernah sangat populer di seantero Nusantara itu, khususnya Jawa Tengah, hanyalah buku fiksi. Sebuah karya yang ditulis berdasarkan imajinasi. Meskipun begitu, ada beberapa hal di dalam buku itu yang memang merupakan fakta sejarah. Diantaranya kedua keris itu.

Saya yakin, karya hebat pastilah lahir dari tangan yang hebat. Sebuah keris sakti jelas tidak mungkin hasil bikinan Êmpu kècèngan. Lewat salah satu sumber tutur saya akhirnya mengetahui bahwa Êmpu yang membikin kedua keris yang konon memiliki kekuatan yang ngèdap-èdapi itu adalah Êmpu Supo Mandrangi.

Êmpu Supo Mandrangi adalah seorang Êmpu linuwih (handal) yang menjadi orang kepercayaan Kerajaan Majapahit. Êmpu Supo juga merupakan adik ipar dari Sunan Kalijaga, salah seorang wali sembilan yang cukup berpengaruh. Namun siapa sangka bahwa Êmpu Supo Mandrangi adalah orang yang mbabat alas dan mendirikan Sidayu, wilayah yang sekarang menjadi salah satu kecamatan di Gresik. Tak heran bila Êmpu Supo Mandrangi mendapat julukan Pangeran Sidayu.

Menurut catatan sejarah, wilayah Sidayu merupakan hadiah dari Raja Majapahit atas jasa Êmpu Supo menemukan kembali keris andalan milik kerajaan yang hilang. Meskipun beberapa sumber sejarah berbeda pendapat tentang nama keris itu.

Salah satu sumber menyatakan bahwa keris yang hilang itu adalah Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten. Kedua keris yang memang hasil bikinan Êmpu Supo. Jadi, sudah dibikin dan diserahkan ke kerajaan tapi mendadak hilang. Itu versi sumber pertama.

Sumber lain mengatakan bahwa yang hilang bukanlah Keris Nagasasra dan Sabuk Inten, tapi Keris Kiai Sumelang Gandring (bukan Êmpu Gandring loh, Rèk!). Kalau sampèan tidak percaya, silahkan baca Buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe.
Menurut versi yang kedua, keris itu bukan hilang, melainkan dihilangkan, dalam rangka menguji para ksatria di wilayah Majapahit.

Lalu, mana yang benar, yang pertama atau yang kedua? Ya terserah sampèan mau ikut madzhab yang mana. Ikut aliran pertama ya monggo… Ikut aliran kedua seperti tersaji dalam Buku Hikajat Soerabaia Tempoe Doeloe nggih monggo kêrso. Yang jelas, keduanya sama-sama punya data. Èlingo Cak, kebenaran terlalu besar untuk dimonopoli hanya oleh satu orang atau satu kelompok.

Di dalam Buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, dinyatakan bahwa Êmpu Supo Mandrangi adalah Sunan Bungkul atau Mbah Bungkul. Dan Mbah Bungkul adalah mertua dari Sunan Ampel. Makamnya ada di Surabaya. Sumber lain menyatakan bahwa makam Êmpu yang mampu membuat keris dengan tangan telanjang itu (tanpa alat apapun) terletak di daerah Wonosobo-Jawa Tengah. Dengan salah satu pêtilasan tumbuhan bambu yang melengkung yang disebut bambu rèngkol.

Empu Supo Mandrangi

Dalam tulisan ini, akan saya ketengahkan versi lain lagi. Makam Êmpu Supo Mandrangi versi saya ada di atas Bukit Surowiti. Area itu masuk wilayah Kecamatan-Panceng Gresik. Makam Êmpu handal itu tidak jauh dari Goa Langsih, tempat sêmèdi dan persembunyian kakak ipar dan guru Êmpu Supo (Sunan Kalijaga) saat masih malang-melintang di dunia hitam.

Makam Empu Supo copy

Kini saya ingin mengajak sampèan membahas tentang Goa Langsih, tempat persembunyian Sunan Kaljaga saat masih menjadi perampok dan bergelar Brandal Lokajaya. Namun tidak saya ceritakan secara detail, karena juga dibahas di artikel lain di buku ini.

Sewaktu saya berziarah ke makam Êmpu Supo Mandrangi, saya juga masuk ke dalam goa. Bukan hanya mengamati dari luar, saya memberanikan diri masuk ke dalamnya. Untuk masuk ke dalam pêtilasan Sunan Kalijaga itu saya harus menuruni sebuah tangga kayu.

Plakat Di Makam Empu Supo copy

Jujur saja, saya agak merinding saat masuk ke dalam Goa Langsih. Biasanya orang masuk ke dalam goa berdua atau berkelompok. Saya saat itu sendirian. Lampu neon sudah dinyalakan oleh seorang perempuan tua yang menjaga mulut goa. Ya, semacam juru kuncilah. Namanya Nyai Kartinah, usia 62 tahun, tinggal di Panceng-Gresik.

Setapak demi setapak saya melangkahkan kaki menuruni tangga. Saya membayangkan, bagaimana dulu Kanjeng Sunan Kalijaga menjadikan tempat ini sebagai rumah. Lha wong, sudah dikasih tangga dan lampu neon saja seperti ini susahnya. Karena bayangan seperti itulah, saya semakin percaya bahwa Sunan Kalijaga benar-benar seseorang yang sakti.

Ruangan di dalam goa ternyata dibagi menjadi tiga. Satu ruangan menjadi semacam serambi rumah, ruangan kedua adalah tempat sêmèdi (meditasi), dan ruangan ketiga merupakan tempat tidur Sunan Kaljaga. Di dalam goa, ada air yang menetes. Bukan sembarang air, sebab banyak orang yang meyakini jika air tersebut memiliki banyak khasiat. Diantaranya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dengan ber-wasilah dan minum air tersebut, insya Allah bisa sembuh dari penyakit apapun.

Oalah, éson baru paham, kenapa perempuan tua itu memberikan botol plastik pada éson saat akan masuk ke dalam goa.