Oleh : Durotun Napiah

Dari sekian banyaknya kampung yang ada di Kota Gresik, sebetulnya nama-nama kampung itu memiliki cerita yang unik, menarik, dan layak dipelajari maknanya. Berikut ini saya hanya menceritakan sebagian asal-usul nama kampung yang saya ketahui. Dan kalau sampèan sendiri juga pingin blusukan ke kampung-kampung itu, tentu akan bisa juga mendapatkan cerita yang menarik.

Dalam penelusuran saya, yang pertama adalah nama Kampung Bêgêdongan. Diduga, arti dari kata Bêgêdongan ini adalah Gêdong yang berasal dari Bahasa Jawa yang artinya rumah besar atau sebuah bangunan. Jadi, Bêgêdongan adalah kampung yang memiliki banyak bangunan-bangunan. Kampung Bêgêdongan sendiri berada di Jl. Nyai Ageng Arem-arem Gang V.

Kampung Begedongan-Edit copy

Di sebelah Kampung Bêgêdongan, terdapat kampung yang sudah tak asing lagi, yaitu Kampung Kemasan. Keberadaan bangunan gedung kuno di kawasan Kampung Kemasan termasuk salah satu bangunan unik dan menjadi cagar budaya (heritage). Kampung ini berada di Jl. Nyai Ageng Arem-arem Gang III.

Konon, kampung Kemasan ini pada awalnya bernama Keemasan, berubah menjadi Kamasan dan akhirnya berubah menjadi Kemasan. Nama Kampung Kemasan bisa jadi lahir karena pada jaman dulu di kampung ini terdapat tukang emas yang terkenal. Lèk misalé waktu iku akèh sing dodhol perak, mungkin jênêng kampungé dadi Kampung Perakan yooo…

Kampung Kemasan ini adalah sebuah kampung yang mempunyai bangunan-bangunan besar yang memiliki arsitektur perpaduan antara corak Eropa dan China, yang didominasi dengan warna merah, warna yang dominan untuk perkampungan Tionghwa.
Rumah-rumah di kampung ini termasuk megah pada jamannya. Sudah banyak sekali wisatawan asing yang mengunjungi Kampung Kemasan untuk melihat dan mendokumentasikan bangunan-bangunan unik tersebut.

Di depan Kampung Bêgêdongan, ada kampung yang bernama Kampung Kepatihan. Kampung Kepatihan ini tepatnya berada di Jl. Nyai Ageng Arem-arem Gang VI. Kata Kepatihan diambil dari kata “peti”, yaitu tempat yang berbentuk balok untuk menyimpan sesuatu yang berharga. Nama kampung ini menjadi Kepatihan karena banyak warganya yang membuat peti dari kayu jati, sehingga lama-lama orang-orang mengucapkan Kampung Kepatihan. Tempat ini dulunya adalah tempat penghasil peti untuk menyimpan uang.

Kampung Kepatihan copy

Oalah, kampung sing akèh maknaé mbiyèn iku tibaké cumak bèdho gang, Rèk… Mbulêt ndik kono-kono aé… Dadi lèk sampèan pingin mlaku-mlaku ndik wilayah iku, enak aé Rèk, dak adhoh-adhoh…

Sementara itu, warga Gresik dahulu juga memiliki tradisi mengusir wabah atau pagêblug. Pada jaman dulu, tidak ada dokter seperti sekarang ini. Kalau pun ada, itu pun sangat jarang sekali dan bahkan letaknya jauh untuk ditempuh, sehingga jika ada penduduk yang terserang penyakit menular seperti malaria dan cacar misalnya, maka menimbulkan rasa takut. Obat juga susah didapat. Oleh karenanya, banyak penduduk yang meninggal akibat penyakit tersebut.

Usaha yang mereka gunakan agar tidak semakin banyak lagi penduduk yang terkena wabah penyakit, yaitu dengan memohon kepada Allah SWT agar wabah ini cepat disembuhkan. Dimulai dari kampung dimana wabah mulai terjangkiti. Para penduduk berkumpul dan berjalan sambil membawa obor dan mengucapkan shalawat bersama. Mereka berjalan mengelilingi kampung-kampung di sekitarnya yang disambut oleh penduduk yang dilewati sambil mengikuti rombongan yang pertama.

Seterusnya arak-arakan ini memasuki kampung-kampung lain, penduduknya juga mengiringi rombongan, sehingga rombongan ini makin lama makin banyak. Ibu-ibu tidak diperbolehkan ikut, mereka harus menjaga rumah sambil memanjatkan do’a agar wabah ini cepat dihilangkan. Menjelang shubuh, rombongan sudah kembali ke rumahnya masing-masing.

Pertanyaané sak iki, opo coro koyok ngono iku mau isyok berhasil??? Lèk secara logika, mung ndugo thok, rasané kok mustahil yooo wabah penyakit iku mau isyok ilang ngono aé…

Tapi ojok salah Dulur, wong Gresik iki kuat imané, rajin sholaté… Jaré wong Gresik ngono, dak usah macem-macem, madêp ngulon aé… Maksudnya adalah dak usah macem-macem lah, yang terpenting adalah beribadah kepada Allah SWT, dengan cara menjalankan sholat lima waktu, banyak ber-shalawat, dan banyak melakukan hal-hal kebaikan seperti yang diajarkan oleh Kanjeng Sunan Giri di Gresik. Ngono lho, Dulur…