Oleh : FitriWahyuni

Sampèan yèn moco judul artikel iki, mêsthi bingung karêpê dhéwé… Sampèan mêsthi garuk-garuk sira, ngomong dhéwé : “Opo bener makhluk halus seneng bubur kêtan irêng?”
Iyo dak??? Wis, ngaku aé sampèan… Ho oh aé benerné omongané éson… Polahé éson dhéwé yooo tau rumongso koyok ngunu kuwi…

Tapi sak durungé éson cerito masalah makhluk halus sing seneng kêtan iréng, éson pingin cerito dhisik masalah salah sijiné deso sing onok ndik Gresik iki, jênêngé Desa Tanggul Rejo…

Memang, asal-usul sebuah nama desa bisa ditelusuri dari arti katanya. Seperti halnya Desa Tanggul Rejo. Nama Desa Tanggul Rejo merupakan gabungan dari kata Tanggul dan Rejo. Tanggul sendiri artinya batasan tanah dari sebuah bendungan, sedangkan Rejo bermakna makmur. Jadi, nama Desa Tanggul Rejo bisa dimaknai sebagai sebuah batasan suatu wilayah yang makmur. Atau mungkin juga, ada yang memaknainya berbeda. Hanya saja, masyarakat yang tinggal di desa tersebut, berharap bahwa nama desa mereka merupakan suatu harapan dan doa yang akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT, yaitu menjadi desa yang makmur.

Desa Tanggul Rejo terletak di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Desa tersebut berbatasan dengan Desa Pedurungan, Glagah, Gumeno, dan beberapa desa lainnya yang dekat dengan Kabupaten Lamongan. Desa Tanggul Rejo sendiri terbagi menjadi tiga dusun, yaitu Tanggul Rejo Utara, Tanggul Rejo Selatan, dan Dusun Dagang.

Menurut nara sumber saya yang bernama Bapak Abdul Manan, seorang petani yang sudah menginjak usia 72 tahun namun masih terlihat sehat bugar, beliau menceritakan kepada saya tentang Desa Tanggul Rejo.

Menurutnya, ada dua versi mengapa desa tersebut diberi nama Desa Tanggul Rejo. Versi pertama, beliau mengatakan bahwa kata Tanggul Rejo berasal dari kata Tanggul yang berarti bendungan atau bisa jadi berarti unggul. Dan kata Rejo, yang berarti makmur. Sehingga arti kedua kata tersebut bermakna sebuah wilayah yang memiliki bendungan yang bermanfaat yang membuat kehidupan masyarakat desa tersebut menjadi makmur.

Tambak Tambak Luas yang ada di desa Tanggul Rejo copy

Versi yang kedua, dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi di Tambak Lebaan, yang merupakan sebuah wilayah berdataran rendah dan banyak terdapat tambak-tambak milik warga. Suatu ketika, terjadi hujan deras yang mengakibatkan air hujan memenuhi tambak-tambak milik warga tersebut. Dengan kondisi air tambak yang meluap, yang mengakibatkan banyaknya ikan-ikan yang terlepas atau keluar dari tambak-tambak tersebut, belum lagi ada yang tercampur dengan ikan-ikan milik warga lainnya.

Karena warga yang memiliki tambak-tambak tersebut tidak mau merugi berkepanjangan di setiap musim hujan yang selalu mengakibatkan banjir, maka warga sepakat untuk membuat sebuah tanggul atau bendungan, yang nantinya bisa membantu untuk menampung air hujan sehingga tidak membuat air tambak semakin meluap.

Untuk mengatasi masalah tersebut, akhirnya warga yang memiliki tambak-tambak di wilayah Tambak Lebaan, sepakat untuk membuat bendungan atau Tanggul. Dari situlah, maka muncul sebuah wilayah baru yang bernama Tanggul, yang berfungsi sebagai bendungan atau tanggul ketika musim hujan tiba.

Dengan dibuatnya bendungan atau tanggul tersebut, maka semakin lama semakin ramailah wilayah tersebut dengan beberapa pemukiman warga. Dan mereka berfikir bahwa nama Tanggul rasanya kurang bermakna, maka mereka pun sepakat dengan menambahkan kata Rejo untuk penamaan desa mereka. Maka, jadilah desa tersebut bernama Desa Tanggul Rejo.

Konon, di Desa Tanggul Rejo dulu ada sebuah legenda tentang Buyut Kerni yang berasal dari Desa Betoyo, yang dimakamkan di Makam Islam yang posisinya terletak di sebelah utara desa. Beliau adalah seorang wanita yang sakti mandraguna dan beliaulah yang pertama kali menginjakkan kaki di Desa Tanggul Rejo. Bisa jadi, beliaulah yang mbabat alas desa ini. Awalnya, Desa Tanggul Rejo ini dulunya berupa alas dan rawa-rawa.

Mbah Buyut Kerni mempunyai anak yang bernama Lolot Lempok. Sedangkan Lolot Lempok, memiliki anak yang bernama Singo Karyo Mangkubuwono yang menjabat menjadi pemimpin di Desa Tanggul Rejo.

Makam Buyut Kerni copy

Makam Buyut Kerni

Pada masa kepemimpinan Singo Karyo Mangkubuwono inilah, Desa Tanggul Rejo yang dulunya rawa-rawa sebagian dijadikan tambak dan sebagian lagi dijadikan pemukiman warga. Adapun beberapa orang yang pernah memimpin Desa Tanggul Rejo adalah Singo Karyo Mangkubuwono (Keturunan I), H. Sholeh (Keturunan II), Bashori yang memimpin selama 8 tahun, Nur Shahid, M. Yasak, Nur Aini, dan Abdul Karim yang menjabat dari tahun 2011 sampai dengan sekarang.

Soal mata pencaharian, warga Desa Tanggul Rejo dari dulu hingga sekarang, memilih sebagai petani tambak. Mengapa bisa begitu? Mengapa tidak mencoba bekerja di bidang yang lain? Inilah jawabannya… Ternyata, pernah ada beberapa warga yang mencoba untuk menjadi petani padi. Mereka bercocok tanam menanam padi. Namun apa yang terjadi? Mereka selalu gagal panen dan hal itu tidak terjadi sekali atau dua kali saja, tapi berkali-kali. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali menjadi petani tambak. Karena setelah diteliti lebih lanjut, kondisi tanah di Desa Tanggul Rejo tidak cocok untuk persawahan dan airnya yang asin.

Hasil panen dari tambak-tambak di Desa Tanggul Rejo ini sudah cukup dikenal. Tambak-tambak tersebut menghasilkan ikan nener, ikan gelondong, dan udang fanami. Udang fanami inilah yang banyak dikenal sampai dikirim ke Pulau Bali, karena udang ini mempunyai kualitas yang sangat tinggi dan rasanya gurih. Namun udang-udang fanami ini banyak yang dibudidayakan kembali di Pulau Bali.

Sik ta la, kèt mau kok cumak ngomongné masalah Desa Tanggul Rejo yooo??? Lha êndi ceritané sing jaréné makhluk halus seneng karo kêtan irêng lho???

Sabar nggih… Semua itu bermula dari adanya tradisi yang dilakukan oleh warga Desa Tanggul Rejo yang bernama udi-udian. Tradisi ini merupakan tradisi yang cukup unik, dimana warga setempat melakukan pelemparan uang receh saat penyambutan seorang anak yang baru terlahir di dunia dan juga menyambut orang yang baru pulang dari naik haji. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan agar mereka yang sedang ada hajat tersebut dilindungi oleh Allah SWT sekeluarga.

Tak kalah dengan Tradisi udi-udian, ada pula tradisi lainnya yang cukup berkaitan dengan mata pencaharian warga setempat sebagai petani tambak. Ketika ada warga yang hendak memanen tambaknya, malam sebelumnya dilakukan asat tambak, membuang air tambak untuk mempermudah mengambil ikan-ikan maupun udangnya. Kemudian, para pêndègo, yaitu orang yang bekerja untuk memanen ikan atau udang, harus makan kêtan irêng sebelumnya.

Di DesaTanggul Rejo, Makhluk Halus Suka Bubur Ketan Hitamf copy

Mengapa harus kêtan irêng bukan kêtan lainnya??? Hal ini dikarenakan warga setempat percaya bahwa hal itu sudah menjadi kebiasaan sejak nenek moyang dulu, bahwa dengan membuat bubur ketan hitam dan memakannya maka si pemilik tambak maupun para pêndègo-nya selamat, termasuk juga dengan hasil panennya. Bubur ketan hitam dipercaya dapat mengusir makhluk halus pada saat panen ikan atau udang. Kata sebagian orang di desa sana sih begitu, bahwa makhluk halus juga suka bubur ketan hitam… Dak percaya sampèan??? Coba aja sendiri… Sampèan coba ganti bubur ketan hitam dengan bubur kacang hijau. Dan apa selanjutnya yang terjadi? Sampèan jangan lupa nge-tweet éson yaaa untuk ceritanya…