Oleh : Lailiyatun Nafiah

Pada mulanya, Desa Manyar dulu bukan berupa daratan, melainkan tertutup dengan laut. Lho, kok isyok koyok ngono??? Sabar sik ta, Dulur… Éson tak marèkno ceritoné…

Di pesisirnya, banyak tumbuh pohon asam yang besar-besar. Begitulah dongeng yang disampaikan oleh nara sumber saya yang bernama Ibu Asyifa, usia 60 tahun, seorang ibu rumah tangga yang mendapat cerita itu dari neneknya.

Dari gaya bicaranya yang sangat antusias, saya yakin Bu Asyifa dulu di masa kecilnya rodok hyper active… Mbuh manèh lèk perkiraané éson iki salah yooo… Yooo sêpurané aé, Rèk…

Itu sebabnya kalau kita menuju daerah Manyar, kita akan merasakan jalanan menurun dan banyak menemukan pohon asam di daerah itu. Desa Manyar memang merupakan desa yang terletak di pesisir pantai. Bagian paling ujung dari desa ini langsung berbatasan dengan lautan dan ketinggiannya lebih rendah dibanding dengan desa di sekitarnya.

Kisah soal Manyar ini berasal dari kedatangan salah seorang saudagar dari Kerajaan Mataram yang bernama Anggojoyo. Dia datang ke Desa Manyar menggunakan perahu yang kemudian disandarkan di sebuah pohon asam. Daerah tempat menambatkan perahu itulah yang kemudian bernama Asem Sikêtan, yaitu asem tempat mengikat tali kapal.

Sedangkan welah atau dayung yang digunakan, diikat pada pohon asem lain yang kemudian pohon asem tersebut diberi nama Asem Siwelah. Nama-nama seperti Asem Siketan dan Asem Siwelah sampai saat ini digunakan sebagai nama gang di daerah Manyar Rejo.

Setelah menyandarkan perahunya, Anggojoyo memulai kehidupannya di pesisir pantai ini dengan mendirikan warung dan memulai mbabat alas Deso Manyar. Namun pekerjaannya ini ternyata menimbulkan iri hati Talangpatih, seorang mata-mata dari Kerajaan Mataram.
Suatu ketika, Talangpatih mendatangi Anggojoyo dengan membawa makanan bernama sêrabi yang di atasnya ditèlèti kunir dan berpura-pura sebagai buruh yang sedang ndèlèk pênggawèan.

Desa Manyar, Pada Mulanya Tertutup Laut copy

Karena kesaktiannya, Anggojoyo tahu bahwa lelaki ini tidak berniat tulus bekerja, melainkan sedang memata-matainya. Entah bagaimana ceritanya, karena Anggojoyo berada dalam bahaya akhirnya dia menebas leher lelaki itu yang ternyata mengeluarkan api. Dari situlah Anggojoyo mengetahui bahwa Talangpatih ini bukan orang biasa alias memiliki kesaktian yang luar biasa.

Melihat Talangpatih membawa sêrabi, yang dikenal sebagai kue khas dari Mataram, Anggojoyo tahu bahwa sebenarnya Talangpatih ini juga berasal dari Mataram. Layaknya di film-film Angling Dharma di Indosiar, terjadilah sebuah dialog. Anggojoyo menanyakan kepada Talangpatih siapa dia sebenarnya dan Anggojoyo menyebut bahwa dirinya juga berasal dari daerah yang sama, yaitu Mataram.

Dari pertemuan tersebut, akhirnya Talangpatih dipèk mantu, dinikahkan dengan anak perempuan Anggojoyo dan mereka pun meneruskan mbabat alas Desa Manyar bersama-sama. Cobak éson sing dipèk mantu, koyok opo yooo nasibé éson sak iki…

Yang jelas, kalau masyarakat setempat kemudian mengenal yang namanya Buyut Manyar, itulah yang dulu bernama Anggojoyo. Menurut cerita, Anggojoyo sangat memuliakan menantunya tersebut, hal ini terlihat pada makam keduanya yang sekarang berada di kompleks pemakaman Islam daerah Manyar Rejo.

Makam yang berada dalam rumah-rumahan dan dianggap sebagai makam sêsêpuh atau buyut desa sebenarnya adalah makam dari Talangpatih atau menantu dari Anggojoyo. Sedangkan makam Anggojoyo sendiri ada yang mengatakan berada diluar dari rumah-rumahan tersebut, bahkan ada yang mengatakan bahwa makamnya tidak berada di Desa Manyar, melainkan berada di Desa Suci.

Legenda memuliakan menantu tersebut sampai sekarang masih banyak ditiru oleh masyarakat Manyar, sehingga masyarakat di Desa Manyar ini dikenal kebanyakan selalu memuliakan menantunya, baik menantu laki-laki maupun menantu perempuan. Enak tênan iki Rèk, lèk éson sampèk dhuwé mêrtuo têkan Desa Manyar… Mêsthi éson dadi mantu kesayangan… Lak ngono taaa, Rèk…

Dalam perkembangannya, Desa Manyar kemudian mengalami kemajuan yang begitu pesat dan ramai serta dihuni oleh banyak orang. Kemudian oleh para sêsêpuh, desa ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Desa Manyar Rejo, Desa Manyar Sidomukti, dan Desa Manyar Sidorukun. Ketiganya memiliki filosofi sediri-sendiri.

Desa Manyar Rejo, diambil dari kata rêjo, yang berarti ramai. Bahwa rêjo-rêjo deso atau ramai-ramainya dimulai dari daerah ini, yaitu daerah pesisir pantai yang kala itu ditumbuhi banyak pohon asam. Kemudian di tengah-tengah dinamakan Sidomukti.

Mukti yang berarti pasti, setelah rêjo maka dipastikan bahwa desa ini ada sehingga nama desa di tengah-tengah ini dinamakan dengan nama Desa Sidomukti. Kemudian lebih ke dalam lagi, paling ujung dari Desa Manyar dinamakan Manyar Sidorukun. Setelah adanya rêjo (keramaian) dan kemudian telah mukti (dipastikan) akan adanya sebuah desa, maka yang diharapkan kemudian adalah semua masyarakat yang ada di desa ini semuanya akan rukun, sehingga desa ini dinamakan Manyar Sidorukun.

Untuk memperingati wafatnya buyut Manyar tersebut, setiap tahun tepatnya setiap bulan Safar, masyarakat mengadakan barikan utowo sêlamêtan ambèk nggowo sêrabi kunir, yaitu sèrèbèh sing ndukuré ditolèti karo kunir. Juga membawa sêgo kuning di area makam Buyut Manyar. Biasanya acara barikan ini diadakan pada sore hari setelah Ashar. Sedangkan malam harinya, diadakan terbangan.

Makam Mbah Buyut Manyar copy

Makam Talang Patih copy

Sik ta la, sampèan lak wis ngerti banget yooo sing jênêngé tradisi Barikan iku??? Polahé tradisi Barikan iku yooo diceritakno ndik artikel liyané… Yèn sampèan lali, cobak sampèan bukak manèh Daftar Judul sing onok ndik Buku Sang Gresik Bercerita iki…

Tradisi Barikan ini sudah tidak bertahan lagi sekarang. Masyarakat yang dahulu setiap kali memperingati khaul, podo mlaku ambèk mikul sèrèbèh nang makam, sak iki wis dak onok. Jaréné sé wis dak usum alias wis dak jamané, sehingga acara khaul Buyut Manyar ini sekarang diganti dengan acara istighosah di masjid.

Selain tradisi Barikan, ada lagi tradisi sêlamêtan dengan menggunakan bekakak ayam, yaitu pithik wutuh sing dipanggang terus dibumboni… Pokoké suêdêp tênan, Rèk… Tradisi ini muncul akibat wilayah Desa Manyar yang dulunya berupa sêgoro.

Begitulah… Di Desa Manyar ini dikenal banyak terdapat tempat-tempat angker, sehingga masyarakat seringkali mengadakan sêlamêtan dengan menggunakan bekakak ayam. Tujuannya adalah mencari keselamatan, sehingga sampai sekarang untuk orang yang merupakan orang Manyar asli, setiap kali nduwé gawé mesti sêlamêtan-nya nggawé bekakak ayam…