Oleh: Dwi Rudi Zulianto

Dahulu kala ketika penjajah Belanda sudah masuk ke Tanah Jawa, ada seorang ksatria bernama Suro Jenggolo. Ia terkenal sebagai seorang ksatria yang gagah berani, ditambah dengan penampilannya menunggangi seekor kuda putih lengkap dengan topinya yang menyerupai lumpang kêntèng.

Disaat penjajah Belanda datang membuat onar di sebuah desa, Suro Jenggolo yang terkenal gagah berani itu tidak hanya tinggal diam saja, melainkan membantu warga untuk menumpas penjajah. Melihat Suro Jenggolo yang dianggap sok-sokan itu, penjajah Belanda tidak membiarkannya begitu saja, hingga ada yang nylêtuk kira-kira artinya seperti ini : “Sopo koên, mèlok-mèlok urusané wong laen aé… Ngaliho kono…”

Mendengar ucapan dari wong Londo tersebut, Suro Jenggolo bukannya merasa takut tapi malah nantangi wong Londo kuwi. Dengan gagahnya, Suro Jenggolo berkata kepada wong-wong Londo maêng sing ngomong nang dèkné : “Ora usah kakèan omong, lèk wani ojok karo warga sing ora ngêrti opo-opo, ladénono aé éson, sing sepadan karo awakmu… (Suro Jenggolo sambil menunjuk ke arah sekelompok orang-orang Belanda tersebut.

Melihat Suro Jenggolo yang semakin guaya poll itu, para penjajah tersebut merasa harga dirinya di injak-injak oleh Suro Jenggolo dan merasa tertantang. Maka terjadilah kejar-mengejar antara Suro Jenggolo dan kawanan penjajah Belanda tersebut.

Merasa kalah orang, Suro Jenggolo menunggangi kuda putihnya sekencang-kencangnya melarikan diri dari kejaran kawanan penjajah tersebut. Hingga pada akhirnya, Suro Jenggolo menemuka sebuah kêdung yang disekitarnya ditumbuhi banyak wit pring. Untuk menghilangkan jejaknya, Suro Jenggolo melemparkan topinya yang serupa dengan lumpang kêntèng tersebut ke tepi tebing dan Suro Jenggolo sendiri bersama dengan kuda putihnya melompat ke dalam kêdung yang penuh air saat itu.

Kawanan penjajah Belanda yang mengejar Suro Jenggolo akhirnya kehilangan jejaknya. Namun merek melihat topi Suro Jenggolo di tepi tebing, namun mereka mengira bahwa Suro Jenggolo tidak mungkin terjun ke jurang di dekat tebing tersebut, melainkan mereka mengira bahwa Suro Jenggolo pasti masuk ke dalam kêdung yang letaknya memang tidak jauh dari tepian tebing dimana topi Suro Jenggolo ditemukan.

Berhari-hari kawanan penjajah tersebut menunggu di sekitar kêdung, berharap suatu hari Suro Jenggolo akan keluar dari kêdung tersebut. Namun setelah berhari-hari menunggu, Suro Jenggolo tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Akhirnya kawanan penjajah tersebut memutuskan untuk meninggalkan area di sekitar kêdung tersebut. Dan hilangnya Suro Jenggolo sampai ke telinga masyarakat sekitar dan mereka menganggap Suro Jenggolo telah meninggal dunia.

Dengan hembusan kabar yang menyebutkan bahwa Suro Jenggolo telah meninggal di kêdung tersebut, membuat masyarakat sekitar perlu memberikan sedikit penghargaan kepada Suro Jenggolo atas keberaniannya melawan penjajah Belanda yaitu dengan menamai daerah kêdung tersebut dengan nama Desa Kedungpring suatu saat nanti apabila daerah tersebut menjadi wilayah pemukiman warga.

Menurut penuturan dari salah seorang tetua Desa Kedungpring yaitu Bapak Naim yang berusia 53 tahun, yang kini menjabat sebagai Kepala Dusun Pilangrejo, Desa Kedungpring, mengatakan bahwa Desa Kedungpring berasal dari nama Kêdung dan Pring. Kêdung dapat diartikan sebagai cekungan atau kubangan yang terbentuk secara alami karena proses erosi atau tergerus arus air sungai. Sedangkan pring dalam Bahasa Jawa berarti pohon bambu. Jika digabungkan, kata Kedungpring dapat diartikan “kubangan air yang dikelilingi pohon bambu”, sesuai dengan cerita yang saya dapatkan tentang seorang ksatria yang bernama Suro Jenggolo.

Desa Kedungpring sendiri merupakan salah satu Desa di Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik yang memiliki sejarah panjang, mulai dari asal nama Kedungpring itu sendiri hingga masa peralihan Pusat Pemerintahan tingkat Kecamatan pada jamannya.

Dituturkan Pak Naim bahwa warga pada jaman dulu hidupnya masih nomaden untuk mencari sumber penghidupan yang layak, baik saat musim penghujan maupun musim kemarau. Dari yang kita ketahui, jika pada musim kemarau sumber air banyak yang mengering, sedangkan air merupakan sumber penghidupan dalam kehidupan, baik untuk mandi, mencuci, dan memasak. Dapat kita bayangkan, jika pasokan air tidak cukup hingga musim penghujan tiba, warga harus berjalan jauh untuk mencari sumber air untuk keperluan sehari-hari.

Dari situ, warga menemukan sebuah cekungan atau kêdung yang banyak ditumbuhi pohon bambu yang rimbun di tepiannya. Di saat musim kemarau, kebanyakan pohon bambu daun dan rantingnya mengering, namun pohon bambu di tempat ini tetap hijau dan segar, dibanding dengan pohon bambu di tempat lain yang berada tidak jauh dari situ. Setelah ditelisik, ternyata masih terdapat air yang masih cukup banyak meskipun di musim kemarau panjang. Itulah sebabnya, pohon bambu di sini tetap hijau.

Berbeda dengan kisah yang saya dapatkan, dimana masyarakat sekitar kêdung yang banyak ditumbuhi pohon bambu tatkala sekawanan penjajah Belanda mengejar Suro Jenggolo, yang mengatakan bahwa Suro Jenggolo tidak diketemukan sehingga oleh masyarakat dianggap telah meninggal. Penuturan oleh narasumber saya Pak Naim, Desa Kedungpring pertama kali dipimpin oleh Ki Suro Jenggolo, yang diyakini beliaulah yang mbabat alas di desa ini, nama yang sama dengan ksatria Suro Jenggolo yang saya dapatkan.

Diceritakan pula, selain menjadi Kepala Desa, Beliau juga menjadi dêmang alias camat. Menjadi pemimpin sekelas Dêmang, tentu bukan sembarang orang yang bisa memangku amanah ini. Ki Suro Jenggolo memiliki linuwih yang tidak dipunyai oleh orang biasa.
Beliau juga memiliki seorang pengikut bernama Yai Rahmat. Yai Rahmat sendiri merupakan murid dari Kanjeng Sunan Giri yang diberi tugas untuk menyebarkan Agama Islam di wilayah gresik selatan. Ki Suro Jenggolo beserta Yai Rahmat kemudian mendirikan Padepokan yang kini dikenal warga sekitar dengan sebutan Soko Guru.

Desa Kedungpring

Kata Soko Guru dapat diartikan sebagai tiang atau pilar penyangga utama. Pada Agama Islam, tiang atau pilar penyangga utama tentunya adalah Sholat. Di sini, dapat kita renungkan mengenai perjuangan para Wali Songo dan pengikutnya dalam menyebarkan agama islam di Tanah Jawa dengan cara-cara yang halus dan merasuk ke lubuk hati masyarakat yang kala itu masih mayoritas beragama Hindu.

Artefak peninggalan yang masih ada dan terawat sampai saat ini di Desa Kedungpring adalah Padepokan Soko Guru itu sendiri, yang di dalamnya terdapat yoni berupa lumpang kêntèng dan Makam Ki Suro Jenggolo yang terletak di Desa Kedungpring.
Hingga kini, masyarakat belum mengetahui secara jelas dan pasti kegunaan lumpang kêntèng. Ada yang bilang kalau lumpang kêntèng adalah topi Ki Suro Jenggolo yang dibuang di tepi tebing saat menghindari kejaran Belanda.

Desa Kedungpring sendiri sekarang terdiri dari 4 Dusun, yakni Dusun Kedungpring, Dusun Kedungrukun, Dusun Wates, dan Dusun Pilangrejo yang kesemuannya juga memiliki cerita yang tak kalah menariknya.

Dusun Pilangrejo yang terletak pada sebelah barat Desa Kedungpring misalnya, dinamakan Pilangrejo karena dulu merupakan tempat yang angker dan banyak ditumbuhi pohon pilang, namun sesepuh desa merasa kawasan ini kelak akan menjadi kawasan yang ramai, dalam Bahasa Jawanya disebut rêjo. Setelah dibabat oleh sesepuh desa, dijadikannya daerah tersebut menjadi sebuah pemukiman yang diberi nama Dusun Pilangrejo, yang menjadi bagian dari Desa Kedungpring. Dan terbukti, Dusun Pilangrejo memiliki jumlah penduduk yang lebih padat dari dusun-dusun yang lain.

Keunikan lainnya juga ada di Dusun Wates, yang terletak pada pusat desa. Zaman dahulu, sesepuh desa menganggap perlu adanya sebuah batas yang memisahkan antara Dusun Kedungpring, dan Dusun Kedungrukun di sebelah timur dengan Dusun Pilangrejo di sebelah barat. Agar jika terjadi masalah di Dusun Kedungpring, Dusun Kedungrukun maupun Dusun Pilangrejo tidak meluas ke seluruh desa, maka dibuatlah pembatas di antara dusun-dusun tersebut dan dibangunnya sebuah pemukiman yang diberi nama Dusun Wates, yang artinya pembatas.

Desa Kedungpring juga dikenal memiliki kelompok kesenian yang dikenal dengan Jêpaplok. Sejak dahulu, jauh sebelum masa kemerdekaan, kesenian jêpaplok sudah ada. Seni tari topeng yang diiringi seperangkat gamelan sederhana yang tidak lengkap, menjadi hiburan rakyat yang sangat digemari di wilayah ini.

Jêpaplok adalah topeng kayu dengan bentuk mulut naga, yang tentu saja terbuat dari kayu. Mulut atas dan bawah dibuat memanjang ke depan, sehingga ketika kedua mulut topeng dikatupkan dengan keras, maka terdengar suara kayu yang beradu, plok… plok… plok… Mungkin dari suara yang terdengar ini, kesenian ini akhirnya dinamakan jêpaplok.
Topeng jêpaplok dimainkan oleh dua orang. Yang depan memainkan topeng, sedang yang belakang memainkan ekor yang mengikuti dan meyelaraskan gerakan yang dimainkan oleh pemain topeng. Kedua penari ditutupi dengan kain yang memanjang ke atas, sehingga yang terlihat hanya kakinya saja. Mereka layaknya hewan berkaki empat, seperti penari barongsai.

Selain kesenian jêpaplok, ada pengiring lain, yaitu penari topeng dan penari kuda lumping. Atraksi yang dimainkan selain menari, yang paling ditunggu oleh penonton adalah saat salah satu dari penari kerasukan. Disaat kerasukan, mereka akan bertingkah layaknya apa yang merasuki mereka, bisa berupa hewan maupun yang lain. Bahkan pada saat kerasukan, para penari bisa makan bêling, makan rumput, dan yang lebih mengerikan lagi adalah makan ayam hidup-hidup. Masio mêdèni, tapi iki sing diêntèni…