Oleh : Hadi Setiawan

Dermo itu adalah nama salah satu desa kecil di tengah Kecamatan Benjeng. Saking kecilnya, sampai disebut hanya sebesar tumo (kutu kepala). Makanya jaman Belanda dulu dijuluki Onderan sak tuMo yang disingkat DerMo.

Onderan berasal dari Bahasa Belanda yang artinya tanah atau wilayah. Tapi siapa sangka bahwa sejarah desa ini sudah sangat jauh sampai zaman Majapahit. Ada banyak bukti yang menguatkan bahwa Dermo dulunya adalah semacam markas tentara Majapahit.

Desa Dermo termasuk salah satu wilayah ibukota Kecamatan Benjeng yang terbagi menjadi 4 desa, yaitu Bulurejo, Munggugianti, Klampok, dan Dermo. Desa ini berbatasan dengan beberapa desa, dimana sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bulurejo, sebelah utara berbatasan dengan Desa Kedungsekar, sebelah barat berbatasan dengan Desa Klampok, dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Dadapkuning, Kecamatan Cerme.
Asal-usul Desa Dermo, menurut cerita Cak Sapari, usia 72 tahun dan pinisêpuh Desa Dermo, bahwa masyarakat Dermo jaman dahulu adalah keturunan dari pasukan Majapahit. Dimana suatu ketika, rombongan dari Majapahit bermaksud menyerang Giri Kedaton.

Dalam penyerangan ini, pasukan Majapahit mengalami kekalahan. Pasukan Majapahit terpukul mundur dan masih terjadi pertempuran sengit sampai sungai atau kêdung sebelah selatan yang sekarang disebut Dusun Kedung Sambi. Pasukan Majapahit kemudian menyeberangi kêdung dan sampai ke wilayah selatan yang sekarang menjadi Desa Dermo.

Untitled-1 copy

Di wilayah inilah mereka berisitirahat dan menjadikannya markas rombongan Majapahit. Hingga akhirnya wilayah ini dijadikan sebagai batas wilayah kekuasaan Majapahit dan sebelah utara merupakan wilayah kekuasaan Giri Kedaton. Desa ini menjadi wilayah Kadêmangan, daerah kekuasaan wilayah Majapahit.

Selain nama Desa Dermo berasal dari cerita yang saya ungkapkan diatas, konon ceritanya nama Desa Dermo diambil dari nama penguasa pertama yang memimpin wilayah ini, yaitu Ki Darmo Gandul. Sementara itu, di tengah Desa Dermo saat ini terdapat satu makam yang diperkirakan oleh warga sebagai makam leluhur desa. Sebuah makam dalam sepetak tanah kecil ini masih dijaga oleh warga yang menyebutnya sebagai makam Ki Demang. Apakah yang namanya Ki Darmo Gandul itulah orang yang sama dengan Ki Demang? Sebab Dêmang itu adalah nama jabatan bagi orang yang memimpin kadêmangan. Pertanyaan ini sulit dijawab.

Tanda-tanda bahwa desa ini merupaan bekas kadêmangan zaman Majapahit diperkuat dengan pernah adanya sebuah candi di sebelah timur telaga Desa Dermo atau sebelah barat laut desa. Masyarakat sekitar menyebutnya Candi Dermo.

Menurut penuturan Jainuri selaku pamong desa, candi ini dulu relatif masih baik, setidaknya masih bisa dilihat bentuknya sebagai candi yang utuh. Pada jaman dahulu, dengan pengaruh Majapahit dan Agama Hindu, Candi Dermo diduga oleh warga sebagai tempat pemujaan bagi umat Hindu.

Yang menarik, kalau memang betul di desa ini pernah ada Candi Dermo, lantas apa bedanya dengan Candi Dermo yang ada di Wonoayu Sidoarjo? Candi Dermo di Desa Candinegoro Wonoayu itu sama-sama peninggalan Kerajaan Majapahit, memang sudah rusak namun masih berdiri dan terlihat sebagian bentuknya.

Candi ini sebenarnya merupakan gapura yang berbentuk paduraks yang berarti candi berbentuk gapura yang bagian atapnya menjadi satu. Kalau Candi Bentar dan Bajangratu misalnya, adalah gapura yang atapnya terpisah. Bangunan candi yang menghadap poros barat-timur ini kira-kira dibangun pada abad ke-14 oleh Prabu Brawijaya.

Dari deskripsi mengenai Candi Dermo di Sidoarjo itu, maka berarti Candi Dermo di Benjeng ini adalah juga gapura dari Kerajaan Majapahit. Bukankah Dermo adalah tapal batas wilayah Majapahit di bagian utara yang berbatasan dengan Kerajaan Giri Kedaton? Kalau betul begitu, diduga kuat candi ini menghadap ke arah utara, menghadap ke wilayah kekuasaan Giri Kedaton.

Di beberapa tempat di desa ini juga pernah ditemukan situs purbakala, antara lain patung Ganesha yang identik dengan Agama Hindu. Lempeng batu segi empat yang diduga sebagai altar tempat menaruh sesuatu sebagai persembahan, juga pecahan guci maupun piring sering ditemukan di sekitar lokasi candi.

Pohon Yang Tidak Berubah Bentuknya Mulai Puluhan Tahun Yang Lalu copy

Sebuah pohon yang unik juga ada disekitar lokasi, pohon ini bentuknya sama mulai puluhan tahun yang lalu

Selain itu, di Desa Dermo terdapat juga sumur tua yang diyakini digunakan sebagai sumber penghidupan desa. Sedangkan Telaga Padusan terdapat di sebelah barat lokasi candi, yang sekarang digunakan sebagai telaga air minum.

Dengan berbagai temuan situs purbakala tersebut dan dari penuturan warga, maka bisa jadi bahwa pada jaman dahulu Desa Dermo merupakan suatu kadêmangan atau kadipaten kecil yang berpengaruh pada masanya.

Merujuk pada buku sejarah, sebetulnya keruntuhan Kerajaan Majapahit itu bukan hanya karena serangan fisik oleh Raden Patah, yang tidak lain adalah putera Prabu Brawijaya sendiri. Ketika Pabu Brawijaya meninggalkan Majapahit menuju Blambangan, Sunan Kalijaga diutus untuk menemuinya. Pada saat itulah Sunan Kalijaga mampu memberikan tentang pemahaman Islam pada Prabu Brawijaya sehingga Raja Majapahit yang tersingkir itu memutuskan untuk memeluk Agama Islam. Perkembangan Islam yang semakin pesat di Majapahit diduga ikut menjadi penyebab keruntuhan Majapahit dari dalam.

Begitu pula yang terjadi pada masyarakat Dermo. Sekitar tahun 1960-an, ada ulama dari daerah Lamongan dan Jombang yang menyebarkan Agama Islam di Desa Dermo dengan pendekatan yang santun, sehingga lambat laun masyarakat Dermo memeluk Agama Islam secara lahir-batin. Perkembangan Islam di Desa Dermo sendiri terbilang cukup pesat. Masyarakat mulai belajar mengaji dan giat berjamaah di masjid atau pun musholla, kegiatan-kegiatan keagamaan Islam juga mulai semarak dilaksanakan.

Seiring dengan masuknya Islam ke desa ini, lambat laun pengaruh Hindu maupun kepercayaan Jawa mulai hilang. Candi yang tersusun dari tumpukan batu bata merah, sedikit demi sedikit dibongkar hingga habis tak tersisa. Batu batanya dimanfaatkan untuk membangun jalan desa. Ditata sedemikian rupa di setiap gang jalan kampung, sampai ke selatan desa hingga batas Jalan Raya Dermo (jalan arteri kabupaten). Sedangkan patung, arca, dan penemuan lainnya dimasukkan ke sumur dan kolam masjid desa. Semuanya dipendam oleh warga untuk menghindari pemujaan kepada benda-benda tersebut oleh warga.

Bekas areal candi itu pun sudah menjadi telaga. Sedangkan sebelah utaranya dulu adalah sebuah perkampungan lama yang ramai karena ada pasarnya. Dulu juga ada Kali Kondang yang melewati daerah ini sebagai sarana transportasi air zaman dahulu. Dan ketika pejabat atau tamu dating, pasti melewati kali Kondang ini. Tetapi Kali Kondang saat ini sudah menjadi parit atau saluran pembuangan air.

P1010325copybw copy

Dari hasil penelusuran di lapangan, didapatkan nama-nama Kepala Desa atau Dêmang yang pernah memimpin Desa Dermo, yaitu Ki Darmo Gandul yang memimpin desa ini pertama kali, namun tidak diketahui secara pasti sejak kapan beliau memimpin desa ini. Ki Darmo Gandul memiliki kekuasaan sebagai pemimpin desa ini sampai tahun 1889.

Pemimpin desa yang kedua adalah Ki Cakil. Beliau menggantikan Ki Darmo Gandul sejak tahun 1889-1904. Setelah itu, ada Ki Atrup, yang memimpin Desa Dermo sejak tahun 1904 sampai 1936. Sepeninggal Ki Atrup, kepemimpinan pun digantikan oleh Ki Joyo Astro, yang memimpin Desa Dermo sejak tahun 1936-1990. Dilanjutkan dengan Muhammad Ali (1990-2007), Karno (2007-2013), dan yang terakhir pemimpin Desa Dermo ini adalah Pak Muta’in, yang memimpin desa ini dari tahun 2013 sampai dengan 2019.

Sebentar, kalau betul catatan ini, berarti Kepala Desa atau Dêmang pertama yang bernama Ki Darmo Gandul itu baru memerintah sekitar tahun 1800-an. Padahal sejak tadi disebut-sebut bahwa Desa Dermo sudah ada sejak zaman Majapahit. Penjelasannya kira-kira begini…

Ketika zaman Majapahit, dulu desa ini mungkin belum mempunyai nama, atau setidaknya bukan bernama Dermo. Nah, ketika hunian itu dipimpin oleh Ki Dêmang Darmo Gandul, maka desa itu diberi nama Darmo atau Dermo. Dan ketika di situ juga ada candi, maka nama candi itu disesuaikan dengan nama desanya, yaitu Candi Dermo. Sebab begitulah kelaziman yang terjadi di Penataran (Blitar), Surowono (Kediri), Kalasan, dan Borobudur (Jawa Tengah).

Setelah apa yang saya tuturkan diatas, apakah kisah tutur yang berkembang di Desa Dermo itu memang merupakan fakta sejarah??? Tugas sejarawanlah yang menelusurinya…