Dari Makam Jadi Kampung

Sang Gresik Bercerita

0
2081

Oleh : Sarah Merina

Sik ta la, éson dhéwé sak jané yooo bingung apéné nulis cerito iki… Éson bingung, yak opo ceritané kok isyok dadi koyok ngéné… Têkan makam dadi kampung… Tapi éson malah bersemangat gawé nyêritakno tentang kampung iki… Ngéné lho Cak ceritoné… Disimak nggih…

Di Kota Gresik, ada sebuah kampung yang bernama Kampung Selusin. Dinamakan demikian karena di kampung yang terletak di Jalan K.H. Abdul Karim Gang XII alias Trate ini terdapat beberapa makam atau pêsarèan Mbah Buyut sebanyak12 makam alias satu lusin atau selusin makam.

Kedua belas makam tersebut adalah makam Mbah Buyut Muniroh atau Buyut Cinde, dimana letak makamnya berada di gang kecil disamping musholla. Di sebelah kanan kampung, terdapat makam Mbah Buyut Datuk, makam Mbah Buyut Dagang, dan enam makam Mbah Buyut, dimana enam buyut ini tidak diketahui namanya dan di nisan makam juga tidak tertera nama dari enam buyut tersebut. Kemudian, adanya makam Mbah Buyut Fatimah atau Nyai Ageng Fatimah, Mbah Buyut Hasyim, dan Mbah Buyut Iskandar.

Makam Mbah Muniroh atau Mbah Buyut Cinde
Makam Mbah Buyut Datuk
Makam Mbah Buyut Dagang
Makam Buyut Nem

Semua makam terletak di sebuah gang kecil di sebelah kanan kampung, kecuali makam Mbah Buyut Hasyim dan Mbah Buyut Iskandar yang terletak di gang kecil sebelah kiri kampung

Makam Mbah Buyut Hasyim Dan Mbah Buyut Iskandar
Makam Mbah Buyut Fatimah atau Nyai Ageng Fatimah

Ada pula sebuah gang kecil dari Kampung Selusin yang diberi julukan “Kampung Setengah Lusin”, sebab gang kecil ini hanya terdapat enam rumah.

Mayoritas penghuni Kampung Selusin adalah warga asal Madura dan selebihnya adalah warga asli Jawa. Walaupun memiliki latar belakang yang berbeda, warga Kampung Selusin tidak membeda-bedakan, saling menghargai antar-tetangga, selalu bekerjasama dalam melakukan sesuatu atau suka bergotong-royong. Dan juga memiliki jiwa pekerja keras serta pantang menyerah dalam memperoleh sesuatu sebagaimana ciri khas orang Madura.

Kebiasaan warga Kampung Selusin yang masih terlihat sampai sekarang adalah berkumpul dengan tetangga walaupun sekedar bersantai, mengadakan yasinan (membaca Surat Yasin) setiap malam Jumat, Manaqib setengah bulan sekali, Diba’an di musholla setiap malam Kamis, dan pengajian ibu-ibu yang diadakan bergilir setiap bulan.

Selain itu, kebiasaan yang sudah menjadi tradisi yakni mengirim doa atau sering disebut khaul pada 12 makam yang ada di kampung ini. Setiap khaul makam memiliki penanggung jawab atau koordinator sendiri yang dilimpahkan kepada warga. Misalnya, Pak Sul Tibiyanto, Ketua RT setempat yang menjadi koordinator khaul Mbah Buyut Muniroh atau Buyut Cinde selama bertahun-tahun sebab sangat sedikit warga Kampung Selusin yang mengetahui seluk-beluk tentang 12 makam Mbah Buyut tersebut.

Pak Sul juga pernah mendapat cerita dari temannya, yang bernama Pak Hajir (almarhum), bahwa Mbah Buyut Muniroh atau Buyut Cinde merupakan keturunan kesembilan dari Sunan Giri dari Sumenep. Mereka seringkali melakukan khaul untuk memperingati kematian orang-orang yang cukup berjasa di daerah mereka, namun khaul ini dilaksanakan di hari yang sama, yaitu setiap malam Kamis dan memiliki pembagian waktu untuk masing-masing makam.

Misalnya saja, khaul Mbah Buyut Muniroh atau Buyut Cinde dilaksanakan setiap malam Jumat Pon, khaul Mbah Buyut Datuk pada Malam Jumat Kliwon, khaul Mbah Buyut Dagang dilaksanakan setiap malam Jumat Legi, dan khaul Mbah Buyut 6 Makam dan Nyai Ageng Fatimah dilaksanakan setiap malam Jumat Pahing. Sedangkan khaul Mbah Buyut Hasyim dan Mbah Buyut Iskandar dilaksanakan setiap Malam Jumat Wage. Dan tidak hanya warga Kampung Selusin yang mengikuti khaul, warga dari kampung lain juga aktif mengikutinya.

Selain khaul, di Kampung Selusin terdapat tradisi khas lainnya, yakni tarian Madura yang sering disebut warga setempat dengan nama Tarian Tuk-Tuk Irama Samudera atau kêntrungan. Dalam tarian ini, seluruh warga mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa ikut berpartisipasi di dalamnya. Disebut Tarian Tuk-Tuk karena alat yang digunakan dalam tarian ini menimbulkan bunyi “tuk-tuk” saat dipukul. Alatnya terbuat dari kayu, namun ada yang terbuat dari besi atau logam.

Tarian ini sering ditampilkan dalam berbagai festival dan patrol keliling malam sêlikur di bulan Ramadhan dan juga sering mengikuti lomba. Namun karena para penari Tuk-Tuk Irama Samudera banyak yang sudah tua dan tidak ada generasi penerus, maka tarian ini ditampilkan minimal sebulan sekali atau apabila mendapat undangan untuk mengisi acara. Émané, Rèk…

Walah, piyé keadaané yooo kampung iku yèn di kanan-kiriné akèh makam koyok ngono… Di satu sisi, mereka merasa agak canggung dengan keadaan seperti itu, apalagi untuk pendatang. Namun di sisi lain, mereka juga merasa agak aman, karena Mbah Buyut tersebut pasti juga memiliki keistimewaan tersendiri dan ikut menjaga warga kampung disana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here