Oleh : Dukut Imam Widodo

Di dunia ini, siapa yang tidak suka kopi??? Hampir semua orang menyukai jenis minuman pahit satu ini. Bahkan seringkali saya mendengar dari pembicaraan kaum Adam, kalau merokok tidak ditemani dengan secangkir kopi rasanya kurang afdol. Dan tak jarang, banyak pasangan muda-mudi yang berantem hanya karena secangkir kopi. Lho, kok bisa??? Yaa, bisa saja…

Begini, tatkala seorang laki-laki sedang menikmati secangkir kopinya, semua hal yang ada di dalam pikirannya, bisa sirna dalam sekejap. Karena menurut kaum Adam, kopi dan rokok adalah teman paling setia yang bisa membantu mereka menghilangkan stress yang mendera.

Ada beberapa cerita dari teman-teman saya mengenai kopi ini. Salah seorang teman saya yang bernama Fatimah pernah bercerita kepada saya, bahwa sehari-harinya dia harus mengelus dada dengan melihat kelakuan suaminya yang sangat sulit untuk dibangunkan di pagi hari. Bagaimana tidak, dia membutuhkan waktu hampir setengah jam hanya untuk membangunkan suaminya tersebut.

“Maunya sih disiram pake air saja…”, begitu katanya waktu itu kepada saya.
Tapi sesaat dia nyêngir sendiri… Dan ketika saya bertanya mengapa dia bisa nyêngir sendiri seperti itu, dia pun menjawab :

“Lha kalok tak siram pake air biar suamiku bangun, bisa-bisa dikabyuk saya nantinya…”
“Saya pun ikut tertawa mendengarkan dagêlan Fatimah, teman saya itu”.
Lantas, saya pun bertanya lagi kepadanya : “Lha terus ya opo caramu nangèkno bojomu, Fat?”

Dia pun menjawab : “Gampang saja Mas Dukut, tinggal saya buatkan secangkir kopi kapal api yang masih ngêbul-ngêbul bau harumnya, kopi itu saya dekatkan ke hidungnya, pasti dia langsung terbangun”.

Saya pun ho-oh saja mendengarkan penuturan Fatimah…
Lain lagi cerita dari Fatimah. Teman saya yang lain yang bernama Eko, dia mempunyai pengalaman tersendiri dengan secangkir kopi ini.

Waktu itu saya bertemu dengan Eko pagi hari tatkala saya sedang bersepeda di hari Minggu. Sambil menghilangkan rasa lelah saya sejenak, saya pun mampir ke rumah Eko yang rumahnya tidak seberapa jauh dengan letak rumah saya.

Eko adalah teman nongkrong saya dikala saya ingin melepaskan penat sejenak setelah seharian saya harus menghadapi dan menyelesaikan pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran saya. Umurnya memang jauh lebih muda dari umur saya, namun dari cara dia berpikir, lumayan banyak juga pengalaman hidup yang sudah dilaluinya.

Lantas pagi itu pun saya ngobrol-ngobrol dengan Eko di teras rumahnya yang teduh. Tak lama saya duduk, istrinya pun menyuguhi saya dengan secangkir teh dan sepiring pisang goreng, karena Eko dan istrinya tahu kalau saya sudah tidak mengopi, apalagi merokok setelah saya divonis oleh dokter kalau jantung saya bermasalah.

Obrolan kami pun ngalor-ngidul, cerita-cerita lucu pun mengalir di obrolan kami. Sampai pada akhirnya, Eko pun bercerita kepada saya tentang pengalamannya dengan secangkir kopi…

“Sampèan wêruh ora Pak Dukut, lèk aku iling-iling karo kopi iki (sambil menunjuk secangkir kopinya), aku isyok ngguyu dhéwé…”“Lha nyaopo sampèan ngguyu dhéwé yèn iling-iling kopi iku?”, tanya saya penasaran.
“Ngéné cêritané… Pas aku karo Ida (bojoku iku) sék jaman pacaran ndisik, mêsthi tukaran aé gara-gara kopi”.
“Lha kok isyok ngono?”, tanya saya.
“Lha yo isyok aé… Lha wong sabên Sabtu pas Ida ngampirin ndik kos-kosanku gawé ngêjak mêthu mlaku-mlaku, aku mêsthi santai nyruput kopiku, padahal Ida wés ngêntêni aku lumayan suwé…”, jawab Eko.
“Jaré Ida pas waktu iku : Lèk sampèan sik suwé nyruput kopiné, aku tak mulih dhisik aé daripada aku ngêntèni sampèan jam-jaman ora mari-mari ngopiné… (lambéné Ida waktu iku mrêngut aé…)”, lanjut Eko.
“Lha sampèan onok-onok aé sé… Nyruput kopi aé suwiné koyok ngono…”, kata saya.
Yaaa itulah cerita-cerita yang pernah saya dapatkan dari teman-teman saya tentang secangkir kopi…

Kopi termasuk keluarga tanaman Coffea atau dalam Bahasa Latinnya disebut Rubiaceae, kalau Bahasa Malangnya ipok, kalau Bahasa Gresiknya yaa kopi saja. Tanaman kopi sesungguhnya merupakan tanaman semak atau pohon, dimana tingginya berkisar antara 3 sampai 15 meter. Bunganya berwarna putih dan harum baunya.

Biji kopi baru bisa dikatakan masak jika usianya sudah mencapai 8 hingga 12 bulan. Bijinya merupakan buah batu yang mengandung 2 biji kopi yang keras. Setelah dipetik, biji kopi harus dikeringkan dulu. Tahapan berikutnya, dibakar supaya mudah pecah, sehingga memudahkan untuk digiling. Jenis biji kopi yang terkenal sebagai minuman adalah Kopi Arabika atau Bahasa Latinnya Coffea Arabica. Satunya lagi adalah Kopi Robusta atau Coffea Conephora.

Pembaca, data-data ilmiah itu memang perlu saya sampaikan terlebih dahulu sebelum kita membicarakan masalah warung kopi yang sangat populer di Gresik. Dan kepopuleran warung kopi itu sudah tersiar sejak jaman kakek saya, Sosrolegeno, pada tahun 1920-an hingga sekarang.

Kakek saya termasuk penggemar berat kopi tubruk, waktu itu kopi kopyok belum begitu populer. Pada malam hari, ia sanggup cangkruk berjam-jam di warung kopi yang ada di Sentolang, dengan alasan : “Golèk cagak ê-lèk”.

Sebagian para lelaki Grissee tempo doeloe, dengan sengaja mengurangi jadwal tidurnya di malam hari. Agar mata mereka tetap bisa mêlèk, maka mereka menggunakan berbagai macam cara. Misalnya saja dengan mengobrol di gardu penjagaan yang ada di mulut desa atau cangkruk di warung kopi. Cagak artinya adalah tiang, sedangkan ê-lèk dari kata mêlèk. Jadi maksudnya adalah agar mata tetap terbuka.

Itulah bedanya warung kopi di jaman Grissee tempo doeloe dengan warung kopi yang ada saat ini. Kalau di Grissee tempo doeloe, hampir semua warung kopi yang ada, bukanya sepanjang malam hari hingga parang ésuk. Karena semakin malam, yang cangkruk semakin banyak. Berbeda dengan warung kopi yang ada sekarang ini. Bukanya mulai dari pagi hari, karena mereka menyediakan untuk para pekerja yang tidak sempati ngopi di rumah atau untuk anak-anak kost yang sambil menunggu jam masuk kuliahnya, mereka cangkruk dulu di warung-warung kopi yang ada di dekat kampus mereka.

P1012474bw copy

Dari Kopi Kopyok, Kopi Parkir, hingga Kopi Êndhas

Di coffee shop hotel-hotel berbintang atau yang ada di mall, kita biasa disuguhi dengan Cappuccino, Espresso, Café Mocha, maupun Turkish Coffee, dimana sambil nyruput kopi yang sudah diberi campuran macem-macem itu kita ngêmil cookies, cheese cake, atau chocolate cake. Tapi cêmilan yang enak-enak bin mahal itu hanya akan kita temui di kedai kopi yang harganya lumayan mahal seperti Starbucks, Excellso, Coffee Bean, dan lain sebagainya. Tidak mungkin Anda bisa temui makanan itu di warkop-warkop langganan sampèan, yang ada hanyalah gêdhang goreng, oté-oté, dan jenis gorengan lainnya.

Konsep antara coffee shop yang ada di mall-mall dan warung kopi yang ada di Gresik sebenarnya sama, hanya saja sebutannya saja yang berbeda. Kalau coffee shop kesannya mewah, mahal, dan tongkrongan orang-orang berduit. Berbeda dengan warung kopi yang ada di Gresik. Mungkin bisa sampèan lihat, yang ada di warkop-warkop tersebut wongé biasa-biasa aé, gak gantêng blass… Sampèan sing kesindir, ojok ngamuk karo aku lho yooo, aku cumak guyon kok…

Sebuah Cafe Yang Menyuguhkan Kopi copy

Hal yang terlihat berbeda di warung-warung kopi yang ada di Gresik adalah para pemilik warung kopi juga menciptakan kreasi kopi mereka sendiri. Ada yang namanya kopi kopyok. Kopi ini merupakan wèdhang kopi yang terbuat dari biji kopi pilihan yang paling keras. Cara pembuatannya adalah biji kopi pilihan tersebut ditumbuk tetapi tidak sampai halus, kemudian bubuk kopi yang masih kasar itu diletakkan di sebuah cangkir atau gelas dengan takaran sesuai selera. Lantas diberi sedikit gula dan dituangi air yang mendidih, tapi jangan diaduk. Sesaat kemudian, biji-biji kopi tersebut akan kêmapul dan melebihi tinggi gelas atau cangkirnya, bahkan bisa sampai meluber. Bagi para pecandu kopi, maka pilihan mereka jatuh kepada kopi kopyok ini, namun yang tidak biasa mengopi dan mencoba minum kopi ini, akan membuat mereka yang meminumnya nggliyêng… Lèk gak percoyo, cobaên ta la…

Kopi Parkir lain lagi ceritanya, bahkan terkesan menggelitik. Kopi ini bukanlah kopi yang aneh-aneh seperti yang ada di mall-mall atau pun seperti Kopi Kopyok, ini hanyalah kopi biasa. Namun berbeda saja cara memperlakukan kopi ini.

Namanya saja Kopi Parkir, jadi cara memperlakukan kopi ini pun layaknya kendaraan yang kita parkirkan. Maksudnya bagaimana? Begini, kalau Anda punya banyak waktu atau kurang kerjaan, sampèan bisa memperhatikan beberapa orang yang biasa mengkonsumsi Kopi Parkir ini. Sampèan perhatikan, pasti terjadi keanehan seperti yang pernah saya lihat…

Suatu hari, saya pernah janjian sama salah seorang rekan saya di sebuah kedai yang cukup sederhana di Gresik, dimana tidak jauh dari letak kedai tersebut, ada sebuah warung kopi yang saya perhatikan cukup lumayan customer-nya. Saya memperhatikan ada beberapa orang pemuda yang memesan secangkir kopi. Lantas, baru sedikit saja pemuda itu nyruput kopinya, pemuda itu pun pergi entah kemana. Selang beberapa menit lamanya, si pemuda tersebut datang lagi ke warung kopi tersebut dan masih mendapati kopinya di tempat semula. Karena kopi yang dipesannya sudah terasa tidak panas lagi, ia pun menghabiskan kopinya, membayarnya, lantas pemuda itu pun pergi.

Saat itu saya sempat merasa penasaran dengan apa yang saya lihat itu, karena tidak hanya satu orang pemuda saja yang melakukan hal tersebut. Saya mendapati beberapa orang pemuda yang melakukan hal yang sama. Keesokan harinya, karena masih merasa penasaran, saya pun menyempatkan diri untuk singgah ke warung kopi tersebut di sela jam makan siang saya. Dan saya pun menanyakan apa yang saya lihat kemarin kepada si empunya warung kopi. Alhasil, jawaban yang saya terima dari pemilik kopi pun mencengangkan saya…

“Iku wis biasa Mas, wong Gresik kéné iki yoo ngono iku kebiasaané… Pesen kopi, ditinggal sêdiluk, trus mbalik manèh ngêntèkno kopiné… Mangkané, masiyo wis ditinggal karo sing pesen kopi, kula mbotên ngrêsiki dhisik cangkir kopiné, soalé kula wis paham mêsthi wongé mbalik manèh…”, begitu penuturan dari pemilik warung kopi.
Lha, opo manèh iku Kopi Êndhas? Begini ceritanya…

Wong Gresik itu paling suka dengan kopi nasgitêl (panas, lêgi, kênthêl). Lha kalok pemilik warung kopi menyuguhkan secangkir kopi yang tidak panas karena berasal dari air termos, tidak manis, dan terlalu bening alias tidak kênthêl maka pada saat si customer akan nyruput kopinya, maka yang terlihat adalah bayangan êndhasé dhéwé… Maka, kopi yang bening tersebut terkenal dengan sebutan Kopi Êndhas!!! Kalau sudah begini, warung kopi semacam ini tidak akan bertahan lama alias gulung tikar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here