Oleh : Achmad Zubair Abdul Qudus

Entah kenapa disebut Kêmantèn Jadur. Bisa jadi karena adat pengantin ini diiringi kelompok pencak silat yang menggunakan bunyi-bunyian yang meriah seperti terdengar jêdur- jêdur-jêdur. Tradisi yang dilakukan di Desa Lumpur yang sudah ada sejak tahun 1600-an ini, sarat dengan simbol-simbol ajaran Islam. Itu sebabnya adat Kêmantèn atau Pengantin Jadur ini dijadikan salah satu media dakwah syiar Islam.

arakan-manten-selain-dimeriahkan-dengan-kembang-api-juga-diiringi-tradisi-pencak-macan-copy
Pencak Macan mengiringi Kemanten lanang menuju tempat Kemanten Putri

Penyebaran Agama Islam di Gresik memang tak lepas dari kriprah Sunan Giri. Sedangkan khusus untuk masyarakat Karang Pasung, menjadi tugas Sindujoyo, yang di kemudian hari menjadi sêsêpuh masyarakat Desa Lumpur.

Dakwah Islam dilakukan melalui berbagai media, termasuk melalui kesenian dan ritual pernikahan. Cara-cara seperti ini dilakukan oleh Sindujoyo karena sebelumnya pernah diajarkan oleh Sunan Giri.

Kêmantèn Jadur pada mulanya berasal dari Kêmantèn Tu’ nong, yang sudah ada sebelum Mbah Sindujoyo menginjakkan kaki di Karang Pasung. Kêmantèn Tu’nong merupakan tradisi dari warga Lumpur yang sangat kuat unsur Jawanya. Hal ini merupakan bukti bahwa Desa Lumpur pada masa sebelum Mbah Sindujoyo sangat lekat dengan ritual Hindu-Jawa. Maka Mbah Sindujoyo melakukan pendekatan budaya dengan cara mengisi tradisi Kêmantèn Tu’nong itu dengan simbol-simbol ajaran Islam dan mengubah namanya menjadi Kêmantèn Jadur.

Menilik kedua nama itu, bisa jadi Kêmantèn Tu’nong menggunakan iringan musik berupa gamelan yang berbunyi tuknong-tuknong, sedangkan dalam Kêmantèn Jadur menggunakan instrumen rebana, sehingga berbunyi jêdur-jêdur… Asalkan tidak menggunakan musik seperti di tempat-tempat dugêm saja, yang bunyinya jêdar-jêdur, yang membuat kepala pusing tapi mengenakkan seperti anak-anak muda yang alay tidak mempunyai tujuan hidup itu. Tapi lèk arèk Gresik, éson yakin dak onok sing aneh-aneh koyok ngono iku… Lha wong Kota Santri Rèk, yo dak usah macem-macem…

Kêmantèn Jadur merupakan prosesi pengantin yang terdiri dari Arak-arakan, Têmu Mantèn, dan Sungkêm. Masing-masing tahapan itu memiliki makna dan merupakan simbolisasi, begitu juga dengan alat maupun dari jalannya prosesi itu sendiri.

Dalam arak-arakan, terdapat kesenian Pencak Macan sebagai simbol dari liku-liku kehidupan yang nantinya akan dilalui oleh pengantin. Dalam Pencak Macan itu tergambar pertarungan kera, macan, gêndêruwo, dan kesatria yang masingmasing berperan dalam anggota keluarga istri, suami, setan (jahat), dan setan baik.

pencak-macan-beratraksi-di-halaman-rumah-manten-lanang-sebelum-berangkat-ke-manten-wedok-copy
Pertarungan Macan seperti ini yang selalu ditunggu tunggu warga hingga berjubel karena lokasi di perkampungan

Arak-arakan menggunakan lampu karbit sebagai simbol penerang jalan menuju liku-liku kehidupan dalam dunia pernikahan. Lampu karbit memiliki berbagai macam-macam bentuk, seperti segitiga, bintang sabit, kotak, atau lingkaran. Bentuk-bentuk tersebut merupakan simbol-simbol dari Agama Islam.

lampu-karbit-yang-digunakan-untuk-mengarak-agar-terlihat-meriah-copy
Lampu karbit yang digunakan sebagai payung mengiringi Kemanten Lanang, seiring perkembangan jaman sekarang diganti Lampu LED

Prosesi arak-arakan ini memiliki makna yang berintikan pada subyek arak-arakan itu sendiri, yaitu pengantin laki-laki yang di-arak dan juga sebagai objek, yaitu pengiring pengantin yang berada di depan dan belakang pengantin.

Pada keseluruhan posisi, dari yang terdepan mulai dari Pencak Macan sampai yang paling belakang, merupakan simbol dari kehidupan ajaran Islam yang berdasarkan tiga tahap, yaitu Hablum Minallah, yang bermakna agar selalu berdoa kepada Allah, dimana dalam posisi arak-arakan disimbolkan dengan lampu karbit dan juga musik hadrah.

Selanjutnya, Hablum Minannas, yang merupakan hubungan antara manusia dengan sesamanya yang disimbolkan dengan Pencak Macan, dan yang terakhir adalah Hablum Minalbi’ah, yaitu hubungan manusia dengan alam sekitarnya, dimana dalam posisi arak-arakan disimbolkan dengan mèlèki.

Hadrah, maknanya adalah agar perjalanan yang diterangi oleh dasar Islam juga selalu ber-shalawat kepada Rasulullah SAW. Dengan membaca dan mengkaji yang diucapkan oleh pengiring hadrah tersebut, dimaksudkan agar kehidupannya kelak mendapat syafa’at dari Allah SWT sehingga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Pengiring anggota kerabat beserta pengantin laki-laki berjalan sembari berpayung.

Pengiring sendiri merupakan simbol dari kekeluargaan, maknanya setiap kehidupan yang dilewati oleh pengantin laki-laki tersebut, anggota keluarganya dan kerabatnya selalu mendampingi.

Pengantin juga mengenakan payung dengan hiasan karbit atau lampu modifikasi, maknanya agar pengantin selalu dilindungi selaku kepala keluarga. Arak-arakan berhenti di setiap perempatan sebagai tanda agar masyarakat yang datang dari empat penjuru mengetahui bahwa adaupacara pernikahan yang dilakukan oleh pengantin yang mungkin dikenal oleh warga setempat.

Tahapan yang kedua dalam sebuah acara pernikahan adalah Têmu Kêmantèn, yang merupakan pertemuan antara pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan di rumah pengantin perempuan. Maknanya adalah pengantin laki-laki setelah melakukan perjalanan arakan melepaskan pengiringnya, termasuk juga mengganti baju yang dipakai sewaktu arak-arakan sebagai tanda pengantin laki-laki telah siap menjadi pemimpin rumah tangga.

Têmu Kêmantèn diawali dengan kedatangan rombongan arak-arakan dengan penampilan
Pencak Macan yang melakukan atraksinya, yang merupakan simbol dari ucapan permisi kepada tuan rumah untuk meminta ijin agar pihak pengantin perempuan mempertemukan pengantin perempuan dengan pengantin laki-laki.

Dan tahapan yang terakhir adalah Sungkêm, yang dimulai dengan mencium tangan kedua orang tua yang dimulai dari orang tua laki-laki dan perempuan dengan posisi duduk di bawah dengan posisi kepala dekat dengan lutut dengan tangan kanan dari orang tua dicium oleh pengantin laki-laki. Sedangkan tangan kiri dari orang tua, memegang pundak dari pengantin laki-laki.

Mencium tangan dimulai dari orang tua laki-laki, hal ini merupakan simbol bahwasannya tanggung jawab seorang laki-laki untuk mengemban tugas memimpin rumah tangga atau kepala rumah tangga merupakan posisi yang lebih tinggi di keluarga. Oleh karena itu, meminta restu kepada orang tua laki-laki lebih diutamakan. Setelah itu, lanjut meminta restu kepada orang tua perempuan atau ibu dari pengantin laki-laki.

Makna sungkêm adalah meminta doa restu kepada kedua orang tua dengan mencium tangannya yang diletakkan di lutut yang merupakan simbol kepatuhan anak. Sedangkan orang tua menepukkan tangannya di punggung atau bahu pengantin lakilaki sebagai makna bahwa anaknya disetujui untuk melanjutkan hidupnya menjadi seorang kepala rumah tangga.

Kemudian, dilanjutkan dengan ceramah agama dan duduk di kuwadé sebagai makna bahwa pengantin juga siap disaksikan oleh keluarga kedua mempelai sebagai keluarga baru. Dilanjutkan lagi dengan membaca macapat, yang bertujuan untuk menceritakan kepada pengantin agar selalu mengingat sosok pemimpin yang diseganinya, yaitu Mbah Sindujoyo.

Makna simbolik Kêmantèn Jadur juga terdapat pada alat-alat pendukungnya, mulai dari pakaian yang digunakan oleh pihak laki-laki, hiasan pada kêtopang, payung, dan sêsêrahan yang dibawa oleh ibu-ibu keluarga pengantin pria pada prosesi mèlèki.

Pakaian pengantin laki-laki merupakan simbol kemapanan yang besifat rohani, ragawi, dan duniawi. Semua tercermin dalam pakaian, mulai dari atas kepala yang menggunakan peci, bunga yang dipakai, dan juga pakaian yang berupa jas dan dasi. Peci yang dipakai oleh pengantin merupakan simbol ketaqwaan dan beragama. Bunga melati yang melingkar dari bahu kanan merupakan makna bahwasannya pundak kanan yang merupakan simbol dari kebaikan manusia, akan mengemban tugas amanat sebagai seorang laki-laki untuk menjadi kepala rumah tangga yang baik. Bentuk pakaian yang mengenakan jas yang rapi beserta dasi dan kemeja putih menunjukkan sebuah kemapanan atau kesiapan dari pihak pengantin laki-laki untuk memberi nafkah kepada keluarganya.

iring-iringan-pengantin-lanang-copy
Kemanten Lanang yang diiringi oleh kelompok Hadrah

 

Makna simbolik pada kêtopang atau lampu karbit merupakan simbol ajaran Agama Islam yang identik dengan bentuk-bentuk segitiga, lingkaran, persegi, bintang, dan bulan sabit. Kelima simbol ini merupakan bentuk kêtopang yang secara umum dipakai oleh warga. Kêtopang ini diberi lampu sebagai tanda bahwa simbol-simbol Agama Islam yang memiliki makna dapat selalu menerangi pengantin di dalam perjalanan dalam membina rumah tangga.

Sedangkan makna payung mantèn adalah simbol dari pengayom agar pengantin laki-laki dalam berkeluarga, dimana selaku kepala keluarga selalu bisa mengayomi keluarganya. Bentuknya bisa dalam memberikan perlindungan secara jiwa dan raga agar tidak mendapatkan gangguan yang dari hal-hal yang bisa mencelakakan keluarganya.

Sêsérahan pada prosesi mèlèki berupa jajanan kêmantèn yang dibawa dari rumah pihak pengantin perempuan dengan ditutup kain, sapu tangan, atau sêrbèt. Jajanan yang dibawa tergantung dari pihak keluarga pengantin perempuan, tetapi yang pasti harus membawa lêpêt. Walah… Éson sampèk mumêt mbayangno ribeté lèk arêpé kawin… Mesti kudhu ngelakoni têlung tahapan… Karêpê éson sé lèk éson kawin êngkok, éson dak usah athék ngono iku, langsung aé… Bèn cepet… Tapi oleh dak yooo???