Oleh : Kris Adji AW

Nontok kêmantèn ambèk Cak Awi
Mampiro tuku lêngo nang pabrik
Cino sing dadi Kapiten nang Betawi
Êêêê… Tibaké asliné têko Gresik…
Mbois Rèèèk…

Wêro ta kêno kabèh… Nèk tokoh-tokoh legendaris koyok Liem Soe Liong, Oei Tiong Ham, lan Gan Djie ngawali kariré sampèk dadi ngetop sak Indonesia iku têko Gresik. Pastiné mêlbu liwat Brug alias Pelabuhan Gresik. Setelah kaya-raya dan punya bekal yang cukup, mereka pun pindah ke Betawi (Batavia) alias Jakarta.

Untitled-1 copy

Coba amati bukti-bukti fisik yang ada di Gresik Kota Lama. Banyak gedung-gedung kuno nan megah itu konon adalah milik orang Cina. Seperti Gedung Genteng Guci sing sak iki dadi Gedung DPRD Gresik, Gedung Yang mBo di Pekelingan, Gedung Jogie di Kemuteran, sampèk Pabrik Inbisco sing wis dibongkar sebelahé Gedung Kabupaten sing lawas nang alon-alon iku. Apa ada hubungannya dengan Syahbandar Nyai Ageng Pinatih yang konon juga punya darah Cina?

Daerah Pecinan sekarang copy

Nèk kêno dak percoyo, iki lho gatèkno sang crito…

Meski sejak lama nama jalan di sekitar pusat pertokoan dan perdagangan Glodok Jakarta Barat itu diganti menjadi jalan Perniagaan, namun masyarakat lebih akrab menyebutnya sebagai Petekoan. Kawasan ini memiliki sejarah panjang, bahkan sejak jaman awal pemerintahan Kolonial Belanda. Karena kawasan China Town (Glodok, Pasar Pagi, dan Pancoran) ini sejak jaman Jan Pieterzoon Coen memerintah (Mei 1619) telah dijadikan kawasan Pecinan atau Perkampungan Tionghwa. Maka sangatlah wajar jika para Kapitain Cina pernah tinggal di sini.

Lho…opo manèh kok onok Kapiten Cina, apa ada hubungannya dengan Kapten Dulasim yang Tentara dan Pahlawan 1945 itu…. Terus, tugasé Kapiten Cina jaman Londo iku opo?

Begini, Kapiten Cina diberi tugas oleh Kolonial Belanda sebagai penasihat resmi mengenai adat istiadat Cina di pengadilan. Seperti Souw Beng Kong, Kapitain Cina pertama yang diangkat pada sekitar bulan Oktober 1619 yang juga berprofesi sebagai kontraktor pertama di Betawi. Souw juga memiliki seorang wakil yang bernama Jan Con, seorang Cina muslim yang membangun Masjid Bebek di Jakarta Barat. Kemudian tahun 1639, Souw mundur dan digantikan sementara oleh Lim Lak, seorang Cina muslim.

Kapiten yang ke dua yang resmi setelah Souw adalah Phoa Beng Gan yang berjasa menggali sungai atau kanal yang diapit oleh Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajahmada, serta membangun Kanal Harmoni (sekitar Sekretariat Negara).

Wah… umpamané Kapiten Phoa iki sik urip, Jokowi dak soro-soro ngurusi banjir… Dijamin dadi partner sing tayoh… Dak ngono ta, Rèk…

Sik… Sik… Sik… Jaré Cak Joko, kêno iki nglindur ta, Cak Kris? Jaré apéné crito soal Gresik, lha… kok kèt mau dak onok ambu-ambuné blass???

Sik ta Rèk, ojok kêsusu… Opo manèh kêdêngkul…

Ya sudah… tak mulai saja kisah yang saya janjikan tadi…

Begini…

Pada jaman dahulu kala, (lho… lho… lho.. kok koyok jaman Pudjangga Baroe ngéné carané mulai cerito…)

Sik ta, Rèk… Wong apéné crito kok diréwuki aé… Éson mutung lho yooo… Dak tak tutukno lho…

Ada seorang Cina totok dari wilayah Ciangciu, sebuah kota karesidenan di bagian selatan Provinsi Hokkian. Pada usianya yang sangat muda, ia datang ke Gresik yang tentu saja kapalnya bersandar di Brug, alias Pelabuhan Gresik mengikuti kakaknya yang lebih dulu datang di Pulau Jawa. Pria yang biasa dipanggil Gan Djie itu membantu kakaknya berjualan hasil bumi.

Gan Djie seorang pria yang jujur, ramah, dan sangat disukai oleh masyarakat yang menjadi pelanggan dan para tetangganya. Dan yang patut ditiru adalah semangatnya yang tinggi dan pantang menyerah dalam usaha mencapai cita-citanya. Gan Djie juga rajin sembahyang juga dalam waktu tertentu ia melalukan pang she, yaitu melepaskan makhluk hidup yang sedang menderita. Misalnya saja, burung atau ikan, yang merupakan perbuatan bijak menurut Agama Budha.

Setelah lama ia membantu kakaknya berjualan hasil bumi, ia meminta ijin kepada kakaknya untuk mandiri dengan berjualan kelontong keliling dari desa ke desa dengan memikul barang dagangannya sendiri.

Karena cara ia berdagang mendapat simpati dari para pelanggannya, maka usaha dagangnya menjadi cepat berkembang. Kemudian ia memperbesar usahanya sehingga tentu saja akhirnya ia harus menambah para kuli panggul untuk berdagang. Maka kini ia tak perlu memanggulnya sendiri.

Gadis Bali dan Kapiten der Chineeser

Hari menjelang malam, bias surya memancar jingga keungu-unguan, Gan Djie tampak begitu lelah meskipun tidak lagi memikul dagangan seperti para kuli panggulnya. Maka ketika ia melihat ada sebuah warung yang juga biasa dipakai menginap oleh para musyafir yang kebetulan lewat di ujung desa itu, Gan Djie bersama para kulinya pun menginap di warung itu.

Sebelum Gan Djie melepas lelah di peraduan, ia menyempatkan jalan-jalan menikmati pemandangan desa yang di sekitar warung. Naluri pendekarnya mengendus sesuatu yang mencurigakan ketika ia mendengar rumput dan patahan ranting terinjak benda berat.

Spontan ia menoleh ke belakang. Dan betapa terkesimanya ia ketika matanya menangkap sesosok gadis cantik mendekatinya sembari memberi isyarat gerakan telunjuk tepat di depan hidungnya yang mancung, pertanda ia mau berbicara dengan Gan Djie.

Dengan berbisik-bisik, gadis keponakan pemilik warung itu mengatakan, bahwa di warung itu ada tiga orang yang gelagatnya tidak baik. Gadis itu mendengar obrolan mereka menyangkut keberadaan Gan Djie. Karenanya Gan Djie diminta waspada.

Gan Djie sangat berterima kasih atas pemberitahuan itu, sehingga malamnya ia tidak tidur. Sambil membaca buku di tempat tidurnya, dengan pelita dibiarkan menyala serta golok kembar yang juga disebut hap to, diletakkan di sampingnya.

Esok paginya, ia tidak bisa langsung pergi meninggalkan warung untuk kembali ke Gresik, tapi ia berangkat agak siang sambil menunggu dan mencari teman seperjalanan. Intinya ia tak mau berangkat sendirian bersama kulinya saja untuk menghindari niat jahat tiga orang asing itu dan akhirnya sampai juga ia di Gresik dengan selamat, tanpa harus ada pertumpahan darah.

Tak akoni Gan Djie pancèn cerdik, Rèk… Timbangané mati sia-sia ngelawan rampok, bêcik sabar ngêntèni barengan, tapi slamet…

Berminggu-minggu sepeninggal peristiwa itu, Gan Djie sering sulit tidur. Ia selalu teringat kepada seseorang. Bukan pada tiga orang asing itu, tapi pada si gadis Bali yang hampir setiap waktu gambarnya tergores tegas pada pikirannya. Itulah yang memaksa kakinya untuk balik lagi mengunjungi warung si gadis Bali.

Tanpa basa-basi, apalagi cêngèngas-cêngèngès seperti Jacky Chan, ia menemui pemilik warung yang merupakan paman si gadis Bali itu dengan maksud tegas : Melamar!

Dengan alasan ingin membalas budi pada si gadis, ia menyatakan keinginannya untuk memperistri sang keponakan pemilik warung. Tentu saja kisah ini mudah ditebak. Akhirnya si gadis Bali menjadi istri Gan Djie dan selanjutnya dibawa pulang ke Gresik. Atas anjuran istrinya itu, akhirnya Gan Djie tidak lagi berjualan keliling lagi, tapi ia membuat toko di Gresik.

Beberapa tahun kemudian, Gan Djie berubah menjadi saudagar kaya di Gresik. Dan atas saran kerabatnya, ia pun pindah ke Batavia sekitar tahun 1659, kemudian menetap di wilayah yang sekarang disebut Petekoan (tahun 1960-an berganti nama Jalan Perniagaan) untuk berdagang hasil bumi.

Karena sikapnya yang baik dan suka menolong, ia menjadi seorang yang terkemuka di wilayah itu. Ia tidak pilih-pilih status dan latar belakang ketika ia menolong orang. Hingga pada suatu ketika, ia harus menolong dan merawat anak Joan Maetsuiker, seorang Gouverneur General Hindia Belanda (1653) yang secara tidak sengaja terpisah dari orang tuanya.

Atas jasanya itu dan juga atas usulan teman baiknya yang menjadi Kapiten der Chineeser Phoa Beng Gan, Gan Djie diangkat menjadi Kapiten China menggantikan Phoa Beng Gan yang telah berusia lanjut. Maka sejak tanggal 10 April 1663, ia menjadi Kapiten der Chineeser Gan Djie, Kapiten Cina generasi ke tiga di Batavia.

Air Teh dalam Téko

Kini Gan Djie menjadi orang sibuk, namun ia tetap orang yang rajin, baik hati, dan tidak sombong… Terbukti, ia biarkan orang-orang pribumi berjualan di depan kantor sang Kapitein atau bahkan sekedar berteduh.

Waktu cuaca begitu panas, orang sulit sekali mendapatkan sekedar seteguk air penangkal haus. Nèk sak iki ngono isyok tuku es dawet utowo es cao… Ndanéo suêgêré yoo… Lha jaman sak mono, opo wis onok pabrik es yoo??? Opo manèh kulkas…

Melihat kejadian itu, Nyai Gan Djie tersentuh hatinya. Maka ia mengusulkan pada sang suami untuk menyediakan teh tawar (aték banyu matêng lho, Rèk) di depan pagar kantornya. Dan bisa ditebak lagi, sang Kapiten pun setuju. Apalah artinya minuman itu bagi seorang Kapiten kaya seperti dia.

Kini tiap hari di depan kantor sang Kapiten der Chineeser Gan Djie telah berjajar meja-meja kecil yang di atasnya nangkring teko-teko alias poci (nèk Wong Gresik ngarani cèrèt) berisi air teh yang boleh diambil gratis oleh setiap orang yang membutuhkan.

Agar kebutuhan air teh itu mencukupi, maka disediakan delapan tekoan / poci air teh. Persediaan itu akhirnya menjadi ciri khas sebuah wilayah bagi warga yang berurusan dengan kantor Kapiten der Chineeser itu. Sehingga sampai hari ini, daerah itu disebut Pat-teko-an dan kemudian menjadi Petekoan.

Setelah tiga tahun berkuasa, pada tahun 1666, Kapiten Gan Djie meninggal dunia dan dimakamkan dengan cara yang megah di pemakaman Molenvliet Oost, kini bernama Hayam
Wuruk. Kemudian bisnisnya dilanjutkan oleh putranya, Gan Hoo Hoat.

Oleh karena kesulitan mencari penggantinya sebagai Kapiten Cina, maka Nyai Gan Djie diminta untuk menggantikan tugasnya sebagai Kapiten. Dikisahkan pula bahwa selama memerintah, Nyai Gan Djie telah banyak menyelesaikan berbagai persoalan rumah tangga warga Tionghwa.

Setelah 12 tahun memerintah (1678), sang Kapiten perempuan ini mengajukan pengunduran diri karena lanjut usia. Dan pengunduran dirinya akhirnya disetujui oleh pemerintah, bahkan Nyai Gan Djie mendapat penghargaan atas jasa-jasanya.

Dak nyono yo… Atasé Cino pedagang kelontong têko Gresik isyok dadi penguasa sing terkenal nang Ibu Kota… Ndanéo Wong Gresik sing pinter-pinter, antarané mêné-mêné onok sing dadi Presiden…. Asal dak presidené ludruk aé, Rèk…

Angka Halaman 12

Pergi ke halaman

Angka Halaman sebelumnyaAngka Halaman 11Angka Halaman 12Angka Halaman 13Angka Halaman 14Angka Halaman 15Angka Halaman 16Angka Halaman 17Angka Halaman 18Angka Halaman 19Angka Halaman 20Angka Halaman berikutnya