Oleh : Rudi Hermansyah

Kalau Anda membaca artikel-artikel yang ada di Buku Sang Gresik Bercerita ini, Anda akan sering menemukan berbagai macam artikel dengan tema telaga. Mengapa banyak sekali telaga di Gresik ini??? Wah, êmbuh iku Rèk, tapi yang pasti masing-masing telaga tersebut memiliki cerita sendiri-sendiri dan mempunyai makna yang berbeda bagi masyarakat yang tinggal di masing-masing telaga tersebut.

Ada berbagai nama telaga di wilayah Gresik ini, seperti Telaga Pojok, Telaga Bendung, Telaga Kembar, Telaga Kebon, dan lain sebagainya. Nah, di artikel yang satu ini, saya ingin menceritakan tentang Telaga Ngipik. Namun apa yang membedakan telaga ini dengan telaga-telaga lainnya??? Simak saja cerita saya ini yaaa…

Telaga yang terletak di Kawasan Industri Gresik ini dikenal sebagai tempat wisata air, latihan ski air maupun digunakan warga untuk memancing. Namun tidak banyak yang tahu bahwa ada yang menjadi penunggunya. Namanya Buyut Sono, yang makamnya berada di sisi barat telaga ini. Jagalah kesopanan dan tingkah laku yang baik serta tidak boleh bicara kotor karena penjaga telaga ini tidak menyukainya.

Penduduk sekitar suka mencari ikan di telaga ini sebab seakan tidak pernah habis kalau diambil. Air telaga yang bersih ini juga tak pernah surut. Dan di balik keteduhan suasana yang memang cocok untuk rekreasi itu, tak lepas dari sosok Buyut Sono, penunggu yang bersemayam dan menjaga telaga. Sono, dalam Bahasa Jawa berarti suatu tempat, namun juga dapat berarti orang yang penuh kasih.

Salah seorang warga setempat yang bernama Ibu Rukayah bercerita kepada saya, bahwa dia mengaku pernah melihat sendiri sosok ini secara kasat mata pada saat berziarah mengunjungi petilasan-nya pada ba’da Maghrib.

”Wongé perawakan apik, ganteng, irungé mbangir, bersih, mirip wong Arab. Senengané nggawé klambi takwah putéh lan nggawé sarung putéh, trus surbanan”, kata Bu Rukayah.

Konon, sosok Buyut Sono merupakan orang yang baik, dermawan, serta arif. Ketika beliau menampakkan diri pada sebagian orang, selalu terlihat dengan raut muka yang berseri dan tersenyum, seakan menunjukkan sikap keramahannya. Dulu, tempat Buyut Sono masih dikelilingi telaga dan ada sebuah barongan atau rumpun bambu dan sebuah batu berbentuk hampir persegi. Entah sejak kapan Buyut Sono ada di telaga ini, tak ada orang yang tahu, namun keberadaannya begitu disegani bagi masyarakat sekitar.

Alkisah, pada suatu malam, ada seorang wanita yang dipanggil Mak Atun. Dia melakukan peziarahan ke tempat Buyut Sono. Disitu dia mengaji Al Qur’an dengan niat tawasul, memohon kepada Allah SWT untuk dimudahkan rezekinya. Hal ini dilakukannya karena dia percaya bahwa jika berdoa di tempat yang baik, Insya Allah segala keinginan dan cita-citanya tercapai.

Di situlah Mak Atun mengaji dengan khusyuk dan memanjatkan doa kepada Allah SWT serta berkeluh kesah atas masalah hidup yang menimpanya.

”Awak kula mêlarat ya Allah, mugo-mugo oleh rezeki sing nyukupno kebutuhan keluarga kula, tulungên awak kula niki, badhé diparingi rezeki, sêdoyoé njaluk ingkang sing kuoso”. Begitu kira-kira doa yang dipanjatkan oleh Mak Atun kepada Allah SWT di makam Buyut Sono.

Ketika dia berdoa dengan kesungguhan hati dan khusyuk, tiba-tiba dari makam Buyut Sono muncul sebuah rambut yang bagus berbentuk seperti pohon cemara. Rambut itu seolah dikelilingi air yang berkilau, dan terdengar seperti ada isyarat bisikan halus bahwasanya beliau memberikan rambut itu untuk dirinya supaya dijaga serta digunakan sebaik-baiknya. Mendengar bisikan tersebut, Mak Atun pun pulang segera, dengan raut muka kebingungan serta gemeteran. Rambut itu diletakkan di meja kamarnya.

Beberapa hari setelah kejadian itu, kehidupan Mak Atun pun berubah perlahan-lahan. Rezeki datang kepadanya dengan cara yang tak terduga, kebutuhan dari keluarganya berangsur-angsur mulai membaik dan terpenuhi.

Selang waktu terus bergantti, entah sudah berapa lama Mak Atun hidup dalam keadaan yang serba berkecukupan, lantas membuat Mak Atun lupa untuk berziarah ke tempat Buyut Sono dan mengaji lagi seperti dulu.

Hari-hari pun berlalu seperti biasanya. Hingga pada suatu hari, entah kenapa Mak Atun ingin memberikan rambut tersebut kepada Mbah Murtani, mungkin dia sudah merasa berkecukupan.

Pada saat Mak Atun ingin memberikan rambut tersebut, tiba-tiba rambut itu menghilang begitu saja. Mak Atun pun merasa kebingungan. Kemudian ia bertanya pada semua orang yang berada di rumah tentang rambut yang biasa ia taruh di kamarnya. Tak seorang pun menjawab karena memang tidak tahu keberadaan rambut itu.

Setelah kejadian tersebut, Mak Atun tiba-tiba tersentak hatinya dan teringat akan bisikan halus bahwasanya dia diberi rambut itu untuk dirinya dan digunakan untuknya, namun malah akan diberikan kepada orang lain. Dan juga dia baru tesadar, kalau dia sudah lama tak berziarah dan mengaji ke makam Buyut Sono seperti dulu, semasa dia masih belum punya apa-apa dan hidup dalam kekurangan. Namun saat hidupnya telah mapan, dia melupakan segalanya, bahkan hanya sekedar berdoa untuk mengingat Allah SWT.

Setelah kejadian itu, perlahan namun pasti, kehidupan Mak Atun berubah kembali seperti dulu, dimana segalanya masih serba kekurangan dan masalah datang bertubi-tubi padanya. Dengan perasaan menyesal, Mak Atun mohon ampun pada Allah SWT atas segala dosa dan kelalaiannya mengingat Sang Pencipta-Nya.

Keesokan harinya, Mak Atun pergi untuk beziarah ke makam Buyut Sono serta mengaji Al Qur’an. Di sana, ia kembali dan meminta maaf karena tidak mampu menjaga amanah yang telah diberikan kepadanya. Dia pun merasa lebih legawa meski tidak mengubah hidupya seperti dulu yang serba berkecukupan, namun sekarang keadaannya lebih tentram.

Dalam lamunan Mak Atun, dia memikirkan mungkin dengan kekayaan yang dimiliki telah membutakan mata hatinya, namun dengan keadaannya yang sekarang, dia merasa lebih dapat mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa, Allah SWT. Maka dia pun ikhlas menerimanya.

Keikhlasan itulah yang membuatnya merasa lebih baik dengan hidup seadanya asalkan bersyukur serta amanah terhadap segala yang dititipkannya. Karena sesungguhnya, segala yang ada di dunia ini adalah milik Allah SWT dan manusia hanya dititipi saja.

Dalam kondisi Telaga Ngipik seperti sekarang ini, tak banyak tahu orang-orang tentang keberadaan makam Buyut Sono, karena dikelilingi oleh bangunan gudang-gudang yang berjajar menutupi makam tersebut. Makam itu sudah diberi pembatas atau pagar yang menutupinya. Karena pernah ada suatu kejadian yang tidak masuk akal sehingga membuat pembangunan perluasan wilayah pergudangan itu terhenti.

Contoh kejadian aneh itu misalnya, pada suatu hari ada seorang pegawai dari proyek tersebut meminta tolong kepada seorang Kyai untuk melihat apa yang salah dari pembangunannya yang membuat proyek ini terhenti. Sang Kyai pun segera datang ke tempat pembangunan tersebut pada malam hari dan mêlèkan.

Sekitar tengah malam, suasana pun berubah seakan hawa dingin lebih terasa, namun nuansanya penuh dengan kedamaian. Tiba-tiba, datang sosok putih dari tempat tersebut dengan mengucapkan salam : ”Assalamualaikum”, sang Kyai pun menjawab salam tersebut sambil bertanya : ”Waalaikum salam… Sintên jênêngan???” Sosok putih itu pun menjawab : ”Éson Buyut Sono. Sing njogo telogo iki”.

Kyai pun bertanya kembali : “Kados pundi nopo’o kok sagêt tempat niki mbotên dipun angsal mbangun?”

Sosok putih tersebut menjawab lagi dengan jawaban lebih panjang : ”Soalé tujuané mbangun iki karêpé ngilangno keberadaané telogo iki, éson dak seneng lèk telogo iki diilangno, tolong sampèkno karo menungso sing arêp ngrusak tok isyoké. Lèk pancêt diterusno, pesenku sitok, ojok sampèk mindah telogo iki, nah lèk sampèk dipindah, keluargamu lan anak-cucumu lan panggonan sing bakal ditempati isyok tak êntèkno…”.

Kyai itu pun menjawab : ”Sêpuntên sing kathah nggih lèk kados ngotên, mangké kula sampèk akên tên liyané”.

Kemudian sosok tersebut berpamitan dan mengucapkan salam kepada Kyai dan menghilang.

Keesokan harinya, peristiwa yang terjadi malam itu diceritakan kepada pegawai yang meminta tolong kepadanya. Pegawai itu pun kaget dan meminta maaf jika pembangunan yang ia lakukan merusak tempat Buyut Sono.

Dari cerita itulah akhirnya dibangun sebuah pembatas seperti pagar dari kawat yang membatasi tepian dari makam tersebut agar proyek pembangunan tidak merusak daerah telaga tersebut.

Kyai pun memberi nasehat pada pekerja tersebut bahwasanya untuk mengerjakan sesuatu di tempat orang lain harus memohon izin terlebih dahulu, karena kita hidup secara berdampingan dengan yang ghaib. Mungkin kita tidak dapat melihat mereka, tapi mereka dapat melihat kita, dan jika kita berpamitan atau minta izin pada yang ada disana, Insya Allah segalanya dapat berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan. Ngotên lho, Dulur…