Oleh : Yunita Rahmah

Di Kampung Trate, Kecamatan Gresik, ada makam kuno yang dikenal dengan nama makam Mbah Buyut Senggulu. Konon, asal kata Senggulu itu adalah Sangguru atau Sengguru. Lho, apa karena Wong Gresik pèlat sehingga tidak lancar mengucapkan huruf “R” sehingga berubah menjadi Senggulu? Konon juga, riwayat Buyut Senggulu ini ada hubungannya dengan asal mula Pasar Bandeng. Wah, menarik ini… Tapi jangan lupa, atur ulang duduk Anda sedemikian nyaman, beri bantalan di punggung Anda, biar Anda enak meneruskan membaca artikel ini. Wis dicoba??? Monggo dilanjut bacanya…

Yang dipercaya oleh masyarakat setempat, bahwa Buyut Senggulu itu katanya merupakan leluhur bagi masyarakat Gresik. Beliau dipercaya memiliki peran yang sangat besar pada jaman dahulu, tepatnya pada masa pemerintahan Giri VII (Pangeran Mas Witono), diperkirakan sekitar tahun 1600-an.

Nama asli Buyut Senggulu adalah Syech Djalaluddin, yang hidup pada masa Pangeran Mas Witono dan merupakan salah satu tangan kanan atau orang kepercayaan Pangeran Mas Witono. Bersama Pangeran dari Solo, Syech Djalaluddin diutus oleh Pangeran Mas Witono untuk berdakwah di daerah Gresik. Kebetulan Buyut Senggulu mendapat amanah untuk berdakwah di sekitar daerah yang kini bernama Trate. Sedangkan Pangeran dari Solo diamanatkan untuk berdakwah di daerah yang kini bernama Benowo.

Syech Djalaluddin dipanggil dengan sebutan Buyut Senggulu oleh masyarakat sekitar karena selain sebagai pendakwah, dia juga seorang guru. Oleh karena itu, dia dipanggil Sang Guru. Menurut Bahasa Gresikan, kata sang memiliki arti éson atau saya, seperti dalam kata sang bojo, yang berarti istriku / suamiku, atau sang nggon yang berarti panggonané éson atau juga sang omah yang berarti omahé éson (rumahku). Dalam kata Sang Guru juga demikian, yang berarti Guruku.

Dan mengapa julukan Sang Guru berubah menjadi Senggulu? Tidak perlu diperdebatkan, karena hanya masalah pengucapan saja, namun maknanya tetap sama. Wis ta lah, sampèan dak usah protes, opo manèh sampèk mêtu urat guluné siro…

Diperkirakan juga Buyut Senggulu hidup pada masa yang sama dengan Buyut Biting yang makamnya juga tak jauh dari makamnya. Mereka merupakan orang yang suka menolong masyarakat Gresik, hanya beda caranya.

Ilustrasi-Pasar-Bandeng

Buyut Biting adalah orang yang bekerja menggunakan biting (sapu lidi), kemudian uang hasil kerjanya diberikan kepada fakir miskin dan seperti yang ditulis diatas, Buyut Senggulu kerjanya dalam bidang dakwah. Bidang mereka memang berbeda, tapi sama-sama berjuang dan menyebarkan kebaikan di daerah Gresik yang dibanggakan ini.

Tidak diketahui, kapan Buyut Senggulu ini wafat, apalagi lahirnya. Yang kemudian bisa diperkirakan, Buyut Senggulu meninggal pada malam Jum’at Kliwon. Makam Buyut Senggulu sendiri berada di daerah Trate, disamping warung Nasi Krawu Buk Tiban, warung Nasi Krawu yang sudah terkenal di Gresik ini, sopo sing dak wêruh?

Nèk sampèan nggolèki makamé pancèn rodok angèl. Lokasinya masuk gang kecil yang pojoknya buntu. Gangnya tidak begitu panjang. Ada sebuah musholla di pojok gang persis di sebelah rumah yang terdapat makamnya. Ukuran makamnya panjang, namun masih terawat hingga sekarang. Tetapi meskipun ukuran makamnya panjang, tinggi orangnya tidak sepanjang makamnya. Tinggi badannya sama seperti orang pada umumnya. Lho, éson kok isyok ngerti? Yo iyo lah éson ngerti… Lha wong éson sering diceritani karo Pak Dukut sing doyan blusukan koyok Gubernur kuwi kok…

Adapun garis keturunan Buyut Senggulu dengan Sunan Giri dapat digambarkan seperti ini :

Sunan Giri – Sunan Dalem – Sunan Deket – Pangeran Tumapel – Pangeran Setro – Buyut Senggulu

Buyut Senggulu memiliki tiga orang anak, semuanya perempuan, yaitu Nyai Mas, Nyai Anger, dan Nyai Werugil. Nyai Mas bersuamikan Kyai Qomis Tunggulwulung, keturunan Kerajaan Palembang. Kyai Qomis merupakan ahli kanuragan yang sangat sakti. Dialah yang menjaga keamanan Gresik dari orang-orang luar yang hendak mengacau Gresik dengan ilmunya. Nyai Mas dan Kyai Qomis inilah yang melahirkan seorang anak yang di kemudian hari menjadi Bupati pertama Gresik, yaitu Mbah Pusponegoro.

Dikisahkan pula, hubungan antara Gresik dan Palembang pada zaman itu sangat erat. Sehingga keluarga Kyai Qomis dari Palembang setiap menjelang Hari Raya selalu sowan ke Buyut Senggulu. Masyarakat Gresik menyambut rombongan keluarga Palembang dengan suka cita. Karena banyaknya tamu yang hadir, masyarakat Gresik kemudian berjualan oleh-oleh berupa aneka macam makanan dan cinderamata di sepanjang jalan yang sekarang bernama Jl. H. Samanhudi.

Karena Gresik merupakan penghasil ikan bandeng, maka pada saat keramaian itu juga dijajakan ikan bandeng kepada rombongan tamu dari Palembang itu tadi. Nah, diduga inilah yang kemudian berkembang menjadi tradisi Pasar Bandeng sebagaimana yang dikenal sekarang ini.

Buyut Senggulu memang tidak memiliki keistimewaan khusus, hanya seorang ahli dakwah dan orang kepercayaan Sunan Giri VII. Namun Buyut Senggulu meninggalkan tradisi bagi masyarakat Gresik yang masih dilakukan hingga sekarang. Meskipun fungsi dari tradisi Pasar Bandeng sudah berbeda, tidak lagi sebagai penyambutan dan menjual oleh-oleh untuk tamu.

Pasar Bandeng menjadi salah satu tradisi yang berciri khas Gresik yang selalu diselenggarakan di sepanjang Jl. H. Samanhudi. Coba saja pindahkan tempatnya, maka Pasar Bandeng tidak akan seramai seperti semula, karena ini memang warisan dari seorang ulama besar, yakni Buyut Senggulu… Dak percoyo sampèan??? Cobaên dhéwé ta lah…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here