Oleh : Rudi Hermansyah

Sudah banyak sejarah yang tertoreh di Kota Gresik. Dalam sejarah yang tertulis, Gresik merupakan pusat perdagangan dan tempat persinggahan bagi para pedagang dari bangsa asing. Jalur perdagangan inilah yang akhirnya digunakan sebagai tempat penyebaran Agama Islam.

Pada masa dulu, ada yang mengatakan bahwa Kota Gresik bernama Qarr-Syaik yang berasal dari Bahasa Arab yang artinya menancapkan sesuatu. Dari kata sesuatu itu diartikan sebagai jangkar kapal yang ditancapkan oleh awak kapal sebagai pertanda kapal akan berlabuh. Sedangkan dalam Bahasa Jawa, berasal dari kata Giri Gisik, yaitu ungkapan yang menyebutkan nama Giri-Isa yang berasal dari kata Giri yang berarti bukit, sedangkan Giri-Isa atau Giri Nata berarti Raja Bukit.

Pada sebuah inskripsi yang tertulis pada makam Bupati Gresik terdahulu, tertulis nama Tandes. Istilah Tandes yang merujuk pada suatu daerah (kini Gresik) dalam kesusastraan Jawa ini terukir pada sebuah batu berbentuk lingga, yang terletak di depan makam Tumenggung Poesponegoro

Inskipsi dalam Bahasa Jawa Madya ini berbunyi : “Puniko wêwangun hing Kanjeng Tumenggung Poesponegoro hing negeri Tandes, hisakala sami adirasa tunggal masaluhu tanggala titi”. Yang artinya : Ini adalah bangunan persembahan Kanjeng Tumenggung Poesponegoro di Negeri Tandes (Candrasengkala memet yang berarti tahun Saka 1617), Tuhan Allah Yang Maha Tinggi.

Awal pemerintahan Gresik yang pertama dipercayakan kepada seorang Bupati yang bernama Kyai Toemenggoeng Poesponegoro, kepercayaan pemerintahan diberikan oleh Amangkurat II, yaitu Raja dari Kerajaan Mataram setelah berhasil meruntuhkan kekuasaan Dinasti Giri.

Pada masa itu, Giri Kedaton mengalami kemunduran, sehingga gelar yang awalnya Panembahan digantikan dengan nama Pangeran yang mengubah maknanya sendiri yang hanya menjadi simbol kekuasaan duniawi saja, namun tidak secara spritual.

Meski pemerintahan di Giri Kedaton masih mendapat pengakuan, namun di Gresik sendiri terbentuk pemerintahan sendiri yang berupa kabupaten yang merupakan bagian dari Mataram. Pada awal pemerintahannya, Bupati bersama-sama memimpin dengan para Pangeran di Giri Kedaton, sehingga pada masa ini disebut dengan periodesasi Giri dan Gresik.

Tempat air yang ada didepan Cungkup Makam Poesponegoro.

Nama Bupati Gresik saat itu adalah Kyai Toemenggoeng Poespo Negoro. Jika dimaknai satu persatu adalah sebagai berikut. Arti nama dari Kyai berasal dari Bahasa Persia, yang artinya orang yang terpandang, yang suka melakukan perjalanan dalam konteks berdakwah. Sedangkan arti dari kata Toemenggoeng adalah gelar kebangsawanan dalam Jawa dan Puspa yang berarti bunga. Dan Negoro artinya negeri. Jadi secara keseluruhan, arti dari Kyai Toemenggoeng Poespo Negoro I adalah seorang pendakwah dalam golongan bangsawan yang akan mengharumkan negerinya seperti bunga.

Tumenggung Poesponegoro lahir dengan nama Bagus Lanang Poespodiwangsa yang merupakan keturunan dari Raden Kusen, yang lahir dari ibu keturunan Cina bernama Siu Ban Ci dan ayah bernama Arya Damar. Selain menurunkan Bupati Gresik sampai tahun 1926, Tumenggung Poesponegoro juga menurunkan Bupati-bupati Bangil, Demak, Jepara, Lamongan, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Pati, Semarang, Surabaya, dan Trenggalek.

Kyai Toemenggoeng Poespo Negoro I merupakan seorang Bupati yang arif serta bijaksana, yang memberikan kedamaian serta ketentraman bagi rakyatnya. Beliau juga merupakan pemimpin yang memiliki rasa toleransi tinggi terhadap sesamanya hingga akhir hayatnya.
Pada masa pemerintahannya, Beliau pernah membangun sebuah pabrik meriam, yang digunakan sebagai pertahanan bagi Kabupaten Gresik, sehingga Gresik memiliki sendiri detasemen pasukan meriam Sarageni, dengan meriam raksasa Kyai Kalantaka (waktu kematian) yang kemudian diletakkan di alun-alun dengan moncong meriam yang mengarah ke pantai Gresik.

Setelah wafat, Kyai Toemenggoeng Poespo Negoro I dikebumikan di Desa Gapuro Sukolilo. Di dalam kompleks makamnya juga terdapat makam para Tumenggung lainnya yang masih keturunannya, diantaranya Ario Negoro, Djoyonegoro, dan Suronegoro, serta para kerabat.

Kompleks makam Poesponegoro terletak di Desa Gapuro-Kota Gresik yang bersebelahan dengan lokasi makam Maulana Malik Ibrahim yang merupakan salah satu penyebar Islam di Tanah Jawa. Kompleks pemakaman yang bernuansakan Jawa dan Arab ini benar-benar membawa kita seakan berada di masa lalu. Ukiran dan pahatan yang halus dengan tulisan dari Bahasa Jawa dan Arab membuat keindahan tersendiri bagi makam tersebut, namun tetap kental dengan kesan spiritual dan kultural di masa lampau.

Saat memasuki kompleks makam, ada sebuah gapura kuno yang nampak kokoh menyambut para peziarah yang hendak berdoa di dalamnya. Dan pada area pemakaman tersebut, terdapat pohon-pohon kamboja yang jumlahnya tidak sedikit serta makam-makam kuno tanpa identitas sehingga tidak mudah mengenalinya, membuat kesan wingit serta buluk kuduk merinding.

Di Prasasti ini juga menceritakan keadaan Gresik di masa Bupati Poesponegoro.

Kearifan, kebijaksanaan serta ilmunya yang tinggi, membawa kejayaan bagi Gresik pada masanya, membuat sosok Sang Bupati sangat disegani dan dihormati. Sepeninggal sang Bupati, banyak peziarah yang mengunjungi makamnya hanya untuk sekedar mengaji dan berdoa.

Dari beberapa sumber mengatakan, barangsiapa yang mengaji dan berdoa di makam itu berupa doa untuk menambah kewibawaan, naik pangkat, dan yang beerhubungan dengan kedudukan, insya Allah akan terkabul. Dengan catatan bahwa isi doa yang dituju seharusnya hanya satu, yaitu Allah SWT.

Para pezaiarah yang berkunjung ke makam Kyai Toemenggoeng Poespo Negoro biasanya dilakukan pada malam Jumat Legi, karena pada tradisi Jawa, pada malam Jumat Legi merupakan malam yang diistimewakan.

Peziarah yang datang memiliki berbagai tujuan, terutama untuk memenuhi keinginan yang belum tercapai. Ada yang meyakini, barang siapa yang menyapu atau membersihkan makam Eyang Poesponegoro, akan mendapatkan petunjuk sesuai apa yang dicita-citakan, insya Allah…

Namun pada hakekatnya, sekarang ini banyak dari peziarah yang seenaknya saat melakukan ziarah. Mereka kurang menghargai arti penting peninggalan sejarah, dimana saat berkunjung kurang memperhatikan kebersihan dengan masih banyaknya sampah-sampah bekas pengunjung yang berserakan dimana-mana. Mereka kadang mempunyai tujuan yang kurang baik pada saat ke makam, dimana kadang menjurus pada kesesatan. Naudzubillah min dzalik…

Sesungguhnya, segala sesuatu terjadi di dunia ini atas kehendak Allah SWT dimana sepatutnya kita tetap memohon kepada-Nya. Sekaligus meluruskan tentang bagaimana adzab untuk berziarah yang baik, yaitu dengan memanjatkan doa pada Allah SWT dengan cara membaca Al-Qur’an serta mendoakan agar diberi kelapangan dan diterima segala amal baiknya, sehingga kita mendapatkan berkah dari orang yang meninggal yang kita doakan.

Sesunggguhnya, orang yang dimulaikan oleh Allah dan ditinggikan derajatnya, insya Allah akan memberikan keberkahan bagi kita yang mau mendoakannya. Jangan sekali-kali mencoba meminta pada makam dengan adzab berdoa yang salah sehingga menjurus pada kesesatan. Sangat disayangkan jika tempat yang baik digunakan sebagai tempat kesesatan…

Batu Kodok yang ada di depan pintu masuk Cungkup Makam Poesponegoro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here