Oleh : Cak Fatah Yasin

Desa Lumpur berada di wilayah Kecamatan Gresik Kota. Sejak dulu, Desa Lumpur memang terkenal banyak tambaknya. Air dari tambak itu, disamping dari air hujan juga dari banyu rob, yaitu air laut yang pasang. Dan di pematang tambak itulah terdapat sebuah makam yang biasa disebut Buyut Syarap. Ada saja orang yang percaya bahwa di makam ini bisa didapatkan kesaktian. Padahal isi makam itu, katanya, hanya sebuah kepala saja alias ndhas glundung. Wuaduuuhhh, sêrêmé Rèk…

Bagaimana proses terisinya tambak oleh air laut pasang itu? Di tengah areal pertambakan itu, ada sebuah kali atau sungai yang memanjang dari tambak yang paling utara sampai ke tepi laut. Sungai ini memang sengaja dibangun sejak jaman Belanda. Di kedua ujung sungai itu dibangun dam atau bendungan.

Ketika air laut pasang, maka bendungan yang ada di tepi laut dibuka sehingga air laut langsung masuk kali atau sungai buatan itu, kemudian mengalir ke tambak-tambak. Bendungan baru ditutup ketika air sudah dirasa penuh.

Selanjutnya, setelah air laut itu benar-benar surut barulah bendungan atau dam yang berada di tepi laut itu dibuka. Maka bersamaan dengan mengalirnya air ke laut, dengan derasnya sampah-sampah yang ada di sungai itu ikut terhanyut ke laut sehingga air sungai menjadi bersih. Anak-anak sangat senang menikmati hal ini sehingga mereka bebas mandi dan berenang.

Mayoritas warga Lumpur mempunyai mata pencaharian sebagai petambak dimana tambak-tambak mereka ditaburi nènèr ikan bandeng, udang windu, ikan bader, maupun mujaer. Nah, di salah satu batas antar tambak yang disebut galêngan itulah terdapat sebuah makam yang oleh warga disebut dengan makam Buyut Syarap.

Menurut cerita orang-orang tua, pada jaman dahulu orang-orang suka melakukan tirakat atau kêlakoan untuk mendapatkan tambahan ilmu kadigdayan atau ilmu kesaktian untuk menjaga diri dan tamèng awaké dari gangguan-gangguan luar, terutama memantau atau mengawasi tambak-tambak yang ikannya sudah besar-besar dari incaran pencuri, atau pun menjaga diri dari gangguan-gangguan di tengah laut saat mencari ikan.

Salah satu lokasi untuk tirakat itu berada di galêngan tambak itu tadi. Konon, makam tersebut hanya berupa kepala yang di kubur di tempat itu. Sumber yang lain mengatakan salah seorang pandèga tambak yang sedang mengerjakan penggalian tanah di tepi tambak telah menemukan potongan kepala, kemudian langsung menguburnya di galêngan tambak tersebut. Setelah dikubur, lalu dibuatkan payonan atau semacam payung agar tidak kepanasan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cungkup Makam Mbah Sarap

Biasanya, orang yang datang ke tempat itu, apalagi orang tersebut punya kebiasaan melakukan tirakat atau kêlakoan hanya ingin bertemu kepala tersebut, namun mereka banyak yang tidak berhasil. Mereka penasaran karena sering diceritani ambèk wong-wong tuwo, kalau berhasil bertemu, diharuskan posisi badan berdiri tegak dan menunggu kepala tersebut memutar-mutar di kaki dan dibayangkan pada waktu itu seakan-akan kaki di ikat dengan tali.

Jika kepala tersebut berhenti, maka kita disuruh duduk seperti duduk jongkok dan kepala tersebut akan terbuka mulutnya. Dan di dalam mulut yang terbuka itulah akan nampak sebuah permata semacam berlian yang bersinar dan bercahaya. Segera ambil dan simpan berlian itu, setelah itu baru kepala tersebut baru hilang dengan sendirinya.

Itulah peristiwa yang diharapkan oleh orang-orang yang sering melakukan tirakat atau kêlakoan itu hanya untuk mendapat sebuah permata yang bersinar dan bercahaya terang tersebut.

Saya sendiri pernah mendapat cerita itu secara langsung dari orang tua saya pada waktu saya masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau setingkat Sekolah Dasar. Dikisahkan, ketika orang tua saya masih anak-anak, sebagaimana lazimnya anak-anak, suka bermain-main di kampung-kampung, di tepi atau di pinggir laut dan juga di tambak-tambak.

Kadangkala tak kenal waktu karena asyiknya bermain. Padahal orang-orangtua sering berpesan kepada anaknya : “Nèk dolèn wêruho wayah“. Maksudnya adalah kalau bermain tahulah waktu, jika waktu siang hari atau waktu sholat dhuhur atau waktuné bêdhuk, atau waktunya sore menjelang sholat maghrib, cepat nang moléh atau pulang.

Pada siang hari yang sepi, ayah saya (ketika masih kecil tentunya) sedang sendirian asyik bermain di areal tambak, sementara teman-temannya banyak yang sudah pulang. Seketika itulah muncul sebuah kepala yang mengitari atau mengelilingi dan memutar-mutar di kakinya. Karena diserang takut yang luar biasa, ayah saya lari terbirit-birit dan segera pulang.

Dengan nafas yang ngos-ngosan sampai di rumah lalu ditanya oleh ayahnya, yaitu kakek saya. Diceritakanlah apa yang terjadi saat bermain di tambak waktu siang hari tadi dengan rasa takut dan gemetaran. Mendengar cerita yang disampaikan oleh anaknya tadi, spontan Si Mbah saya kaget dan mengatakan pada ayah saya :

”Gundul… Gundul… Gundul, awakmu nèk wêruh koyok ngono iku, êntènono disék sampèk êndhas gêlundungé mandêk, terus awakmu lungguho nang ngarêpé êndhas iku, terus êntènono sedilut êngkok cangkêmé lak mbuka… Nèk cangkémé wis mbuka, dêlokên nang jêroné cangkêm iku lak onok permata sing nyunar… Lha iku jukuên… Iku ngono awakmu êngkok isyok dadi wong sakti…”

berburu-ilmu-kesaktian-lewat-mutiara-buyut-syarap

Ya itulah sekilas tentang Buyut Syarap dan makam tersebut sekarang berada di belakang sebelah utara Plaza Gresik atau terminal Gubernur Suryo Gresik. Soal percaya apa tidak, itu sudah menjadi bagian dari tradisi lisan di masyarakat Desa Lumpur.