Oleh : Mochammad Amrullahil Mabrur

Seperti yang sudah diceritakan secara terpisah, bahwa Desa Banjarsari ada dua. Yang satu berada di wilayah Kecamatan Manyar dan yang satu lagi berada di wilayah Kecamatan Cerme. Saat ini, saya ingin menceritakan tentang Desa Banjarsari yang berada di wilayah Kecamatan Cerme.

Desa Banjarsari yang berada di wilayah Kecamatan Cerme ini dikelilingi tempat-tempat yang dikeramatkan dan menjadi batas wilayah desa. Menurut cerita para sesepuh dulu, desa ini adalah pintu gerbang utama wilayah Gresik, keluar-masuknya bangsa ghaib. Bagi para calon kepala desa, diwajibkan mengelilingi desa ini melalui tempat-tempat tersebut agar bisa slamêt.

Tempat yang dianggap keramat itu adalah Makam Mbah Banjarsari yang terdapat di Perumahan Banjarsari Asri, Makam Mbah Kulaan di Dusun Betiring yang berbatasan dengan perumahan, Telaga Betiring di Dusun Betiring, Makam Sesepuh Dusun Betiring yaitu Mbah Panggres, Makam Mbah Dingkul di Dusun Betiring, Gêmuk atau Bal Gênding di Waduk Bunder, Logo (telaga) Banjarsari di Desa Banjarsari, dan Makam Mbah Sengkreng yang letaknya berbatasan dengan Desa Padeg.

IMG_1745bw copy

Makam Mbah Banjarsari adalah makam sesepuh atau cikal bakal adanya Desa Banjarsari. Beliau adalah salah satu murid Sunan Giri. Namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau masih kerabat Sunan Giri. Entah siapa nama aslinya. Dari dua makam yang ada di sini, versi orang-orang tua menyebut bahwa disitu adalah Makam Mbah Ngariden dan Mbah Riati.

IMG_1755bw copy

Sedangkan versi paranormal setempat mengatakan bahwa meskipun ada dua makam, namun makam yang benar hanya ada satu orang, karena makam yang satunya lagi adalah makam yang berisi baju atau pusakanya saja.

Makam ini dulunya hanya berupa gundukan tanah yang di atasnya banyak terdapat jamur dan dikelilingi pohon-pohon besar berdaun lebat dan rindang, sebelum ditemukan dan dipugar oleh warga sekitar. Dan sekarang sudah menjadi makam yang bagus, lengkap dengan keramik dan dikelilingi pagar.

IMG_1716bw copy

Makam Mbah Kulaan atau Mbah Singosari, dipercaya masyarakat dulu bahwa tempat ini adalah tempat untuk syiar, pertemuan, dan pendidikan Agama Islam. Makanya dinamakan kulaan, yang diambil dari kata sekolahan atau pêkulaan. Letaknya di Dusun Betiring, berbatasan dengan Perumahan Banjarsari Asri.

Ada dua makam di sini, makam yang pertama adalah Makam Mbah Singosari, yang konon juga sebagai panglima perang yang gagah berani dan juga murid dari Sunan Giri. Makam yang kedua 2adalah makam muridnya. Di sekitar makam masih terdapat makam-makam lainnya, yang kebanyakan orang mengatakan murid dari beliau juga.

Gêmuk atau Bal Gênding adalah sebuah gundukan tanah yang menyerupai pulau kecil dan banyak tumbuhan liar dan pepohonan. Warna tanahnya agak berwarna hitam. Letaknya tidak jauh dari samping bibir Waduk Bunder. Kata Gêmuk berarti Suket atau Rumput, Bal berarti Kumpulan, dan Gênding berarti gêndingan atau suara yang ditimbulkan dari alat musik seperti gamelan.

Gumuk Gending copy

Dahulu kala, ada sebuah cerita bahwa setiap malam hari selalu terdengar gêndingan seperti gamelan. Warga semula mengira sedang ada acara atau tontonan seperti wayang. Tapi setelah didatangi, ternyata tidak ada acara apa apa. Banyak sekali orang yang penasaran, dari manakah suara itu berasal?

Akhirnya ada warga yang menanyakannya kepada paranormal. Setelah itu baru diketahui bahwa suara itu berasal dari gundukan tanah di tepi Waduk Bunder. Warga pun menamainya dengan sebutan Gêmuk Gênding.

Ada dongeng terkait dengan terjadinya Gêmuk Gênding. Bahwa pada suatu ketika, Seno (tokoh wayang itu) sedang jalan-jalan, tiba-tiba saja gêdibalé (kotoran kakinya) terlempar sehingga menjadi Gêmuk Gênding. Karena itu, untuk para pengelola atau penyewa atau sing nêbas Waduk Bunder, harus melakukan ritual sebelum mbanjang (mengambil ikan) dengan cara nanggap wayang atau campursari yang ada unsur musik berupa
gêndingan. Apabila tidak dilakukan syarat tersebut, maka akan ada hal-hal aneh yang tidak bisa dinalar dengan akal sehat. Kejadian aneh itu misalnya ada ular sebesar jempol tangan yang jumlahnya sangat banyak, sampai merambat ke jalan raya, dan sing nêbas tidak akan mendapatkan ikan sama sekali.

Suatu ketika, terjadi hujan lebat dibarengi petir yang menggelegar. Setelah hujan reda, ada suara misterius yang meminta tolong, makin lama terdengar semakin keras hingga warga sekitar penasaran. Setelah dicermati, ternyata asal suara itu berasal dari sêngkrèng atau area rawa-rawa rerumbukan bambu. Tetapi setelah didekati, tidak ada mahluk apapun yang ada di situ.

Warga hanya mendapati sebuah selendang berwarna biru keabu-abuan yang nyangsang, kêcantol di antara bambu. Tentu saja hal ini malah membuat semakin ketakutan warga sekitar.

Lama-kelamaan, datanglah rombongan warga Banjarsari yang melintasi area tersebut yang juga mendengar suara meminta tolong. Setelah dicermati, bambu beserta selendang tersebut diajak dialog oleh warga :

Untitled-1 copy

“Awakmu Sopo?”, tanya seorang warga.
“Éson iki blêdèk sing kêtangsang ndik ori iki…
Ruponé éson yooo selendang iki…”, jawab makhluk
halus yang berwujud selendang tersebut.
“Trus, pênjalukanmu sak iki opo?”, tanya warga
lagi.
“Éson njaluk tulung culno éson têko pring iki”, jawab selendang tersebut.

Warga kemudian berbondong-bondong membantu melepaskan selendang itu dari jeratan bambu tersebut. Setelah selesai ditolong, Si Blêdèk yang berupa selendang itu pun berkata :
“Nèk krungu onok suoro blêdèk nyambêr,
ucapno : “Jim Anak Putu Banjarsari”
Lèk wis ngunu, éson dak katéné nyambêr anakputuné
kêno…”.

Setelah mengucapkan kata tersebut, selendang itu pun lenyap dalam sekejap.