Oleh : Linda Wulandari

Meski tertulis Balongpangang, tokh secara lisan orang sering mengucapkannya Balungpanggang. Itu sebabnya asal-usul nama Balongpanggang lantas dihubung-hubungkan dengan balung (tulang) yang dipanggang.
Lho, apa di situ terkenal sebagai tempat jualan Iga Bakar? Banyak orang yang tidak menyadari, bahwa kata Balong dan Balung itu punya makna yang berbeda. Lha, terus, bagaimana ceritanya asal muasalnya Desa Balongpanggang ini?

Sabaaar, Dulur… Sebelum cerita soal balung-balungan itu, ada baiknya dipaparkan lebih dulu soal Desa Balongpanggang itu sendiri. Balongpanggang itu memang nama desa, namun lebih terkenal sebagai nama kecamatan, karena nama desa dan nama kecamatannya memang sama.

Kecamatan Balongpanggang berada di ujung barat daya Kota Gresik, berjarak sekitar 30 km, berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan di sebelah barat (Mantup) dan utara (Sarirejo), dan Kabupaten Mojokerto (Dawarblandong) di sisi selatan. Hanya di sisi timur (Benjeng) yang menghubungkan dengan Kabupaten Gresik.

Kecamatan Balongpanggang membawahi 25 desa dan daerah ini termasuk daerah agraris, dimana mayoritas warganya petani. Di Kecamatan Balongpanggang, ada pasar yang terkenal, yaitu Pasar Kemis, yaitu pasar hewan (sapi dan kambing) yang dibuka pada setiap hari Kamis. Awalnya, pasar ini terletak di lapangan Surojenggolo Desa Kedungpring, namun sekarang sudah pindah ke lapangan Desa Balongpanggang.

Nah, terkait dengan asal-usul atau sejarah Balongpanggang itu sendiri, terdapat beberapa versi yang berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah mengotak-atik kata Balongpanggang itu yang mengira sebagai gabungan dari kata Balung (tulang) dan Panggang. Jadi Balongpanggang dimaknai sebagai tulang (balung) yang dibakar atau dipanggang di perapian. Tentu saja versi ini lemah alasannya, sebab kata Balong itu berbeda dengan Balung.

Versi lain masih menggunakan logika yang sama, dikiranya masyarakat setempat pada zaman dulu miskin dan serba hidup kekurangan. Karena itu, untuk mengganjal perut agar tidak keroncongan, mereka rela memanggang tulang hewan yang dagingnya sudah tidak ada lagi untuk dimakan. Lantaran kebiasaan seperti itulah maka desa ini dinamakan Balongpanggang.

Ada versi yang agak masuk akal, karena menggunakan logika kata Balong yang berarti semacam telaga, bukan Balung (tulang). Pertanyaannya, mana bisa telaga (yang tentunya ada airnya itu) kok dihubungkan dengan kata panggang? Mana bisa telaga dipanggang? Justru karena itulah maka kisah mengenai Balongpanggang ini menjadi menarik.

Sebagaimana kisah-kisah lain di hampir seluruh Gresik, selalu menyebut-nyebut adanya peran Sunan Giri. Tidak terkecuali dongeng mengenai Balongpanggang ini. Dikisahkan, Sunan Giri III atau Sunan Margi suatu ketika melakukan perjalanan dari Giri-Gresik menuju ke Majapahit. Jalur yang dilewati oleh rombongan ini melalui rute Cerme, Benjeng, Balongpanggang, menuju ke barat hingga Mantup-Lamongan. Dan ketika sampai di tempat yang sekarang dinamai dengan Balongpanggang itulah Beliau berisitirahat.

Sunan Margi adalah Raja ketiga dari Kerajaan Giri Kedaton. Dan sebagai raja Kerajaan Islam yang mendapat gelar Sunan, secara langsung Beliau juga berdakwah untuk mengenalkan Islam dan mengajak orang-orang untuk menyembah Allah SWT. Karena Islam pada waktu itu adalah agama baru di Tanah Jawa.

Sebelum adanya Agama Islam, warga lebih terbiasa menyembah gerumbul, pohon-pohon tua, atau tempat-tempat angker sebagai persembahan untuk leluhur nenek moyang mereka. Hanya saja kedatangan Sunan Margi ini dianggap sebagai ancaman bagi keyakinan atau agama lama yang telah diyakini sejak nenek moyang di tempat ini. Mereka takut jika ajaran nenek moyang yang telah diwariskan akan hilang. Karena itu, Sunan Margi tidak disukai oleh warga desa yang sekarang bernama Balongpanggang ini.

Sebagaimana diceritakan nara sumber saya yang bernama Pak Imam, pada saat beristirahat itu Sunan Margi meminta ijin mengambil air untuk digunakan berwudhu, yaitu air yang terletak di Balong (kolam, telaga, jublang) karena hendak melaksanakan sholat. Tetapi warga menolak dan tidak mengijinkan Sunan Margi menyentuh air di tempat ini.

Bukan hanya itu, warga setempat juga memperlakukan Sunan Margi tidak baik. Mendapat penolakan dan perlakuan yang melecehkan Beliau itu, maka Sunan Margi sampai menyumpahi : “mugo-mugo panggonan iki suatu saat dadi panggonan sing panas lankering koyok balong dipanggang”. Kemudian Beliau meneruskan perjalanan ke Mojopahit ke arah barat.

Tidak lama kemudian, sepeninggal Sunan Margi, keanehan mulai terjadi. Balong (kolam) yang tadinya penuh berisi air itu tiba-tiba menjadi surut dan kering kerontang. Tidak ada air sama sekali. Dasar kolam terlihat retak. Tanahnya menjadi kering seperti habis dibakar atau dipanggang sehingga nampak retak-retak dan menganga karena kepanasan atau terpanggang oleh bara api.

Mengetahui kejadian aneh itu, kemudian warga mengingat-ingat kembali apa yang terjadi. Mereka baru menyadari bukti sumpah Sunan Margi yang marah karena diperlakukan semena-mena oleh warga desa itu sehingga kolam yang penuh itu menjadi seperti kering kerontang seperti ini. Mereka pelan-pelan menyadari juga bahwa bisa jadi bencana ini adalah hukuman karena mereka tidak menyembah Allah SWT. Ini adalah peringatan atas perlakuan warga kepada Sunan Margi, agar masyarakat sadar dan memeluk Agama Islam. Kemudian setelah kejadian ini, banyak warga yang mulai memeluk Agama Islam dan sampai saat ini sebagian besar warga desa ini beragama Islam.

Berdasarkan kisah itulah, maka desa tersebut lantas dikenal luas dengan nama Balongpanggang. Kira-kira jika diartikan adalah kolam yang kering seperti dipanggang. Balong artinya kolam atau jublang sumber air. Hal ini sesuai dengan keadaaan geografis Desa Balongpanggang saat ini, dimana sumber air sulit didapatkan. Kalaupun ada, sumber atau mata air yang ada rasanya asin, sehingga tidak bisa untuk diminum. Bahkan untuk mandi pun, badan rasanya plikêt dan gerah.

Sampai saat ini, masyarakat Balongpanggang hanya memanfaatkan kolam sebagai tempat tandon air hujan, untuk mandi dan cuci. Sedangkan konsumsi minum dan memasak, mereka mengambil dari air telaga khusus. Saat musim kemarau, air telaga terkadang mengalami kekeringan sehingga mereka membeli air dari Gunung Mantup atau ngangsu di desa tetangga yang sumber airnya mudah didapat, misalnya dari Desa Kedungsumber.

Mangkané Dulur, sing ati-ati lèk ngomong… Ojok sampèk omongané sampèan iku marai loro ati wong liyané… Mêngko isyok kualat dhéwé…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here